Benar-benar Senja pintar membohongi diri, pura-pura tertawa padahal hatinya jelas terluka. Ah, tentu saja sakit mengingat perlakuan bunda yang sangat tidak layak disebut perlakuan “bunda” pada anaknya.
Matanya tak bisa berbohong. Dilan jelas melihat itu. Tawanya, palsu. Bahagianya hanya dusta. Tak tahan Dilan melihat itu, ia mendekat Senja, dan mendekapnya erat.
“Gue tahu, Senja, gue tahu lo bohong. Jangan gitu, ya?” Dilan berkata pelan sembari mengusap rambut Senja. Melepas peluknya sejenak lantas menatap lekat wanita di depannya yang tampak bingung.
“Senja bohong apa? Senja bohong sama Dilan? Soal apa?” tanyanya polos sembari mengerutkan kedua alisnya.
“Senja ...” Dilan menatap Senja. “Enggak boleh nyakitin diri sendiri kaya gitu, ya? Gue tau gimana bunda, Ja. Gue ngerti sesakit apa lo diperlakukan kaya gitu sama bunda. Tapi, please, lo bisa, ‘kan, enggak bohong di depan gue? Senja harus apa adanya kalo sama Dilan, ya?”
Mendengar itu perlahan air mata Senja luruh dan lagi-lagi ia menyangkal—bahwa dirinya tetap baik-baik saja. “Senja bahagia, Dilan, bunda sayang sama Senja.” Senja tersenyum seraya air matanya terus saja mengalir, balik memeluk Dilan. “Senja enggak bohong.” Ia menggeleng, punggungnya semakin bergetar membuat Dilan mempererat pelukannya.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa Dilan mengerti semua tentangnya. Bertetanggaan sejak kecil membuatnya lebih memahami Senja. Dilan tahu bagaimana Senja saat benar tertawa, juga bagaimana saat Senja berbohong. Dilan tentu saja tahu.
Mereka berada di taman sekolah yang jauh dari peradaban siswa. Tentunya setelah bel istirahat tadi Dilan langsung menggiring Senja agar menjauh dari keramaian. Dilan ingin memeluk Senja sejak tadi. Dilan sungguh tidak rela melihat Senja yang terlihat begitu bahagia dengan segala luka yang dipikulnya sendiri.
Terus saja Dilan mengusap punggung Senja, menyalurkan banyak-banyak ketenangan agar tubuh mungil itu merasa sedikit lebih lega.
Namun, ada hati yang tersakiti menyaksikan dua insan itu. Ada hati yang pilu melihat itu. Sakitnya bukan main. Iya, Raga, ia tidak sengaja melewati taman dan mendapati Dilan dengan Senja yang dengan asyiknya malah berpelukan. Ia hanya menghela napas, lantas menjauh.
Lelah jika selalu seperti ini, selalu melihat kedekatan mereka, dan lagi-lagi penyesalan itu datang. Raga merutuki diri. Mengapa dulu ia menyia-nyiakan gadis sebaik Senja? Bodoh sekali Raga.
Dilan melepas peluk Senja, beranjak mengambil botol air mineral di samping mereka berdiri lantas memberikannya pada Senja. Ia mengusap pipi gadis di depannya ini yang masih saja dialiri air.
“Udah, Senja.” Dipeluknya lagi kala Senja selesai meminum air pemberiannya.
Senja menghela napas, tersenyum manis seperti biasanya. “Senja bahagia, Dilan,” ujarnya.
Hanya Dilan yang tahu jika Senja serapuh ini. Hanya Dilan orang yang paling mengerti Senja. Lagi-lagi hanya Dilan.
***
Seperti biasa, seusai sekolah ia pergi ke kedai Tante Siska. Senja berjalan menyusuri trotoar yang ramai dengan siswa seumuran dengannya. Tanpa Senja tahu ada yang mengikuti di belakang.
Senja sampai di kedai yang saat ini terlihat sepi, nampak dari Tante Siska yang sedang duduk di meja kasir memperhatikan beberapa pengunjung di hadapannya.
“Siang, Tante Siska!” sapa Senja ramah memasuki kedai.
“Halo, Senja, udah pulang?” Senja mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban.
Ia berjalan ke ruang ganti untuk mengganti seragamnya dengan pakaian biasa. Mengambil celemek untuk menutupi bagian depan bajunya. Lantas ke luar mendekati Tante Siska yang terlihat sedang melayani seseorang.
Senja terperanjat kala melihat orang itu—Raga?
“Raga? Lo ngapain, si, ke sini?” tanya Senja kesal.
Belum apa-apa, sudah kesal saja rasanya. Mungkin memang karena Raga telah menancapkan luka pada hatinya terlalu dalam. Bagaimana mungkin ia bisa dengan lapang d**a menerima itu semua di kala hatinya saja benar-benar terluka?
“Kangen lo, lah,” jawab Raga menyunggingkan senyumnya yang manis.
Tante Siska yang mendengar itu menjadi curiga, ia menyipitkan mata menatap Senja. “Siapa ini, Ja?” tanyanya.
Senja menggeleng. “Bukan siapa-siapa, Tante.” Lantas ia menggiring Raga menjauh dari Tante Siska.
“Lo apaan, si, ke sini segala? Buat apa coba? Ngapain!” Nada bicaranya kesal sekali.
“Enggak boleh banget, ya, gue ke sini? Gue kangen kali sama lo, masa iya gue enggak boleh nemuin mantan tersayang gue?” godanya, lantas ia kembali menemui Tante Siska untuk memesan makanan.
Senja menghela napas lelah. Ia kembali bekerja.
Raga duduk di salah satu kursi. “Senja!” panggilnya saat melihat Senja berjalan melewati sembari membawa pesanan pengunjung dan tentu saja panggilan itu Senja abaikan.
“Balikan yuk, Ja!” Lagi, kala Senja kembali dari mengantar. Langsung saja tawaran itu Senja tolak.
Senja berhenti di samping meja Raga. “Seenak jidat ya lo minta balikan, lo enggak inget ngelakuin apa dulu sama gue?” Mata Senja menatap tajam. “Lo kira gue cewek apaan semudah itu nerima lagi cowok b******k kaya lo!”
Senja marah, ia kesal dengan Raga yang terus saja mengajaknya balikan. Raga kira apa semudah itu memutus lalu mengulang kembali sebuah hubungan? Cinta tidak sebercanda itu.
“Ja, gue kangen sama lo, jangan galak-galak, dong, ntar cantiknya ilang.” Masih saja lelaki itu menggombal.
“Lo enggak inget segimana jahatnya dulu lo sama gue?”
“Iya, gue ngerti, Ja, gue inget, gue nyesel, Ja, gue mau balik lagi sama lo, ya?”
“Balikan aja sama tembok, sana!” Senja mengusir Raga. “Pulang sana, lo, ngapain si di sini?” Akan tetapi lelaki itu tetap bergeming.
“Gue mau nungguin lo kerja di sini,” ucapnya.
Senja lelah, malas berdebat, lantas ia pergi tak lagi menghiraukan lelaki menyebalkan itu.
Senja bekerja dengan amat tidak tenang sebab terus saja diperhatikan Raga. Ingin sekali rasanya waktu cepat berlalu. Senja ingin buru-buru tidak lagi melihat wajah menjengkelkan Raga.
“Istirahat dulu, Ja,” ujar Raga kala Senja melewatinya. Namun, tak dihiraukan lagi oleh Senja yang terus saja berlalu.
Akhirnya waktu bekerjanya usai. Senja berpamitan pada Tante Siska untuk pulang. Saat ia hendak ke luar kedai, Senja mendapati Raga yang sudah berdiri di hadapannya. Mulai berjalan mendekat.
“Ayok, gue anter pulang,” ajaknya coba menggapai lengan Senja yang langsung ditepis kasar gadis itu.
“Ngapain, si, lo ngejar gue terus? Belum puas lo nyakitin gue?” Raga terlihat menghela napas hendak berkata, tetapi Senja langsung memotongnya. “Lo mau balik sama gue cuma buat nyakitin gue lagi? Buat selingkuhin gue lagi? Iya? Gue muak, Ga, gue enggak mau lagi sama lo!” Senja pergi.
Namun, masih saja Raga tetap membuntuti dengan motornya di belakang. “Ja, ayo dong balikan,” rayunya.
Senja terus saja berjalan. Tanpa mengindahkan semua rayuan Raga yang terus saja keluar dari mulut buaya itu di belakangnya.
Terus Raga mengikuti, ia menaiki motor yang tidak ia nyalakan—Raga menggiring motor itu—hingga tidak terasa mereka sampai di depan rumah Senja.
Kebetulan sekali, tepat saat itu ada Dilan yang keluar dari rumahnya.