Hari pertama kerja

1188 Kata
Tanpa terasa fajar telah datang menggantikan malam yang gelap. Alarm yang dipasang oleh Arindi telah berdering sekian kalinya. Hingga Akhirnya dia terbangun pula dari tidurnya. Dia meraih ponselnya dan memeriksa jam dengan mata mengerjap-ngerjap. Begitu melihat waktu masih menunjukkan waktu dini hari, Arindi kembali meringkuk di kasurnya yang usang namun terasa cukup nyaman baginya saat ini. Baru saja matanya hendak terlelap kembali, suara alunan sholawat dari mesjid-mesjid membuat matanya kembali terbuka lebar. Sambil meregangkan otot-otot lengannya, dia pun bangkit dari pembaringannya. Dengan sigap dia mengambil semua perlengkapan mandinya, mulai dari sabun sampai pakaian ganti lalu dimasukkan ke dalam ranselnya. Hari ini, dia berniat menumpang mandi lagi di mesjid. Saat hendak keluar dari rumah, suasana masih sangat sepi, tidak ada seorang pun yang tampak batang hidungnya, hingga dengan leluasa Ririn melenggang pergi. Begitu sampai di luar dan hendak membuka pintu gerbang, Ririn menjadi kesulitan karena pintu ternyata digembok. Perlahan dia melangkah menuju ke pos satpam di sudut halaman rumah. Tapi sayang, Pak Satpam pun tampak terlelap dalam tidurnya. Ada rasa berat di hati Ririn untuk membangunkan Satpam itu, namun hari ini adalah hari pertamanya masuk kerja setelah cutinya berakhir kemarin, dia takut terlambat masuk ke kantor, mengingat jarak dari rumahnya ke Bank tempatnya bekerja agak jauh, belum lagi dia masih harus menumpang mandi di masjid, sehingga mau tidak mau, Ririn terpaksa membangunkan Pak Satpam. “Pak … Pak … Paaak!” Tidak ada tanda-tanda pak Satpam akan bangun. Sekali lagi Arindi memanggilnya. “Pak Satpam … Paaakk … hey … Paaak!” Arindi sedikit meninggikan suaranya, tapi tetap saja orang itu tidak mau bangun. Arindi mulai hilang kesabaran, dengan senyum licik, dia menarik napas perlahan. “Rampooookkk!” Arindi berteriak kencang di dekat telinga Pak Satpam. “Mana … mana rampoknya … mana?” Pak Satpam hampir melompat dari pembaringanya sambil berlari keluar dan mencari kesana-kemari. “Mana rampoknya?” Arindi tidak bisa menahan tawanya. “Hahahaha … tidak ada rampok Pak, aku cuma bercanda, habis Bapak dibangunin dari tadi ga bisa sih!” Pak Satpam langsung melengos dan lunglai. “Haahhh … Bu Bos … bikin kaget saja!” “Maaf ya Pak, aku ngagetin tadi, aku buru-buru soalnya, tolong bukain gerbangnya ya!” Pak Satpam langsung menatap Arindi lalu mendongak menatap langit, kemudian kembali lagi menatap Arindi. “Hehh Ibu mau kemana? Ini masih subuh?” “Alaah ga perlu kepo, udah buka aja deh, aku buru-buru nih!” Pak Satpam pun terpaksa membuka gerbang meskipun dengan tatapan heran, dan begitu gerbang terbuka, Arindi segera keluar sambil berjalan kaki menuju jalan besar. Jalanan masih tampak lengang, hanya beberapa orang yang berjalan kaki menuju mesjid untuk melaksanakan sholat subuh yang ditemuinya. Arindi lebih memilih pergi ke masjid raya untuk mandi dan berganti, karena selain jauh dari rumah, tidak ada seorang pun yang akan mengenalinya. Meskipun dia memiliki rumah kontrakan yang letaknya cukup jauh dari rumah Evan, tapi dia takut kalau-kalau Andini sudah kembali dari kampung lalu mencurigai hubungan pernikahan mereka yang tidak harmonis. Begitu sampai di jalan besar, dia segera mencari ojek yang mangkal pagi-pagi. Waktu masih sangat pagi, ketika Arindi sudah sampai di kantornya, bahkan kantor pun masih tertutup rapat. Sambil menunggu petugas membuka pintu, Arindi menyempatkan diri mencari sarapan di pinggir jalan yang tidak jauh dari kantornya. Sambil berjalan kaki, dia terus saja tersenyum memikirkan nasibnya yang seperti anak gelandangan yang tidak memiliki rumah tetap. “Bu … songkolo’ ta satu!” Arindi memesan makanan khas Bugis-Makassar yang merupakan penganan dari nasi ketan pakai toping kalapa dengan bumbu khas di atasnya lengkap dengan sambel terasinya. Arindi makan dengan lahapnya menikmati kesendirian dalam penderitaannya. Akan tetapi bagi Arindi hal itu bukanlah sebuah penderitaan melainkan sebuah petualangan, karena baginya itu sangatlah seru. Begitu kembali di kantornya, tampak petugas kebersihan telah sibuk bekerja, Arindi pun segera melangkah masuk dan segera duduk beristirahat melepas penatnya setelah bertualang hampir mengelilingi kota Makassar di pagi buta. Teriak histeris teman-temannya begitu mereka melihat Arindi sudah masuk berkantor, terutama Putri dan Sesilia. “Eeeehh Arindi kamu sudah datang ya eemm!” Mereka langsung berpelukan dengan erat. “Iya kan kemarin cutiku udah habis!” Dia tersenyum dengan ceria. “Selamat ya atas pernikahannya, yah tapi kok tega banget sih ga ngundang-undang?” Sesilia pun memeluknya pula. “Iya maaf ya, orang tuaku segera mempercepat waktu pernikahan soalnya mumpung lagi dapat cuti katanya, lagi pula kan suamiku ga bisa ikut ke mari, karena dia juga sangat sibuk dengan kerjaannya!” Arindi lagi-lagi membual. Mereka pun duduk di kursi tunggu. “Eh memangnya pekerjaan suami kamu apa sih, masa ga bisa ikut kesini?” “Ho-ooh … jadinya kalian LDR-an dong?” Mereka menatap Arindi dengan wajah penasaran yang dibalas dengan senyum dan anggukan olehnya. “Ya dia …” Arindi mencoba mencari-cari kira-kira kerjaan apa yang sekiranya bisa membuat mereka yakin kalo suaminya tidak bisa ikut. “Em … pegawai negeri!” Sesilia dan Putri langsung saling pandang. “Ooh … begitu ya!” Arindi tersenyum lega, namun dalam hatinya menyerukan penyangkalan dan peringatan keras. “Ya ampun Arindi … bagaimana kalo sampai mereka nanti tahu yang sebenarnya, kamu pasti akan malu berat!” Arindi dengan tegas membantah kata hatinya sendiri pula. “Alaahh yang terjadi nanti, nanti jugalah urusannya, yang penting hari ini beres, yang lain belakang persoalan deh!” Hingga waktu apel pagi datang, mereka pun segera membubarkan diri dari gosip pagi-paginya. Dan hari itu, Arindi bekerja dengan senyum ceria terus terpajang di bibirnya yang lembut. Sementara itu di rumah Evan, seorang gadis dengan gaya mentereng serta wajah seperti tembok yang sudah diberi cat warna-warni tampak berdiri di depan pintu rumah dengan membawa koper yang cukup besar. Cici yang membuka pintu terkejut dan berdiri mematung. Wanita itu tersenyum padanya. “Maaf apa ini rumah Evan Munandar?” Cici menjawab dengan malas. “Yaa … benar … kamu siapa ya?” Tatapan matanya begitu tidak nyaman menyusuri badan wanita itu dari atas ke bawah demikian sebaliknya. “Oh kenalkan … saya Sindi pacarnya Evan, dia yang menyuruhku tinggal di sini mulai hari ini!” Sambil tersenyum angkuh. “Hem … pacarnya Evan …? Lho bukannya Evan sudah menikah kemarin ya? Bagaimana bisa ada pacar lagi?” Sindi sudah hilang kesabaran dan langsung menghalau Cici di depan pintu. “Banyak bacot ah, minggir … aku mau lewat, Cuma pembantu juga tapi gayanya melebihi majikan, sana akh!” Sindi mendorong pinggang Cici hingga tersenggol ke samping. Saat Sindi telah masuk, segera dia menoleh kembali ke Cici. “Eeh … bawain tuh koper aku!” Cici hanya bergeming dan menatapnya dengan geram. “Ayoo … ngapain ngeliatin aku kayak gitu, mau aku suruh Evan memecat kamu haahh!” Setelah berkata demikian, Sindi segera masuk ke dalam tanpa mempedulikan Cici yang sedang geram. “Ieehhh … lagaknya kayak orang besar aja, ciih!” Dengan kasar dia menarik koper milik sindi masuk ke dalam rumah. Nyonya Fahmi dan suaminya yang lagi bersantai di ruang tengah langsung kaget dengan kedatangan Sindi yang tiba-tiba. “Lho kamu siapa?” Sindi hanya tersenyum dengan sombongnya. “Halo Om … Halo Tante … kenalin Tante … aku Sindi … pacarnya Evan, hehe aku yakin Om masih ingat dengan aku iya kan Om?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN