Haruskah Menikah Untuk Menutupi Aib

1056 Kata
"Sira, lihat Putri nggak?" Sudah nyaris dua minggu Devina tidak melihat Putri di kampus. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Padahal ia sangat butuh teman untuk mencurahkan hatinya yang sedang patah. Sedang teman lain jarang ada yang mau mendengarkan curhatannya. Beberapa dari mereka malah bilang muak, karena ia yang tak berhenti membahas tentang Putra dan Putra. Beberapa lagi malah menyalahkannya. Padahal ia bercerita untuk mencari pembelaan diri sekaligus menenangkan hati bukan untuk diceramahi. Dan satu-satunya teman yang bisa memahami dirinya hanya Putri. Ia sudah melakukan berbagai cara untuk membuat Putra kembali padanya. Tapi gagal. Bahkan kini hidupnya kian terkekang di bawah pengawasan ayahnya. Setelah selesai kuliah ia harus langsung pulang ke rumah. Putra juga mengusirnya dari apartemen. Karena apartemen itu memang milik Putra. Dulu mantan kekasihnya itu mengijinkannya tinggal di sana, supaya ia tidak terlalu jauh jika pergi ke kampus. "Putri katanya mau cuti kuliah, deh. Tapi kurang tahu juga. Coba tanya yang lain." Jawaban Sira kurang meyakinkan. "Cuti kuliah?" Devina tiba-tiba kesal. Karena Putri sama sekali tak mengatakan apapun padanya. Sebagai sahabat ia merasa tak dianggap. Sementara apa-apa ia selalu cerita pada Putri. "Iya. Mungkin mau fokus kerja dulu kali. Soalnya, kan dia kuliah cari biaya sendiri. Tapi nggak tahu juga, ya. Aku cuma nebak-nebak aja. Soalnya putri udah lama juga ceritanya." Devina hanya tersenyum masam, sebelum kemudian membalas lambaian tangan Sira yang pamit untuk mengikuti kelas selanjutnya. Sedang ia memilih bolos. Paling malas dengan mata kuliah sastra inggris yang membosankan itu. Atau lebih tepatnya, baginya semua mata kuliah itu membosankan. Karena ia kuliah hanya karena desakan orang tua juga gengsi, bukan karena kemauan sendiri. Lagipula saat ini ia tidak bisa konsen untuk melakukan apapun. Semangat hidupnya seolah lenyap setelah hubungannya dengan Putra berakhir. Kaki jenjangnya nampak menapak gontai keluar gedung kampus. Ia ingin menghibur diri entah ke mana. Wanita itu berdiri di tepi jalan menunggu taxi. Sejak kelakuan buruknya diketahui orang tuanya. Ia tak diijinkan lagi membawa mobil sendiri. Pulang pergi harus diantar sopir. Sudah seperti saat ia sekolah TK dulu. Kemana-mana harus diantar jemput. Kebebasannya benar-benar terenggut. Belum uang sakunya pun benar-benar dibatasi. Lama menunggu, tak ada satu taxi pun yang lewat. Sementara untuk memesan melalui aplikasi, ia juga terlalu malas. Pandangannya celingukan ke sana ke mari. Hingga pandangannya tertuju ke sosok yang sangat ia kenali. Sosok pria yang dulu mencintainya setengah mati. Lalu setelah putus, setengah mati pula kebenciannya padanya. Meski memang salahnya juga kebablasan saat bermain-main dengan Dewa. "Jangan-jangan Putra lagi nungguin aku." Tiba-tiba ia menggumam kegirangan. Siapa tahu bukan? Siapa lagi yang pria itu cari di sekitar kampus ini kalau bukan dirinya? Putra tak punya satu pun kenalan di daerah sekitar kampusnya ini. Dengan penuh percaya diri Devina berlari mendekat. Senyumnya memgembang penuh harapan. Namun begitu jarak di antara mereka kian dekat dan pria tampan itu akhirnya menyadari kehadirannya. Sorot dingin dari matanya masih sama. Tidak ada lagi senyum penuh cinta seperti saat dulu mereka masih menjalin kasih. Dan belum cukup itu saja. Pria itu langsung melengos seolah enggan menatap kepadanya. Harapan Devina pupus saat itu juga. Mereka kini berdiri dalam jarak yang sangat dekat tapi seperti dua orang asing yang tak saling mengenal. Padahal dulu mereka adalah pasangan kekasih yang tak terpisahkan. "Sayang ...." Devina mengiba. Namun Putra justru malah memasang wajah jijik ketika mendengar Devina masih memanggilnya dengan panggilan lamanya. Wanita itu benar-benar putus asa. Nyaris saja ia merangsek maju untuk memeluk pria yang begitu ia rindukan itu. Namun sebuah panggilan menghentikan niatnya. "Nak Dev!" Devina menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok perempuan tua dengan tubuh kurus berlari mendekat ke arahnya. "Tante Marni." Devina menggumamkan nama ibu Putri itu. "Nak Dev. Lihat Putri nggak, ya?" tanya perempuan itu dengan nafas tersengal. Ia terlalu senang karena akhirnya bisa berjumpa dengan sahabat putrinya. Sudah dua mingguan Putri tidak pulang ke rumah. Sebagian baju dan ijazahnya juga dibawa. Awalnya Marni berniat membiarkannya saja. Tapi namanya seorang ibu, meskipun ia sering marah-marah, dan sekesal apapun pada anaknya. Tetap saja merasa khawatir. Hingga hari ini ia meninggalkan warung makannya sejenak untuk mencari Putri di kampusnya. Karena Marni tidak tahu lagi ke mana harus mencari selain di sana. Sedangkan ia juga tidak tahu harus menghubungi siapa. "Putri? Bukannya Putri cuti kuliah, memangnya nggak ijin sama Tante?" tanya Devina terheran. Atau jangan-jangan Putri kabur, karena dijodohkan lagi dengan pria tua kaya. Marni menggeleng lesu. Wajah tuanya nampak menampilkan sorot mata penyesalan. Jika sedang emosi, ia memang seringkali meledak-ledak. Hingga keluar kata-kata yang menyakiti. Tapi wajar bukan? Orang tua mana yang tidak kecewa saat mengetahui anaknya hamil di luar nikah. "Nak Dev. Tante mau tanya sesuatu. Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya hati-hati. Sementara tak jauh dari mereka, Putra ikut mencuri dengar pembicaraan mereka. Satu kesimpulan muncul di kepalanya. Ia terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga melewatkan perkembangan Putri. Niatnya hari ini untuk menemui wanita itu. Ia sengaja menunggu di tempat biasa. Tapi, dari pembicaraan yang tak sengaja ia dengar ini. Sepertinya ia bisa mengambil sebuah kesimpulan. Putri kabur. Kemungkinan besar, wanita itu benar hamil. Kalau tidak, wanita itu pasti akan tetap melanjutkan hidupnya di sini seolah tak terjadi apapun. Tapi wanita itu memilih pergi. Ia yakin seratus persen bahwa dugaannya benar. Tangannya meraih sebatang rokok di tangan, menyalakannya dan menghisapnya dengan ahli. Ia bukan perokok. Tapi di saat-saat tertentu, ia butuh nikotin untuk menenangkan kegundahan hati. Kakinya melangkah gontai, kepalanya sesekali mendongak ke atas menatap langit yang cerah dengan matahari yang bersinar terik di atas sana, membawa panas ke bumi tempatnya berpijak. Ia telah melakukan dosa besar. Berzina, merenggut kesucian seorang gadis dan gadis itu hamil saat ini. Sesuatu yang bahkan tak pernah terfikirkan apalagi terbayangkan bisa dilakukan oleh orang sepertinya. Putra Prabaskara, selama tiga puluh tahun hidupnya. Ia sanggup menjaga diri. Bahkan saat melakukan liburan bersama Devina. Ia masih bisa menahannya. Tapi malam itu. Alkohol dan amarah telah menghancurkan semuanya. Minuman haram itu mengantarnya ke dosa yang lebih besar. Bahkan lebih dari itu, ia berniat menambah lagi daftar dosanya dengan ingin melenyapkan janin buah kesalahannya itu. Ia rasa itu mungkin salah satu alasan Putri melarikan diri. Selain mungkin ada faktor lain, yang pasti kehamilannya adalah aib yang akan membuat malu keluarganya Apa yang terjadi malam itu bukan hanya salah Putri. Namun sudah pasti ada andil besar darinya. Haruskah ia menjadi pengecut dan membiarkan Putri menanggung semuanya sendiri? Apa pernikahan adalah penyelesaian dari kesalahan mereka? Tapi bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan wanita yang bahkan tak dicintainya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN