1.Anna Uhibukka Fillah
"ANNA UHIBUUKA FILLAH, GUS MUHANA!"
Entah mendapatkan kekuatan dan keberanian dari mana sehingga Talita nekat untuk menembak alias menyatakan perasaan cintanya kepada Gus Ken Muhana, guru sekaligus kakak yang membimbingnya selama ini.
Gus Ken Muhana yang saat ini sedang berada di salah satu bukit untuk menikmati pemandangan panorama indah Telaga Warna Dieng, Wonosobo Jawa Tengah itu pun tampak sangat bahagia, namun dia berusaha tenang.
Dia tetap pergi berlalu seakan tidak mendengar apa yang Talita ucapkan barusan.
"Gus Ken Muhana, aku mencintai kamu, Gus!"
Kejar Talita sambil berlari kecil ke arah Gus Ken Muhana.
Dan tanpa di duga, Gus Ken Muhana tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya sehingga nyaris saja Talita menubruk lelaki tampan di hadapannya.
"Ehhh...maaf Gus...Aku..."
Saat sudah berhadapan dengan orang yang paling Talita cintai, badannya mendadak gemetar hebat dan Talita sudah pasti salah tingkah serta gugup setengah mati dibuatnya.
"Kamu ngomong apa tadi?"
Tanya Gus Ken lembut sambil tersenyum manis ke arah Talita.
"Ehhh....Enggak kok Mas, tadi aku cuman...."
Melihat wajah tampan serta senyum manis Gus Ken Muhana, Talita mendadak jadi bodoh.
"Tadi saya mendengar kalau kamu bilang Anna Uhibbuka Fillah. Memangnya kamu tahu itu artinya apa?"
Gus Ken amat santai sesantai-santainya. Padahal Talita sebentar lagi sudah mau menjadi batu karena berani lancang nembak alias menyatakan rasa cinta untuk gurunya sendiri.
"Artinya...Aku....."
Talita terbata.
"Iya, terus?"
Gus Ken mendengarkan perkataan Talita dengan seksama.
"Aku...Mencintaimu Karena Allah..."
Akhirnya kata-kata ajaib ini keluar juga dari mulut Talita, gadis cantik dan pintar, serta murid kesayangan Gus Ken Muhana yang beliau urus sejak kecil.
"Alhamdulillah, Masya Allah. Saya juga mencintai kamu karena Allah."
Jawab Gus Ken diluar perkiraan Talita. Bahkan gurunya yang tampan itu bersikap seolah-olah kata Anna Uhibbuka Fillah itu biasa-biasa saja dan tidak berarti sesuatu yang khusus.
"Tapi....."
Talita buru-buru protes.
"Ada apa lagi, Talita?"
Tanya Gus Ken dengan tatapan lembutnya yang membuat Talita meleleh.
"Gusti Allah, alhamdulillah, masya Allah, betapa indahnya ciptaanmu ini ya Allah?
Boleh dikarungin terus dibawa pulang nggak sih, Gus Ken Muhana ini...? Wajahnya yang tampan, matanya yang indah, hidungnya yang mancung, bibirnya yang ranum....."
Sepertinya, otak Talita mulai tidak waras karena begitu mengagumi Gus Ken Muhana. Pikirannya menjadi kacau kemana-mana.
"Maksud aku bukan seperti itu, Mas!"
"Lha terus?"
Gus Ken heran.
Perasaan dari tadi terus-terus mulu deh Gus! Terus ke pelaminan apa gimana sih, maksudnya?!
Batin Talita mulai eror.
"Maksud Talita itu bukan ungkapan santri kepada gurunya, tapi...."
Dengan penuh keberanian, Talita berusaha untuk mengungkapkan perasaannya.
"Iya, tapi..."
"Aku...."
Talita kembali bodoh untuk yang kesekian kalinya.
"Sebenarnya ada apa, Talita? Kamu tidak biasanya bersikap seperti ini! Kita lanjut lagi nanti, ya? Saya sedang fokus menikmati keindahan Telaga Warna!"
Ucap Gus Ken sambil melirik jam nya lalu beliau berlalu pergi.
"Mamas, tunggu!"
Talita mengejar Gus Ken.
"Saya cinta dan sayang sama Gus Ken Muhana!"
Kini Talita tidak lagi mengejar Gus Ken Muhana, dia mengucapkan kata-kata itu sambil tertunduk dan sibuk mengelap air matanya yang jatuh menetes membasahi wajahnya yang cantik jelita.
"Talita, kamu nggak perlu nangis! Nggak apa-apa kok! Saya nggak marah dengan ucapan kamu, karena banyak juga yang mengatakan hal yang sama. Lagi pula, mencintai guru itu kan hal yang baik, Talita. Sudah ya, jangan menangis lagi!"
Ucap Gus Ken yang buru-buru menghampiri Talita dan mengusap kepala Talita seperti seorang Kakak sedang menenangkan adiknya.
"Tapi perasaan aku lain, Mas!"
Sahut Talita yang semakin tertunduk dan terisak.
"Maksud kamu???"
Kini Gus Ken mulai serius menatap Talita.
"Aku jatuh cinta dengan Gus Ken Muhana. Dulu hanya sebatas rasa kagum saja. Tapi sekarang, perasaan itu sudah menjelma menjadi perasaan cinta. Ini bukan perasaan sayang dari murid untuk gurunya! Bukan juga perasaan sayang seorang adik pada kakaknya. Namun perasaan aku adalah perasaan seorang wanita untuk seorang laki-laki! Aku benar-benar mencintaimu, Gus Ken Muhana........"
Huuu.......
Huuuuu......
Huuuuuuuu.......
Talita jatuh terduduk.
Kini dia sedang menangis dan bersimpuh di hadapan Gus Ken yang syok dengan pengakuan Talita barusan.
Namun beberapa menit kemudian, Gus Ken malah tertawa renyah.
"Hahaha, kamu pasti lagi nge-prank saya, kan? Udah deh, nggak lucu, Talita! Kamu itu sekarang sudah dewasa, kamu nggak boleh bercanda tentang cinta seperti ini!"
Ucap Gus Ken sambil ikut berjongkok dan menyuruh Talita agar gadis itu cepat berdiri dan menghapus air matanya.
"Dasar jahat!!!"
Ucap Talita kesal.
"Lho, kok saya dibilang jahat?"
"Aku serius, Mas! Kenapa malah dikira bercanda?"
Talita benar-benar badmood karena ungkapan cintanya dikira hanya permainan saja.
"Kamu kan memang murid yang paling suka iseng sama saya, Talita!"
Sahut Gus Ken Muhana lembut.
"Tapi kali ini aku serius, Mas!"
Rengek Talita serak.
"Iya, saya percaya! Dari kecil juga kamu itu sering bilang kalau kamu sudah besar pengen jadi istri saya!"
Tetap saja Gus Ken tidak percaya dengan ungkapan cinta Talita yang sudah seperti adik baginya.
"Aku tahu, aku hanya si pungguk yang merindukan bulan. Tidak sepantasnya, aku mengagumi dan menaruh rasa untuk kamu, Mas! Tapi...Sekuat tenaga aku mencoba untuk mengusir dan membuang jauh-jauh perasaan cinta ini, akan bertambah kali lipat perasaan itu datang kembali. Njenengan ini seorang Gus, Putra Kyai, sedangkan aku hanya wanita biasa, yatim piatu pula. Harusnya aku segera sadar diri dan move on, tapi....ijinkan aku mengungkapkan semua rasa ini sebagai adikmu, Mas! Jika memang aku harus pergi menjauh, aku siap asalkan kamu sudah tahu apa yang membuatku sesak dan perih menahan perasaan setiap saat..."
Talita akhirnya berhasil mengungkapkan rasa yang selama ini dia simpan dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Gus Ken Muhana diam membisu, bahkan dia tampak menahan tangisnya.
Tidak disangka, doanya selama ini, Allah jawab hari ini juga.
"Talita, kamu serius?"
Tanya Gus Ken sambil berjalan mendekat ke arah Talita.
"Nggak, aku cuman lagi shooting drama Indosiar saja!"
Sahut Talita sekenanya. Dia jengkel, sudah kepalang tanggung nembak Gus Muhana masih saja ditanya serius atau tidak?!
"Talita, kok malah marah, sih?"
Gus Ken mengejar Talita yang berlarian blingsatan menuruni bukit yang semakin dekat dengan Telaga Warna.
Namun tiba-tiba saja ada salah satu wakil lurah pondok, Mas Reyhan memanggil Gus Muhana dan memberikan kabar yang membuat Talita dan Gus Muhana syok.
"Ngapunten, Gus Muhana..."
Panggil Mas Reyhan sopan.
"Mas Reyhan, ada apa?"
"Teng ndalem enten tamu, Gus!"
"Tamu siapa?"
"Ning Fathia, Gus!"
Jawab Mas Reyhan yang sedikit gugup karena masih ada Talita di dekat mereka. Sebenarnya, Mas Reyhan tahu jika antara Gus Muhana dan Talita, mereka mempunyai ikatan perasaan cinta sejak dulu dan Mas Reyhan tidak tega jika harus mengabarkan hal ini.
"Siapa Ning Fathia, Mas?"
"Ning Fathia itu beliau Putri Kyai Farid dari Jawa Timur, calon tunangan njenengan, Gus!"
"APA??? TUNANGAN???"
Jerit Gus Muhana dan Talita secara bersamaan membuat Mas Reyhan kaget dengan reaksi mereka berdua.
"Nggih Gus, Abah kalih Bu Nyai ngendika panjenengan kalih Mbak Talita disuruh pulang menemui Ning Fathia, sekarang juga!"
Ucap Mas Reyhan yang membuat jantung Talita rasanya akan copot dan dunia ini seakan berhenti berputar. Baru saja dia selesai mengungkapkan perasaan cintanya untuk Gus Muhana, sekarang mendapatkan kabar jika lelaki yang amat dia cintai itu akan bertunangan dengan wanita lain???
Akankah Gus Muhana bertunangan dengan Ning Fathia???
Lalu bagaimana dengan Talita???
Simak di bab berikutnya!
***Terjerat Pesona Kakakku, Gus Ken Muhana***