Saya Pacarnya Putri

1392 Kata
Putri mengelap mulutnya setelah memuntahkan seluruh sarapan paginya. Lagi dan lagi. Hal itu kini menjadi rutinitas pagi. Ia harus berusaha menahan suara muntahannya supaya tak terdengar sampai di luar dan sejauh ini tidak ada yang mencurigainya. Yang begitu Putri syukuri, setidaknya ia masih punya kekuatan untuk bekerja, meskipun yang bisa masuk ke perutnya hanyalah s**u hamil dan makanan-makanan ringan saja. Karena sejak mengetahui kehamilannya. Ia sama sekali tidak berselera pada nasi. Sesekali memaksakan diri, tapi hanya sanggup sesuap dua suap saja. Setelahnya Putri benar-benar menyerah dengan rasa mual yang mendera. Sudah dua bulan ini ia bekerja di sebuah salon. Ia tahu lowongan itu dari Sira, teman yang ia kenal dekat karena sama-sama bekerja freelance sebagai SPG kecantikan. Ia juga meminta Sira untuk merahasiakan keberadaannya pada siapapun. Dan Putri merasa bersyukur karena pemilik salon adalah orang yang sangat baik dan menyayanginya seperti anak sendiri. Untuk tempat tinggal, ia tinggal di mess yang kebetulan memang di sediakan oleh bosnya. Letaknya ada di lantai 2. Sedang di lantai satu untuk usaha salon, pengisian galon dan konter pulsa serta handphone. Tepat ketika ia membuka pintu kamar mandi, ia dikejutkan oleh kehadiran bosnya yang menyambutnya dengan senyum lebar. Di tangan wanita paruh baya yang berwajah keibuan itu ada plastik berisi bungkusan nasi. "Bu ... Cici?" Putri gugup. Tak menyangka pagi-pagi sekali bosnya itu sudah datang ke mess. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Ada empat karyawan yang tinggal di mess itu. Dan hanya ia yang terbiasa bangun subuh, menjalankan solat baru kemudian membersihkan mess. Mulai dari menyapu, mengepel atau membuang sampah. "Kamu sudah sarapan?" tanyanya ramah sembari mengangkat plastik putih itu. Putri yang masih kaget dengan kedatangan bosnya yang tiba-tiba itu hanya bisa mengangguk. Memang rumah bosnya itu ada di belakang tempat usahanya. Hanya saja selama dua bulan di sini. Tak sekalipun bosnya itu datang berkunjung ke mess. "Mau sarapan lagi. Kayaknya kamu habis muntah-muntah, ya, Put. Kamu masuk angin? Jaga baik-baik kesehatan, Put. Memang lagi musim sakit sekarang. Itu suami ibu baru kemarin sembuh. Itu juga dua kali pindah dokter. Baru ada perubahan." "Iya, Bu. Dari kemarin memang agak kurang enak badan, sih." Putri mau tak mau bersandiwara. Berharap bosnya itu tak menaruh curiga. "Ya, udah. Hari ini kamu istirahat aja dulu. Nanti kalau sudah sehat, baru kerja lagi. Masalah gaji nggak usah khawatir. Nggak bakalan saya potong, kok. Ini ... buat kamu periksa nanti. Cari dokter yang bagus, Put." Cici merogoh sesuatu dari saku celananya. "Waduh, Put. Cuma ada dua ratus. Nanti deh saya ambil dulu di rumah." "N-nggak usah, Bu. Saya masih punya ...." "Udah terima aja." Cici menukas cepat dan memaksakan tangan Putri untuk menerima uang darinya. "Oh, iya ... ini ibu tadi beli nasi kuning. Sekalian aja beli buat kalian. Yang lain belum pada bangun, ya?" Tenggorokan Putri rasa tercekat hanya untuk menjawab pertanyaan yang harusnya bisa dijawab dengan mudah itu. Namun rasa bersalah membuatnya kesulitan untuk bicara. Karena dari satu kebohongannya ini pasti akan berlanjut lagi ke kebohongan-kebohongan yang lain. Lalu yang ia lakukan sekali lagi hanya menganggukkan kepalanya. "Ya udah kamu istirahat dulu. Kalau sakit mah nggak usah dipaksain beres-beres." Putri hanya tersenyum kecut. Wajahnya seketika berubah muram setelah bosnya itu berpamitan dan pergi. Pandangannya lalu beralih ke dua lembar uang warna merah di tangan. Bu Cici begitu baik tapi ia malah membohongi wanita baik hati itu. Putri sadar, bahwa kebohongannya akan terbongkar dalam hitungan bulan ke depan. Perutnya tidak akan terus rata. Seiring bertambahnya usia kehamilan maka akan semakin membesar pula janin dalam perutnya. Dan saat itu, ia tidak mungkin lagi menutupi aib ini. Untuk saat ini, Putri hanya mengikuti ke mana alur hidup membawanya. Meski sejujurnya ia merasa was-was. Setelah melahirkan nanti akan seperti apa dan bagaimana. Banyak ketakutan-ketakutan yang melintas di kepalanya dan membuatnya sering tidak bisa tidur di malam-malamnya yang sepi. Sementara untuk mengadu pada Sang Pemilik Kehidupan. Ia terlalu malu. Terkadang, Putri merasa takut apakah ibadah seorang pendosa sepertinya diterima? *** "Lho, Put? Kamu sudah sehat? Kalau nggak kuat jangan dipaksain." Bu Cici seperti biasanya selalu perhatian kepada para karyawannya. Termasuk dirinya yang masih karyawan baru. "Udah sehat kok, Bu. Tadi sudah minum obat." Putri menjawab gugup. Sebenarnya ia ingin mengembalikan dua ratus ribu yang diberikan bosnya tadi. Hanya saja ia sedang mencari waktu yang tepat. "Kamu yakin?" Putri mengangguk mantap. Karena ia memang baik-baik saja. Bahkan nasi kuning yang tadi diberikan oleh bosnya itu, bisa diterima oleh perutnya. Ia benar-benar sehat dan energinya penuh saat ini. "Ya, udah. Tapi nanti kalau nggak sanggup ngomong aja, ya, Put." "Iya, Bu. Makasih." Seperti biasa salon tempatnya bekerja itu selalu ramai. Karena memang sudah punya banyak pelanggan. Terlebih hari ini weekend. Dari pagi buka sudah banyak yang datang untuk perawatan wajah maupun rambut. Tidak hanya wanita saja, melainkan juga pria. Tapi lebih seringnya, pelanggan pria yang datang sudah om-om. Biasanya, awalnya hanya sekedar menemani si perempuan muda. Tapi pada akhirnya tertarik untuk ikut perawatan juga. Tempat ini membuat Putri tahu sisi-sisi gelap kehidupan yang selama ini tak ia tahu. "Put, solat dulu. Sini saya gantiin dulu." "Iya, Bu. Makasih." Seperti biasa Bu Cici selalu mengingatkan meski ia bukanlah seorang muslim. Dari empat karyawan, memang hanya dirinya yang solat. Sebenarnya ia cukup tertekan juga dengan situasi ini. Semua orang menganggapnya sosok yang kalem, alim dan rajin beribadah. Padahal ia tak lebih baik dari mereka. Beberapa bulan ke depan, saat perutnya mulai membuncit pandangan mereka tentangnya akan berubah seratus delapan puluh derajad. Ia yakin itu. Bahkan mungkin mereka akan menyebutnya manusia munafik. Apalagi ia sempat menolak ajakan salah satu rekan kerjanya untuk mengambil pekerjaan sampingan, semacam menemani p****************g. Belum Bu Cici yang suka memarahi anak buahnya yang mengajaknya ke jalan sesat, dengan selalu mengatakan bahwa Putri anak baik-baik yang polos dan melarang mereka untuk mengajak ke dunia yang penuh maksiat. Hatinya selalu tertohok dengan kalimat itu. Andai bosnya itu tahu bagaimana dia menyerahkan kehormatannya karena dibutakan oleh cinta. Selesai solat, Putri siap kembali untuk bekerja. Pikirannya selalu lebih tenang dan segar ketika sudah menumpahkan segala keluh kesahnya dan memohon ampunan atas dosa-dosanya pada Sang Pencinta. Ia memang malu pada sang Pemberi Hidup. Sangat malu. Awal-awal ia malah pernah meninggalkan ibadahnya karena merasa kotor. Ia merasa mungkin ibadah seorang pendosa sepertinya tidak akan diterima. Tapi kemudian ia sadar, bahwa bukankah Tuhan Maha Pengampun, selama kita benar-benar menyesali perbuatan dosa tersebut dan tidak akan mengulanginya. Lagipula kepada siapa lagi ia hendak berkeluh kesah, kalau bukan kepada yang di atas. Ia sebatang kara, berjuang seorang diri. Ia memilih pergi, karena tidak ingin membuat malu keluarganya. Apalagi sampai harus menyusahkan ibunya yang sudah dipusingkan olah kakaknya. Sungguh Putri tidak ingin merepotkan siapapun. Ketika langkah Putri mantap bersiap untuk kembali bekerja. Tiba-tiba dari ekor matanya ia menangkap sosok yang sangat ia kenal. Sontak ia menoleh cepat, demi memastikan, mungkin saja penglihatannya salah. Namun sayangnya apa yang ia inginkan tak sesuai harapan. Pria itu benar, Putra Prabaskara. Bahkan mata mereka saling bertemu saat ini. Detik itu juga kepanikan mulai melandanya. Bagaimana mungkin pria itu bisa tahu keberadaannya? Jangan-jangan Putra sengaja mencarinya, karena tahu bahwa saat ini ia tengah hamil dan berniat untuk melenyapkan bayi dalam kandungannya ini? Pemikiran itu membuat Putri seketika berpikir cepat untuk segera melarikan diri. Anak dalam kandungannya ini hanya akan menjadi anaknya dan tidak ada yang boleh mengusiknya. Bahkan meski itu ayah biologisnya sekalipun. Tanpa pikir panjang, wanita itu berlari ke menaiki menuju kamar messnya. Ia masih mendengar suara Putra yang memanggilnya namun ia memilih tutup telinga dan mengabaikan. "Put!" Pria itu sebenarnya ingin mengejar ke lantai dua. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa sesuka hati melakukan itu. Untuk kali ini mungkin sebaiknya ia memilih menyerah. Pikirnya masih ada waktu, ia sudah tahu keberadaan wanita itu setelah susah payah mencari. Selama dua bulan ini ia tiada henti mencari tahu. Tapi sama sekali tak membuahkan hasil. Hingga ia menerima sebuah pesan dari seseorang yang entah siapa dan memberitahu keberadaan Putri saat ini. "Cari siapa ya, Mas?" Cici yang melihat Putra celingukan mencurigakan segera mendekat dan bertanya. "Saya pemilik salon ini." "Oh ...." Putra tiba-tiba terfikirkan, mungkin ibu ini bisa menjadi penghubung dirinya bisa bicara dengan Putri. "Saya ada perlu dengan Putri." "Oh, Putri? Dia lagi solat, sih, tadi. Ngomong-ngomong Mas siapanya Putri, ya?" tanya Cici ingin tahu. "Saya ...." Putra nampak berpikir lagi. Dia siapanya Putri? Kenal hanya sekedar tahu nama. Teman bukan. Saudara bukan. "Saya ... pacarnya Putri." Dan entah bagaimana ide gila itu tiba-tiba hadir di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN