Part 4 : Kamu Milikku, Mengerti!

968 Kata
Aku nggak suka kamu lihat orang lain,  cukup lihat aku saja.  *** SMA Pramudia.  Sharen duduk sendirian di meja kantin sekolah, ia membuka bekal makan siangnya, roti yang tadi pagi dibawanyauntuk mengganjal perut, beberapa anak meewati meja tempat Sharen berada,  seakan tak ada satupun yang mendekat kepadanya.  Pemandangan yang sudah biasa diterima Sharen selama berada di sekolah ini.  "Kak Radith!" Sharen antusias melihat kedatangan Radith dari ujung, tak lupa satu  lambaian tangan ditujukan untuknya.   Radith yang baru saja masuk ke kantin hanya bersikap acuh seakan tak mempedulikan sapaan Sharen dari jauh.  Ia memilih duduk bersama teman-temannya. Membiarkan gadis itu duduk sendiri tanpa ada satupun orang yang mendekat.  Sharen memang masih bisa bertemu Radith saat di sekolah,  walau ia tak tahu dimana tempat tinggal kakanya itu berada,  mungkin Radith sudah mendapat satu tempat yang lebih nyaman sekarang.  "Dit, itu Sharen kan, kok duduk sendirian?" tanya salah satu teman Radith di sebelahnya. "Gue nggak tahu," ketusnya. "Lo nggak kasian apa,  ngeliat adik lo sendirian." "Dia bukan anak kecil lagi,  untuk apa gue kasian?" "Tapi Dith,  sebagai kakak…" "Sebagai kakak,  gue harus apa?  Nemenin dia?" Seketika ucapan Radith yang kelewat kasar membuat teman-teman di sebelahnya memilih diam.  "Santai bro, gue cuma bingung sama kalian, kalian itu benar-benar saudara bukan sih?" sela teman yang lain.  Radith terdiam. Ia menatap ke arah Sharen yang duduk sendirian. Benar! selama ini Sharen tak pernah memiliki teman akrab selama di sekolahnya, gadis itu lebih sering terlihat sendirian ketimbang mengobrol dengan yang lain, jadi bagi Sharen itu sudah hal biasa. "Sharen!" seorang laki-laki mendekat dan duduk tepat di depannya. "Kak Ronald!" "Kok sendirian, boleh duduk disini nggak ?" "Tentu kak, silakan, inikan tempat umum." Ronald melirik Sharen yang hanya makan roti. "Kamu nggak makan?" "Ini makan kok. " "Maksud aku, kamu nggak pesen makanan yang lain? kalau cuma makan roti mana kenyang?" "Emmmt, udah kenyang kok kak!"jawabnya bohong "Mau aku pesenin sesuatu?" tawar Ronald. "Nggak usah kak, ini aja udah cukup kok, " tolak Sharen "Kamu harus makan, kalau nggak nanti sakit, kalau cuma makan roti, mana cukup, udah nggak papa, biar aku yang traktir. " Sangat beruntung untuk Sharen,  saat tak ada satupun anak di sekolah ini mendekatinya,  justru berbeda dengan Radith.  Ia mengulurkan tangan untuk menjadi temannya. "Ma...makasih kak." "Kmbali kasih Sweety!" suara serak terdengar tepat  di depan mereka tanpa diduga-duga. Sontak saja tidak hanya sepasang mata menatap ke arahnya,  tapi berbagai pasang mata di kantin itu terkejut dengan kedatangan laki-laki dengan balutan seragam hitam yang sangat menonjol "EXEL!" Exel tersenyum sinis dan langsung berjalan menghampiri  keduanya yang duduk berdua. Satu pemandangan yang sangat dibenci olehnya. "Hai Sha!" Sharen hanya bisa berkedip sambil menelan ludah payah,  ada urusan apa Exel ada di sekolahnya--dan tunggu,  bagaimana laki-laki ini bisa masuk sembarangan.  Radith yang masih berada di sana ikut terkejut dengan kedatangan laki-laki yang baru pertama dilihatnya itu.  "Lo siapa?" tanya Ronald heran. Exel menyunggingkan senyum sinis menatap laki-laki itu dengan pandangan tak suka.  "Gue? Gue PACARNYA, kenapa?" "Pacar?" mata Sharen membulat tak percaya dengan apa yang baru saja dilontarkan Exel  padanya.  Bagaimana tidak?  Sembarangan saja Exel menjadikannya pacar--bahkan di depan Ronald. Sharen menggelengkan kepalanya mengisyaratkan Ronald untuk tak mempercayai laki-laki gila di depan mereka.  "Gue nggak suka,  cewek gue duduk sama cowok lain,  lo paham? " Ronald mendelik ke arah Sharen yang saat ini diam,  ia ingin meminta penjelasan dari Sharen sendiri.  Bisa dilihat,  kedua iris mata kelam Exel menatap Ronald seakan seperti ingin mengeksekusi korbannya. "Ayo Sha! !" Exel menarik tangan Sharen untuk bangkit dan menjauh. "Kemana? " "Ikut aku sekarang! " "Tung-tunggu Exel..." Tarikan tangan Exel sangat kuat dan membuat Sharen meringis kesakitan.  Seperti inikah sifat Exel yang sebenarnya.  Kasar dan pemaksa. Ingin sekali Sharen melepas cengkraman tangan Exel yang membawanya pergi melewati  beberapa anak yang melihatnya. Sementara Ronald hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa-apa. Suasana kantin yang tadinya tegang kembali kesediakala. "Exel,  lepasin tangan aku. Kamu mau bawa gue kemana sih? " Tak ada sahutan dan jawaban dari Exel sendiri.  Ia malah mencengkram erat tangan Sharen seakan tak ingin dilepasnya. Tarikan Exel membawanya ke belakang sekolah yang lebih sepi. Satu dorongan diterima Sharen saat Exel dengan kasar menyudutkannya ke dinding putih di depannya.  "Aww... " Sharen meringis sakit melihat tangannya menampilan bekas kemerahan yang cukup kentara akibat ulah Exel.  Dug, satu kepalan tangan mengarah ke dinding di samping kepala Sharen menatap tajam iris mata Sharen yang begitu ketakutan. "Sakit? Lo bilang sakit, gue yang lebih sakit, SHAREN!" "Maksud kamu apa, aku cuma--" "Lo cuma makan, iyakan yang mau lo omongin. Yah, gue tahu.  Tapi gue nggak suka lo makan sama cowok lain. " ku"Dia temen au, kak Ronald cuma nemenin aku makan, apa salahnya, dan kamu, ngapain ke sini?" "Gue? Gue kesini mau mastiin keadaan lo baik-baik saja." "Kenapa lo bilang sama Kak Ronald kalau gue pacar lo, berapa kali sih gue bilang, gue bukan--" Dug, satu kepalan tangan menghantam tembok lebih keras,  bisa dipastikan jari jemari Exel pasti lecet karena ulahnya sendiri.  "Lo tahu apa yang paling gue benci? GUE NGGAK SUKA DIBANTAH, ngerti!" Glup.  Sharen menelan ludahnya sendiri melihat raut mata Exel yang begitu menakutkan saat marah.  "Aku...bukan siapa-siapa kamu!" Sharen menundukan kepala menghindari tatapan tajam dari Exel.  Tangan Exel menyentuh dagu Sharen untuk kembali menatapnya. "Lo milik gue Sha, mengerti! Nggak ada yang bisa ngerubah itu." tangan Exel membelai rambut Sharen lembut membuat Sharen mendongak terkejut dengan ucapannya kali ini.  Milik?  Siapa milik siapa? "A-aku" "Ssttt! " Exel menyentuh bibir Sharen dengan telunjuk tangannya menyuruhnya diam.  "Turutin gue.  Mengerti! " "Maaf.  Gue nakutin lo, "  dekapan tubuh Exel membuat Sharen hanya bisa diam dan pasrah. "Exel!" lirihnya. "Aku nggak suka kamu lihat orang lain,  cukup lihat aku saja. " Wajah Sharen yang tadinya ketakutan kini luluh.  Dekapan yang diberikan Exel sangat hangat dan bahkan sangat nyaman.  Jujur, yang dibutuhkan saat ini memang pelukan dan ia mendapatkannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN