Kia bangun di pagi hari, ia melihat suaminya sudah tak ada disampingnya. Kia malas untuk bangun lebih dulu membuat sarapan seperti biasanya, pasalnya sudah beberapa hari ini Ziko juga tak mau sarapan di rumah, "Lebih baik aku bersantai saja," gumamnya, ia juga masih merasa seluruh tubuhnya terasa lelah karena permainan Ziko semalam.
Kia menajamkan pendengarannya saat mendengar sesuatu yang ribut-ribut dari luar kamar, Ia pun menghampiri pintu dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Kia membuka sedikit pintu, tapi ia tak bisa melihat apa-apa. "Apa yang mas Ziko lakukan di dapur, kenapa berisik sekali," Kia pun memutuskan untuk mandi mengganti pakaian dan keluar menghampiri dapur dan ternyata ia melihat Ziko meletakkan dua piring nasi goreng di meja makan, Ia pun melangkah menghampirinya.
"Mas masak nasi goreng ini?" tanyanya melihat ke arah Ziko yang sedang membuat telur dadar sebagai pelengkap.
"Iya," jawabnya singkat.
Muncul rasa bersalah di hati Kia, karena tak bangun lebih awal membuat sarapan untuk suaminya dan malah bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.
"Aku tak yakin rasanya enak. Aku sudah lama tak masak," jawabnya menarik kursi agar Kia bisa duduk dan meletakkan telur dadar yang telah jadi.
"Cobalah," tambahnya memberikan sendok kepada Kia dan Ziko sendiri duduk di sampingnya mengambil satu nasi goreng miliknya kemudian mulai memakannya.
Kia pun mulai memakan nasi goreng tersebut.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Rasanya enak," jawab Kia memuji masakan suaminya dan menaikkan jempolnya. Membuat Ziko tersenyum dan mereka pun makan nasi goreng tersebut hati Kia menghangat. 'Apakah ini awal dari hubungan mereka yang lebih baik lagi' batinnya.
Setelah menghabiskan makanannya Ziko pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Aku siap-siap ke kantor dulu ya, kamu saja yang membereskan semua ini. Maaf aku jadi memberantakan dapur," ucapnya.
"Iya Mas. Ini memang tugasku maaf karena tak bangun lebih awal membuatkan sarapan sehingga mas yang harus membuat sarapan nasi goreng seperti ini."
"Iya nggak apa, aku siap-siap dulu." Ziko pun berlalu ke kamarnya. Kia menatap punggung suaminya ada rasa senang di hatinya, senyum terlihat di bibirnya kemudian Ia pun dengan bersemangat membersihkan dapur.
Ziko duduk di sofa dan memakai sepatunya Kia kembali menghampiri suaminya itu.
"Apa mas mau aku bawakan makan siang?" tawarnya.
"Nggak usah, aku ada rapat siang nanti di restoran. Biasanya kami akan langsung makan siang, ya sudah aku berangkat dulu," ucap Ziko kini terlalu keluar. Namun, Kia mengambil tangannya mencium punggung tangan Ziko.
Ziko yang awalnya terkejut hanya kemudian membiarkan apa yang Kia lakukan.
"Aku berangkat dulu."
"Hati-hati dijalan ya ,Mas!'
Ziko hanya mengangguk samar sebagai jawaban kemudian Ia pun meneruskan langkahnya keluar dari Apartemennya, ia melihat punggung tangannya yang di cium oleh Kia, ia hanya tersenyum melihatnya, sesuatu yang baru untuknya.
"Apa yang harus aku lakukan seharian di sini," gumamnya, Kia melihat ruangan yang kosong kemudian ia teringat akan kartu yang diberikan oleh Ziko. Ia pun berlari ke kamar melihat kartu itu, "Kita lihat apa yang bisa aku beli dengan kartu ini, Kia kembali mengganti bajunya dan bersiap untuk menggunakan kartu yang diberikan oleh Zico.
Kia pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dengan membawa kartunya, awalnya ia melihat-lihat tas yang ia yakini harganya Pasti sangat mahal. Namun, mengingat Ziko adalah seorang CEO ia harus menyesuaikan diri jika suatu waktu Ziko memintanya untuk menemaninya ke suatu tempat, atau acara tentu. Ia harus memiliki satu atau dua tas mahal, Kia tak boleh mempermalukan jabatan suaminya walaupun ia tak yang Ziko akan mengajaknya atau tidak.
"Apa kartu ini bisa membelinya ya," ucapnya kemudian mengambil dua tas yang menurutnya sangat cocok untuk dipakai segala jenis baju dan warna. Kia pun menghampiri kasir dan memberikan kartu tersebut untuk pembayaran tasnya, ternyata dengan kartu itu ia bisa membayar dua tas mahal yang dipilihnya.
"Sekarang kita cari gaun," gumamnya bersemangat kemudian Kia Kembali menuju ke salah satu stand pakaian memilih pakaian yang cantik dan mahal semua itu ia persiapkan jika saja Ziko mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat. Selain pakaian formal Kia juga membeli beberapa pakaian yang bisa dipakainya untuk setiap harinya, untuk mempercantik dirinya. Ia sadar menjadi istri seorang Ziko ia harus tampil cantik dan menarik, terlebih lagi saat ini cinta Suaminya belum berpihak pada. Saat ini Kia hanya ingin menjadi istri yang patuh dan bersabar hingga cinta itu menghampiri mereka.
Saat ini Kia harus bisa membuat suami tertarik dengan tubuh, wajahnya dan juga penampilannya.
Setelah membeli barang-barang yang bisa menunjang penampilannya Kia pun menuju ke sebuah salon dan mulai memilih perawatan full untuk badanya.
Kia melihat jamnya ini sudah hampir sore ya, ia harus pulang ke Apartemen sebelum Ziko pulang. Setelah melakukan beberapa treatment Kia pun bergegas untuk pulang. Saat di jalan ia tak sengaja melihat mobil suaminya di lampu merah.
"Itu kan mobil mas Ziko, Apa dia sudah mau pulang ya," gumamnya. Namun, saat lampu sudah berubah Ziko mengarah ke arah lain bukan mengarah ke Apartemen mereka, membuat dia bertanya-tanya mau ke mana dia. Namun, ia tak ingin berprasangka buruk mungkin saja suaminya itu ingin bertemu dengan kliennya.
Kia kembali ke rumah menunggu suaminya dengan memakai pakaian tidur yang seksi, mungkin saja Ziko malam ini akan kembali tidur dengannya.
"Mengapa aku merasa menjadi wanita penggoda." Kia terkekeh kecil melihat penampilannya. Yang begitu seksi dan terlihat lebih segar setelah menghabiskan waktu di salon.
Jam 08.00 malam Ziko pun pulang dan benar saja melihat Kia yang cantik membuat Ziko tertarik dan malam ini mereka kembali tidur di kamar yang sama, Ziko kembali meminta haknya sebagai seorang suami dan kali ini Kia melakukannya dengan sepenuh hati membuat Ziko sangat puas akan hal itu.
Namun, setelah percintaan panas mereka Ziko mendapat telepon. Ziko yang tadinya memeluk tubuh polos Kia pun berjalan ke balkon kamarnya, mengangkat telepon tersebut dengan hanya mengenakan handuk.
Kia penasaran sepenting apa panggilan itu sampai Ziko langsung meninggalkannya. Kia pun mendekat dan bisa mendengar jika Ziko memanggil Sayang pada seseorang di balik telepon tersebut, Kia menggigit bibir bawahnya, hatinya perih. Masih terasa sisa percintaan mereka, tapi dengan santainya suaminya itu mengucap kata sayang dan terlihat begitu bahagia mendapat panggilan itu.
"Siapa dia? Siapa yang dipanggil sayang oleh mas Ziko," batinnya menjerit perih. Melihat jika Ziko sudah selesai menelpon, Kia Kembali ke tempat tidur dan pura-pura tidur, dia melihat Ziko keluar dari kamarnya dengan senyuman bahagia sambil terus menatap layar ponselnya, setetes air mata jatuh menetes tak tertahankan, menggambarkan betapa hancurnya hatinya saat ini.
Kia menggantungkan banyak harapan dalam pernikahannya dengan Ziko. Ia sudah tak punya siapapun hanya Ziko tempatnya bersandar.
Karena perhatian Ziko pagi tadi, Kia lupa jika Ziko pernah mengatakan jika ia memiliki seorang wanita yang dicintainya dan Kia yakin wanita yang tadi menelponnya adalah wanita yang Ziko maksud saat itu.
'Apakah salah jika aku menginginkan cinta suamiku,' batinnya, Kia menghapus air matanya kemudian Ia pun menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Kia hanya bisa menghela nafas mencoba menenangkan hatinya dan bersiap untuk tidur.
Ini adalah takdirnya yang harus dijalaninya.
Pagi hari Kia yang tak ingin Ziko kembali memasak untuknya bangun lebih awal membuat sarapan untuk mereka, Kia merasa senang saat Ziko menghampiri makanannya dan makan bersama, sikap Ziko sangat ramah padanya pagi ini dan itu membuat dia merasa senang dan melupakan rasa sakit nya malam tadi.
Saat sedang sarapan Ziko kembali mendapat panggilan dan Kia bisa melihat jika panggilan itu adalah seseorang yang dipanggil suaminya Sayang semalam, Ziko pun mengangkat teleponnya.
"Aku masih di Apartemenku, kita ketemu sore saja ya. Aku sedang banyak pekerjaan hari ini," ucap Ziko membuat Kia hanya diam dan mendengarkan apa yang Ziko katakan.
Ziko menutup panggilannya kemudian mulai memakan sarapan yang dibuat oleh Kia.
"Bagaimana sarapannya?" tanya Kia.
"Seperti biasa masakanmu selalu enak," jawab Ziko membuat Kia pun tersenyum dibalik hatinya yang saat ini terasa sangat perih.