9. Sebuah ancaman

1571 Kata
UserMD99 : Elah...muka buluk saja dikawinin. Tolong ya Mbak kalau mau gaet pacar orang sadar diri. Memang situ sudah merasa baik? Dasar Pelakor! Mati aja lu b*****t! Cindy_xxy : Oh, ini yang diceritain tmn gw, astaga lagaknya saja kayak MUA, dandanan ancur gini kok dijual. Rudi buta kali ya! Hati Hani tercabik-cabik membaca puluhan komentar di akun i********: dan f*******: miliknya dengan nada sarkas. Fake account dengan berbagai nama pun tak henti-hentinya menghujat, hingga tangannya gemetaran meniti huruf demi huruf yang menyudutkan gadis itu. Seolah Hani berada di posisi yang sangat salah karena merebut lelaki yang harusnya menjadi milik perempuan lain. Dia tahu akan menjadi ini semenjak Rudi mendapat telepon dari seseorang di malam ketujuh kematian Maryadi. Teringat pula raut wajah lelaki itu yang sangat berbeda jauh dibandingkan saat berbicara dengan Hani. Bibirnya mengatup menahan isak tangis yang berusaha mengkoyak-koyak dirinya. Dia tidak boleh menyerah. Ini demi keinginan almarhum Maryadi, Hani sudah bersalah atas kematian orang tuanya. Dan kini dia tidak mau mengulang kesalahan lagi. Jemarinya masih gemetaran ketika menonaktifkan semua akun media sosialnya lalu beralih mencari kontak Rudi. Setidaknya Hani ingin Rudi memberi penjelasan pada mantan kekasihnya bahwa ini semua sudah diatur oleh orang tua mereka berdua. Setidaknya Hani tidak ingin disalahkan terus-menerus, mereka harus melihat dari sisi lain, bahwa perjodohan ini tidak pernah direncanakan bahkan jauh sebelum Rudi dan mantannya menjalin asmara. "Halo?" suara Rudi terdengar berat di seberang. "Ada apa?" Ekor mata Hani melirik jam dinding di kamar kos itu. Pukul 8.15 malam. Hani berpikir tidak mungkin pula Rudi sudah terlelap di saat Jakarta masih sibuk dengan segala kehidupan malamnya. "Nggak ada yang penting, aku matiin, Han," ucap Rudi dengan intonasi cepat. "Tunggu!" seru Hani. "Ehm ... hari ini ... aku diteror, Mas," cicit Hani antara ragu dan tidak. Dia merasa takut menyinggung Rudi. "Teror? Sinting kamu! Siapa yang neror kamu coba?" dengkus Rudi. Tuh kan,batin Hani merengut. "Pacar kamu lah, siapa lagi? Dari kata-katanya saja aku dibilang pelakor," protes Hani. "Lah memang. Gara-gara kamu, kami putus!" tuduh Rudi seperti boomerang baru yang menyerang Hani. Gadis itu menghela napas panjang, salah mengambil langkah karena pasti tidak mendapat solusi. Harusnya dia tidak menelepon Rudi apapun yang terjadi, lelaki itu tidak pernah peduli. Tanpa membalas ucapan tunangannya, Hani pun memutuskan telepon sepihak dengan rasa kecewa yang menusuk dirinya. Dia membanting tubuhnya di atas kasur menumpahkan seluruh kesedihan harus menghadapi sikap Rudi. Perasaan Hani yang mulanya mantap kini semakin ragu akan keputusannya menikah bersama lelaki itu. Dia bahkan juga tidak yakin apa bisa membuat dirinya atau Rudi saling jatuh hati seperti cerita-cerita roman yang dia baca. Hani tersenyum kecut, merasa bodoh jika membandingkan hidupnya dengan cerita fiksi. Hidup memang sekejam itu, hanya manusia kuat yang bisa bertahan dari badai. Ibarat pohon yang semakin indah dan tinggi, semakin banyak badai yang datang mencoba merobohkannya. Butuh akar yang kuat untuk mempertahankan hidup bersama orang yang tidak dicintai. Kuharap aku bisa, batin Hani hingga dia terlelap dalam mimpinya. ## Sejoli itu nampak duduk sedikit berjauhan di depan ruang untuk pemeriksaan kesehatan di rumah sakit dekat dengan dinas Rudi. Lelaki itu sedikit banyak memberikan informasi bocoran tentang apa saja yang akan di tes di dalam termasuk tes keperawanan yang dijalani Hani. Refleks, Hani menoleh dengan wajah tidak nyaman yang dibalas Rudi dengan tatapan sinis. "Ya kamu sih enak bukan perempuan. Aku ke dokter saja hampir nggak pernah," ucap Hani melayangkan protes. "Namanya juga mau kawin sama tentara. Kalau kamu takut mereka mengira kamu sudah nggak perawan." "Ih, enak saja!" Rudi terkekeh sambil membaca kembali dokumen yang dia bawa. "Perjalanan kita masih jauh, yang paling berat pas di Paroh." Hani menatap Rudi dengan kening mengkerut. "Paroh? Apa itu?" "Ck, bimbingan mental. Semacam diceramahi sama orang yang paham agama. Nanti kita diuji baca qur'an, doa berhubungan, dan banyak lagi." "Serius?" kedua mata gadis itu melebar menatap tunangannya. "Iya lah. Kamu kira gampang kawin sama tentara? Ribet. Apalagi kalau ditinggal tugas. Kamu siap?" tanya Rudi. "Mumpung belum terlambat." "Kamu bilang begitu karena ingin sama pacar kamu, kan?" Sebelum Rudi menjawab, petugas di ruang pemeriksaan itu muncul dan mempersilakan mereka untuk menjalani rangkaian tes. Hani beranjak dengan degup jantung yang bergitu berdebar ingin keluar dari rongga d**a. Beberapa kali dia harus menarik napas dan mengembuskannya pelan sambil berdoa dalam hati bahwa semua ini akan segera usai. Di meja terpisah, Rudi bertemu dengan teman satu lichting-nya namun berbeda kesatuan. Lelaki bermata sipit itu duduk dan mengulurkan tangan kanannya untuk dilakukan pengukuran tekanan darah terlebih dahulu. Seperti teman lama yang bertemu kembali, teman Rudi yang bernama Ikhsan itu berbisik tentang Hani yang sangat jauh berbeda dengan kekasih Rudi sebelumnya. "Meisya kena janji manis dong, Rud," sindir Ikhsan. "Ya mau bagaimana lagi, bukan jodohnya," jawab Rudi santai. "Nggak apa-apa, calonmu lebih cantik kok daripada Meisya," goda Ikhsan. ### Kedua kaki Hani melangkah ragu-ragu memasuki ruang pemeriksaan yang hanya berisi satu tempat tidur, wastafel, lemari obat, meja serta kursi. Udara dingin dari mesin pendingin menambah rasa gugup dalam benak Hani. Dia tidak bisa membayangkan pemeriksaan untuk mengetes keperawanan seorang gadis hanya untuk syarat menikah dengan seorang abdi negara seperti Rudi. Kadang dia bertanya-tanya untuk apa melakukan proses ini jika selaput dara bisa robek karena cidera. Gadis itu duduk seraya memandang sekeliling dalam diam. Lalu seorang wanita paruh baya yang berambut pendek di atas kerah baju nampak tersenyum memandang Hani. Dia menaruh sebuah dokumen di atas meja yang bertuliskan nama lengkap Hani. "Silakan tiduran dulu, Mbak," perintah perempuan itu dengan sopan. Hani mengangguk lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sesekali dia mengembuskan napas panjang, irama jantungnya kembali berdenyut cepat seakan tidak membiarkan Hani berpikiran jernih. Iris matanya melihat wanita yang kini mengenakan sarung tangan dan masker menatap Hani lekat seraya berkata, "Kakinya ditaruh di atas sini, biar sana ngeceknya gampang." Wanita yang mengenakan name tag dr. Fitri, SpOG. "Apa sudah pernah melakukan hubungan suami-istri, Mbak?" Hani menganga dengan kening yang mengkerut. Dalam hati dia tidak menyangka akan diberi pertanyaan yang begitu privasi. Hani menggeleng cepat membuat dokter itu mengangguk. "Terakhir haid kapan?" Hani berpikir sejenak sambil menghitung dengan jarinya. Sepertinya dia terlambat datang bulan, mungkin hampir dua minggu. Jika Hani terlalu banyak pikiran, selalu saja seperti ini terlebih semenjak kematian orang tuanya. "Seharusnya dua minggu lalu. Saya sedang banyak pikiran, Dok," jawab Hani jujur. "Memangnya kenapa, Dok?" "Tadi kan sudah dicek urin, nanti sekalian di tes kehamilan, Mbak Hani. Jadi nanti kita bisa tahu telat haidnya karena sedang hamil atau tidak," jelas dokter itu membuat Hani semakin gugup. Apakah mereka tidak percaya jika aku memang tidak pernah melakukan hubungan suami-istri? batin Hani. "Nanti prosedurnya, saya akan memasukkan dua jari ke lubang a**s, Mbak Hani untuk mengecek hymen-nya ya." "Ha?" Hani sedikit menjerit dengan wajah pucat. Dia tidak pernah melakukan prosedur ini, bahkan dirinya membayangkan bahwa rasanya pasti tidak nyaman. "Tapi ... apa tidak ada cara lain? Toh, saya memang tidak pernah berhubungan, Dokter." "Maaf, Mbak Hani, tapi ini sudah prosedur jika akan menikah dengan tentara. Mbak Hani tarik napas panjang saja ya. Saya akan mulai," kata dokter itu membuat Hani merapatkan kedua pahanya yang terbuka. Namun, dokter itu kembali memisahkan paha Hani. "Tarik napas panjang ...." Sesuai aba-aba, Hani menarik napas panjangnya ketika merasakan jari dokter itu menerobos duburnya. Suara rintihan gadis itu tertahan di kerongkongan dengan air mata yang mengalir, hingga dia meremas bajunya sendiri. Tubuhnya serasa ditusuk hingga menyisakan rasa pedih. "Oke, bagus," kata dokter seraya menarik kembali jemarinya dari tubuh Hani. "Silakan kembali dan menunggu hasilnya ya Mbak." Dengan langkah terseret, Hani keluar dari ruang pemeriksaan dan mendapati Rudi memandanginya dengan penuh tanda tanya. Gadis itu hanya terdiam sambil menahan perih meski prosedur mengerikan itu telah usai. Sungguh, Hani ingin protes kepada siapa pun yang membuat kebijakan tentang dilakukannya tes keperawanan pada gadis yang akan menikah dengan tentara. "Kenapa kamu?" tanya Rudi. "Nggak usah tanya!" dengkus Hani lalu duduk di sisi kanan Rudi dengan cemberut. ### Sepulang dari rumah sakit, Hani langsung diantar Rudi ke kos-nya. Tidak ada pembicaraan apa pun kecuali mood Hani yang tiba-tiba memburuk. Rudi yang melirik calon istrinya dari spion sepeda motor pun hanya bisa mengembuskan napas pendek. Bahkan saat turun dari motor, gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun dan memilih berlalu meninggalkan Rudi dalam diam. "Hei!" seru Rudi membuat Hani menoleh ke arah lelaki itu. "Ayo!" "Ayo ke mana?" tanya Hani dengan wajah yang cemberut. "Ayo ikut aku daripada muka butek begitu kayak selokan," ejek Rudi membuat pipi Hani memerah menahan marah. "Ih, apaan sih!" Rudi terkekeh lalu membunyikan klakson motornya cukup kencang. Hani yang semula malas menerima ajakan Rudi pun akhirnya menuruti kemauan lelaki itu. Dia pun melangkah cepat dan menaiki jok belakang motor Rudi tanpa senyum. "Kamu kenapa sih? Dari rumah sakit keliatan jutek banget?" "Sudah ah, nggak usah bahas!" ketus Hani. "Perempuan kalau lagi nggak mood, seremnya ngalah-ngalahin kuntilanak," ucap Rudi yang dibalas Hani dengan cubitan maut di pinggang ramping lelaki itu. "Lagian jadi laki-laki nyebelin amat," kata Hani menahan tawa. "Tumben peduli?" Rudi mengedikkan kedua bahunya. "Anggep saja aku lagi kesambet." Hani tertawa, Rudi pun melajukan motornya menuju suatu tempat yang belum dikunjungi Hani selama di Bekasi. Tanpa mereka sadari, seseorang mengintip dari kejauhan dengan kedua mata bengkak dan memerah menahan amarah yang sudah terlanjur mendarah daging. Kedua tangannya terkepal kuat ingin melampiaskan rasa kecewa akibat semua mimpinya hancur begitu saja. Dia menarik napas seraya memejamkan mata lalu tersenyum sinis kemudian menghilang di antara para warga yang lalu lalang melewati daerah itu. To be continued Btw, menurut kalian, sejauh ini gimana sih kisah Hani dan Rudi? Komen yak, maaciih ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN