Ingin rasanya Kia meneriakkan semua rasa sakitnya, ia seperti terombang-ambing tak tahu arah ke mana sebenarnya arah pernikahannya. Akan dibawa kemana pernikahannya. Seberapa keras pun Kia berusaha untuk mempertahankan pernikahannya tetap saja ada celah yang membuat hatinya terasa tersayat akan kenyataan rumah tangganya.
Ingin rasanya Kia mengatakan kepada wanita itu jika Zico adalah suaminya, mengatakan kepadanya jika jangan mengganggu kehidupan mereka. Namun, kenyataan itu tak bisa dilakukannya. Kenyataan jika suaminya memang memilih wanita itu dibanding dirinya dan dialah yang datang di tengah-tengah mereka.
"Sebenarnya siapa orang ketiga diantara hubungan ini, aku atau wanita itu," batin Kia menjerit, ia hanya terus berjalan dengan tatapan kosongnya menyusuri trotoar. Tak peduli terik matahari yang bisa membakar kulitnya.
Kia yang lelah berjalan melihat sebuah taman kemudian Ia pun berjalan dan menghampiri taman tersebut, ia duduk di bawah pohon melihat lurus ke depan, melihat anak-anak yang sedang bermain. Kia memegang perutnya, masih ada satu harapan yang bisa membuatnya tetap semangat mempertahankan rumah tangganya, ia berharap jika suatu saat nanti ia mengandung mungkin saja Ziko akan memilihnya dan juga bayinya dibanding wanita itu.
Kia terus terdiam dan menatap lurus ke depan, membiarkan air matanya terus jatuh membasahi pipinya.
Lama Kia terdiam membayangkan setiap rasa sakit yang selama ini suaminya berikan, hingga rasa sakit yang baru saja dirasakannya. Semua itu membuat Kia menangis tersedu-sedu, dia berharap setelah ia menangis ia bisa meluapkan segala kesedihannya, hatinya akan merasa lebih lega, hatinya akan kembali kuat. Kia tak peduli orang-orang yang melihatnya, ia hanya terus menangis jika hingga hatinya bisa lega.
"Ambil ini," ucap seseorang memberikan sapu tangan kepadanya,
Kia mendongak dan melihat pria tampan berdiri di depannya menyodorkan sebuah sapu tangan.
"Ayo ambil!" ucapnya lagi membuat Kia mengambil sapu tangan tersebut.
"Anda siapa?" tanya Kia yang sama sekali tak mengenal orang itu. Namun, Ia tetap mengambil sapu tangan yang diberikan.
"Bukan siapa- siapa," ucapnya duduk di samping Kia.
"Terima kasih," lirihnya menggunakan sapu tangan itu untuk mengusap air matanya.
"Jika menangis rasa sakitmu bisa berkurang, menangislah! Jangan hiraukan aku. Jika aku bisa menangis sepertimu aku akan melakukannya, tapi sayang aku tak bisa melakukannya."
"Kenapa? Jika ingin menangis, menangislah bersamaku, lagi pula di taman ini aku tak mengenal siapapun biarlah mereka berpikir jika aku ini seperti anak kecil yang menangis. Aku tak peduli."
"Jika mereka mendengar tangisanmu mereka hanya akan menganggapmu anak kecil, mereka juga akan kasih padamu. Berbeda jika aku yang menangis, mereka akan menganggapku orang gila dan bukannya kasih aku yakin mereka akan menertawakanku, tak akan ada yang kasihan padaku," ucapnya terkekeh kecil.
Mendengar itu senyum tipis terbit di bibir Kia, benar juga jika seorang yang berpakaian setelan jas lengkap dan bertubuh tegap juga berwajah tampan seperti itu menangis semua pasti akan menertawakannya.
Kia melihat penampilan orang yang sedang duduk di sampingnya, terlihat begitu sempurna lalu beban apa yang dipikulnya sehingga ia mengatakan ingin menangis sepertinya.
"Sudahlah aku kembali bekerja dulu, senang bertemu denganmu," ucap pria itu meninggalkan Kia seorang diri, Kia hanya menatap punggungnya,
"Jika orang yang sempurna seperti dia saja memiliki beban yang sulit bagaimana dengan diriku yang memiliki banyak kekurangan jika dibandingkan Kiran," gumamnya membandingkan dirinya dengan wanita yang saat ini berada di hati suaminya.
Kia melihat sapu tangan tersebut,
"Dengan menangis seperti ini tak akan menyelesaikan apapun. Aku harus mencari cara untuk mempertahankan Rumah tanggaku, aku takkan membiarkan Kiran merusak semuanya, aku akan mengeluarkan dia dari hati suamiku," batinnya kembali menguatkan dirinya.
Kemudian Ia pun mengambil ponselnya mencari media sosial milik artis terkenal itu dan dengan mudah ia bisa mendapatkan media sosialnya. Kia bisa melihat jika beberapa menit lalu Kiran mengupload foto sedang makan disebuah restoran dan Kia yakin itu adalah restoran yang baru saja ia datangi.
Kia melihat sapu tangan itu kemudian melihat orang tadi, orang itu sudah menghilang dari pandangannya, "Aku akan mengembalikannya saat bertemu dia lagi," batinnya Kemudian Kia yang sudah merasa sedikit lebih tenang memutuskan untuk kembali ke Apartemennya.
Sore hari Kia mengirim pesan kepada Ziko, apakah dia ingin makan malam di rumah atau di luar.
"Aku sedang ada urusan penting di luar, Malam ini aku akan pulang terlambat dan akan makan di luar, tidurlah lebih dulu tak usah menungguku," balas Ziko.
Kia menghela nafas melihat balasan itu ia yakin saat ini Ziko pasti masih bersama dengan Kiran. Ia kembali melihat akun media sosial Kirana dan kali ini ia memposting sebuah foto dirinya yang sedang bergandengan tangan dengan seseorang di pantai, Kia Sangat mengenal tangan yang sedang bergenggaman tangan dengan Kiran, itu adalah tangan suaminya terlihat dari potongan jas yang dipakainya tadi dan juga jam tangan yang dikenakannya.
Kia hanya kembali menghela nafas dan menyimpan kembali ponselnya, Ia masuk ke dapur memasak menu sederhana untuk dirinya sendiri.
Setelah makan malam sendiri, Kia duduk di ruang TV, ia menonton dengan asal acara TV. Matanya melihat ke arah TV. Namun, pikirannya terus melayang. Hal apa yang harus dilakukannya agar bisa membuat suaminya itu tenang di rumah, ia sudah mempercantik dirinya memakai pakaian seksi. Namun, tetap saja suaminya masih lebih nyaman tinggal di luar. Membuat makanan yang enak itu juga sama sekali tak memiliki dampak apapun.
"Ini adalah cara satu-satunya, semoga saja dengan adanya bayi di rumah ini Mas Ziko akan lebih senang tinggal di rumah." Kia memegang perutnya.
****
Sementara itu di pantai Ziko dan juga Kiran sedang berjalan-jalan menikmati udara pantai.
"Kiran ini sudah malam, aku pulang dulu ya."
"Kenapa sih, akhir-akhir ini kamu selalu saja pulang cepat, biasanya juga kamu selalu senang saat berada di dekatku. Kamu biasanya yang melarangku untuk pulang lebih dulu, apa jangan-jangan ada seseorang yang menunggumu?"
"Walau ada yang menungguku, tapi hatiku tetap untukmu," ucap Ziko membuat Kiran menghentikan langkahnya.
"Siapa yang menunggumu?"
"Menurutmu siapa?"
"Jangan bilang ada wanita yang menunggumu ya? Aku akan sangat marah jika itu benar terjadi."
"Jika kau tak ingin ada wanita lain yang menungguku, maka kamulah yang harusnya menungguku di sana. Aku pasti sangat senang saat pulang ke rumah dan melihatmu menungguku." Ziko tersenyum penuh arti dan berjalan menghampiri Kiran yang masih berdiri di tempatnya.
Mendengar itu Kiran mengalihkan pembicaraan mereka, ia tahu jika pasti Ziko akan kembali mengajaknya untuk menikah dan dia belum siap akan hal itu.
"Kiran, bagaimana jika aku benar-benar sudah menikah dan ada yang menungguku di Apartemenku. Apa kau akan marah?" tanya Ziko
"Tentu saja tidak. Aku akan berterima kasih padanya karena telah menjadi istri untuk sementaramu dengan begitu kau tak akan terus memintaku untuk segera menikah, tapi jika aku sudah setuju untuk menikah, kau harus meninggalkannya. Memberikan tempatku jika aku sudah siap menjadi istrimu," ucap Kiran mengedipkan matanya.
"Benar kau tak akan marah?" tanya Ziko lagi membuat Kiran tertawa, "Sudah, Ah! candaanmu tak lucu. Awas aja kalau sampai benar kau menikah dengan orang lain," ucapnya berjalan lebih dulu, sementara Ziko berjalan pelan di belakangnya. "Tapi aku memang sudah menikah dan saat ini ada seorang wanita di Apartemenku yang selalu menunggu ku pulang, tapi tenang saja di hatiku hanya ada kamu dan jika memang kau sudah siap aku akan memintanya untuk mengembalikan tempatmu, karena memang posisi itu hanyalah milikmu," gumamnya pelan terus tersenyum berjalan mengikuti Kiran yang sudah berjalan lebih dulu.
Ziko melihat Kiran yang begitu menikmati suasana pantai, ia sesekali melompat-lompat, berputar, berlarian dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Itulah yang membuat Ziko jatuh cinta padanya. Wajah cantik dan juga sikapnya yang membuat Ziko merasa nyaman berada di dekatnya.
Tiba-tiba ia teringat akan Kia, "Sedang apa Kia sekarang." Ziko melihat ponselnya ia ingin menelpon Kia. Namun, baru saja ia ingin menekan nomor istrinya itu Kiran langsung memanggilnya, membuat Ziko kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan sedikit berlari kecil menyusul Kiran.
Ziko mengangkat dan memutarnya, suara gelak tawa mereka memenuhi pantai diterangi indahnya sinar rembulan dan ribuan bintang yang ada di Langit.
Ziko menggenggam tangan Kiran, mereka berbaring di sana, membiarkan pakaian mereka kotor dengan butiran-butiran pasir pantai.
Setelah beberapa lama bersenang-senang dan menikmati suasana pantai Ziko pun mengantar Kiran kembali ke Apartemennya. Lagi dan lagi Kiran mengajaknya untuk menginap di tempatnya. Namun, Ziko seperti biasanya dengan halus menolaknya.
"Baiklah hati-hati di jalan," ucap Kiran yang tahu jika kekasihnya itu tidak akan mau menginap di Apartemennya.
Ziko mengendarai mobilnya menuju ke Apartemen miliknya, begitu masuk ia melihat Apartemen yang sudah gelap dan pintu kamar Kia yang sudah tertutup rapat, Ia pun masuk ke dalam kamarnya Sendiri dan membersihkan badannya.
Kia bisa mendengar Ziko yang sudah datang, tadinya ia ingin keluar menyambutnya. Namun, Kia menghentikan langkahnya saat akan membuka pintu, kembali mengurungkan niatnya. Kia kembali sadar Seperti apa posisinya di rumah itu dan memutuskan untuk kembali ke tempat tidurnya berharap Ziko kembali datang ke kamarnya. Namun, hingga larut malam Ziko tak kunjung datang.
Pagi hari Ziko berangkat lebih dulu, ia berangkat ke kantor sebelum Kia keluar dari kamarnya.
Kia masuk ke kamar Ziko mengambil pakaian kotor yang ada di sana dan melihat banyaknya pasir pantai yang melekat pada jas suaminya itu, Kia kembali mengingat foto yang diupload oleh Kiran semalam,.foto yang menunjukkan jika ia sedang berada di pantai.
"Apa kau sangat mencintainya hingga tak sedikitpun menghargai perasaan. Apa tak ada sedikitpun rasa untukku setelah apa yang kita lalui bersama," gumamnya hanya bisa mengelus pakaian suaminya.
Semua itu menyadarkan dirinya jika ia tak ada apa-apanya dibanding Kiran di mata Ziko.