Bab. 11 Bunda, Senja Lapar

1062 Kata
Senja tak berkedip, Dilan apalagi. Mereka yang tengah menghela napas karena lelah setelah dihukum dibuat tercengang dengan kedatangan makhluk itu. Bagaimana ceritanya orang yang tidak mereka sukai datang ke kelasnya. Apa maksudnya? Maksudnya– orang itu berjalan di belakang guru dan membawa tas lengkap dengan segala peralatan sekolahnya? Sebentar, Dilan dan Senja berpikir. “Kalian tau, ‘kan, siapa dia?” Tentunya banyak murid mengangguk. Siapa yang tidak tahu anak murid yang satu itu? Murid pintar dengan predikat “buaya” yang menempel pada namanya. Tentu saja banyak yang mengenalnya dekat. Murid yang satu itu memang pandai mencari sensasi. Selain dengan prestasi, tentunya dengan aksi semua wanita ia dekati. “Mulai hari ini Raga pindah kelas.” Terlihat Senja dan Dilan bertatapan, saling menautkan alis. Mereka kembali menilik Raga di depan sana. Maksudnya apa? Tanpa alasan yang jelas Ibu Fitri mempersilakan Raga untuk duduk. “Raga ...” Ucapan Bu Fitri menggantung, matanya menelusuri seisi kelas mencari bangku mana yang kosong. “Di sana,” ujarnya menunjuk bangku kosong sebelah Dilan. “Kamu duduk di sebelah Dilan, ya?” Terlihat dari tatapan mereka bahwa hati tidak setuju, karena suatu masalah saat itu membuat Dilan dengan Raga benar-benar tidak ingin lagi berteman. Mereka saling melempar tatapan tajam tanpa bisa membantah apa perintah Bu Fitri. Setelah Raga dengan hati tidak senangnya duduk Bu Fitri langsung memulai pelajaran. Jam pelajaran Bu Fitri berjalan begitu hening. Muka Dilan ditekuk, berbeda dengan biasanya yang selalu agak membuat gaduh seisi kelas dengan mengajak ngobrol Senja walaupun tidak mendapat tanggapan dari gadis itu. Senja selalu berkonsentrasi saat jam pelajaran, maka gangguan apapun dari Dilan tak pernah Senja hiraukan. Akan tetapi kali ini, Dilan terlihat enggan. Entah apa yang dipikirkannya. Senja juga tidak mengerti. “Dilan,” panggil Senja lirih, tetapi yang dipanggil benar-benar diam tak menoleh sedikit pun. Kenapa Dilan malah terlihat tidak menyukainya? Senja menghela napas seraya menggelengkan kepala. “Enggak tau, ah,” ucapnya lirih. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai. Jam pelajaran Bu Fitri usai. Bel istirahat berbunyi nyaring membuat dengan cepatnya Dilan bergegas dari tempatnya duduk. Dilan yang biasanya mengajak Senja untuk pergi ke kantin bersama, kini ia sudah berjalan tanpa sepatah kata pun membuat Senja bingung. Kenapa Dilan seperti sedang tidak mood dengan dirinya? Bukankah Raga yang membuatnya tidak senang seperti ini? Senja menggeleng serta menghela napas dan hal itu disadari Raga. Dilihatnya Senja begitu dekat mengerutkan alisnya. “Senja kenapa?” Senja diam, bergeming, juga tidak menoleh yang bertanya. “Ja?” tanya Raga lagi. “Ngapain Raga dipindah ke kelas Senja? Biar apa? Ngapain, si, Raga ngikutin Senja mulu? Enggak bosen Raga ngejar Senja? Masih belum puas Raga nyakitin Senja? Mau lagi? Hah?” Raga terkekeh mendengar pertanyaan Senja yang begitu banyak. “Memangnya kenapa kalo gue jadi satu kelas sama lo, Ja?” Senja lelah. Tidak menjawab Senja malah berlalu meninggalkan Raga yang ternyata malah mengikutinya dari belakang. Lama-lama, Raga ini mirip penguntit, ya? Selalu saja mengikuti Senja. Namun, langkahnya terhenti kala ia mendapati Senja di depannya menemui Dilan yang duduk di salah satu kursi taman. Lantas Raga menjauh. “Dilan kenapa, si? Kenapa jadi Senja yang dicuekin? Dilan enggak sukanya gara-gara Raga dipindah ke kelas kita, ‘kan? Kalo enggak sukanya sama Raga kenapa Senja yang jadi pelampiasan Dilan? Kenapa? Senja salah apa sama Dilan? Kalo ada orang ngomong tu didengerin, jangan diem mulu. Jawab, Dilan!” Dilan benar-benar menahan tawa. Bisa-bisanya Senja selucu ini. Ia melihat Senja cemberut dari ujung matanya. Dilan tetap bersikeras untuk tidak merespons Senja dulu. Ia ingin tahu, apa lagi yang akan diomelkan anak itu. Namun, Senja menghela napas lantas berdiri dari duduknya. “Maaf, deh, kalo Senja ada salah sama Dilan,” ujarnya manja. Dilan yang melihat itu langsung saja meraih tangan Senja lalu memeluknya. “Enggak, Ja, gue enggak marah sama lo. Lo enggak ada salah juga sama gue.” “Terus kenapa Dilan cuekin Senja?” tanya Senja sembari melepas peluknya. Namun, Dilan kembali memeluk tubuh itu. “Dilan capek, Ja,” ujarnya, “Kaya gini sebentar, ya, Ja?” *** Untuk hari ini Senja meminta ijin kepada Tante Siska agar mungkin satu hari ia tidak bekerja. Sepulang sekolah Senja langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Tara yang dipaksa harus dirawat inap selama beberapa hari. Senja mendapati bunda tengah menyuapi Tara puding. Ah, puding itu terlihat enak sekali. Senja ingin. Namun, keinginan itu segera ia tepis. Tidak mau ia datang-datang langsung mendapat semprotan dari mulut bunda. “Siang, Tara, gimana, Tara udah enakan?” tanyanya duduk di sebelah Tara. Tara mengangguk. “Kak, puding dari bunda enak banget, loh,” ujarnya di sela mulut yang masih mengunyah puding suapan bunda itu. “Kakak mau?” Senja sudah mengangguk antusias, tetapi buru-buru ia menggeleng kala mendapati bunda yang langsung meliriknya tajam. “Enggak mau, buat Tara aja,” jawabnya. Bunda langsung tersenyum ramah pada Senja saat gadis itu menjawab tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Melihat itu, Senja senang karena dari sekian lama ia mendapat senyuman ramah itu lagi dari bunda. Tidak ingat Senja kapan terakhir kali mendapat senyuman itu. Sangat jarang bunda seperti itu. Entah apa yang ada di pikiran bunda hingga selalu saja amarah yang dikeluarkan kala bertemu Senja, sekali pun anaknya yang satu itu tidak melakukan kesalahan apapun. “Bunda, senja lapar.” Baru saja bunda tersenyum, mendengar itu langsung raut wajahnya berubah. “Kalo lapar, ya makan, lapar kok laporan ke Bunda. Sana makan!” perintahnya ketus, menyuapi puding lagi pada Tara. “Tapi, Bunda, Senja makan sama apa?” Bunda menghela napas. “Ya terserah kamu dong mau makan sama apa! Punya duit, ‘kan? Beli aja sendiri!” Nada bicara bunda selalu saja kasar jika pada Senja. Sebenarnya Senja sangat sakit hati selalu kena marah bunda. Namun, bagaimana caranya membuat bunda tidak lagi memarahinya sedangkan dia berbuat benar saja bunda tetap sama? Senja menghela napas, lelah. Dari luar terdengar suara ketukan pintu dan muncullah Dilan membawa begitu banyak makanan yang ia tenteng dalam paperbag “Assalamualaikum,” sapanya, “Ini, Bunda, buat dimakan bareng-bareng.” Bunda menerima paperbag itu. “Waalaikumsalam, ya ampun banyak banget, Nak Dilan.” Bunda mengeluarkannya satu per satu. Mata Senja berbinar mendapati makanan kesukaannya. Ia melirik bunda yang terlihat fokus pada makanan di depannya. Namun, makanan Kesukaannya itu malah diberikan pada Tara yang membuat Senja langsung diam. Bergeming. Dilan melihat itu, dia sengaja membeli itu untuk Senja, dan bukan untuk Tara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN