Sharen memasuki kelas setelah pertemuan dengan Exel di kantin tadi. Satu pemandangan yang pertama dilihat saat ia menginjakkan kaki di kelas, seluruh pasang mata hampir mengarah padanya, mengingat kejadian baru saja—yang justru membuat ia bersalah pada Ronald.
Ini semua gara gara Exel. Dengan kasar menariknya menjauh hanya karena satu meja dengan Ronald. Beruntung laki-laki itu sudah pulang. Iya pulang karena saat Exel membawanya ke belakang sekolah tadi, bersamaan handphonennya berdering---mungkin urusan penting karena setelah ia mengakhiri pembicara itu---seketika juga wajah Exel berubah jadi panik. Dan saat Sharen berjalan menuju ke bangku meja, belum sempat ia mendudukan pantatnya di kursi. Rombongan anak perempuan mendekatinya.
"Sharen... Sharen, siapa cowok tadi? pacar lo ya?" seru anak perempuan berambut panjang dengan pipi tirusnya sangat antusias bernama Lisa.
"Siapa namanya, dilihat dari seragamnya kayaknya bukan dari sekolah ini, kaya murid sekolah elit gitu," timpal anak perempuan lain dengan nada centilnya.
"Eh Sha, kapan-kapan kita kenalin dong, sumpah ganteng banget."
Sharen hanya mengernyit bingung, apa maksud ucapan mereka menandakan mereka tertarik dengan cowok tadi? Apanya yang ganteng? Wajahnya? Oke ia akui wajah Exel memang tampan.
Sharen hanya tersenyum kecut, baru kali ini ada yang mengajaknya bicara panjang lebar, biasanya mereka selalu acuh tak acuh, dan ini semua gara-gara Exel atau mungkin mereka mengira Exel adalah pacarnya?.
"Sha nanti pulang sekolah bareng yuk?" ajaknya tiba-tiba.
"Bareng? Emmm, gimana ya, gue...???"
"Di jemput pacar lo ya, kita mau makan nih, sekalian ajak pacar lo aja bareng kita, gimana?" tawarnya sedikit memaksa, walau Sharen sendiri terlihat risih dengan mereka.
Sharen mulai menimba-nimba tawaran mereka. Jujur ia sangat senang saat ada yang mengajaknya bicara apalagi mengajaknya pergi. Tapi ia juga bingung, kenapa tiba-tiba mereka sok baik padanya.
"Emm...gimana ya?"
"Ayolah Sha, ajak dia!" rengeknya memaksa.
"Iya Sha!"timpal yang lain secara bersamaan. Sharen yang merasa dipaksa hanya bisa mendengus kesal ingin menolak ajakan mereka.
"Kalian mau ngajak gue , apa Exel?" geram Sharen jengah.
"Ya ngajak lo lah," ucap mereka tersenyum paksa.
Sharen kembali berpikir sebentar sebelum mengambil keputusan.
"Tapi gue...belum ngomong sama dia ...lagian gue juga nggak mau ngajak tuh cowok."
***
Sepulang sekolah.
Sharen celingukan menunggu seseorang."Aduh gimana nih, masa gue ajak tuh cowok sih."
"Sha, kita tunggu di gerbang depan ya, jangan lupa ajak pacar lo."
"Arghhhh..."
"Harusnya gue nolak ajakan mereka tadi, " gerutunya kesal.
"Sha!"
Seseorang memanggilnya dari belakang, sontak saja ia langsung tahu suara siapa di belakang.
"Exel!"
"Ayo pulang!"
"Tung-tunggu Exel" Exel melepas tangan Sharen, kemudian menatap gadis itu lekat.
"Kenapa?"
"Eum... gini Exel, jadi... tadi...." ucap Sharen terbata-bata.
"Kenapa?"
"Tadi temen-temen ngajakin aku makan siang di cafe."
"Mau pergi sama mereka?"
"I-iya."
"Gue nggak ngizinin," tolak Exel sepihak.
"T-tapi?"
"Gue bilang enggak, ya enggak."
"Mereka ngajakin kamu juga." ucapan Sharen sontak membuat Exel terkejut tak percaya.
"Ngajakin gue?" Exel tak percaya, sementara Sharen hanya mengangguk pelan mengiyakan.
"Oh gue tahu, pasti temen-temen lo penasarankan, terus untuk kenalan sama gue, dia ngajakin lo, dan lo mau?"
Eh, darimana dia tahu? batin Sharen terkejut.
"Gue nggak suka temen kaya gitu. Mereka hanya mau manfaatin lo. "
"Tapi ... mereka cuma mau kenalan sama kamu, apa salahnya?"
Exel mendesah pelan, melihat perempuan di depannya memandang dengan tatapan berharap--bagaimana ia bisa menolak.
"Baiklah, kalau gitu, ayo!"
"Kamu mau?"
"Apa sih yang nggak buat pacar gue,"ujar Exel sambil mengacak acak rambut Sharen dengan gemasnya.
Sharen tersenyum tak percaya. lantas segera pergi
***
"Kenalin nama gue Karen, gue temen baiknya Sharen" ucap cewek berambut panjang berjabat tangan dengan gaya centilnya di depan Exel.
"Gue Adila, gue juga temen baiknya." ucap satunya lagi yang lebih centil.
Sharen hanya terdiam saat satu persatu teman-temannya memperkenalkan diri di depan Exel.
"Teman, sejak kapan mereka menganggap gue teman, satu kelompok aja nggak pernah, terus tadi temen baik? emang pernah ngobrol?" batin sharen ngedumel kesal sambil mendengus.
Exel menatap Sharen seakan tak nyaman berada diantara mereka, dan membuat Exel mulai curiga apa mereka berteman akrab atau memang hanya sandiwara belaka.
"Jadi kalian temen baiknya?"sambung Exel mulai mengobrol dengan mereka.
"Iya dong, ya kan Sha?" lirik Karen menampilkan senyum yang justru membuat Sharen tak nyaman.
"Gue mau nanya sama kalian, emmm ... apa yang disukai Sharen?" tanya Exel sedikit mengintrograsi mereka dengan tatapan sinis.
"Ehh... Sharen itukan orangnya pendiam, jadi...?"
"Bukannya tadi kalian bilang temen baiknya, masa nggak tahu?" Exel mulai memancing dan mereka mulai panik dan cemas sambil sesekali menatap satu sama lain.
Sementara Sharen hanya menatap Exel dengan pandangan curiga. Apa yang direncanakanya?.
"Yang gue tahu Sharen nggak pernah cerita soal kalian."
Wajah para gadis-gadis itu mulai pucat, mereka memang tidak terlalu mengenal Sharen, apalagi berbicara dengannya, Sharen lebih sering menyendiri dan sedikit pemalu.
"Emm... soal itu, kan lo tahu sendiri Sharen itu pemalu, jadi jarang dia bicarain soal kita."
"Oh gitu ya?" Exel melirik sekilas ke arah Sharen, lalu kembali menatap wajah mereka yang mulai ketakutan dan panik.
Sharen sejak tadi hanya terdiam, tak ada obrolan sedikitpun, ia lebih terfokus pada minuman jus di depan dan menyeruput perlahan.
"Sha, kapan-kapan kita main bareng yuk, kemana kek, mall atau karaoke, lo mau kan?"tawar Karen mulai mentralkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan lain.
"Oh.. itu...?"
"Sharen nggak suka pergi ke tempat begituan, yakan sayang?" potong Exel.
Sharen hanya diam, sekilas ia menatap Exel dan juga teman-temannya, sepertinya Exel memang sengaja merencanakan sesuatu pada mereka.
"Sha kita pesenin makanan spesial disini , lo harus coba ya?" sela Adila, gadis berambut sebahu itu berusaha mencairkan suasana.
Pesanan datang, pelayan meletakkan satu persatu piring itu di meja.
Uhuk, Sharen hampir saja tersedak dengan makanan di depannya. Apa maksudnya ini? udang cumi pedas. Udang? dan kalau bisa dibilang Sharen sendiri itu alergi udang dan beberapa makanan lain, yang bisa membuatnya muntah atau gatal-gatal.
"Kenapa Sha, nggak suka makanannya?" tanya Adila.
"Emm.. itu. Gue...?" Exel dengan sigap langsung menyambar piring di depan Sharen .
"Bukannya kalian temen baiknya, masa nggak tahu Sharen alergi udang?" ucapan Exel telak langsung menyudutkan mereka, dan kini tatapan Exel seakan ingin marah, tapi ia tak mau menunjukkan tepat di hadapan Sharen.
"Eh, sorry Sha, kita nggak tahu soal itu, maafin kita ya?" ucap karen sedikit memelas.
"I-iya nggak papa."
Exel sudah kehabisan kesabaran dengan sikap teman-teman Sharen yang bisa dibilang sangat menjengkelkan ini, bahkan sejak tadi ia menahan amarah untuk tidak membentak di depan umum. Kalau ia lalukan seluruh pelanggan akan terkejut--dan lebih parahnya cafe tempat mereka makan saat ini bisa tutup hanya karena kekuasaan Exel.
Dengan gamlangnya ia akan menelpon orang kepercayaannya untuk menutup cafe saat itu juga--tapi ia tak ingin lakukan itu.
Tiba-tiba saja Exel bangkit dari tempat duduknya dengan satu tarikan tangan menggengam tangan Sharen.
"Ayo Sha, kita pulang!"
"Heh, pulang? tapi kita bahkan belum makan siang..."
Iris mata Exel mulai menajam, bahkan tanpa ia berkata sudah menunjukan kalau Exel sedang marah sekarang.
"Sorry ya, kelihatannya Sharen nggak nyaman sama kalian, jadi lebih baik kita pergi." ucap Exel membawanya pergi dari cafe itu. Sharen hanya bisa pasrah saat Exel menarik pergi keluar dari cafe itu.
Teman-teman Sharen terlihat kesal dan merasa dipermainkan oleh Exel.
Exel menarik tangan Sharen kuat, sangat erat--- bahkan Exel langsung menghentikan taxi dan mendorong Sharen masuk secara paksa ke dalam. "Exel!"
Sharen bingung dengan sikap kasar Exel yang tiba-tiba. Sementara Exel hanya diam dan masih kesal. Taxi yang mereka tumpangi melaju dan tak ada suara dari Exel yang keluar sesaat setelah mereka keluar dari cafe tadi, hanya saja Sharen dapat melihat raut wajah Exel yang kembali dingin.
"Besok lo pindah ke sekolah gue, gue nggak suka lo sekolah di sana, dan gue pastikan besok temen-temen lo tadi dikeluarkan dari sekolah itu!"
"Apa?"
Apa yang dia omongin barusan, pindah, yang benar saja?