Besok lo pindah ke sekolah gue, gue nggak suka lo sekolah disana, dan gue pastikan besok temen-temen lo tadi dikeluarin dari sekolah itu.
Kalimat itu terus terngiang setiap kali Sharen mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
"Pindah sekolah? Yang benar saja. Kenapa nyuruh gue pindah segala? " Sharen tak habis pikir dengan pemikiran laki-laki kaya sok blagu yang bernama Exel itu.
Sharen menghembuskan napas berat. Sangat sulit memang menelaan setiap kata yang terucap dari bibir Exel—bahkan sempat heran---kenapa harus dia? Bukan perempuan lain. Apa yang istimewa dari dirinya.
Sulit dipercaya kalau memang benar, apakah Exel hanya sekedar main-main atau memang bersungguh-sungguh padanya.
Langkah Sharen terhenti saat turun dari tangga ia sempat melihat Radith dari kejauhan.
"Kak Radith!"
Satu -satunya keluarga yang dimilikinya. Radith berhenti dan menoleh ke arah Sharen yang melambaikan tangan sambil tersenyum manis padanya. Bukannya membalas sapaan itu, justru Radith dengan sikap acuh seakan memang sengaja mengabaikannya.
"Kak Radith." Sharen terlihat kecewa.
Sharen sempat berpikir, apa memang Radith sangat membencinya sebagai penyebab kecelakaan yang merenggut kedua orangtua mereka dulu.
"Kak Radith! "
Sharen langsung turun dan mencoba berlari mengejar kakaknya yang lebih dulu pergi.
"Kak Radith! "
Ia kehilangan Radith. Secepat itukah pergi. Berusaha Sharen mengedarkan pandangan ke setiap penjuru mencari keberadaan Radith. Namun hasilnya nihil.
Sharen memutar tubuhnya dan kembali berjalan, ia lalu duduk di salah satu taman dekat lapangan basket. Suara sorakan dan teriakan menggema di sekeliling tempatnya duduk.
Sharen sendiri tak ada ketertarikan untuk melihat pertandingan yang tengah berlangsung. Memang benar di sekitar tempatnya sangat rame bahkan beberapa tim cheer bersorak sebagai penyemangat mereka.
Huftt...
Sharen menghela napas panjang. Walau disekitarnya rame, tetap saja baginya keramaian atau kesepian semua sama saja. Hampa.
Dug, Bola melayang dengan cepat mengarah ke penonton, dan tanpa disadari saat Sharen melamun ia menjadi sasaran empuk untuk bola itu mendarat.
"Aww..." Sharen meringis memegangi kepalanya.
Salah satu pemain basket berlari ke arah Sharen untuk mengambil bola.
"Maaf ya, tadi nggak sengaja. Lo nggak papakan?"
"Iya, nggak papa kok." Jujur bola itu sangat keras --apalagi lemparan tadi.
"Serius nggak papa?"
"Iy—"
Bruk, Sharen yang masih linglung terjerembab ke belakang, untung saja saat itu Radith tepat di belakang dan langsung menangkapnya.
"Kak Radith?"
"Lo ngapain disini, ayo ikut gue!" Radith sedikit kasar menarik tangan Sharen keluar dari barisan penonton.
"Kak... tunggu! Jangan tarik tangan aku kaya gini, sakit!"
Radith langsung melepas tangannya.
"Nggak ada yang bisa lo lakuin apa, melamun sendirian disana, kalau lo nggak hati-hati... lo bisa celaka," bentak Radith marah
Sharen manatap Radith."Kak Radith mau bicara sama aku?"
"Kalau gue nggak bicara sama lo, trus gue bicara sama siapa? Hantu?" ketus Radith.
"Kak Radith masih marah sama aku?"
"Jangan ngalihin pembicaraan Sharen."
Sharen hanya bisa tertunduk lesu saat mendapat amarah dari Radith. Sementara Radith hanya bisa terdiam— haruskah ia memarahi Sharen sampai segitunya? mungkin ini sedikit keterluan.
"Maaf." hanya suara lirih keluar dari bibir kecil Sharen
"Kalau maaf bisa nyelesaikan masalah, lo nggak perlu minta maaf, melamun di tempat umum kaya tadi, apa sih yang lo pikirin?" Sharen masih menunduk, dengan sedikit air mata menetes di pelupuk matanya.
"Itu semua salah Kakak!" Sharen mulai angkat bicara.
"Gue? Emang gue salah apa? ...oh apa karena gue ninggalin lo, lo jadi kaya gini? Sharen lo..."
"Kakak nggak hanya ninggalin aku, Kakak nggak pernah peduli sama aku, bahkan Kakak nggak pernah nanya aku tinggal dimana, aku makan apa, apa Kakak peduli soal itu ?" geram Sharen kesal sambil terisak tak terbendung lagi, seketika ia meledak di depan Radith.
"Kakak seakan tak pernah melihatku, aku masih adik Kakak, tolong jangan acuhkan aku kak," teriak Sharen disertai isak tangis.
Radith terdiam, ia melihat dari kepedihan mata Sharen yang begitu terluka karena dirinya, salahkah ia memperlakukan adiknya seperti itu, meninggalkannya, benar apa yang dikatakan Sharen, bahkan dirinya tak pernah sedikitpun peduli dengan Sharen...
Tapi... itu semua ada alasannya, dan kalian tak perlu tahu apa alasannya.
"Jangan acuhkan aku Kak."
Radith masih terdiam, ia bahkan bingung harus bagaimana, dan apa yang harus ia dilakukan saat ini, sulit untuk mengatakan, kumohon jangan paksa untuk mengatakannya...
"Sharen!" lirihnya.
Dengan gerakan cepat, Sharen mendorong tubuh Radith kasar.
"Aku benci sama kak Radith, AKU BENCI!!!"
Deg...
***
Radith
Aku benci sama kak Radith, aku benci. Dia membenciku, ya harusnya dari awal seperti ini, dia harus membenciku, aku memang Kakak yang tak berguna, selalu membuatnya menderita dan menangis, kalian tak perlu tahu apa alasannya, karena saat kalian tahu alasannya, semua akan berakhir.
Lebih baik seperti ini, dengan begitu... aku bisa melupakan perasaan ini... perasaaan bahwa aku..??
"Sharen maaf"
***
Brakk...
Sharen masuk ke salah satu bilik toilet perempuan dan menangis di sana. Tangisannya pecah dalam kesendirian, semua tak terbendung lagi, tak ada yang peduli padanya, bahkan satu satunya keluarga yang ia punya justru tak peduli dengannya lagi.
Duduk sambil memegang kedua lututnya, Sharen meluapkan emosinya, emosi yang selama ini ia pendam, ini terlalu jahat, kenapa semua orang tak peduli dengannya. kenapa semua orang menjauh, apa salahnya? sebegitu bencikah orang-orang padanya?.
"Mama... Sharen nggak kuat, Sharen mau ikut sama Mama..."
Untung saat itu toilet sepi, jadi ia bisa sepuasnya untuk menangis disana. Tangisnya kembali meledak saat itu juga.
Diraihnya sesuatu dari balik saku roknya, sebuah pisah lipat, entah sejak kapan dia menaruhnya disana, tapi yang jelas pisau itu sudah lama ditaruh disana, dan saatnya tiba ia....
"Nggak ada yang peduli sama aku, untuk apa aku hidup... lebih baik aku mati saja, toh sama saja, aku ada atau tidak, nggak ada yang pedulikan?"
Sharen perlahan memejamkan matanya, dengan tangan gemetar diraih ujung pisau dan menempatkan tepat pergelangan tangan kirinya.
Selamat tinggal!