Jae Hwan mengetuk kesemua jari tangannya di meja, ia pandangi ketiga orang yang tengah asik berbicara tanpa sadar akan kehadirannya tanpa tahu tatapan kesalnya dari dalam ruangan.
"Aku akan membuatkannya untukmu lain kali!"
"Hahh omong kosong," Jae Hwan berbicara pada dirinya sendiri mengejek setiap kata yang tertangkap kupingnya dari sana.
"Kau bahkan sudah lama tidak memasak untukku dan sekarang akan memasak untuk pria itu?"
"Daebak ... daebak!" Jae Hwan bertepuk tangan ramai sendiri.
Sementara Ara, Calvin dan Kang Sol sudah berada di kedai rabokki kedua gadis itu memilih sendiri isi dari rabokki yang akan mereka makan mulai dari mengambil ramen, tteok, odeng, jamur enoki, mozarella dan sosis.
Ara juga memesan dollsot bibimbab (nasi campur dengan banyak toping sayuran dan telur setengah matang dalam hotpot) sebab Calvin tidak bisa memakan sesuatu yang terlalu pedas.
Calvin mengernyit ketika rabokki yang mereka bawa terlalu banyak untuk dua orang sementara kedua gadis itu sudah tidak sabar menunggu rabokki nya matang tanpa peduli tatapan lucu dari Calvin
"Kalian yakin bisa menghabiskan semuanya?" Calvin Akhirnya bertanya dengan sedikit tertawa.
"Tentu saja!"
"Kang Sol-ah bagaimana dengan sebotol soju?" Ara mengacungkan jari telunjuknya sambil tersenyum meminta persetujuan.
"Andweeee!!" Kang Sol menggeleng tegas membuat Ara memasang wajah cemberut.
"Kita masih punya 5 jam sebelum pulang, kau tidak boleh mabuk dan menambah daftar pekerjaanku."
"Arrasseo!" Kang Sol berusaha memasang wajah serius meski malah menjadi bahan tertawaan Calvin.
Pria Indonesia itu tanpa sadar memperhatikan Kang Sol, padahal ia bertemu gadis itu hampir setiap hari dan hubungan keduanya murni profesional. Hanya saja duduk makan siang satu meja dengannya adalah hal baru.
Kang Sol sukses berperan menjadi kakak bagi Ara ia memastikan gadis itu baik-baik saja, meski sebagian besar karena perintah dari Jae Hwan namun Kang Sol juga sebenarnya suka berteman dengan Ara, gadis itu sangat ceria dan penuh semangat bahkan saat pekerjaan menumpuk Ara selalu bisa membuat suasana menyenangkan dengan bercandaan kecilnya.
"Aku akan pulang ke indonesia bulan depan, bagaimana denganmu?" tanya Calvin sambil memasukan suapan besar nasi ke dalam mulutnya.
"Ommo ... Ommo!" Kang Sol menutup mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Yaaaa, ini kebetulan yang aneh kau pasti tahu aku juga akan pulang!" Ara tersenyum tidak percaya.
"Adikku akan menikah." Jelas Ara kemudian sebelum di minta menjelaskannya.
"Wahh kita bisa bertemu jika sudah tiba disana. bagaimana?"
"Hajima (jangan)!" Kang Sol memotong obrolan keduanya membuat Ara dan Calvin menatap wanita itu dengan penuh tanya.
"Ahh bukan begitu maksudku, maksudku apa rumah kalian berdekatan?"
"Kau kan harus menghadiri pernikahan adikmu jadi kau tidak akan bisa bertemu dengannya kan?" lanjut Kang Sol dengan sedikit gugup.
"Eung ... aku dan Ara berasal dari Bandung, salah satu kota besar disana."
Ucap Calvin yang di iyakan dengan anggukan dari Ara dan membuat Kang Sol terdiam, ia tidak bisa memikirkan cara apapun untuk membuat mereka tidak dekat.
Sementara Calvin tampak senang karena pemikirannya pergi traveling sendiri, Kang Sol yang tampak antusias dengannya entah kenapa membuat pria itu ingin menjelaskan banyak hal terutama tentang apa yang Calvin punya.
Berbeda dengan apa yang Calvin bayangkan meski sebenarnya bukan urusan Kang Sol namun wanita itu merasa bahwa seharusnya Ara memperbaiki hubungannya dengan Jae Hwan dan bukan menjadi lebih dekat dengan pria lain.
"Ara-ya bisakah aku meminta bantuan mu?" ucap Kang Sol ketika mereka di dalam lift, tidak ada orang lain disana.
"Tentu saja!"
"Kau dekat dengan Calvin?" Ara kemudian memandang Kang Sol serius sebab wanita itu terlihat sangat gugup dan tidak seperti biasanya.
"Aku menyukainya." Ucap Kang Sol dengan cepat dalam satu tarikan nafas.
"Mwooo?" Ara menutup mulutnya dengan kedua tangan seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Bisakah kau membuatku lebih dekat dengannya?" pinta Kang Sol setelah terdiam sejenak, ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup entah apa cara ini berhasil membuat Ara dan Calvin menjauh tapi ia tidak bisa memikirkan cara lain.
"Kang Sol-ah kau tenang saja, aku akan membuatmu menjadi istri seorang indo!"
Ara tersenyum lebar sambil menepuk pundak Kang Sol sementara wanita itu hanya tersenyum tipis.
'Aahh ya ampun' Kang Sol mengumpat dalam batinnya.
Kang Sol pergi ke toilet untuk mengutuk dirinya sendiri, untuk apa dia ikut campur sampai sejauh ini membuatnya berada dalam situasi yang aneh. Meski sebenarnya Calvin bukanlah pilihan yang buruk untuk ke pura-puraan nya namun Kang Sol belum pernah berpacaran sehingga ia tidak tahu tindakan apa selanjutnya yang harus di lakukan.
"Sajangnim." Kang Sol memanggil nama Jae Hwan setelah menjelaskan kejadian tadi siang, pria itu hanya memandang Kang Sol lucu kemudian bertepuk tangan menghilangkan keheningan di antara keduanya
"Yaaaa ... aku tidak pernah tahu kau begitu pintar Kang Sol ssi. Gomawo!" ucap Jae Hwan senang.
"Wahh saya sudah menduga respon anda akan seperti ini."
"Aku tidak percaya sudah melakukan hal bodoh." Kang Sol berbicara pada dirinya sendiri dengan pelan.
"Kau hanya perlu melanjutkan apa yang sudah kau mulai, jangan khawatir aku mendukung hubunganmu sepenuhnya!"
atasannya tersebut malah memamerkan senyum jahatnya pada Kang Sol membuat wanita itu kesal.
"Malldo andwe!"
Kang Sol yang tidak puas dengan respon Jae Hwan kemudian membungkuk dan kembali ke mejanya, ia mendapati Ara yang terlihat tengah melamun membuat Kang Sol menarik nafas panjang.
"Kang Sol-ah aku sudah mengatakannya pada Calvin."
"Mwoo ... kau, kau mengatakan apa?" respon Kang Sol membuat Ara terkikik ia melihat Kang Sol menjadi salah tingkah
"Tenangkan dirimu!" Ara kembali tertawa kecil membuat Kang Sol semakin gugup.
"Ahh begini, aku belum pernah berpacaran jadi aku gugup." Ucapnya asal sambil tertawa kikuk.
"Jinjja (sungguh) ?" Ara lagi-lagi menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kau sendiri apa kau punya pacar?" tanya Kang Sol menyelidik membuat Ara terdiam dan menarik nafas panjang.
"Molla (tidak tahu)!" jawaban Ara membuat Kang Sol memandangnya serius.
"Aku tidak tahu apa hubunganku kali ini dengannya bisa di sebut berpacaran."
"Aku berbaikan dengannya kemudian masalah kembali muncul dan membuatku kembali menjaga jarak,"
Ara menceritakannya dengan wajah murung.
"Aku hanya tidak ingin terluka lagi. Aku tidak siap."
Kemudian suasana kembali hening, Kang Sol jelas tahu siapa maksud Ara tapi ia hanya akan menjadi pendengar agar gadis itu bebas bercerita dan tidak merasa sendiri
"Kau tahu ketika kau memutuskan untuk bahagia, maka kau akan bahagia!"
Kang Sol tersenyum memandang Ara yang kemudian di balas dengan senyuman yang sama cantiknya
Ara pulang ke apartemennya dengan hidung yang sedikit tersumbat, ia lupa dimana menyimpan vitaminnya. Lagi.
Kemudian ia mencari inhaler di kotak obat dan untungnya menemukan benda itu disana. Gadis itu tidak membuka mantelnya ia terlalu malas dan merasa penghangat ruangan tidak bekerja dengan baik, jari-jarinya terasa masih dingin.
Gadis itu kemudian bangkit membuka lemari pendingin untuk mencari soju, ia perlu menghangatkan dirinya atau kurang lebih seperti itulah alasannya.
"Ahh kapan terakhir kali aku pergi belanja?"
Ara mengerutkan keningnya kemudian berfikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk pintu lemari pendingin.
Dengan sangat terpaksa ia mengambil dompet dan memakai kembali sepatunya, gadis keras kepala itu memang begitu jika menginginkan sesuatu sulit sekali untuk di alihkan.
Udara dingin menerpa Ara ketika ia keluar dari gedung apartemennya, gadis itu merapatkan mantelnya 'kau pasti bisa Ara, tokonya hanya di seberang jalan' Ara meneguhkan hatinya ketika udara semakin terasa dingin.
Gadis itu mengambil beberapa botol soju dalam showcase, beer kaleng, ramen instan dan cemilan yang memenuhi satu keranjang penuh. Benar - benar di luar ekspektasinya ketika ia hanya berniat membeli soju saja.
Ara terkejut ketika keluar dari minimarket dan mendapati mobil seseorang yang ia kenal terparkir di depan gedung apartemennya, ia menarik nafas panjang seperti tengah bersiap menghadapi sesuatu.