Bab. 10 Dilan memang Biasa Terlambat

1030 Kata
Keesokan paginya, Senja terlihat tergesa-gesa sembari menenteng tas ranselnya. Bibir gadis itu tak henti menggerutu lantaran ia sudah terlambat untuk pergi ke sekolah. Ini semua karena semalam ia tidak bisa tidur. Semalem ia memutuskan untuk pulang ke rumah bersama Dilan. Sementara Bunda dan Ayahnya menjaga Tara di rumah sakit. Tidak masalah, toh adanya Senja di sana juga tidak dianggap. Senja seperti makhluk tak kasat mata bagi orang tuanya. Kadang Senja berfikir, apa benar ia anak kandung Ayah dan Bundanya? Kalau benar, lantas mengapa mereka memperlakukan Senja dan Tara tidak sama? Apa benar mereka sayang pada Senja? Senja menarik nafasnya pelan. Merasa penat dengan pemikirannya sendiri. Untuk apa ia meragukan kasih sayang orang tuanya? Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, begitupun dengan Ayah dan Bunda. Senja yakin mereka juga menyayangi Senja hanya saja dengan cara yang berbeda. Senja menilik jam yang menempel di dinding. Waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB. "Ah, pasti nanti di hukum," ujarnya sembari mendesah pelan. Setelah selesai memakai sepatu, Senja bergegas keluar rumah. Tak lupa juga ia mengunci rumahnya. "Senja!" Senja mengalihkan atensinya saat ada yang memanggil namanya. Kedua sudut bibir gadis itu terangkat sempurna melihat Dilan berada di depan pagar bersama motornya. Senja berlari kecil menghampiri Dilan. Lelaki itu langsung memberikan helm untuk Senja pakai. "Tumben kesiangan?" tanya Dilan. "Iya, bangunnya telat," jawab Senja. Dilan pun langsung mengulurkan tangannya, membantu Senja untuk naik ke motor. Senja dengan senang hati menerima uluran tangan Dilan dan mereka pun berangkat. Tak lama kemudian, Dilan sudah memasuki gerbang sekolahnya. Benar saja, sekolah sudah sepi. Artinya kegiatan belajar mengajar sudah di mulai. Dilan yang sudah biasa terlambat pun terlihat santai. Berbeda dengan Senja. Terhitung dari awal mereka masuk sekolah, Senja baru sekali terlambat masuk sekolah. Dilan melirik ke arah Senja. Tangan gadis itu saling bertautan. Terpancar jelas aura ketakutan di mata itu. Jujur, Dilan ingin tertawa melihat ekspresi Senja yang sudah seperti akan di eksekusi mati. "Ngapain, Ja?" tanya Dilan dengan suara bergetar menahan tawa. Senja melirik kesal ke arah Dilan kemudian gadis itu berdecak. "Senja nggak mau dihukum," katanya pelan. "Lah? Gimana ceritanya nggak mau dihukum? Kan, kita telat, Ja," tutur Dilan sembari tertawa pelan. Senja hanya diam tak merespon. Demi apapun, gadis itu paling anti dengan yang namanya hukuman. Maka dari itu, sebisa mungkin ia selalu disiplin agar tidak dihukum. Tapi sekarang ia malah terlambat. Dilan meraih tangan Senja. Membuat Senja terperanjat. "Eh?" "Ikut gue. Gue tau tempat rahasia supaya kita bisa ke kelas tanpa ketahuan guru," ajak Dilan. "Nggak mau. Nanti kalo ketahuan malah makin berat dihukumnya, Dilan. Mending kita lapor aja ke guru piket." Senja menolak. Dilan mendecak. "Nggak bakal ketahuan. Lo tau, kan, gue ini ahlinya hal beginian? Udah, lo percaya sama gue." "Awas aja, ya, kalo sampe ketahuan?" ancam Senja sembari melayangkan tatapan tajamnya ke arah Dilan. Dilan tersenyum tipis. Bukannya takut, ia malah gemas dengan tingkah Senja. Namun tak urung juga, lelaki itu mengangguk. Dilan pun menarik Senja menuju tempat yang biasa ia lewati ketika terlambat. Tempat itu berdekatan dengan kelas mereka. Namun ketika mereka baru berjalan beberapa langkah, sebuah suara menginterupsi mereka. "Dilan Pramuja, Senja Aluna, mau kabur