Pagi itu apartemen yang Jae Hwan tinggali selama ini seketika memiliki suasana baru, Udara dingin di luar pun terasa begitu menyenangkan untuk di nikmati.
Jae Hwan menyesap teh hangatnya sambil duduk, ia tersenyum tanpa sadar mengingat sarapan paginya kini di temani Ara, seseorang yang dahulu selalu ada disana menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka seperti telur gulung dan sup atau nasi goreng kesukaannya, bukan sesuatu yang rumit namun selalu Jae Hwan rindukan.
"Agassi (nona)." Seseorang menyapa Ara yang baru keluar dari kamar, gadis itu selesai mandi air hangat tapi masih menggunakan pakaian yang sama.
"Ahjumma, kau baik-baik saja?" wanita paruh baya itu tampak senang melihat nona mudanya kembali lagi kesini begitu pun Ara ia tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya sambil berjalan mendekat pada wanita itu.
"Tentu saja, hanya tuan muda yang tidak baik-baik saja." Wanita itu tersenyum sambil memandang Jae Hwan dengan sudut matanya.
"Ahh!" Ara hanya menanggapi singkat
kemudian wanita itu mempersilahkan Ara duduk untuk sarapan.
"Itu sup ikan pollock, kau harus meredakan mabuk mu. Dan kau tidak perlu pergi ke kantor hari ini."
"Andwe (tidak bisa) aku harus bekerja!"
"Wae? Kau mau bertemu desain grafis itu?" Jae Hwan menyelidik dengan pandangan menyipit.
"Kau cemburu?" Ara mengatakannya sambil memasukan suapan besar nasi di susul sup ikan dan kimchi.
"Malldo andwe (tidak mungkin)!"
"Aaahhh ... jadi kau tidak pernah cemburu?" Ara terlihat sedikit kecewa mendengarnya meskipun Jae Hwan tahu ekspresinya hanya pura-pura untuk menjahili pria tersebut.
"Itu artinya kau tidak memiliki perasaan padaku!"
"Tentu saja aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain." Jae Hwan menjawab setelah terdiam beberapa saat memikirkan kosakata yang tepat untuk meralat ucapannya, ia sedikit malu untuk mengatakan secara lugas bahwa ia memang cemburu.
"Itu definisi dari cemburu yang aku maksud." Ara tersenyum penuh kemenangan.
"Senang?" Jae Hwan tersenyum mengejek pada gadis itu.
"Sangaattt!" gadis itu tertawa renyah membuat Jae Hwan refleks juga ikut tertawa kecil, ia suka tawa gadisnya itu sebab menular. Ia bisa tertawa juga hanya dengan melihatnya.
"Ahh ... bisakah aku mengambil cuti bulan depan?" Ara memulai kembali pembicaraan ketika ia sudah menghabiskan semangkuk nasi, hangover ternyata tidak mengubah nafsu makannya yang luar biasa.
Jae Hwan menaikan alisnya sambil memandang gadis itu, keningnya berkerut ia sedang berfikir untuk apa gadisnya ingin cuti mungkinkah ia ingin menghindarinya lagi.
"Aku harus pulang, adikku akan menikah." Ara dengan peka langsung menjelaskan ketika melihat ekspresi Jae Hwan.
"Kania?" Jae Hwan mengenal adik Ara, gadis itu dulu sering melakukan video call ketika Jae Hwan bersama Ara sehingga beberapa kali ia mengobrol. Ia gadis yang menyenangkan dan ceria seperti Ara.
"Eung, dia akan menikah dengan teman masa kecilnya aku juga mengenal calon suaminya. Dulu dia selalu datang ke rumah, mengajak Kania bermain meskipun Kania selalu kabur." Ara mendengus tertawa mengingat kenangan tersebut.
Lalu pembicaraan itu mengalir begitu saja, Ara dan Jae Hwan tahu mereka sama-sama rindu saat bercerita seperti ini, sebab Jae Hwan adalah pendengar yang baik dan Ara adalah orang dengan segudang cerita menarik.
Mereka tiba di kantor setelah sebelumnya Jae Hwan mengantar Ara pulang untuk mengganti pakaiannya.
"Aku pikir sebaiknya kau segera pindah ke apartemenku, akan merepotkan jika setiap hari kau pulang ke apartemen mu dalam keadaan mabuk." Jae Hwan menggerutu saat mereka berjalan menuju lift, mengabaikan setiap mata yang memandang mereka penuh tanya.
"Tidak akan. Aku suka tempat tinggal ku."
"Dasar keras kepala!"
Kang Sol tiba tidak lama setelah Ara, ia menatap teman kerjanya lekat dan penuh arti membuat Ara merasa di intimidasi.
"Wae, Kang Sol ssi?" Ara bertanya bingung sebab Kang Sol terus menatapnya.
"Aku mendengar gosip aneh pagi ini, dan aku melihat kau terus tersenyum."
"Kau dan sajangnim ..."
Ara tidak menjawab dan hanya tersenyum penuh arti sementara Kang Sol tetap saja penasaran.
**
Seoul semakin dingin di akhir Desember, sepanjang mata memandang hamparan putih seperti tak berujung, temperaturnya bahkan bisa membuat seseorang mengidap hipotermia. Tapi tidak ada yang akan melewatkan momen ini. Salju tidak akan turun sepanjang tahun. Ada sebuah mitos yang mengatakan jika melihat salju pertama bersama pasangan maka cintanya akan abadi. Tapi mitos hanya sekedar mitos. Pun bagi Ara, ia bahkan lupa kapan salju pertama turun hingga natal sebentar lagi tiba ia tidak pernah membeli pohon natal atau menghiasnya seperti orang kebanyakan. Ia hanya tinggal sendiri dan berada di apartemennya untuk tidur saja jadi untuk apa dia membeli pohon natal?
Tapi siang ini Ara harus menemani Jae Hwan membeli pohon natal, ia bilang ini adalah tugasnya sebagai sekertaris, hanya saja Ara tidak tahu bahwa mengurus hal pribadi atasannya ada dalam job desk.
"Bagaimana menurutmu yang ini atau yang sebelah sana?" Jae Hwan menunjuk dua pohon natal yang menurut Ara hampir tidak dapat di bedakan.
"Sajangnim ~" Ara mengeratkan giginya dengan kesal, "apa anda pikir keduanya memilikki perbedaan?" ucap gadis manis itu sambil melipat tangan di d**a.
"Tentu saja, kau harus lihat detailnya."
Jawab Jae Hwan sambil berlalu matanya berkeliling mencari benda-benda lain.
"Heol."
Satu jam dan akhirnya Jae Hwan membeli pohon yang paling besar juga satu kotak penuh pernak pernik natal. Ara menggeleng, ia tahu Jae Hwan tidak mungkin akan menghiasnya sendiri pada akhirnya ahjumma dan juga dirinya yang akan mengerjakannya seperti dulu.
"Aku lapar, ayo makan barbeque dan sebotol soju kita butuh sesuatu yang hangat bukan?" ajak Jae Hwan.
"Kul (setuju)!" Ara memang tidak pernah menolak ajakan mengisi perut.
Mereka melangkahkan kaki pergi ke basement, Jae Hwan menekan tombol pada kunci mobilnya dan seketika mereka tahu harus pergi ke bagian mana.
"Basement itu menyeramkan, kau tahu beberapa film horor dan thriller selalu menampilkan hantu dan pembunuhnya disana." Ucap Jae Hwan membuat Ara bukan ketakutan dan malah terkikik geli.
.
"Baboya (bodoh)!"
"Yaaaaa, Ara ssi kau bahkan sudah bisa menjelek-jelekan atasanmu!"
"Arrasseo, mianhaeyo sajangnim."
Ara membungkuk dan sedikit tertawa mengejek, ia berpura-pura sopan meski menggunakan kalimat informal.
Jae Hwan baru saja memegang pintu mobilnya ketika Ara mematung d sebelah kanan mobil, pandangannya lurus kepada satu wanita yang berjalan menuju arah mereka, wanita dengan turtle neck maroon dan mantel berwarna cokelat, Jae Hwan memanggil Ara namun tidak di hiraukan sampai akhirnya pandangan matanya juga tertuju pada apa yang Ara lihat.
"Oraemaniyeyo oppa (lama tidak bertemu)!" wanita itu menyapa dengan suara yang di buat manja senyumnya mengembang di antara lipstik merahnya yang terlihat glossy.
Tidak ada satu pun dari keduanya yang menjawab, Ara bahkan menaikan alisnya dan menatap wanita itu dengan jijik sementara Jae Hwan berusaha bersikap tenang, ia pandangi Ara sebentar sebelum akhirnya menjawab sapaan wanita itu.
"Eung." Jawabnya singkat.
Wanita itu tidak kehabisan cara, ia bahkan tidak terganggu dengan pandangan Ara.
"Kau terlihat semakin luar biasa Jae Hwan oppa, kau sudah tidak pergi ke Nightlife?" ia menyebutkan salah satu bar terkenal di Gangnam.
Pertanyaannya jelas memancing Ara untuk bereaksi, tapi ia kemudian berpikir lagi untuk tidak terprovokasi dan membiarkan Jae Hwan yang mengurus wanita ini.
"Ahh aku tidak tahu apa maksud ucapan mu tapi bisakah kita berbicara lain kali, aku harus pergi." Ucap Jae Hwan, ia masih berusaha menjaga etikanya dan tidak mengikuti alur pembicaraan wanita ini.
"Lain kali?" wanita itu melipat tangan di d**a dengan senyum penuh arti membuat Jae Hwan menghentikan gerakannya masuk ke mobil dan kembali fokus pada wanita itu.
"Seperti 3 tahun lalu?"