Punya tameng

1445 Kata
Arindi menoleh menatap tas ransel yang tadi dibawanya. Dengan malas dia beringsut menggapai tasnya tersebut. Perlahan dia bangkit dan duduk di pembaringannya sambil membuka tas dan memeriksa isinya. Beberapa bungkus cemilan pun dikeluarkannya dari dalam sana. Terakhir dia mengeluarkan sebungkus nasi untuk persiapan makan malamnya nanti sambil tersenyum. “Yaah malam ini, kita makan sendiri lagi, seperti lagu dangdut aja nasibku ya, hehehe!” Arindi pun lalu berdendang menyanyikan lagu angka satu. "Hahhay dangdut yooo, dari pada setrees!” Arindi menarik napas sambil manyun, “hehh lama-lama beneran gila aku ini, adduuh pake ngedangdut segala lagi, mending baca novel ajalah, biar setrees hilang, haah mungkin Rekonstruksi Cinta udah up kali ya, cek en ricek dulu deh!” Arindi pun kembali merebahkan tubuhnya sambil membuka aplikasi novel online di ponselnya. Wajahnya langsung berbinar, saat novel yang selalu diikutinya kini telah update beberapa episode. Bagai tenggelam dalam alur cerita, Arindi tidak lagi sadar akan waktu yang sudah berlalu di dunia nyata saat ini. Waktu kian merambat, makan malam pun telah terhidang di meja makan, Nyonya Fahmi sudah tampak hadir dan segera duduk di kursi, sementara Evan dan Papanya berjalan beriringan masuk ke ruang makan. “Lho Van … mana istri kamu, bukannya kemarin kamu bawa dia kemari?” Pak Fahmi, Papa Evan menatapnya dengan heran karena tidak melihat menantunya bersama Evan. Dia yang baru pulang dari luar kota sore tadi, sama sekali tidak tahu menahu soal Arindi yang di biarkan di gudang. Evan hanya bisa menatap Papanya sekilas lalu berjalan sambil menarik napas berat. “Hhhmmmpphhaahh … ga ada urusan dengan dia Pa, aku sama sekali tidak suka sama dia, kami menikah karena jebakan, dia sengaja menjebak aku Pa, makanya aku sangat tidak menyukainya!” Mendengar pernyataan Anaknya, Pak Fahmi semakin mengernyit tidak mengerti. “Heeh ini apa maksudnya Nak?” Seraya mengikutinya dari belakang. Nyonya Fahmi yang mendengarnya ikut bersuara. “Pa … perempuan itu sengaja menjebak Evan karena tahu kalau Evan tuh banyak duit, iya kan Evan?” Evan hanya tersenyum miring seraya menarik kursi dan duduk. Sementara Pak Fahmi terus saja menoleh kesana-kemari untuk mencari keberadaan menantunya itu. “Terus … mana dia Ma?” Sontak Evan dan Mamanya saling tatap dengan mulut terkunci. Melihat mereka terdiam, Pak Fahmi makin penasaran. “Ma … menantu kita mana? Kok tidak diajakin makan bareng?” “Ga perlu Pa, dia bisa kok urus diri sendiri, dia kan wanita mandiri hehe!” Evan mencoba menyembunyikan kenyataan tentang keberadaan Arindi. Nyonya Fahmi segera bernapas lega saat Pak Fahmi sepertinya percaya dengan ucapan Evan barusan. “Mending kita makan aja ya Pa, kalo nanti dia laper pasti keluar sendiri kok!” “Hhh okelah kalau begitu!” Pak Fahmi pun segera meraih piring di depannya lalu mengambil makanan, demikian juga dengan Evan dan Mamanya. Mereka makan dengan senyap tanpa ada lagi pertanyaan atau pun percakapan. Arindi yang asik membaca tidak merasakan lapar sama sekali, namun setelah novel yang dibacanya sudah bersambung, rasa lapar kini menyerang lambungnya. Dengan segera dia meletakkan ponselnya lalu meraih bungkusan yang berisi nasi campur yang dibelinya tadi. Karena tidak puas makan dengan sendok plastic, dia pun segera keluar hendak mengambil sendok di dapur. Ketika Arindi sudah berada di dapur dan sedang memegang sendok, Cici yang baru saja datang membereskan ruang makan langsung meneriakinya. “Heii patipuuu … jangan pernah menyentuh barang-barang di sini ya, aku sudah bilang dari kemarin, apa kamu lupa ingatan?” Sontak Arindi menoleh dan menatapnya dengan kaget, sementara Pak Fahmi yang bermaksud mencuci tangan di wastafel ikut kaget mendengar teriakan Cici di dapur. Dia pun segera bergegas masuk ke sana. “Ada apa ini? Siapa yang penipuu?” Cici langsung menoleh dan gelagapan, “oh e … anu Tuan … ee … ini … eehh …!” Cici tidak tahu harus bilang apa pada majikannya itu, akhirnya hanya bisa gigit jari. Pak Fahmi dan Ririn salin tatap sambil mengerutkan keningnya. “Kamu siapa ya, seperti pernah lihat?” Ririn pun tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya, “Malam Tuan … saya Arindi istrinya Evan!” Sontak Pak Fahmi melebarkan matanya sambil menoleh menatap Cici. “Dia menantuku tapi kamu berani meneriakinya penipu?” Cici langsung terbelalak dan gemetaran, “Hhhmmpp … ee anu Tuan … ini aku … aa …!” “A-i-u … a-i-u, berani sekali kamu kurang ajar sama menantuku, sana kerjakan tugas kamu, dan ingat jangan sampai aku mendengar ada kata-kata kurang ajar lagi, kalau sampai aku dengar, kalian langsung aku pecat!” Ririn berteriak kegirangan dalam hati mendengar ayah mertuanya ternyata sangat membela dirinya. “Uhhuyyy ada tameng ini buat bertahan dari para penjahat, yeess Alhamduillah deh!” Pak Fahmi lalu menatap Arindi dengan lembut. “Mari Nak, kita bicara di luar!” “Oh … eeh …?” Arindi pun gelagapan sambil mengacungkan sendok di tangannya. Pak Fahmi segera mendekatinya lalu meraih sendok di tangannya. “Cici … ambil sendok ini!” Cici segera meraih sendok itu sembari membungkuk sedikit pada Pak Fahmi. Setelah Cici berlalu, Pak Fahmi pun segera merangkul bahu Arindi dan membimbingnya keluar di ruang tengah dimana Nyonya Fahmi sedang beristirahat setelah makan malam tadi. Saat melihat Arindi dibimbing keluar menuju ke tempatnya berada, sontak Nyonya Fahmi bangkit dengan geram. “Pa … ngapain bawa perempuan ga tahu malu itu kesini, aku benar-benar ga suka Pa!” Arindi pun langsung berhenti, sehingga Pak Fahmi turut berhenti pula. “Ada apa Nak, ayolah jangan hiraukan Mama, dia memang sedikit emosian, Ayo mari!” Pak Fahmi kembali membimbingnya untuk berjalan. Dan Arindi hanya menurut saja. Melihat suaminya tidak mengacuhkan seruannya, Nyonya Fahmi pun segera bangkit berdiri dengan cepat lalu meninggalkan mereka dan berlalu masuk ke kamarnya. Pak Fahmi hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan istrinya tersebut. “Maafkan Mama ya Nak, dia memang begitu, kamu cuek aja jangan diambil hati deh ya, mari silahkan duduk Nak!” Arindi tersenyum sambil menunduk sedikit, “Iyye … makasih ya Tuan!” Pak Fahmi tersenyum sembari mengibaskan tangannya, “Ah jangan memanggilku begitu dong … panggil saja Papa ya!” Lagi-lagi Arindi mengangguk dengan sedikit menundukkan kepala, “Baik Pa, terima kasih banyak!” Dia pun duduk di sofa dekat Pak Fahmi. Setelah beberapa saat terdiam, Pak Fahmi akhirnya membuka suara. “Bisa Papa tahu duduk persoalannya Nak, bagaimana bisa kamu menjebak Evan?” Arindi sejenak menatap Pak Fahmi kemudian menundukkan kepalanya. Sempat terlintas dibenaknya untuk berbohong, tapi segera dijauhkannya pikiran itu. Dia tidak mau kalau sampai Pak Fahmi tahu kenyataanya, malah akan ikut membencinya pula. Akhirnya dia memilih untuk berterus terang saja. “Emm … ceritanya panjang Pa!” Sambil menoleh menatap Pak Fahmi. “Tidak apa, ceritakan saja semuanya, Papa akan mendengarnya!” Arindi pun mulai menceritakan perihal pertama kali dia salah masuk mobil hingga hubungannya dengan Arman harus putus gara-gara candaan Evan. Hingga saat dia kembali salah masuk ke Villa Evan dan tidur bersama tanpa sengaja. Tidak ada satu pun yang dilewatkan oleh Arindi, bahkan dia pun bercerita mengenai mahar yang diberikan Evan padanya. “Maaf Pa, kami sama sekali tidak perah meminta mahar sebanyak itu, tapi Evan sendiri yang menyebutkannya di depan petugas, juga tentang saham sepuluh persen, itu bukan permintaan kami, tapi Asistennya Evan yang menyebutkannya lalu disetujui oleh Evan Pa, tapi kalau memang semua itu tidak diikhlaskan untukku, aku bersedia mengembalikannya kok Pa!” Pak Fahmi hanya tersenyum, “Tidak Nak, kamu tidak boleh mengembalikannya, mahar itu sudah disebutkan dalam akad nikah, berarti itu sepenuhnya milik kamu, kecuali kalau kamu bersedia membaginya dengan suami kamu ya ga pa-pa juga, tapi kalau bahasanya dikembalikan, itu sama sekali tidak dibenarkan!” Ririn tersenyum puas mendengar kata-kata Pak Fahmi sambil mengangguk-angguk setuju. Dia menarik napas panjang sebagai ungkapan kelegaan hati dan perasaannya saat ini. Mereka pun terus saja berbincang-bincang mengenai banyak hal terutama soal masalah kepemilikan saham yang sama sekali masih sangat asing di telinganya. Hingga waktu menunjukkan pukul Sembilan malam, Arindi sengaja menguap lebar agar Pak Fahmi membiarkannya pergi. “Huwaaaahhh … aakhh maaf Pa aku ngantuk banget hehe!” Acting Arindi berhasil, Pak Fahmi tampak sangat mengerti akan keadaannya saat ini. “Oh … ya sudah aku juga mau istirahat, masih capek dari perjalanan ke luar kota, Papa ke kamar dulu ya!” Arindi tersenyum sembari menunduk sedikit. “Iya Pa, selamat istirahat!” Dan begitu Pak Fahmi berlalu, Arindi segera bangkit bagai melompat lalu melesat masuk ke dalam kamarnya. “Hadeehhh aku sudah kelaparan ini gara-gara ngobrol, haahh tapi ga pa-pa deh … hihi … yang penting ada yang mendukung, setidaknya pembatu-pembantu sialan itu tidak akan bisa lagi berbuat seenaknya padaku, huhhuyyyy!” Arindi berjoget-joget kegirangan dan tertawa-tawa sendirian. Setelah puas mengekspresikan kesenangan hatinya, dia pun segera menyambar nasi bungkusnya lalu makan dengan lahap, dia sudah tidak perduli lagi dengan tangannya yang lupa dicuci.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN