Plak!
Perih, pipi Senja memerah. Tercetak jelas bekas tangan bunda yang menamparnya. Rasa perih itu tidak hanya di pipi, melainkan juga di hati. Sebenarnya, tidak hanya satu kali, tetapi sudah terlampau sering Senja diperlakukan sekasar ini—tentu oleh bundanya sendiri.
Entah, Senja tidak tahu. Ia tidak pernah mengerti mengapa bunda sekasar itu pada dirinya. Padahal sering kali ia tidak melakukan kesalahan apapun, atau bahkan bunda hanya salah paham saja pada dirinya tetapi bunda tetap melukainya.
Anehnya lagi, bunda tidak pernah bertanya bagaimana atau seperti apa kejadian yang sebenarnya. Bunda selalu mem-vonis Senja langsung tanpa melihat kondisi atau berada di posisi seperti apa anak gadisnya itu.
Bunda benar-benar tidak memikirkannya. Bunda tidak peduli. Di pikiran bunda hanya ada Tara, Tara, dan Tara. Sesalah apapun, bunda tidak pernah menyalahkan Tara. Sebenar apapun, bunda tidak pernah membenarkan Senja. Apa layak perlakuan itu Senja dapatkan?
Pernah suatu waktu Senja mendapat tamparan yang bahkan terasa lebih keras daripada kejadian ini. Kala itu Senja mengajari Tara yang terus saja memaksa untuk diajari mengendarai sepeda. Padahal Senja sudah tidak mau. Ia jelas mengerti bagaimana kelanjutannya jika ia menuruti permintaan Tara.
Namun, dialah Senja yang susah sekali menolak. Apapun itu, selalu ia turuti. Senja luluh dengan segala bentuk rayuan Tara agar mau mengajarinya.
Mereka berlatih begitu keras hingga bunda saja sangat bangga kala Tara berhasil mengendarai sepedanya sendiri. Senja senang melihat itu. Mungkin kali ini kemungkinan buruk yang ia pikirkan tidak akan terjadi. Mungkin kali ini dia benar salah telah berpikiran negatif.
Tara mengendarai dengan begitu senang, ia mencoba bergaya, mengendarai sambil berdiri dan terlebih lagi ia berlagak melepas kedua tangannya. Ia bersantai dan tanpa Tara tahu bahwa di depannya ada jalan berlubang serta berbatu. Sepeda itu langsung saja oleng saat melewatinya, hingga akhirnya ia menjerit kala menyadari tidak bisa lagi mengendalikan sepedanya dan Tara terjatuh dengan lutut yang bergesekan dengan jalan.
Lututnya berdarah-darah. Lukanya cukup parah. Bunda yang berada di samping Senja kala itu langsung menampar keras pipi Senja yang juga panik ingin berlari mendekati Tara.
“Tuh! Lihat, ‘kan, ulah kamu!” Bunda berlari mendekati Tara dan langsung membawanya ke dalam rumah untuk segera diobati.
Padahal jelas bunda tahu bahwa kala itu Tara-lah yang memaksanya minta diajari. Senja menangis, tentunya sendirian tanpa ada orang tahu atau orang ingin tahu.
Senja sudah menahan perihnya perut lapar, terkena marah sebab roti Tara yang ia makan, dan sekarang Senja lagi yang salah saat penyakit Tara tiba-tiba kambuh?
Oh, ayolah, Bunda! Kasihan sekali anak bunda yang satu itu. Senja juga butuh kasih sayang. Senja butuh disayang selayaknya seorang anak, tidak hanya Tara. Anak bunda bukan hanya Tara.
Air mata Senja lagi-lagi luruh dari pelupuknya. Tidak sanggup lagi ia menahan.
“Maaf, Bunda.” Hanya kata itu yang ia bisa ucapkan. Padahal jelas apa yang terjadi bukan salahnya.
“Maaf, maaf, aja kamu! Kamu apain adik kamu ini, Senja! Enggak ada bosen-bosennya, ya, kamu buat Bunda marah!”
Langsung saja ayah yang tadi datang bersamaan dengan bunda menggendong Tara. Membawanya ke mobil untuk segera ke rumah sakit. Namun, saat Senja ingin ikut menaiki mobil buru-buru ayah menutup pintu dan berlari melajukan mobilnya.
Ia berlari. “Ayah, Senja ikut!” teriaknya, tetapi teriakan itu hanyalah angin lalu kala mobil ayah saja sudah berjalan jauh.
Dari seberang rumahnya, Dilan keluar. Ia yang mendengar teriakan Senja langsung saja bergegas menemui dengan hati yang terasa tidak enak. Pasti terjadi sesuatu, pikirnya.
Benar, Dilan mendapati Senja tengah berada sedikit jauh dari rumahnya, terduduk di tengah jalan. Dilan menghampiri.
“Ja? Lo kenapa? Kenapa? Mau ikut ke mana? Hah?” tanyanya beruntun.
Senja menoleh yang sontak membuat Dilan terkejut melihat bekas tangan di pipi kiri Senja dan mendapati wajah Senja yang berderaian air mata. Dilan menggapai wajah Senja dan dilihatnya pipi itu. Merah. Bahkan dalam gelapnya malam pun terlihat jelas bahwa itu adalah cetakan sebuah tangan, bekas sebuah tamparan.
“Senja?” tanyanya, “Ini kenapa?” Tatapan Dilan terlihat sendu. Mengusap pelan cetakan tangan itu. “Siapa yang ngelakuin ini, Ja?”
Bukannya menjawab, Senja malah meminta agar Dilan mengantarnya ke rumah sakit.
“Siapa yang sakit, Ja?”
“Tara sakit, Dilan,” jawabnya dengan mata berlinang. “Senja yang buat Tara sakit.”
Buru-buru Dilan mengambil motornya lantas menemani Senja ke rumah sakit yang pastinya kedua orang tua dan adiknya berada di situ.
Sesampainya di sana, Senja langsung memeluk bunda yang membuat ibu dari dua anak itu terperanjat.
“Apaan kamu, Senja!” Bunda melepas paksa pelukan itu. “Kamu udah buat adik kamu kaya gini, sayang kamu sama adik kamu kalau kelakuan kamu kaya gitu? Hah?” Bunda menepuk-nepuk keras lengan Senja.
“Senja sayang Tara, Bunda. Senja enggak ngelakuin apa-apa, Bunda,” isaknya. “Penyakit Tara kambuh sendiri, bukan gara-gara Senja, Bunda.”
“Jelas-jelas kamu di sebelah Tara tadi, masih ngelak ini bukan gara-gara kamu?”
Senja terdiam. Tak berani lagi ia menjawab.
Dilan yang merasa geram ia merangkul Senja, membawanya sedikit menjauh dari bunda agar keduanya jauh lebih tenang.
***
Di dalam kamarnya, Raga menggeram. Andai saja ia menarik Senja ke motornya lalu ia bawa kabur, andai saja semudah itu. Andai saja Dilan tidak muncul dari dalam rumahnya. Ah, andai Senja mau balikan dengannya.
Arghh!
Ia mengusap kasar rambutnya. Mengambil ponsel lantas menghubungi sang mantan tercintanya. Nada tersambung terdengar, ia mulai antusias menanti Senja akan menjawabnya.
“Halo, Ja,” sapanya kala panggilan itu sudah diangkat Senja.
“Halo!” dingin sekali jawaban itu.
“Eh, lo ngapain jawab telepon Senja? Senja mana?” Raga terlihat kesal kala yang mengangkat teleponnya adalah Dilan dan bukan Senja yang dinantinya.
“Senja sibuk!” Lantas terdengar suara sambungan terputus.
Lagi-lagi ia menyugar rambutnya. Bagaimana bisa Dilan malah yang mengangkat telepon Senja? Ah, Raga lupa bahwa Dilan dan Senja ‘kan bertetangga.
***
Senja berjalan mendekati Dilan yang terlihat baru saja menaruh ponsel miliknya. Ia duduk.
“Udah dari toiletnya?” tanya Dilan yang hanya dijawab anggukan oleh Senja.
Senja membuka ponsel, melihat ada notifikasi panggilan tak terjawab dari bar notifikasi ponselnya. Raga. Ia melirik Dilan yang tampak tenang. Lantas ia memeriksa riwayat panggilan ternyata ada panggilan dari Raga yang Dilan jawab. Akan tetapi, tidak mengapa karena hal itu memungkinkan Raga agar menjauh darinya.
“Raga telepon Senja, ya?” Dilan mengangguk. “Kenapa katanya?” Kali ini Dilan hanya menggeleng. “Dilan kenapa?” Dilan menggeleng, lagi. Membuat Senja menghela napas. “Dilan?” panggilnya.
Dilan menoleh menatap lembut Senja dan hanya menjawab Senja dengan bergumam.
“Ish, Dilan!” rajuknya.
“Kenapa Senja sayang?” Dilan terkekeh mendapati Senja yang cemberut kesal karena ulahnya. Semakin saja Senja cemberut mendengar panggilan “sayang” dari Dilan.
“Lah, kok giliran lo si yang marah, Ja?”
“Abisnya ngapain coba manggil Senja ‘sayang' Dilan aneh!” Senja beranjak akan pergi lagi. Namun, tangannya buru-buru Dilan tahan dan Senja pun kembali duduk.