Setelah melalui proses pengajuan yang menguras tenaga dan waktu, tibalah Hani dan Rudi berada di tingkat final. Ruang Paroh atau ruang rohaniawan yang kata orang menjadi penentu di mana mantap tidaknya seorang prajurit atau calon pasangan akan sehidup semati dalam ikatan pernikahan. Rudi bercerita bahwa beberapa temannya gagal dalam tahap ini karena ada beberapa dari mereka yang tidak yakin dengan pasangannya termasuk segala risiko jika harus ditinggal dinas oleh suami.
Hani mendengar penjelasan Rudi sambil menganggukkan kepalanya paham. Sejujurnya dia pun merasa ada keraguan dalam dirinya, terutama dengan teror-teror yang menimpa Hani yang tidak diketahui Rudi. Masih terbayang, usai Rudi mengajaknya makan dan berkeliling di sekitaran kos, ada seseorang yang mengirimi Hani sebuah kotak yang nyatanya berisi sebuah bangkai tikus dengan surat yang menyatakan bahwa Hani adalah perempuan busuk. Tentu saja teror itu membuat Hani hampir menolak semua makanan yang ada di hadapannya hingga perutnya begitu terasa pedih sekarang.
Gadis itu sudah bisa menebak siapa yang mengirim bangkai mengerikan itu. Mantan Rudi yang bahkan Hani tidak tahu bagaimana rupanya. Jikalau bisa, ingin rasanya Hani menjelaskan secara baik-baik kepada mantan Rudi bahwa apa yang dilakukannya ini semata karena keinginan almarhum bapaknya. Tapi, rasanya itu sangat mustahil ketika api cemburu dan kecewa sudah menghilangkan akal sehat.
"Kamu sudah siap dengan calon suamimu? Segala risiko yang akan dihadapi istri prajurit?" ucap seorang lelaki yang rambutnya mulai memutih, membuyarkan pikiran Hani yang mulai kalut.
Lelaki itu memakai seragam yang sama dengan yang dikenakan Rudi saat ini, bedanya dia memiliki beberapa lencana yang tidak dimiliki Rudi serta bentuk pangkat yang sudah berada di kedua pundak lelaki paruh baya itu. Kepala Hani mengangguk mantap sambil tersenyum yang dipaksakan. Lelaki itu menatapnya penuh selidik dengan alis yang terangkat sebelah.
"Saya siap!" jawab Hani dengan tegas.
"Jika calon suamimu pergi untuk penugasan di luar pulau atau medan perang, lalu dia cacat seumur hidup, apakah kamu masih menerimanya sebagai suamimu?"
Hani terdiam cukup lama, membayangkan Rudi datang dengan kondisi tak utuh rasanya menyeramkan di benak gadis itu. Tapi jika sudah terikat dalam ikatan pernikahan, fisik tidak menjadi patokan lagi. Hani berdoa dalam hati agar Rudi tidak akan pernah mendapat penugasan seperti itu, dirinya belum siap.
"Iya, saya siap. Pernikahan bukan soal fisik tapi bagaimana caranya menerima semua kekurangan pasangan, Pak," jawab Hani.
Lelaki dengan name tag Joko Semedi itu tersenyum sambil mengangguk. "Saya harap apa yang kamu putuskan hari ini akan tetap kamu pegang hingga tua nanti."
##
Kepala Hani terasa begitu pening dengan asam lambung yang sudah merangkak naik ke kerongkongan. Wajahnya pucat dengan bibir yang begitu kering. Dia meremas perutnya sambil merintih, pandangannya semakin berkunang-kunang hingga harus menggeleng beberapa kali supaya tidak jatuh pingsan di kantor tempat Rudi dinas.
Hani menoleh ke sekelilingnya, lelaki itu tak kunjung muncul setelah berpamitan ke toilet. Hanya beberapa lelaki berseragam loreng yang lalu lalang seraya menatap Hani seperti orang asing yang masuk ke dunia baru. Perut Hani semakin menjadi-jadi, dia merasa sangat mual dan ingin muntah. Namun hanya cairan asam lambung yang begitu panas dan terasa sangat asam di lidahnya.
Gadis itu sudah tidak kuat, penglihatannya semakin kabur, tubuhnya sudah tidak bisa menahan bebannya sendiri. Pikirannya yang kacau perlahan memudar seiring bayangan gelap memeluk dirinya.
Beberapa detik, dia merasakan seseorang menahan tubuhnya yang hampir terjungkal ke belakang. Hani mendongak memaksa dirinya tetap sadar ketika raut wajah Rudi terlihat begitu kaget.
"Aku ... kayak zombie ya?" racau Hani.
"Kamu kenapa sih? Sumpah ya, dari kemarin aneh terus!" seru Rudi menyandarkan tubuh Hani. Dia pun mengeluarkan sebotol minuman dingin dari kantung plastik yang dibawanya dari kantin kantor. "Minum dulu sana. Kamu lagi diet atau lagi coba bunuh diri, hah?"
Tangan kurus gadis itu terulur menerima botol minuman isotonik yang terasa dingin menyentuh kulitnya. Dia mendecih ketika tidak memiliki tenaga membuka penutup botol. Hani pun menyodorkan kembali botol itu kepada Rudi seraya berkata,
"Tolong dong. Aku nggak kuat."
Bibir Rudi mengerucut membantu membuka penutup botol Hani lalu memberikannya lagi kepada gadis itu. "Kenapa sih!" Dia masih penasaran apa yang membuat Hani terlihat begitu mengerikan seperti mayat hidup.
Gadis itu bungkam, memilih meneguk minumannya untuk mengembalikan tenaga yang hampir hilang. Namun, tatapan Rudi yang seakan menuntut jawaban membuat Hani menghela napas sejenak. Dia tidak yakin apakah lelaki itu masih peduli atau sekadar tahu apa yang dirasakannya. Hani yakin Rudi masih mencintai mantannya meski mantannya telah berbuat jahat kepada Hani sebagai calon istri.
"Tidak apa-apa," ucap Hani lirih, merasa begitu pengecut. "Aku ingin pulang dan tidur, Mas."
"Ini nggak ada hubungannya dengan Meisya, kan?" tebak Rudi mengunci Hani dalam matanya.
Bibir tipis Hani mengatup rapat dengan tangan yang meremas kuat botol minumannya. Dia bahkan baru tahu nama mantan Rudi yang bernama Meisya itu. Air matanya mendesak ingin keluar, namun yang Hani lakukan menengadah menatap plafon lorong kantor Rudi, menahan kristal bening itu agar tidak menunjukkan bahwa sebenarnya dia sangat takut dengan tindakan Meisya selanjutnya.
"Hei!" Rudi menyentuh bahu Hani yang dibalas dengan tatapan rapuh gadis itu.
"Aku nggak apa-apa. Tolong, aku ingin pulang, Mas," ucap Hani dengan suara bergetar.
##
Selepas Rudi berlalu dengan motor maticnya, Hani melangkah gontai menuju kamar kosnya dengan perut yang masih terasa begitu pedih. Aroma bangkai tikus masih terbayang-bayang di indera penciumannya membuat Hani kembali mual. Dihampirinya bak sampah dan seketika itu pula dia memuntahkan isi lambungnya yang hanya air dan cairan lambung.
Tanpa disadari gadis itu, seseorang menuangkan air selokan mengenai kepala hingga punggung Hani. Dia memekik, menampik tangan kurus membuat sebuah botol mineral berukuran 1,5 liter itu jatuh. Hani berbalik dan terkejut bukan main melihat seorang wanita bertubuh berisi mengenakan masker nampak menatap tajam dirinya.
"Meisya?" panggil Hani dengan kesabaran yang sudah di ambang batas. Bau selokan serta bayang-bayang bau bangkai mengaduk-ngaduk lambungnya. Tapi Hani harus kuat dan harus menyelesaikan perang dingin antara dua perempuan yang merebutkan hati satu laki-laki.
Gadis berjaket hoodie hitam itu melepas maskernya lalu meludah ke tanah dan berkata,"Itu buat pelakor kayak lo!"
Mulut Hani menganga, masih tak percaya dengan sebutan pelakor bahkan untuk wanita yang hanya sebatas menjadi kekasih Rudi itu. Sebelum Hani menjawab, Meisya menodong sebuah pisau. Refleks Hani bergerak mundur dengan jantung yang berpacu takut menjadi sasaran orang hilang akal. Sialnya, kos di daerah ini selalu saja sepi. Bahkan Hani menyesal membiarkan Rudi pergi begitu saja.
"Harusnya gue yang jadi istrinya ... " suara Meisya terdengar serak dengan air mata yang menetes di kedua pipinya. Dia berjalan mendekat ingin mengiris urat nadi di leher Hani. "Harusnya gue yang pengajuan nikah bukan lo!" gadis itu berteriak membuat Hani semakin ketakutan.
"Hei ... kita bicarakan baik-baik, oke. Turunkan pisau itu, Meisya," ucap Hani dengan tangan gemetaran.
Tak menghiraukan ucapan Hani, justru Meisya semakin mendekat dengan ujung pisau yang sudah siap menusuk leher jenjang Hani. Posisi gadis berkulit langsat itu terpojok, yang bisa dia lakukan hanya meremas ujung bajunya yang kotor sambil merapal doa agar dirinya tidak terbunuh. Napasnya begitu tercekat, takut jika ujung pisau itu menembus kulit lehernya. Kedua mata bulatnya terpejam erat, bibirnya gemetaran seraya berkata,
"Kamu nggak salah, Mei ... aku hanya menjalankan apa yang diinginkan almarhum bapakku. Mas Rudi ... kamu pun jangan salahkan dia. Semua ini sudah menjadi takdir kita masing-masing, Meisya."
Meisya tidak bergeming, tangannya gemetaran mendengar ucapan Hani. Dia menangis, rasa kecewa dan amarah atas penantian yang berakhir dengan putus secara sepihak membuat dirinya hampir gila. Rudi dan segala impian yang ingin dibangun Meisya luluh lantak begitu saja kala dia mendengar gosip bahwa Rudi akan segera menikahi perempuan di kota asalnya. Hingga dia mendapat kebenaran itu dari mulut sang kekasih.
"Mei!" suara Rudi membuat Meisya terperanjat kaget. Refleks dia menjatuhkan pisau dapur dari genggamannya ke tanah. Lelaki itu sengaja kembali ke kos Hani bermaksud untuk memberinya beberapa makanan yang dia beli di ujung jalan, namun tak menyangka bertemu mantan kekasihnya dalam keadaan kacau.
Kedua iris mata Rudi melebar, dengan gerakan cepat dia menendang pisau itu dan mencengkeram bahu Meisya, menatap lekat mantan kekasih yang begitu dicintainya.
"Kamu gila ya! Apa dengan menghabisi Hani semua akan sama?" ucap Rudi penuh penekanan. "Aku sudah bilang, Mei, keputusanku bulat dan itu tidak bisa diubah. Aku menghormati ayahku sekali pun aku membenci keputusan yang dia berikan padaku, Mei."
Tubuh Meisya berguncang hebat, dia menangis kencang lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tidak ada kata yang bisa dia rangkai mendengar Rudi mengucapkan hal itu. Pikirannya semakin kacau, sungguh Meisya ingin menjadikan semua ini hanyalah bunga tidurnya belaka. Namun, semakin dia rasakan, semakin nyata dan pedih. Hatinya teriris membuat dadanya begitu sesak. Rudi menghela napas lalu merengkuh tubuh rapuh itu dalam pelukannya dengan erat seakan tidak ingin gadis kesayangannya hancur lagi,
Rudi melirik sejenak Hani yang mematung di belakang Meisya dengan baju kotor serta wajah pucatnya yang terlihat lelah. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir lelaki itu, bahkan untuk dirinya yang hampir pingsan di kantor Rudi. Ada rasa iri yang menyelinap di hati Hani melihat sejoli itu. Dia merasa menjadi tembok besar yang memisahkan Rudi dan Meisya, bahkan untuk mencari celah hati Rudi untuknya pun rasanya tak mungkin.
Hani tergerak, meninggalkan Meisya dan Rudi yang masih berpelukan dengan bulir air mata yang jatuh di pipinya. Dia tidak sanggup melihat hal itu bahkan sebelum pernikahannya, hati Hani sudah hancur berkeping-keping. Bagaimana bisa dia hidup dengan lelaki yang hatinya masih saja tertambat pada orang lain, rasanya Hani takkan sanggup menjalani hal itu.
Apakah ada kesempatan untuk mencuri sedikit hatimu, Mas?