Perjodohan
Suara sirine ambulans memecah keheningan malam disaat sebuah ambulans melarikan seorang pasien yang terkena serangan jantung.
"Ayah, bangun jangan tinggalkan Kia jika ayah pergi Kia dengan siapa," ucap Kia yang terus menggenggam erat tangan ayahnya, membiarkan air matanya terus menetes membasahi pipinya. Bayangan kehilangan sosok satu-satunya yang dimilikinya sosok yang selalu menyayangi dan selalu ada disaat ia sedang merasa kesusahan kini terbayang di benaknya.
"Ayah jangan tinggalin Kia, Ayah buka mata Ayah," ucap Kia menggoyang-goyangkan bahu ayahnya. Namun, sang ayah tetap menutup mata dan tak memberi respon sedikitpun atas tangisannya.
"Pak, ada apa dengan ayahku? Mengapa dia bisa seperti ini. Pagi tadi saat aku berangkat bekerja ayah dalam keadaan baik-baik saja, Pak?" tanya Kia pada petugas yang duduk di sampingnya.
"Kita akan tahu apa yang dialami ayah Anda setelah sampai di rumah sakit, bersabarlah dan berdoa saja semoga semua akan baik-baik saja," ucap petugas ambulans tersebut terus berusaha menenangkan Kia yang terus menangis dan memeluk erat tangan ayahnya.
Begitu sampai di rumah sakit dokter langsung sigap menangani ayah Kia, ia langsung dibawa ke ruang ICU, setelah pemeriksaan secara menyeluruh dokter menyatakan kepada Kia jika ayahnya terkena serangan jantung.
"Jantung? Tapi Dokter ayahku tak punya penyakit jantung," ucap Kia tak percaya dengan apa yang baru saja dokter katanya.
"Sepertinya penyakit ini sudah lama diderita oleh ayah Anda dan ini sudah sangat parah, sudah sangat sulit untuk disembuhkan. Ayah Anda harus menjalani operasi sesegera mungkin," jelas sang Dokter
"Lakukan apa saja Dokter yang bisa menyelamatkan ayahku," ucap Kia memohon kepada Dokter.
"Tentu saja kami akan melakukan yang terbaik untuk ayah Anda, silahkan bayar di bagian administrasi terlebih dahulu."
"Baiklah Dokter." Kia langsung berlari menyelamatkan semuanya.
Saat itu juga ayah Kia langsung mendapat penanganan serius dari Dokter dan setelah beberapa jam tak sadarkan diri akhirnya ayah Kia pun terbangun dan membuka matanya. Kia sangat senang.
"Ayah, Ayah baik-baik saja 'kan?" tanya Kia masih dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Jangan menangis, Nak. Ayah baik-baik saja, penyakit ini tak akan mengalahkan Ayah," ucap ayah Kia memegang dadanya. Ia mencoba untuk kuat, ayah tak ingin melihat putrinya bersedih.
"Kia nggak punya siapa-siapa lagi selain Ayah, jangan tinggalin Kia ya Ayah! Kia mohon," ucapnya semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Kia, maaf jika Ayah tak bisa menemanimu selamanya, maaf jika Ayah tak bisa menjadi Ayah yang baik untukmu."
"Tidak Ayah jangan katakan itu. Ayah adalah Ayah yang terbaik, Kia sangat menyayangi Ayah."
"Kia apa kamu mau memenuhi keinginan terakhir ayah?" tanya ayah menatap lekat mata putrinya. Menghapus air matanya yang masih mengalir di sana.
Kia tertegun, hatinya tersayat mendengar kata-kata ayahnya, 'Keinginan terakhir apakah ini artinya ayah akan meninggalkanku,' batin Kia menjerit tak terima.
Dengan berat hati Kia pun mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Ayahnya.
"Kia anak Ayah, Ayah sudah mengatur perjodohan kamu dengan seorang pria, dia adalah anak sahabat Ayah. Ayah yakin dia akan membahagiakanmu. Mereka dari keluarga yang baik, Ayah ingin melakukan yang terbaik sebelum Ayah meninggalkanmu," ucap ayah dengan tersenyum walau dengan mata yang berkaca-kaca.
Kia hanya terus mengangguk dan memegang tangan ayahnya di pipinya.
"Tunggulah seorang pria yang akan datang menjemputmu, namanya Ziko Admaja. Ayah yakin cepat atau lambat dia akan datang menemuimu dan menjadikanmu sebagai istrinya." Setetes air mata jatuh membasahinya pipi ayahnya.
Kia kembali mengangguk mendengar kata-kata ayahnya dan mengusap lembut air mata itu. Kia tak peduli dengan siapa ia akan dijodohkan, Ia hanya ingin membuat ayahnya senang di saat-saat terakhirnya.
"Jadilah istri dan menantu yang baik, hormati calon suamimu dan keluarganya. Ayah yakin kamu akan bahagia bersama dengan mereka," ucap ayah yang sudah terbata-bata, nafasnya seakan sulit untuk dihirupnya.
"Iya, Ayah. Kia janji akan menuruti apa yang Ayah katakan," ucap Kia berdiri dan menekan tombol untuk memanggil dokter. Kia semakin panik saat melihat ayahnya kesulitan untuk bernafas walaupun memakai alat bantu pernafasan.
"Kia, hiduplah dengan bahagia, jadilah istri yang penurut dan bahagiakan suamimu kelak."
"Ayah Jangan bicara lagi! Ayah pasti akan sembuh," ucap Kia mengecup kening ayah dan beralih ke punggung tangannya. Kia tak bisa menahan isakannya.
"Tidak, Nak. Ayah sudah terlalu lelah, Ayah ingin istirahat. Tolong kabulkan permintaan terakhir Ayah. Ayah hanya ingin kau bahagia, agar Ayah bisa istirahat dengan tenang," ucap ayah mengeratkan genggaman tangannya dan membawa tangan Kia ke dadanya.
"Iya, Ayah. Kia akan menunggu pria yang Ayah maksud, Kia akan selalu bahagia untuk Ayah," ucap Kia dengan suara tercekat, mencoba untuk terlihat tegar di mata ayahnya.
Setelah mendengar ucapan Kia Ayah perlahan menutup matanya, dengan senyum terlihat di bibirnya. Kia bisa merasakan genggaman tangan ayahnya semakin tak bertenaga lagi.
"Dokter," teriak Kia, "Dokter tolong ayahku," teriak Kia semakin kencang saat suara alat pendeteksi jantung sudah menyatakan jika ayahnya sudah tak ada lagi bersamanya.
Dokter dan perawat berlarian dan langsung memeriksa kondisi pasien, memberikan beberapa pertolongan. Namun, dengan sangat menyesal Dokter mengatakan jika pasien sudah meninggal.
Kia duduk terkulai lemah di lantai kini ia benar-benar sudah menjadi yatim piatu, tak ada lagi sosok Ayah yang selalu ada untuknya selalu membuatnya bahagia jika ia merasakan kesedihan. Ayah yang selalu mendekapnya erat saat ia merasa lelah.
Dengan Semua kesedihannya dia mencoba untuk tegar Kia percaya semua yang hidup akan mati mereka hanya tinggal menunggu waktu kapan giliran mereka tiba. Dengan bantuan beberapa tetangga Kia pun memakamkan ayahnya.
Kia duduk di samping pusara ayahnya, mengusap batu nisan yang bertuliskan nama ayahnya. Kia berjanji dalam hati akan menuruti apa keinginan terakhir yang ayahnya inginkan, ia akan menunggu seorang pria yang akan datang untuk menjadikannya istri. Ziko, walau ia tak mengenal orang tersebut dan hanya tahu namanya, terapi Kia yakin ayahnya pasti akan memberikan yang terbaik untuknya.
***
Kia yang tadinya bersemangat pulang menemui ayahnya untuk memberitahu jika ia baru saja diterima menjadi sekretaris di perusahaan besar dimana selama ini dicita-citakannya. Namun, Semua kebahagiaan terhenti saat mendapati ayahnya terjatuh di lantai tak sadarkan diri, ia belum sempat memberi kabar bahagia itu dan ayahnya sudah meninggalkannya.
Sekarang dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan sekarang ayahnya meninggal sebelum melihatnya sukses dan belum sempat membalas kasih sayang Ayah.
Kia menengadahkan pandangannya ke langit seolah ia mengeluh pada penciptanya tentang apa yang selama ini dialaminya. Namun, Kia kembali menguatkan hatinya, percaya bahwa semua yang hidup akan mati, cepat atau lambat ia pun akan menyusul ayahnya. Maut, rezeki, jodoh, semua sudah diatur oleh sang pencipta dan dia percaya jika memang Zico adalah jodohnya yang dikirim oleh Allah untuk menemaninya, walau bukan dijodohkan oleh ayahnya mereka akan tetap akan dipersatukan. Begitu pula sebaliknya.
Sementara itu di sebuah kota, seorang pemuda menarik rambutnya frustasi.
Ya, dia adalah Zico. Ziko tak percaya saat mendengar surat wasiat dari kakeknya yang dibacakan oleh pengacara kakeknya. Dimana di dalam surat wasiat itu mengharuskan Ziko menikah dengan seorang gadis yang bernama Kia Agmika, jika tidak seluruh harta kekayaan peninggalan kakeknya akan disumbangkan ke yayasan.
"Apa-apaan semua ini, wasiat macam apa ini, Pah? Mengapa aku harus menikah dengan orang yang tak aku kenal? Siapa Kia? Di mana dia? Seperti apa orangnya? Mengapa kakek begitu tega melakukan semua ini padaku?" kesal Ziko tak terima dengan isi wasiat tersebut.
"Terima atau tidak itulah yang tertulis dalam surat wasiat ini. Jika Anda tak melaksanakannya maka seluruh harta kekayaan akan kami sumbangkan sesuai dengan keinginan almarhum," ucap pengacara kepercayaan kakek Ziko.
"Apa ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menerima perjodohan itu? Menikahi pilihan kakek?" tanya Ziko menata pengacara itu dengan mata memerah penuh rasa kesal.
"Maaf, Pak. Tak ada cara lain hanya itu yang tertulis di surat wasiat ini, Anda harus menikah dengan seorang gadis yang bernama Kia jika tidak," pengacara tersebut menghentikan ucapannya saat Ziko menggebrak meja membuat semua yang ada di ruangan itu tersentak kaget.
"Ziko, apa susahnya menikahi seorang gadis, kamu tinggal menikahinya dan seluruh harta kekayaan kakek akan jatuh ke tanganmu," ucap Miranda ibu Ziko yang terus-menerus memintanya untuk menjalankan wasit itu.
"Bu, memang sangat mudah untuk menikah, tapi aku tak mungkin menikahi seseorang yang tak kukenal. Apalagi aku memiliki seorang kekasih yang sangat aku cintai, bagaimana tanggapan Kiran jika ia mengetahui aku sudah menikah, dia pasti akan meninggalkanku, Bu," sahut Ziko tak terima.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Menolak perjodohan itu dan memberikan seluruh harta kakek untuk disumbangkan itu yang kau inginkan," sahut Wibowo ayah Zico.
Ziko tertawa menertawakan nasibnya. Disisi lain ia ingin menolak perjodohan tersebut karena mencintai kekasihnya, Kiran. Namun, disisi lain Ia juga menginginkan harta kekayaan kakeknya.
"Dengarkan Ibu! Ibu tahu kau sangat mencintai Kiran, tapi apakah Kiran akan tetap mencintaimu, tetap berada disampingmu saat tahu jika kau sudah tak punya apa-apa lagi? Pikirkan itu baik-baik!" sahut ibu.
Ziko adalah cucu satu-satunya dari kakek membuat hanya dialah yang harus memenuhi wasiat tersebut.
Ziko mendengarkan apa yang ibunya katakan, memang benar jika Kiran tak mungkin akan berada di sampingnya jika ia sudah tak memiliki apa-apa lagi. Selama ini Kiran selalu bersikap manja padanya meminta barang-barang branded dan akan marah jika tak dituruti. Kiran seorang artis papan atas dia harus mengikuti tren.
Ziko menghela nafas berat mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap kedua orang tuanya. Ayah dan Ibu Ziko mengangguk, mereka tak masalah jika harus hidup sederhana, tapi ia tak ingin melihat anak semata wayangnya menderita. Ziko sedari kecil sudah terbiasa hidup mewah.
"Baiklah, aku akan menjalankan wasiat kakek. Dimana aku harus menemukan gadis itu?" tanya Ziko tanpa melihat pengacara tersebut.
Pengacara itu memberikan sebuah amplop yang berisi informasi tentang Kia, foto, nama, alamat dan masih banyak hal tentang Kia yang tertera di sana.
Ziko mengerutkan kening menatap foto Kia dan melihat ke arah pengacaranya.
"Yang benar saja, apa aku harus menikah dengannya?" tanya Ziko yang melihat gadis yang ada di dalam amplop itu adalah gadis yang berusia 15 tahun.
"Itu foto terakhir kakek bertemu dengannya. Sekarang usianya sudah 23 tahun," jelas pengacara tersebut.
Ziko yang merasa kesal menepis berkas itu, melemparnya ke atas meja dengan kasar. Kakek bahkan tak pernah melihat lagi gadis itu, lalu mengapa kakek harus menikahkan kami? Bagaimana jika gadis itu sekarang cacat atau memiliki kekurangan lainnya. Bagaimana jika wanita itu sudah menikah atau sederhana saja gadis itu menoleh menikah denganku? Apa aku harus memaksanya?" tanyanya lagi melihat pengacara kakeknya.
Pengacara tersebut tak menjawab, ia hanya menunduk tak berani menatap mata Zico yang memancar kan kemarahan.
Suasana hening, tak ada yang berani memberikan pendapat termasuk ayah dan ibu Ziko.
Ziko kembali mengambil berkas itu dengan kasar, ia tak lagi memperhatikan biodata calon istrinya yang tertera di sana. Mata Ziko langsung tertuju pada alamat gadis itu dan mencatatnya.
"Besok aku akan menemuinya," ucapnya kemudian keluar dari rumahnya, semua itu membuatnya benar-benar pusing. Ziko mengendarai kendaraan menuju ke lokasi Syuting Kiran. Hanya Kiran yang bisa menenangkannya.
Keesokan harinya Ziko bertolak menuju ke alamat yang dituju.