kemana kalian?!" *** Tatapan sinis tak henti-hentinya Senja layangkan untuk Dilan. Sementara Dilan, lelaki itu hanya tersenyum lebar tanpa dosa. Lelaki itu tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia juga tidak tahu kenapa bisa bu Fitri tiba-tiba muncul seperti hantu. Biasanya kalau ia terlambat, tidak ada satupun guru yang tahu. Giliran bersama Senja, eh sudah apes saja. "Ya, kan, gue nggak tau kalo bu Fitri bakal mergokin kita, Ja," ujar Dilan membela diri. Bukan salah dia juga, kan? Dia juga nggak mau kejadian ini terjadi. "Kan, Senja udah bilang. Mending lapor aja daripada kabur. Coba Dilan lihat sekarang, dihukumnya makin berat, kan?" omel Senja sembari terus mengepel. Dua remaja itu diberi hukuman untuk membersihkan seluruh kamar mandi yang ada di lantai dua. Total kamar mandi di lantai dua ada sekitar 5 kamar mandi. Dan sekarang mereka baru menyelesaikan 3 ruangan. Sejak tadi, Dilan bertugas mengambil air, memeras kain pel, serta membersihkan WC. Sementara Senja hanya mengepel saja. "Biasanya juga gue nggak ketahuan kalo lagi bolos," kata Dilan sembari memeras kain pel yang disodorkan Senja. "Bolos aja terus. Pantes sekolahnya pinter," sindir Senja. Sementara Dilan, lelaki itu tertawa garing. Ia tahu, dirinya sama sekali tidak memiliki otak yang pintar. Malah terkadang ia sering meminta bantuan Senja untuk mengerjakan soal-soal dari guru. "Udah. Ngomelnya nanti lagi, ya? Mending sekarang selesaiin ini dulu biar cepet masuk kelas," usul Dilan. Bukannya apa, telinganya sudah cukup panas mendengar ocehan Senja yang tiada hentinya sejak tadi. Butuh waktu satu jam bagi mereka menyelesaikan pekerjaannya. Itu artinya mereka sudah melewatkan 2 jam mata pelajaran. Bel pergantian jam pelajaran pun berbunyi. Senja yang tengah menyimpan alat kebersihan langsung mengambil tasnya. Dilan pun ikut mengekor di belakang Senja. Keduanya berjalan beriringan menuju kelas mereka. Saat melewati kantin, Dilan berdehem sebentar. "Ja, mau minum nggak?" tawar Dilan. Rasa haus tiba-tiba menyerang kerongkongannya. "Nggak usah cari masalah lagi, Dilan." Senja memperingatkan. "Tapi haus, Ja." Senja membuka tas ranselnya kemudian mengeluarkan sebotol air mineral yang dibawanya dari rumah lantas memberikannya pada Dilan. Dilan tersenyum lebar lalu menerima botol itu. Lelaki itu langsung menegaknya hingga tersisa setengah botol. Keduanya kembali berjalan menuju kelasnya. Tak lama kemudian, Senja masuk lebih dulu ke dalam kelas. Beruntung guru yang mengajar belum masuk. Jadi mereka masih bisa beristirahat sebentar. "Darimana, Ja?" tanya Tania kala Senja melintas di depan mejanya. "Dihukum, Tan. Tadi terlambat," jawab Senja sembari meletakkan tasnya ke bangku. Lalu gadis itu mendaratkan pantatnya disana. Dilan pun tampak masuk ke dalam kelas. Rambut lelaki itu terlihat basah. Senja bisa melihat ada beberapa tetes air yang membasahi dahinya. Mungkin Dilan habis membasuh rambutnya di kran air depan kelas. "Terlambat Mulu. Nggak bosen, Lan?" ujar Andra yang tengah duduk di atas meja sembari meminum jus mangga. Dilan mengalihkan pandangannya menatap Andra. "Bagi, Ndra," katanya lalu mengambil jus mangga itu. "Buset. Nggak sopan amat nih bocah," ujar Andra. Dilan menyerahkan kembali jus itu ke Andra ketika ia udah meminumnya setengah. Lalu berjalan menuju bangkunya di samping Senja. Bu Fitri tampak masuk ke dalam kelas. Semua mata tertuju pada siswa yang berjalan di belakangnya. Terutama Senja, gadis itu bahkan tak berhenti menatap siswa itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN