Mengejar Putri

1062 Kata
Tubuh Putri sampai terlonjak kaget saat pintu kamar messnya itu diketuk dari luar. Keringat dingin kian membanjiri tubuhnya seiring kepanikan yang melanda. Tidak mungkin Putra berani menyusulnya ke atas bukan? "Put!" Putri sedikit bernafas lega ketika mendengar seruan dari Bu Cici. Tapi tidak serta merta ia hilang waspada. Bisa saja, ada Putra yang datang bersama bosnya itu. "Put. Kamu baik-baik aja, kan?" Seru Bu Cici lagi. Kali ini nadanya terdengar khawatir. "S-saya baik-baik saja, Bu." "Kamu yakin? Coba buka dulu." Putri masih berdiri meragu. Haruskah ia menuruti permintaan bosnya? Bagaimana kalau ternyata Bu Cici datang bersama Putra? "Put!" Putri melangkah maju ke pintu dengan bimbang. Tapi ia tak enak hati juga kalau tak membukakan pintu. Takut dikira tidak sopan. Hingga akhirnya ia menguatkan hati, tidak mungkin ada Putra di luar. "Ya ampun, Put. Kamu pucat banget." Itu respon pertama Bu Ciic begitu ia membukakan pintu. Sementara mata Putri lamgsung mencari-cari keberadaan sosok lain. Namun tak menemukan siapapun. Tidak ada Putra dan itu seketika melegakannya. "Maaf, Buk. T-tadi habis solat saya pusing banget sampai nggak ijin dulu sama Ibu." Kebohongan-kebohongan dari mulutnya terus berlanjut dan itu membuat Putri merasa dirinya begitu buruk. "Iya, nggak papa. Kan tadi pagi sudah saya bilang. Kalau nggak kuat, istirahat aja. Lagian kamu ngeyel pakai masuk kerja segala. Gini, kan jadinya. Mau ibu antar periksa?" "N-nggak usah, Buk. Saya masih ada, kok obatnya." "Tapi buktinya kamu masih begini. Udah habis ini kamu periksa aja daripada kenapa-kenapa. Ke dokter Heri yang deket sini aja. Biasanya ibu cocok di sana. Nih, ibu tambahin uangnya." Lagi-lagi bosnya untuk memaksanya untuk menerima sejumlah uang. "Buk, nggak usah. Uang yang tadi pagi itu pasti lebih dari cukup, kok." "Udah jangan nolak. Biasanya nanti ditawarin mau infus atau enggak. Kamu iya, aja. Biar cepet sembuh. Kemarin suami saya juga gitu. Besoknya langsung ada perubahan. Sekarang udah sehat lagi." "Infus?" tanya Putri tak mengerti. "Iya, diinfus. Tapi bukan berarti dirawat inap. Sebentar, kok. Sejam paling udah selesai. Apa mau Ibu temenin?" tanyanya menawarkan. Terang saja Putri langsung menggeleng untuk menolak. "Nanti saya sendiri aja, Buk." "Oh, iya ... Ibu sampai lupa. Pacar kamu nunggu di bawah. Minta diantar saja sama dia." Perempuan itu sampai lupa saking khawatirnya melihat kondisi Putri yang pucat pasi. "Pacar?" Putri mengeryit dalam. Sejak kapan ia punya pacar? Seumur hidupnya bahkan ia belum pernah pacaran. Bukan karena tak laku, tapi karena tak punya waktu. Lagipula hatinya sudah menyimpan rasa untuk seseorang yang tidak mungkin untuk ia miliki. "Iya. Namanya Putra, kan? Apa mau ibu panggilkan, suruh ke sini aja." Mendengar nama Putra kembali memunculkan kepanikan yang semula sedikit mereda. Apalagi pria itu sampai mengarang cerita dengan menjadi pacarnya. "Kenapa, Put?" Bu Cici kembali khawatir melihat wajah Putri yang tiba-tiba menegang. Putri menggeleng kaku. "Saya nggak mau ketemu dia, Buk," tolaknya dengan nada memohon. "K-kita lagi berantem. Saya nggak mau ketemu dulu." "Oh ... kirain saya kenapa" Bu Cici lega. Ia kira ada apa, karena wajah Putri langsung pucat pasi lagi ketika ia menyebut nama Putra. "Ya, sudah kalau gitu ibu turun dulu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cari ibu." Putri menggangguk singkat, menatap kepergian bosnya itu. Hari ini ia bisa menghindari Putra. Tapi mungkin tidak untuk hari-hari berikutnya. Padahal ia sudah merasa aman di sini. Tak disangka Putra bisa tahu keberadaannya. "Gimana ini? Aku mau lari ke mana lagi?" gumamnya kebingungan. Bagaimana kalau laki-laki itu membawanya paksa untuk menggugurkan kandungannya? Apa yang harus dilakukannya? *** Sementara itu, seharian ini Putra mengawasi tempat kerja Putri dari mobilnya yang sengaja ia parkir tak jauh dari salon. Tapi perempuan itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sejujurnya, ia sudah sangat bosan berdiam diri di mobil ini. Tapi masalah mereka harus segera dibicarakan. Setelah ia pikir lagi, demi ketenangan hatinya juga demi kebaikan semuanya. Ia berniat untuk bertanggung jawab. Zina adalah perbuatan hina dan seorang wanita yang hamil di luar nikah, akan dipandang buruk oleh masyarakat. Anak yang dilahirkan juga harus menanggung aib dari kesalahan mereka. Mana mungkin ia melenggang pergi begitu saja seolah tak pernah terjadi apapun. Bahkan berniat menambah dosa dengan melenyapkannya. Putra terus merenung tentang apa yang harus dilakukannya dan pada akhirnya memutuskan untuk bertanggung jawab. Untuk itu, ia harus membicarakan masalah itu berdua. Tidak bisa memutuskan seenaknya sendiri. Pria itu menutup mulutnya yang menguap lebar. Entah sudah yang ke berapa kalinya. Sudah tak terhitung ia menguap. Diam menunggu tanpa kepastian seperti ini benar-benar sangat membosankan. Tepat saat ia sudah menyerah menunggu dan berniat untuk pulang saja. Wanita yang ia tunggu-tunggu itu akhirnya muncul jua. Putra menunggu sejenak. Jika ia langsung keluar sekarang, bisa-bisa Putri akan berlari lagi masuk ke salon. Jadi, ia memilih bersabar sebentar dan baru keluar dari mobil setelah Putri berada dalam jarak aman untuk menyadari keberadaannya. Pria itu setengah berlari mengikuti di belakang Putri yang terus berjalan, entah mau ke mana. Awalnya ia pikir wanita itu mungkin hendak mencari makan malam. Tapi langkahnya terus bergerak tanpa peduli dengan deretan penjual makanan, baik kaki lima ataupun di toko atau rumah makan yang dilewatinya. Putra terus menjaga jarak aman dan mencari waktu yang tepat untuk memanggil wanita itu. Itu adalah, ketika Putri berbelok arah menuju daerah yang terlihat sepi. Berbeda dengan sebelumnya yang ramai oleh penjaja makanan. Barulah saat itu, Putra memutuskan untuk memberitahu keberadaannya. "Putri," panggilnya dengan nada yang biasa. Itu saja, sudah berhasil membuat tubuh wanita yang berjalan beberapa meter di depannya itu menegang. "Put ...." Baru ia ingin mengutarakan niatnya datang menemui. Tanpa ia sangka, wanita itu justru lebih dulu berlari. Sangat kencang. Hingga tanpa banyak berpikir lagi ia pun langsung berlari mengejar, supaya tidak sampai kehilangan jejak. "Putri! Kita perlu bicara, Put! putri!" Sayangnya teriakannya sama sekali tak digubris. Kecepatan lari wanita itu justru bertambah dua kali lipat, masuk ke dalam gang-gang sempit yang gelap dan membuat Putra kepayahan. Bahkan nyaris terpeleset jatuh beberapa kali karena jalanan yang licin akibat hujan sore tadi. "Sial." Putra melanjutkan pengejarannya. Entah sebenarnya Putri itu pelari apa bukan. Kecepatan larinya sungguh luar biasa. Bahkan ia saja yang pria, nafasnya sampai tersenggal-senggal seperti ini. "Putri! Kita perlu bicara!" teriaknya lagi sebelum wanita itu menghilang lagi di belokan. Mulutnya tak henti mengumpat, karena untuk kesekian kalinya ia nyaris terjatuh. Dalam hati ia berjanji akan membuat perhitungan kalau sampai ia berhasil menangkap wanita itu nanti. Sayangnya amarah itu seketika menguap, ketika matanya menangkap cahaya yang menyilaukan, bersamaan dengan sebuah teriakan dan suara benturan keras yang membuat kekuatan kakinya seketika melemah, menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN