Memutuskan menikah dengan perempuan pilihan ayahnya memang terbilang cukup berat bagi Rudi, meski dia bukan tipe orang cerewet dan suka pilih-pilih. Namun, acara lamaran yang terlanjur bocor di kalangan teman-teman lelaki sawo matang itu seolah memantik api baru dalam kehidupannya. Terlebih orang tuanya tidak pernah tahu bahwa anak tunggalnya telah menjalin asmara dengan seorang perempuan jelita di Jakarta. Entah siapa yang telah menyebar kabar itu, nyatanya Rudi tidak bisa menutupi lagi bahwa dirinya memang segera meminang Hani.
Dalam kamar, Rudi membuka ponselnya dan membaca puluhan pesan w******p dari kekasihnya itu. Amarah, umpatan, dan sumpah serapah diterima lelaki itu dengan kesal. Sudah berulang kali dia menjelaskan kepada Meisya—sang pujaan hati—bahwa semua ini bukan keinginannya, apalagi membohongi perempuan. Sekali pun Rudi memiliki catatan hitam di masa SMA, tapi untuk urusan perempuan, dia bukan orang yang suka membual dan mengumbar janji manis belaka.
"Alah, pembohong kamu, Mas!" seru Meisya saat Rudi menelepon. "Buktinya kamu juga kawin sama dia, percuma hubungan kita selama ini, Mas, kalau kamu nggak bisa menolak permintaan orang tua kamu!"
"Ini bukan--"
"Apa salahnya sih bilang enggak?" kata Meisya dengan nada tinggi dan frustasi. "Kita nggak satu bulan dua bulan, tapi sudah lima tahun. Dan selama itu pula kamu nggak pernah ngenalin aku ke orang tua kamu!" bentak Meisya dengan penuh rasa kecewa.
Rudi memijat keningnya sendiri merasa sangat pening. Dia merutuki kesalahan terbesarnya mengapa selama ini tanpa sadar dia telah menggantungkan hubungannya dan puncaknya hari ini dia menghancurkan harapan kekasihnya itu.
"Mei, aku beneran butuh waktu, Mei. Ibuku bukan perempuan yang bisa menerima perempuan yang kubawa ke rumah," ucap Rudi memohon. Ada rasa menyesal yang sedang menghujani hati Rudi, bahkan dia pun belum siap memutus hubungan dengan wanita pujaannya.
"Alasan!"
Klik! Sambungan telepon terputus sepihak. Rudi menggeram marah hampir melempar kasar ponselnya itu. Waktu rasanya sudah terlambat untuk mengatakan tidak, jika kedua orang tuanya sudah menyiapkan segala acara lamaran dengan begitu cepat. Rudi sudah tidak bisa mundur, dia tidak punya pilihan lagi selain meninggalkan Meisya dengan rasa bersalah.
##
Gadis itu keluar dari balik pintu kamarnya yang bercat biru muda dengan tirai yang tersusun dari barisan kerang laut yang menjuntai indah. Dengan memakai dress kebaya pink dan sentuhan brokat, iris mata cokelatnya menatap para tamu seraya tersenyum malu-malu dibalik bibir yang dipulas lipstik mauve. Kini perasaannya begitu tercampur aduk, antara gugup dan malu, bahkan dia merasa tak begitu percaya diri. Kedua tangannya gemetaran meski berusaha menenangkan irama jantungnya yang tidak berhenti bertalun-talun. Mendadak dia merasa begitu gerah dengan suasana di sini, padahal kipas angin sudah berputar di setiap sudut ruang tamu.
"Ayo sini, Han," ucap Winda memandang takjub adiknya. Wanita yang beda lima tahun dengan Hani terlihat tak kalah anggun mengenakan gaun brokat dengan sedikit tulle di bagian bawah yang berwarna nude dengan model simple yang dipadankan dengan jilbab dan riasan wajah natural.
Hani mengangguk lalu bertemu pandang dengan sepasang mata tajam yang menatapnya tanpa kedip. Bedanya, tatapan itu masih menunjukkan rasa tak suka, dan rasanya tatapan itu jauh lebih buruk. Sejenak lelaki yang mengenakan batik berwarna cokelat itu mengalihkan pandangannya dengan garis rahang yang mengetat membuat hati Hani semakin gelisah. Dia ragu bahwa pilihannya salah, terlebih kemarin dia tahu bahwa Rudi telah menjadi milik seseorang.
"Aduh, calon mantu Ibu ayu tenan," puji Dian dengan muka yang bersemu merah.
Hani hanya terdiam seraya mendaratkan pantatnya di kursi sebelah kiri Winda. Pikirannya bercabang, antara merasa salah karena menyakiti hati perempuan lain dengan keinginan terakhir ayahnya untuk bisa menikah dengan Rudi.
"Mbak Win," bisik Hani. "Bisa ngomong berdua sebentar?"
Winda menatap wajah adiknya yang terlihat gusar. Lalu mereka berdua pun beranjak dan melangkah ke dapur. Dalam diam, gadis berkulit kuning langsat itu memikirkan bagaimana caranya agar apa yang dilakukan ini tidak salah di kedua belah pihak. Sebesar apa pun rasa tak sukanya pada Rudi, dia pun tak mau membuat lelaki itu membenci Hani dengan pilihannya.
"Ada apa? Kok kamu kayak orang bingung begitu?" tanya Winda setengah berbisik.
Hani berjalan mondar-mandir sambil menggumamkan sesuatu. Hal yang sangat dihafal Winda jika adiknya benar-benar memendam masalah besar.
"Apa ini karena Rudi?" tebak Winda.
Hani berhenti sejenak, memandang iris mata Winda lalu menghela napas berat. "Aku ... takut, Mbak," lirih Hani lalu mengatupkan bibirnya rapat.
"Kenapa, Han? Ini hari baik kamu," ucap Winda menyentuh pundak adiknya yang dibalas gelengan kepala.
"Hani ... Mas Rudi punya kekasih, Mbak. Hani takut, Hani salah. Hani pikir ...."
"Ssttt, sudahlah, Han," kata Winda memotong kalimat Hani. "Ini kan di luar kehendakmu dan Rudi. Mbak pun juga nggak menyangka jika kamu akan ditakdirkan dengan lelaki pilihan Bapak, Han. Nggak ada yang salah, cuma waktu saja yang nggak tepat. Mencintai nggak harus memiliki, kan?"
Bibir Hani membisu walaupun dalam hatinya masih banyak keraguan. Terpaksa dia mengangguk sambil tersenyum tipis dan memeluk Winda.
"Hani Cuma ingin buat Bapak bahagia di sana, Mbak," lirih Hani sedih.
"Mbak tahu, Han, kamu sudah melakukan yang terbaik."
##
Suara khas yang berasal dari lokomotif terdengar nyaring, perlahan-lahang gerbong-gerbong kereta Jayabaya bergerak meninggalkan stasiun Lawang, Malang, meninggalkan segala hiruk pikuk kota Apel termasuk semua kenangan yang dipendam perlahan dalam benak Hani. Cahaya matahari sudah mulai condong ke barat, Hani menyandarkan kepalanya ke jendela kaca dengan jejak matahari yang menembus kaca tebal seraya memandang kosong sawah-sawah di sisi kirinya dalam diam.
Dia tidak memedulikan Rudi yang duduk menatap dirinya, sebisa mungkin Hani tidak ingin bertemu pandang dengan lelaki bermata sipit itu. Kalimat Rudi setelah acara lamaran berlalu pun membekas di relung hati Hani. Gadis itu memejamkan kedua matanya menahan bulir mata yang ingin mendesak keluar.
"Kemarin ... itu pacar kamu, ya?" tanya Hani dengan takut.
Rudi menoleh dengan tatapan sinis. "Kenapa? Cemburu?"
Hani menggeleng keras merasa pertanyaannya sangat salah. Diliriknya Rudi dari ekor matanya, lelaki itu nampak tidak tenang, seperti ada sesuatu yang sedang mengusik dirinya dari dalam.
"Maaf." Hani terpaksa mengucapkan kata itu.
"Nggak usah, maafmu juga nggak bisa balikin hubunganku sama dia," ketus Rudi. "Kalau bukan Ayah yang memaksa, aku juga nggak mau sama kamu."
"Aku paham kok. Maaf karena keinginan Bapakku, semua jadi seperti ini."
"Sudahlah, nggak usah dibahas, aku capek dengar suara kamu!" Tubuh tinggi itu beranjak meninggalkan Hani tanpa menoleh sedikit pun.
Hani membuka matanya ketika Rudi menendang kakinya lemah, lelaki itu menyodorkan sebotol minuman kepada Hani tanpa mengeluarkan sepatah kalimat layaknya sepasang kekasih.
"Tidak usah, aku sudah minum tadi," tolak Hani.
"Aku lagi berusaha baik sama kamu, nggak usah nolak pemberian orang," ucap Rudi tegas.
Mau tak mau, tangan kanan Hani terulur menerima botol minuman itu. Dibuka dan diteguknya minuman dengan rasa jeruk menuruni kerongkongannya.
"Sudah, terima kasih," balas Hani menutup botol minuman dan meletakkannya di meja kecil di depannya. Dia kembali memejamkan mata, berpura-pura tidur daripada harus terjebak dalam suasana tidak menyenangkan selama kurang lebih empat belas jam lamanya.
##
Mengenakan rok plisket hitam selutut dengan kemeja maroon, Hani menunggu Rudi datang menjemputnya di depan teras kos. Mereka berada di tempat yang berbeda, kemarin setelah sampai di stasiun Gambir, Rudi membawa Hani ke tempat kos khusus perempuan yang jaraknya tidak jauh dari mess tempatnya bernaung. Gadis itu hanya menuruti terlebih status mereka belum suami-istri, tapi Hani lebih lega ketika tidak ada sosok Rudi di depannya. Setidaknya dia bisa menetralkan degup jantungnya ketika tidak bersama lelaki sinis itu.
Ada rasa gugup yang menggerogoti dirinya, tentang proses pengajuan menikah bersama seorang abdi negara yang tidak pernah dia ketahui. Banyak pertanyaan hadir dalam otak Hani, apakah dia bisa menjalani semua proses pengajuan itu dengan baik atau tidak. Seingatnya, teman SMA di kelasnya yang telah menikah dengan polisi pun bercerita bahwa pengajuan menikah dengan abdi negara terbilang susah-susah gampang.
Deru mesin motor terdengar mendekat, Hani mendongak lalu terpana dengan sosok lelaki yang datang menatap dirinya dengan tatapan yang selalu sama. Aura lelaki itu semakin mendominasi seperti ingin mencekiknya perlahan-lahan, namun iris mata Hani tidak bisa lepas memandang lelaki gagah di depannya itu. Ada rasa bangga dalam dirinya membayangkan jika Maryadi bahagia ketika melihat Rudi terbalut seragam biru laut yang melekat pas di tubuhnya.
"Woi!" seru Rudi membuat Hani berjingkat kaget. "Ngapain? Belum pernah lihat ginian?" sindirnya dengan sombong.
Hani mendecih dalam hati, namun yang dia lakukan hanya menggelengkan kepala. Dia beranjak lalu mendekati jok belakang motor matic Rudi dan menaikinya. Tangan Hani bergerak ragu ingin memeluk pinggang ramping Rudi agar dirinya tidak terjatuh. Melihat wajah Hani yang gelisah dari spion motor, Rudi pun menoleh dan menarik lengan kanan Hani ke pinggangnya.
"Gini saja ribet!" decak Rudi lalu menyalakan mesin motornya.
"Iya, kan, kita belum sah, Mas," bela Hani. "Lagian juga aku tahu posisiku."
Tak ada jawaban dari Rudi membuat Hani kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Angin yang berhembus menerpa kulit wajahnya, samar-samar hidung lancip Hani mencium parfum Rudi yang beraroma maskulin dengan campuran aroma sandalwood. Hani mencoba mendekati bahu kiri Rudi untuk mencium aroma itu lebih dekat, setidaknya memasang memori jika seandainya dia tidak bisa sedekat dengan Rudi seperti ini lagi.
Perasaan hangat menjalari hatinya bersamaan dengan lengan kanannya yang memeluk pinggang Rudi semakin erat tanpa sadar. Lelaki itu menoleh sejenak membuat Hani salah tingkah, namun Rudi justru menahan jemari kurus Hani dan menggenggamnya erat menelusuk masuk di sela-sela jemari calon istrinya.
"Sudah puas berkhayalnya?" ucap Rudi sambil tersenyum sinis seakan mematikan ekspektasi yang Hani coba bangun bersamanya.