Setelah menerima dengan tulus pertunangan Viko dengan kakak tirinya nyatanya tidak membuat puas mama tiri dan adik tirinya. Mama tiri Sally selain egois, juga mata duitan. Bagi Briana segala hal yang mendatangkan keuntungan untuk dirinya dan sang putri semata wayang akan diraihnya, meskipun harus dengan jalan yang salah.
Briana dan Raka menikah juga karena perjodohan kedua orang tua mereka. Dulu Raka mencintai Carol dalam diam. Dan ternyata takdir harus membuatnya menyerahkan keinginannya untuk mendekati Carol dan menikah dengan Briana. Meski demikian, Raka masih terus mencari tahu tentang kehidupan Carol.
Seakan tengah dipermainkan takdir, justru Carol bekerja menjadi salah satu manajer si perusahaan Raka dan akhirnya mereka bertemu. Keadaan terpuruk Carol saat ditinggal oleh suaminya membuat Raka mengambil kesempatan untuk berusaha kembali menjalin hubungan dengan cinta pertamanya dan bersedia menikahinya sepaket dengan Sally. Sayangnya Carol tidak tahu kalau ternyata Raka sudah menikah dan memiliki anak.
Ketahuan oleh ayah Raka, akhirnya ayah Raka mengancam akan memindahkan semua hartanya pada Briana jika Raka berniat menceraikan Briana. Akhirnya Raka mengaku pada Carol tentang istri dan anaknya. Pasrah dengan kenyataan, Carol ikut dengan Raka ke rumah kediaman orang tua Raka, tinggal bersama-sama dengan istri pertama dan anaknya di sana dan diperlakukan jijik seolah Carol adalah wanita perusak rumah tangga orang lain.
Sampai ayah Raka meninggal, Briana mulai memperlihatkan kebenciannya pada Carol dan terus melampiaskan dendamnya pada Carol dan Sally di belakang Raka.
Naasnya saat Raka terserang struk tiga tahun lalu, justru Briana semakin menjadi. Carol dan Sally tidak di beri uang bulanan yang menjadi hak mereka sejak menikahi Raka. Untungnya Sally sudah lulus kuliah dan diterima bekerja di tempatnya dulu magang sehingga ia dapat membantu kebutuhan sehari-hari sang mama dan dirinya..
Sikap Briana semakin keterlaluan belakangan ini setelah tahu Sally diangkat menjadi supervisor di perusahaannya. Mama tiri Sally menghentikan dana pengobatan Raka agar suaminya itu cepat meninggal.
Jantung Sally menderu searah dengan nafas naik turun di bahunya. Dirinya sudah tidak bisa lagi tahan dengan sikap mama tirinya itu.
“Kenapa tidak dijodohkan sama Kak Dania saja. Kenapa harus aku, Tante! Aku ngak mau menikah dan belum siap untuk nikah.”
“Bukan urusanku kamu mau atau tidak. Atau jangan-jangan kamu iri karena Viko lebih memilih Dania daripada kamu!” Briana mendecih.
“Tentu saja dia memilih anakku, karena kamu itu hasil anak haram! Bahkan papa kandungmu saja kamu tidak pernah tahu! Kalau bukan suamiku yang bodoh ini tergila-gila sama mama kamu, hidupmu mungkin akan jadi gembel. Dasar tidak tahu terima kasih! Sudah diterima malahan ngelunjak!”
“anga uang aja, Bi!” Wajah merah padam Raka yang melotot sambil memaki jangan kurang ajar pada Briana, sayangnya dengan kondisi lidahnya yang ikut kaku ia tidak dapat mengucap dengan benar.
Melihat murka di wajah suaminya, Briana malah tertawa meledek tanpa merasa iba sedikitpun. Ia mendekati suaminya dan menekan dagu Raka dengan satu tangan.
“Bicara saja kamu sudah tidak becus, jangan sok berkuasa di rumah ini. Aku yang memimpin perusahaan sekarang dan kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini jangan menentangku atau aku kirim kamu ke panti jompo!” Lalu menepis kasar wajah Raka.
Carol yang tidak tega melihat suaminya diperlakukan demikian, memeluk tubuh Raka. Hal itu malah membuat Briana makin emosi.
“Jangan sok kasihan sama Raka. Aku tahu kamu hanya pura-pura baik supaya hartanya jatuh ketanganmu kan! Jangan harap kamu bisa menikmati uang Raka sepeserpun, aku tidak akan membiarkannya!”
Lalu Briana menoleh ke Sally sambil menjulurkan telunjuknya. “Dan kamu! Ikuti perintahku. Menikah dengan anak konglomerat itu. Awas kalau sampai kamu berani kabur! Nyawa Papa sambungmu ini taruhannya! Bahkan aku tidak segan-segan menyakiti gundiknya itu kalau kamu macam-macam!”
Setelah selesai dengan umpatan dan ancamannya, Briana naik ke dalam kamar tidurnya meninggalkan Sally, mama dan papa nya.
Carol menghampiri putrinya, sungguh mengenaskan nasibnya dan sekarang karena kebodohan di masa mudanya kini Sally yang harus ikut menanggung penderitaan.
“Maafin Mama yah, Sal. Mama ngak berdaya.”
“Ngakpapa, Mah. Yang penting Mama sama Papa ngak di apa-apain sama Tante Bri. Aku kuat kok. Kita lihat saja nanti seperti apa calon suamiku.” Ucap Sally pasrah dengan nasibnya.
“Kalau kamu mau, kita keluar dari rumah ini saja, Sal. Mama ngak masalah kalau harus hidup sederhana kok dan Papa juga sepertinya akan lebih tenang keluar dari rumah ini.”
“Tapi bagaimana caranya, Ma. Tahu aja kan rumah ini dijaga sama orang-orangnya Tante Bri sekarang. Kalau Papa keluar tanpa ijin Tante Bri, bisa-bisa kita ketangkap dan akhirnya malah nyakitin Mama dan Papa lagi.”
“Tapi, Sal..”
“Udah, Ma. Sally ngakpapa kok. Siapa tahu aja calon suami aku orang baik.”
Carol menatap putrinya seolah ingin mengucap sesuatu. Masa lalu Sally yang sudah lama tidak ia bicarakan lagi namun Carol tahu terkadang anak gadisnya itu masih suka menangis diam-diam setiap kali mengingat cinta pertamanya itu.
“Apa kamu tidak berharap Sean akan ketemu kamu lagi, Sal? Apa kamu tahu kabar tentang dia?”
Sally menggeleng, raut wajahnya menyendu setiap kali mendengar nama mantan cinta pertamanya itu.
“Aku ngak tahu, Mam. Jangan diharapin lagi, toh aku juga ngak pernah tahu dia dimana sekarang. Mungkin juga sudah nikah.”
Carol tidak lagi melanjutkan ucapannya, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya sambil mendorong kursi roda suaminya.
Sally menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dalam kamar tidurnya, hentakan nafas yang keluar seolah menyatakan perasaannya saat ini. Memikirkan dirinya harus menikah diusia sekarang saat karirnya sedang lumayan bagus. Bahkan ia sedang mencoba melamar bekerja di sebuah perusahaan yang baru beroperasi di pusat ibu kota sebagai asisten manajer.
Kepalanya sontak menoleh mengambil ponselnya yang berdering lalu tersenyum melihat nama yang menghubunginya.
“Halo ganteng…”
“Miss Lili, kapan main ke tempat Sion lagi?”
“Akhir pekan ini yah, Miss sekarang sudah bekerja dan baru libur hari Sabtu dan Minggu.”
“Sion kangen Miss Lili, disini sepi. Opa dan Oma sering pergi, Papa juga jarang pulang ke rumah.” Rajuk anak kecil itu.
“Miss juga kangen sama Sion kok. Sementara Sion bermain dengan teman-teman sekolah dan Kak Rasmi yah.”
Sion murid bimbingan belajar Sally saat kuliah dulu selalu menghubunginya meskipun sudah tidak lagi mengajar. Yang Sally tahu Sion hanya memiliki seorang papa, anak ganteng itu tinggal di rumah kakek dan neneknya di Jakarta. Hanya saja saat mengajar Sion dulu, kakek dan neneknya sedang berada di luar negeri. Anak malang ini hanya tinggal bersama seorang suster bernama Rasmi dan dikelilingi oleh pelayan juga kepala pelayan yang dipercayakan mengurus rumah ini. Sally sendiri belum pernah melihat wajah keluarga Sion karena setiap kali datang ia langsung di ajak ke ruang belajar Sion dari pintu belakang rumah besar itu.
Mungkin karena senasib dengan Sion, Sally jadi cepat dekat dengan anak ini. Bahkan dalam hati Sally, ia justru merasa Sion jauh lebih beruntung dari dirinya. Meskipun hidup kesepian setidaknya anak kecil itu tidak hidup dalam penderitaan seperti dirinya. Sion anak yatim piatu sedangkan dirinya masih memiliki seorang mama tapi mamanya sendiri bahkan tidak mampu memberinya tempat berlindung.
“Janji besok ke rumah Sion yah. Aku sudah ijin sama Oma minta Miss Lili ke rumah. Mau yah.”
Menghela nafas panjangnya, Sally tidak tega menolak lagi permintaan anak menggemaskan itu.
“Iyah, besok siang Miss main sama Sion yah.”
“Yeay!!” Teriakan Sion terdengar nyaring di telinga Sally membuatnya ikut tertawa hanya karena seruan bahagianya.
Sebenarnya Sally sungkan mengunjungi kediaman Sion terlebih lagi papa anak itu seorang duda dan dirinya tidak mau ada yang salah sangka dengan kehadirannya di rumah itu terlebih lagi sang pengasuh yang terlihat kurang menyukai kehadirannya meskipun terlihat ramah.
Esok harinya Sally mengunjungi rumah Sion dan benar saja Rasmi terlihat dingin saat melihat kedatangannya. Entah apa lagi salahnya padahal selama ini Sally merasa tidak pernah berulah atau mencari rebut dengan si pengasuh.
“Miss…”
“Mau jadi Mamanya Sion ngak?” Pertanyaan anak kecil itu membuat Sally melirik pada Rasmi yang menatapnya semakin geram.
Sally tersenyum masam, pertanyaan apa lagi ini. Bertemu dengan sosok papa Sion saja dia tidak pernah lihat, fotonya saja tidak pernah lihat. Lagipula mana mungkin juga dia bisa menikahi sang duda sedangkan dia saja tidak bisa menentukan mau menikah dengan siapa.
“Urusan orang dewasa tidak semudah itu, Sion. Lagipula Miss Sally bisa kesini kapan saja kalau Sion mau bertemu sama Miss, iya kan…”
“Papa Sion ganteng loh, Miss pasti suka sama papanya aku.” Desak Sion masih berusaha.
“Sion hayo sudah sore harus mandi.” Ujar Rasmi sedikit ketus membuat Sion menunduk cemberut.
“Ayo jadi anak baik nurut sama Kak Rasmi yah. Miss Lili pulang dulu.”
“Nanti aku bilang ke papa mau Miss Lili jadi mamanya aku.” Ujar Sion masih saja membahas hal yang sama.
Namun yang tidak disangka Sally maupun Rasmi, anak itu beranjak dari kursi belajarnya lalu mengangkat telepon rumah dan menekan nomor yang selalu ia hafal di luar otak.
“Halo, Papa. Sion bilang ke Miss Lili supaya jadi mamanya Sion tapi Miss Lili bilang ngak mudah. Papa jangan tolak Miss Lili dong kan aku maunya Miss Lili yang jadi mamanya Sion.”
Sontak mata Sally membulat tidak menduga Sion benar-benar menghubungi papanya.
“Miss Lili, Papa mau ngomong sama Miss…”
Astaga, jantung Sally rasanya mau berhenti dengan kelakuan Sion. Dengan langkah gontai ia bejalan mendekati Sion dan menjawab.
“Halo selamat siang, Pak.”
“Kamu ajari apa anakku sampai dia memaksa hal konyol begini!” Ketus Sean yang tidak senang karena pekerjaannya terganggu dengan telepon dari putranya.
Kalau bisa dibilang ucapan suara disana membuat Sally dua kali terkejut. Pertama wajahnya sempat pias mendengar suara yang mirip dengan cinta pertamanya dan kedua, apa-apaan orang ini main menyalahkan dia atas ide anaknya sendiri. Bertemu saja belum pernah mana mungkin juga segila itu memanfaatkan kepolosan Sion untuk hal sepenting ini.
“Maaf, Pak. Saya tidak pernah mengajari Sion dan dia sendiri yang punya ide seperti itu. Saya menanggapinya secara dewasa dan saya pikir lebih baik Bapak juga bisa bijak menanggapi dan memahami perkataan Sion bukan mencari siapa yang salah.” Jawab Sally membuat harga diri Sean tertampar.
“Kamu…”
“Saya sudah jelaskan ke Sion kalau urusan orang dewasa tidaklah semudah itu. Jadi saya harap Bapak tidak salah paham lagi. Maaf, saya harus pulang. Selamat siang.” Sally menutup teleponnya dengan wajah ditekuk membuat Sion menunduk sedih.
Setelah meyakinkan Sion dia tidak marah pada anak tampan itu, akhirnya Sion pun berhenti menangis dan mengijinkan Sally pulang. Rasmi mengikuti Sally dan mengantarkan dirinya keluar.
“Lain kali jangan kemari lagi, bilang saja sama Sion kalau kamu sibuk!”
Ucapan ketus Rasmi membuat Sally terkekeh sinis menatap balik sang pengasuh yang bertingkah seperti nyonya besar saja.
“Apa opa dan oma Sion yang bilang atau mungkin papa Sion yang bilang begitu?” Tanya Sally menyeringai membuat wajah Rasmi semakin kecut.
“Pokoknya ngak usah balik kemari lagi, susah amat dibilangin!”