Pak Fahmi langsung berdiri menatap Sindi dengan kesal. “Kamu ngapain di sini? Bukannya aku sudah kasi kamu peringatan untuk tidak mendekati Evan lagi?”
Sindi bukannya gentar malah makin tersenyum, “Oh maaf ya Om, aku bukannya membangkang, tapi yaa ... mau gimana lagi Om, Evan kayaknya ga bisa hidup tanpa aku, ini juga dia yang nyuruh aku datang dan tinggal di sini!”
Pak Fahmi langsung melotot mendengar pengakuannya. “Apaa … kamu mau tinggal di sini? Apa kamu tidak tahu kalau Evan sudah menikah? Mending kamu pergi dari sini sekarang!” Pak Fahmi menunjuk keluar sambil melotot menatap Sindi.
Sementara Cici pun kini telah masuk sambil menarik koper besar milik Sindi. Dengan cepat Sindi menyambutnya sambil tersenyum garing. “Aduuh maaf ya Om, tapi aku ga mau pergi kecuali Evan yang memintaku langsung!”
Pak Fahmi naik pitam dan langsung mengangkat tangannya hendak menampar Sindi, namun Istrinya segera menahan tangannya. “Cukup Pa, biarkan dia tinggal di sini, aku yang mengizinkannya!”
Sontak Pak Fahmi menoleh menatap istrinya dengan heran. “Ma …? Apa Mama tidak sadar apa yang Mama lakukan? Evan sudah punya istri, dan dia ini bukan siapa-siapa! Jangankan tinggal seatap, menjalin hubungan aja tidak boleh, apa lagi sampai hidup serumah, Mama pikir dong gimana perasaan menantu kita!”
Nyonya Fahmi menatap suaminya dengan tatapan menantang. “Memang itu yang kumau, aku tidak suka melihat dia hidup senang di rumah kita, aku mau dia hidup menderita seperti dia membuat anak kita harus menanggung perbuatan yang tidak dia lakukan!”
Sindi menjadi semakin kegirangan mendapat dukungan penuh dari Mamanya Evan. Sementara Pak Fahmi dan istrinya terus saja bersitegang. “Ma … apapun alasannya, membiarkan wanita ini masuk dan tinggal di rumah kita itu sama sekali tidak benar, dan Papa sangat tidak setuju!” Pak Fahmi langsung menoleh menatap Cici yang masih setia berdiri menyaksikan perdebatan hebat itu.
“Cici … panggil Daeng Anto sekarang!”
Cici langsung mengangguk dan bergeming hendak keluar, namun Nyonya Fahmi segera mencegahnya. “Cici … ga perlu, tidak ada yang akan pergi dari rumah ini, Sindi … kamu masuk aja sayang, Cici antar Sindi ke kamar tamu, cepetan!” Cici pun segera menarik koper milik Sindi dan diikuti oleh Sindi dengan senyum penuh kemenangan.
Pak Fahmi melotot dengan geram ke istrinya. “Mama! Berani sekali menentang aku!”
Nyonya Fahmi bukannya gentar, malah makin nekat. “Iya … aku memang berani kenapa? Kalau Papa bisa membela menantu Papa, maka biar aku yang membela calon menantu aku juga, lalu apa masalahnya?”
Pak Fahmi hanya bisa menahan geram dengan mengepalkan kedua tangannya sambil memejamkan mata dan mengeratkan gerahamnya. “Hmmpphhaahh … terserah Mama aja, tapi kalau besok-besok terjadi apa-apa dalam keluarga kita bahkan sampai bikin malu, itu tanggung jawab Mama, Papa tidak mau ikut campur lagi!” Pak Fahmi langsung pergi meninggalkan istrinya menuju ruang kerjanya.
Nyonya Fahmi hanya bisa mencebik sambil menatap kepergian suaminya. "Hem … dipikir aku gentar apa, lagian aku yakin kok tidak akan ada apa-apa yang terjadi, aku percaya sama Evan, dia anak yang menghormati wanita!” Nyonya Fahmi pun segera menyusul Sindi ke kamar tamu.
Sementara itu di kantor Arindi, kekepo-an teman-temannya masih belum juga reda, begitu jam istirahat sudah tiba, mereka langsung menyerbunya. “Ekheemm … traktiran makan siang ini buat yang pengantin baru, siapa suruh ga undang-undang, ya ga?” kerling Putri sama Pak Satpam di dekatnya.
“Iya tuuh, sebagai acara persemian pernikahan, hahaha!”
Riuh sudah suara mereka mengomporinya, sehingga Arindi hanya bisa mengangguk mengiyakan. “Iya deh oke … oke, terus kita makan di mana ini bagusnya?”
Berbagai nama Restoran sudah disebutkan oleh teman-temannya, dan terahir mereka memilih makan di Restoran seafood. Dengan menggunakan mobil kantor, mereka berangkat menuju ke tempat yang telah mereka pilih. Saat di dalam mobil itu, Sesilia dan Putri masih sangat penasaran dengan wajah suami Arindi.
“Rin … lihat dong foto-foto pernikahan kamu, penasaran dengan wajah si dia … hehe!” Sesilia mengerling Putri.
“Iya tuh … soalnya kan yang diapload kemarin itu sedikit ngeblur, jadi susah buat dilihat, ga jelas mukannya!”
“Iya dong … ayo mana foto-fotonya?” Seru yang lainnya.
Arindi hanya tersenyum mendengar semua permintaan teman-temannya. “Ya maunya sih aku ngasih lihat ke kalian, cuma aku sudah bersihkan ponsel kemarin pas sudah diapload itu, aku tidak suka menyimpan poto diponsel soalnya, nanti lalod ponselku!” Dia tersenyum kecewa seakan-akan menyesal telah menghapus foto-fotonya sebelum dilihat oleh temannya, padahal yang sebenarnya, dia memang sengaja tidak menyimpannya agar mereka tidak tahu siapa suaminya.
“Yaahhh … kok gitu sihh, jadi ga bisa dillihat dong wajah suami kamu dengan jelas?”
“Eh tapi pasti ada di album foto kamu kan?”
“Iya tuhh besok kamu bawa aja album fotonya, biar kita bisa lihat!”
Seruan dan saran dari temannya hanya ditanggapi dengan senyum saja olehnya. “Yah ... maaf banget ya, soalnya album fotonya belum jadi pas aku mau balik, dan sekarang pasti ada di rumah di kampung!”
“Yaahhh … sama aja bohong!”
Arindi lagi-lagi tersenyum, “Aku minta maaf ya, tapi nanti deh kalau ada libur sabtu-minggu, aku bakal balik ke kampung, jadi bisa langsung upload kemesraan gitu di medsos, nanti bisa kelihatan wajahnya, aku ga akan blur kok, tapi jangan diketawai ya, soalnya orangnya berewokan hahaha!”
Mereka tertawa bersama mendengarnya. “Auu … berewok … pasti geli dong pas kena pipi ya ga … hahaha …!”
Mereka terus saja bercanda tawa bersama. Namun senyum dan tawa Arindi terkadang sangat tawar, sebab hatinya selalu menyanggah semua ucapannya, karena semua yang diucapkannya hanyalah kebohongan semata, sementara teman-temannya sangat mempercayainya. Rasa bersalah seringkali menyembul di wajahnya dan memaksa senyumnya berubah masam.
Rombongan kecil itu akhirnya sampai di restoran yang dituju. Mereka pun segera turun dan bersama-sama masuk ke dalam Restoran yang agak mewah itu. Ketika mereka sudah berada di dalam dan telah memilih meja untuk rombongan mereka, tiba-tiba mata Arindi tertumbuk oleh sosok lelaki yang sangat di kenalnya. Mereka tampak sedang melakukan pertemuan kecil di Restoran itu. Dengan cepat Arindi menyambar buku menu yang tergeletak di meja lalu mengangkatnya agak tinggi untuk menutupi wajahnya.
Setelah melihat orang yang tidak lain adalah Evan dan juga Rudi asistennya sudah beranjak pergi meninggalkan restoran bersama beberapa orang yang bersamanya, barulah Arindi meletakkan buku menunya dan bernapas lega. Ekor matanya terus saja mengikuti kepergian suaminya itu.
Setelah acara makan siang selesai, mereka pun segera kembali di kantor dan kembali bekerja dengan serius. Namun Arindi masih saja memikirkan suaminya yang sedang bertemu dan makan siang dengan seseorang yang cukup dikenalnya.
“Om Arafah kok bersama dengan Evan ya?” Keningnya ikut berkerut menggambarkan pertanyaan di dalam hatinya. “Kok Evan kayak sedang memelas gitu ya modelnya? Ada masalah apa dengan mereka?” Arindi terus saja bergelut dengan pikiran dan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab itu hingga lupa melayani kostumer di depannya.
“Maaf Mba … bisa cepetan dikit ga? Aku lagi buru-buru!”
Arindi segera tersadar dari lamunannya. “Eh i-iya maaf ya, sebentar lagi ya!” Dia pun kembali bekerja dengan cekatan tanpa berniat memikirkan Evan lagi, hingga sore telah tiba, dia masih saja tetap sibuk bekerja.
Senja telah datang, semua pegawai kini telah pulang, namun Arindi masih juga betah tinggal di kursi tunggu di depan kantornya. Dia tampak sibuk dengan ponsel di tangannya seperti sedang menghubungi seseorang.
“Halo Dek … kamu sudah di rumah kontrakan sekarang apa belum?”
“Iya ini juga baru nyampe, kenapa? Mau jalan-jalan ke sini? Kangen sama aku … hahah!”
“Idiihh siapa yang kangen sama kamu? Aku kangen sama motorku … hahaha!”
“Lho … memang Kak Evan ga nganterin gitu, kok repot-repot naik motor?”
“Ya mana bisa Dek, dia dan aku tidak searah, ujung pukul ujung … hahaha ya kasihan dong, habis ngantar balik lagi, lagian aku ga suka ngerepotin orang, aku lebih suka jalan sendiri, naik motor enak, mau kemana aja langsung cuuus … haha!”
“ya sudah deh … sekalian ambil kue kiriman Ibu buat kamu, tadinya aku rencana mau antarin ke rumah kamu, tapi kalau Kak Arin mau ke sini, Alhamdulillah deh aku ga repot-repot lagi!”
“Iya deh iyaa …, oke deh kalo gitu, aku langsung ke sana aja ya sekerang, bye …!” Arindi menutup teleponnya sambil tersenyum lega, dengan semangat membara, dia melangkah menuju jalan raya dan segera memesan ojek yang sedang mangkal di seberang jalan.