Bab. 8 Roti Stroberi Tara

1117 Kata
Dilan berjalan menghampiri Senja yang berdiri di depan pagar rumahnya. Mata lelaki itu menatap tajam ke arah Raga yang sepertinya terus mengganggu Senja. "Senja!" panggil Dilan membuat Senja dan Raga kompak mengalihkan atensi mereka. Raut wajah Raga yang semula jenaka berubah menjadi dingin tatkala Dilan berada di antara mereka. Atmosfer intimidasi jelas terasa jika Raga dan Dilan berada di tempat yang sama. Keduanya sama-sama membawa aura dingin yang pekat. "Dilan ngapain?" tanya Senja mencoba mencairkan suasana. "Ngapain ganggu Senja?" tanya Dilan pada Raga, mengabaikan pertanyaan dari Senja. "Bukan urusan lo," jawab Raga datar kemudian memakai helmnya. "Gue pulang dulu, ya, Ja. Sampai ketemu di sekolah besok. Bye Senja sayang!" pamit Raga kemudian lelaki itu berlalu menjauh meninggalkan Dilan dan Senja. Senja memilin kedua jarinya. Entahlah, ia selalu merasa tidak nyaman jika berada di antara Dilan dan Raga seperti tadi. Begitupun Dilan, tatapan tajam lelaki itu melunak kemudian menatap Senja dengan lembut. "Kenapa bisa sama Raga?" tanya lelaki itu sembari menyelipkan anak rambut Senja yang beterbangan terkena angin. "Raga yang ngikutin Senja terus," jawab Senja sekenanya. Dilan tampak berdecak pelan. "Kenapa nggak telfon gue? Kan gue bisa jemput lo, Ja." "Ponsel Senja mati. Jadi nggak bisa hubungi Dilan. Maaf, ya?" ujar Senja dengan sendu. Ia takut kalau nanti Dilan akan marah padanya. Dilan mengulas senyum tipis kemudian mengusap rambut Senja. "Yaudah, nggak papa. Tapi lain kali kalo ada apa-apa hubungin gue, ya?" Senja menganggukkan kepalanya. "Iya, Dilan." "Sana masuk, ntar di cariin bunda," titah Dilan. Senja pun menurut, gadis itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Juga dengan Dilan yang kembali masuk ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Senja langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Jam menunjukkan pukul empat sore. Seharusnya bunda ada di rumah, tapi kali ini tidak ada. Bahkan ayah dan Tara tidak ada juga. Apa mungkin penyakit Tara kambuh lagi? Senja memegang perutnya yang terasa sakit. Rasa lapar menyerangnya. Senja pun memutuskan untuk turun ke dapur. Berharap masih ada nasi yang disisakan bunda untuknya. Dengan perasaan penuh harap, Senja membuka tudung saji di atas meja. Seketika wajahnya berubah lesu, tidak ada apapun di sana. Senja pun beranjak menuju kulkas. Berharap ada sesuatu yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Mata Senja berbinar kala ia menemukan sebungkus roti isi selai strawberry. Tangan gadis itu terulur untuk mengambilnya. Lalu membuka bungkus dan memakannya. Meskipun tidak kenyang, namun cukup untuk mengganjal perutnya sampai bunda pulang. Setelah memakan roti, Senja pun duduk di ruang tamu. Menunggu kedatangan orang tuanya sembari mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh guru. Tanpa terasa, dua jam sudah berlalu. Waktu hampir maghrib namun ayah dan bundanya belum juga kembali. "Ayah sama bunda kemana, ya? Kok nggak pulang-pulang," gumamnya pelan. Senja pun membereskan beberapa peralatan sekolahnya karena tugasnya sudah selesai ia kerjakan. Adzan Maghrib juga sudah berkumandang. Senja memutuskan untuk shalat maghrib. Terdengar samar-samar suara tawa Tara dari lantai bawah. Senja yang sudah selesai shalat langsung bergegas turun untuk memeriksa apa benar itu Tara. Benar saja, di ruang tamu ada ayah, bunda, dan Tara tengah duduk di sofa. Ketiganya tampak bahagia dengan tangan Tara yang penuh paperbag. Sepertinya mereka habis belanja. "Ayah sama bunda darimana?" tanya Senja ketika gadis itu sampai di ruang tamu. Tara yang melihat kedatangan Senja langsung tersenyum lebar. "Kak, tadi aku habis dibelikan baju baru sama ayah. Coba kakak lihat. Bagus, kan?" ujar Tara sembari memamerkan beberapa baju baru yang dibelikan ayah. Senja tersenyum senang. "Iya, bagus. Buat Senja mana, Yah?" tanya Senja pada ayahnya yang tengah duduk. Ayah berdehem sebentar. "Kamu bisa pakai baju Tara yang lama," jawab ayah kemudian bangkit dari duduknya. Sepertinya hendak istirahat di kamar. Senja menatap nanar kepergian ayahnya. Hatinya berdenyut sakit saat mendengar ayahnya mengatakan itu. Kenapa harus seperti ini? Kenapa Tara dibelikan baju baru sedangkan dirinya tidak? Senja memejamkan matanya erat, mengusir rasa iri yang tiba-tiba menguasai dirinya. Seharusnya ia tidak boleh iri pada Tara. Tidak apa jika ia memakai baju lama Tara. Toh, baju itu juga masih bagus. Tidak ada salahnya kan, Ja? "Bunda, bunda nggak masak?" tanyanya pada bunda yang sedang bermain ponsel. "Nggak. Tadi udah makan malam di luar," jawab bunda tanpa melihat ke arah Senja. Dada Senja semakin bergemuruh sakit mendengar ucapan bundanya. Kedua tangannya meremas kuat sisi bajunya. Tanpa ia sadari, air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Tidak bisa. Ini terlalu sakit untuk Senja. Bagaimana mungkin bunda tega membiarkannya kelaparan? Bagaimana mungkin bunda tidak memikirkan dirinya? "Bunda! Kok roti Tara yang ada di kulkas nggak ada, ya?" teriak Tara membuat bunda langsung menghampiri gadis itu. Senja yang menyaksikan itu hanya bisa menghela nafasnya sesak. Sepenting itu Tara di mata ayah dan bundanya. "Senja!" bentak bunda dengan suara yang nyaring. "Iya, bunda." Cicit Senja pelan. Ia tahu kesalahan apa yang membuat bunda membentaknya. Gadis itu bahkan tak berani menatap mata bundanya. "Kamu makan roti Tara, ya?!" "Maaf, bunda. Senja tadi lapar. Nggak ada makanan di rumah, jadi Senja makan roti itu," jelasnya dengan suara bergetar. "Kenapa di makan?! Kan bunda sudah bilang, jangan sentuh milik Tara, Senja! Bandel banget, sih, dibilangin?!" marah bunda. Senja hanya bisa terisak mendengar amarah bunda. "Senja lapar, bunda." Gadis itu berucap pelan. "Kalau lapar ya masak! Bukan makan milik orang lain. Itu namanya maling! Ngerti kamu?" "Tapi nggak ada bahan apapun yang bisa Senja masak, bun." Senja masih melakukan pembelaan agar bundanya mengerti. Ayolah, ini hanya perkara sebungkus roti kenapa bunda harus semarah ini? Bahkan bunda bisa membelikan satu keranjang roti jika itu untuk Tara. "Terus! Ngeles aja kamu! Bisa nggak, sih, sehari aja jangan bikin bunda marah? Bunda pusing, Senja!" "Maaf, bunda." Gadis itu semakin tergugu kala bunda pergi meninggalkan dirinya. Tangannya memegang perut yang sejak tadi sudah melilit sakit. Ia sangat lapar. Senja mengusap kedua pipinya yang basah, kemudian memutuskan untuk tidur. Berharap rasa laparnya bisa terobati kalau dirinya tidur. Saat melewati kamar Tara, Senja melihat adiknya tengah duduk sembari bermain ponsel. Tidak ada salahnya kalau ia ingin meminta maaf karena kejadian tadi. "Tara, boleh kakak masuk?" tanya Senja. Tara mengalihkan pandangannya dan menatap Senja. "Masuk aja," jawabnya dengan ketus. Senja tersenyum maklum, mungkin gadis itu masih marah karena ia sudah makan roti miliknya. "Kakak minta maaf, ya? Tara jangan marah sama kakak," ujar Senja dengan tulus. "Tapi kakak udah makan roti aku," Rajuk Tara. Gadis itu tampak mengerucutkan bibirnya kesal. Senja tertawa pelan. "Nanti kakak beliin lagi deh, gimana?" tawar Senja. Tara langsung tersenyum lebar. "Bener, ya, kak?" Senja mengangguk. "Iya. Mending sekarang Tara tidur. Udah malem." Tara pun menyetujuinya. Gadis itu langsung meletakkan ponselnya dan bersiap untuk tidur. Namun tiba-tiba Tara memegang dadanya. Nafas gadis itu tersengal. "Tara kenapa?" tanya Senja dengan panik. "Bunda!" pekik Tara. Tak berselang lama, bunda pun datang dengan mata yang menatap tajam ke arah Senja. Senja langsung menggeleng takut. "Nggak! Bukan Senja yang-" PLAK!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN