Acara festival pun dimulai.
Hanum terlihat cantik dengan balutan kebaya. Visual Hanum dan Lukas pasti akan menang dalam parade baju busana adat ini.
Pak Aditya juga mengamati mereka.
“Hanum memang cantik dan memiliki pesona tersendiri” gumam Pak Aditya melihat Hanum ramah dengan kebaya nya
Hanum dan Lukas pun mendapatkan voting teratas dari pengunjung yang datang menyaksikan festival tersebut.
Hingga acara selesai, tanpa sengaja Pak Aditya melihat Hanum berjalan sendiri menuju parkiran untuk mengambil mobil nya. Kebetulan mobil mereka terparkir berdampingan. Ketika membuka pintu mobil, Hanum menoleh dan melihat Pak Aditya dan langsung melemparkan senyuman.
Memasuki liburan semester 6, Hanum beserta keluarga berkunjung ke rumah sahabat ayahnya yaitu Pak Deri. Mereka adalah sahabat sejak sekolah dan berasal dari kota yang sama yaitu Yogyakarta.
Semenjak setahun belakangan Pak Deri pindah ke kota Jakarta. Pak Rendra sekeluarga juga tak lupa membawa buah tangan untuk diberikan.
Memasuki komplek perumahan mewah, mobil Pak Rendra memasuki halaman gerbang yang besar, rumah yang mewah dengan desain klasik khas Eropa terkesan sangat mempesona bagi siapapun yang berkunjung. Mata Hanum pun terkesan melihat desain rumah itu.
“Benar ini rumahnya Yah?” tanya Hanum yang duduk di jok belakang mobil
“Iya dari alamat yang dikirim sih ini.” Jawab Pak Rendra juga kagum atas rumah mewah tersebut
“Ayo keluar” perintah Pak Rendra
Mereka pun keluar dari mobil dan langsung disambut oleh Pak Deri dan istrinya Bu Dena.
“Halo, bagaimana kabarnya Ren? Lama tidak bersua.” Sapa pria tampan berumur paruh baya dengan wajah ramah dan tersenyum yang dipanggil dengan nama Pak Deri
“Alhamdulillah baik Der. Nggak nyangka sekarang kita satu kota. Bagaimana keadaanmu?” tanya pak Rendra balik
“Yah beginilah baik. Ayo masuk!” ucap Pak Deri mempersilahkan masuk
“Bagaimana kabarnya Jeng Rita?” sapa Bu Dena dengan memeluk dan menuntun Bu
Rita masuk ke rumah mengikuti Pak Rendra dan Pak Deri dari belakang
“Ayok kalian sini masuk” ajakan Pak Deri ke Hanum dan adiknya Kelen
“Iya om” balas Hanum dengan menundukkan kepala
Mereka duduk di ruang tamu rumah itu dengan sofa yang sangat empuk dan lembut. Beberapa vas pun di atur dengan bagus. Dua orang pembantu pun keluar membawakan minuman dan makanan.
“Makasih mbok” ucap bu Dena
“Ayo mari minuman dan makanannya. Jangan sungkan-sungkan!” ucap Bu Dena mempersilahkan
“Ini pasti Hanum? Wah kamu sudah besar dan cantik sekali ya.” kata Pak Deri dengan melihat kearah Hanum
“Iya om, saya Hanum” jawab Hanum
“Kamu sekarang kuliah atau kerja?” tanya pak Deri
“Kuliah om” balas Hanum
“Dimana?” tanya pak Deri
“Di Universitas Pelita Harapan om.” balas Hanum
“Loh anak om juga dosen disana. Namanya Aditya” ucap pak Deri
“Oh iya om” sambil memikirkan nama Aditya, tapi Hanum berpikir bahwa banyak yang bernama Aditya tidak mungkin kebetulan.
“Habis ini juga datang. Tadi pamit keluar sebentar menemui temannya” jelas pak Deri
Ketika mereka semua asyik mengobrol.
Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki bagasi rumah. Terlihat laki laki tampan memasuki rumah. Hanum terbelalak karena mengenal sosok tersebut adalah dosen nya sendiri.
“Oh ini Aditya?” tanya pak Rendra dengan decak kagum melihat ketampanan Aditya
“Eh ada tamu. Iya om, saya Aditya” jawab Aditya memperkenalkan diri dengan tersenyum dan menunduk
“Aditya ini Om Rendra dan Tante Rita serta anaknya Hanum dan Kelen” ucap Pak Deri memperkenalkan keluarga tersebut
“Oh iya Pah. Halo Om, tante, Hanum, dan Kelen” ucap Aditya menyalami mereka
“Mati.. dosen gue ternyata. Aduh gimana ini?” ucap Hanum sambil menyembunyikan wajahnya
“Oh iya Dit, ini Hanum kuliah di kampus tempat kamu mengajar lo.” ucap Pak Deri sambil melirik ke arah Hanum
“Halo, Pak Aditya?” terpaksa Hanum menyapa karena dia tidak mau berbuat konyol di depan keluarganya apabila pura-pura tidak kenal Aditya
“Oh Hanum. Iya ini mahasiswi Adit, Pah.” jawab Aditya
“Jadi kalian sudah saling mengenal? Bagus mungkin kita bisa besanan” ucap Pak Deri dengan memberi kode ke Pak Rendra
“Hahaha... boleh juga” sambut pak Rendra pada sahabatnya
Aditya pun ikut bergabung dengan mereka. Percakapan hangat dengan disambut tawa candaan pun menciptakan suasana yang menyenangkan, kecuali Hanum yang terlihat kikuk di depan dosennya. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, keluarga Pak Rendra pun berpamitan. Pak Deri memeluk erat dan berjanji juga akan berkunjung ke rumah sahabatnya.
***
“Huh....” Hanum menghela nafas panjang di dalam mobil
“Kenapa Num?” tanya ibunya
“Ngga Bu.” jawab Hanum
“Aku ngga mau lagi ikut dalam acara pertemuan ini” batin Hanum
“Oh iya Num, ganteng juga ya Aditya. Kok kamu ga pernah cerita kalau punya dosen seganteng itu?” tanya Bu Rita
“Hanum pernah cerita Bu. Dia dosen yang memarahi Hanum di kelasnya waktu dulu.” jelas Hanum
“Kalau Ibu sih bakal betah di kampus kalau punya dosen seperti itu” balas Bu Rita
“Ih Ibu... Hanum aja menghindari dia, karena sudah memberikan kesan pertama yang menakutkan” jawab Hanum kesal
Memasuki semester 7, Hanum lebih sibuk dari biasanya. Bagaimana tidak, dia harus mengambil PKN dan mengejar skripsi agar bisa lulus cepat, jadi waktunya akan dihabiskan banyak di kampus. Ia sibuk membuat proposal yang akan diajukan.
Keesokan harinya, jadwal dosen pembimbing skripsi sudah keluar. Ia melihat di papan pengumuman. Betapa kagetnya, dia mendapatkan dosen pembimbing Pak Aditya. Wajahnya terlihat murung seolah tak suka. Sebaliknya, semua mahasiswi mengingikan Pak Aditya menjadi dosen pembimbingnya.
“Ya Allah. Ujian apalagi ini? “ gerutu pelan Hanum
Hanum menjauh mundur dari papan pengumuman, berjalan menuju kantin.
“Num ” teriak Lukas dari kejauhan dan segera menghampiri sahabatnya itu
“Kenapa wajahmu begitu?” lanjut nya
“Lukas gimana nih, gue dapet pak Aditya” ucap Hanum memelas
“Hahaha.... kenapa bisa sih” ucap Lukas sambil tertawa seolah puas
“Mana gue tau. Kalau bisa mah gue ganti dosen pembimbing” balas Hanum
“Mana bisa. Kecuali kamu mengajukan proposal baru lagi semester depan. Tapi dengan konsekuensi kamu bisa saja menambah semester lagi. Karena pasti akan kalang kabut kalau cuman satu semester” jelas Lukas
“Gue pasti bisa. Cuma 2 semester bimbingan kok. Pasti bisa. Lagian ga bakal ketemu setiap hari paling seminggu sekali untuk konsul.” ucap Hanum meyakinkan diri
“Bagus. Lagian dia paling udah lupa kejadian memalukan itu dengan banyaknya mahasiswa” balas Lukas menyemangati Hanum
“Iya juga ya emang gue siapa. Sementara banyak banget mahasiswi yang nguber dia” ucap Hanum menenangkan diri
“Udah sana pesen makanan dulu. Kita butuh tenaga di semester ini.” Imbuh Lukas
“Oke.” jawab Hanum.