Bab 5. Debat papa Sion dan Miss Lili

1560 Kata
‘Ada apa lagi ini…’ Gumamku kesal saat Sion menghubungiku sambil merengek. Enam tahun lalu aku menikahi temanku waktu pulang ke Jakarta. Selain Mark aku memiliki sahabat dan akhirnya kunikahi. Namanya Michele, dia temanku sejak kecil sebelum aku dekat dengan Mark. Nasibnya naas karena dihamili oleh tunangannya Andrew. Malangnya Andres meninggal dalam kecelakaan saat Michele hamil dua bulan. Demi menjaga nama baiknya dan nama baik keluarganya yang kebetulan kenal dengan orang tuaku maka aku memutuskan untuk memberi status pada anak itu. Sayangnya mental Michele semakin drop semasa hamil dan akhirnya meninggal dunia dua hari setelah melahirkan Sion. Itu sebabnya aku menjadi duda beranak satu hanya saja hal ini belum aku ceritakan pada Mark. “Mana biar Papa bicara sama Miss Lili.” Ucapku setengah emosi. Ditengah kesibukanku karena baru pulang dari Jakarta, anakku malah mengatakan hal yang tidak masuk akal membuatku menduga pasti ulah guru les yang sengaja memancing supaya aku mau bertemu dengannya. Aku belum pernah berjumpa langsung dengan guru les pribadi Sion ini, hanya mama yang pernah bertemu dengannya itupun setahun beberapa kali karena mama juga sering keluar kota menemani papa mengunjungi cabang-cabang perusahaannya. “Miss Lili, Papa mau ngomong sama Miss…” “Halo selamat siang, Pak.” Astaga, suara itu seperti… Tapi tidak mungkin Sion dan mama bilang namanya Lily, dia bukan Sally-ku. “Kamu ajari apa anakku sampai dia memaksa hal konyol begini!” “Maaf, Pak. Saya tidak pernah mengajari Sion dan dia sendiri yang punya ide seperti itu. Saya menanggapinya secara dewasa dan saya pikir lebih baik Bapak juga bisa bijak menanggapi dan memahami perkataan Sion bukan mencari siapa yang salah.” “Kamu…” Haish, kurang ajarnya justru perkataan guru itu benar, kenapa juga aku langsung salah paham dan tidak memikirkan kalau ucapan itu berasal dari mulut anak kecil berusia lima tahun. “Saya sudah jelaskan ke Sion kalau urusan orang dewasa tidaklah semudah itu. Jadi saya harap Bapak tidak salah paham lagi. Maaf, saya harus pulang. Selamat siang.” “Ha…” Dia menutup teleponnya. Menyebalkan sekali perempuan ini. Aku sampai bisa membayangkan dia pasti perawan tua yang belum pernah punya pacar makanya judesnya tidak ketulungan. Tidak lama kemudian Rasmi gantian menghubungiku. Aku bisa menebak pasti Sion sedang menangis dan ini karena ulah gurunya itu. “Kenapa lagi!” Ucapku ketus. “Anu, itu Pak. Sion sekarang nangis ditemani guru lesnya. Dia terus bilang ke Sion supaya bujuk Bapak mau jadiin Miss Lili mamanya Sion kalau tidak nanti Miss Lili-nya ngak mau datang mengajar ke rumah lagi.” Benar-benar keterlaluan guru les ini, aku harus bilang ke mama untuk tidak lagi mengijinkan si Lili ini ke rumah menemui Sion. Kehadirannya membawa dampak buruk untuk anakku saja! “Mah, punya nomor kontak guru les Sion? Tolong kirim ke chat aku sekarang.” “Ada apa, Sean? Ngak biasanya, atau jangan-jangan kamu beneran naksir sama Miss Lili yah.” Ujar Mama dengan nada meninggi. “Ck, jangan asal nuduh. Aku mau negur gurunya Sion, satu lagi tolong cek CCTV hari ini. Rasmi bilang kalau gurunya itu ngancam Sion supaya dia bujuk aku mau sama miss nya atau Miss nya itu ngak mau bertemu dia lagi.” “Hah! Masa sih Miss Lili begitu, Mama ngak percaya deh. Kalau Rasmi yang ngancam Sion malah Mama lebih percaya.” Aku mendengus kasar karena ucapan mamaku seakan sedang membela guru yang katanya seperti kutu buku itu. “Kirim ke aku saja, nanti setelah cek CCTV baru nanti aku buat keputusan.” “Yah sudah. Sebentar lagi Mama kirim.” Argh! Ada-ada saja yang membuat moodku jelek siang ini. Setelah mendapatkan nomor kontak guru itu aku langsung menyimpannya dan mengirim chat kepadanya. “Jangan pernah mengancam Sion karena saya tidak akan segan-segan membawa kasus ini ke polisi. Di rumah ada CCTV dan saya bisa membawa bukti itu atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.” Tidak sampai dua menit, aku menerima chat balasan darinya. “Maaf Bapak, saya bisa pastikan tidak pernah mengajari apalagi mengancam anak Bapak untuk hal memalukan seperti itu. Saya lebih senang ada CCTV di rumah Bapak, biar sekalian ketahuan siapa yang salah dalam hal ini. Hanya disayangkan, orang hebat seperti Bapak kurang bijak dalam menentukan dan memutuskan sesuatu. Apa jadinya perusahaan dipegang oleh pikiran yang sempit seperti Bapak.” Lihat saja balasannya benar-benar membuat darahku mengalir. Dan lebih menyebalkan lagi dia tidak mengangkat panggilanku setelah membalas chat dariku. Rasanya seperti bertemu setan galak tapi tidak bisa aku usir. Mau dipecat tapi dia tidak lagi berstatus guru anakku. Siallann! *** Aku terbangun di pagi ini, tanganku mencari ponsel melihat jam. Entah bagaimana jari-jariku berselancar membuka aplikasi galleri foto dan tidak sengaja melihat foto ku dengan Sean yang di ambil saat kami masih pacaran. Dan hari ini adalah tanggal di mana Sean pergi ke Amerika, meninggalkanku dengan amarah yang aku sendiri tidak tahu apa kesalahanku sampai sekarang. Tanpa terasa sudah 10 tahun berlalu sejak perpisahan itu namun bodohnya aku masih setia menunggunya pulang. Ucapan Mama ku memang tidak salah semalam. Aku memang masih mengharapkannya meskipun aku tahu mungkin harapan itu sangatlah kecil. Harusnya Sean sudah lulus kuliah dan kembali ke Jakarta 6 tahun lalu, namun aku tidak pernah lagi berbicara dengan dirinya. Yang aku tahu, saati ini Sean sudah mempunyai perusahaannya sendiri sekaligus memegang perusahaan ayahnya sejak ia lulus kuliah. Itupun aku tahunya dari Ceri yang dengan senang hati bercerita meskipun aku tidak pernah bertanya. Ceri dan Mark seperti mata-mata bagiku untuk mengetahui apa Sean lakukan sejak kami berpisah. Mengapa aku tidak mempunyai kekasih sampai sekarang? Karena aku juga mendapat berita bahwa Sean tidak pernah dekat dengan wanita lain sampai sekarang, tidak tahu juga apakah informasi yang kudapatkan akurat atau tidak. Namun tetap saja banyak wanita yang mengejarnya dan Sean tidak pernah memberi harapan kepada wanita yang menghampirinya dengan sukarela. Sama seperti masa SMA dulu. Ceri sering mengirim foto terbaru Sean ke ponsel ku tanpa pernah aku minta, masih ku lihat wajah datar dan dingin seperti saat kami bertemu pertama kali. Namun justru wajah dingin tanpa ekspresi irit senyuman itu yang membuatku jatuh cinta. Aku dan Ceri sudah lulus kuliah 3 tahun lalu dan saat ini kami bekerja di perusahaan yang berbeda. Kami selalu menyempatkan diri bertemu di hari Sabtu ataupun minggu. Nasib Mark dan Ceri justru berbanding terbalik dengan kisahku dan Sean. Mereka masih berpacaran, Mark sudah seperti bucin nya Ceri, walau mereka dipisahkan antar benua, Mark selalu menyempatkan pulang ke Jakarta menemui Ceri saat liburan. Terkadang mereka mengajakku pergi kencan bersama mereka, tapi sering ku tolak karena merasa tidak enak menganggu mereka melepas rasa rindu. Mark sudah melamar Ceri akhir tahun lalu, mereka akan berencana menikah 6 bulan kemudian di Jakarta. Aku turut bahagia melihat hubungan mereka sampai ke tahap pernikahan. Ucapanku ke Tante Briana soal menikah itu bohong. Tentu saja aku ingin menikah, tapi dengan Sean kalau boleh aku egois memohon pada Tuhan. Bukan dengan pria yang katanya berwajah jelek dan mempunyai temperamen yang jelek juga ditambah lagi yang aku tahu dia seorang duda. Mana ada perempuan yang ingin hidupnya rela untuk disakiti seumur hidup oleh suaminya. Hanya orang tidak waras saja yang mau dan bodohnya justru aku terjebak sebagai si orang bodoh itu yang terpaksa menikahi pria jelek arogan demi melindungi orang tua yang selama ini sudah berkorban membesarkanku. Aku mendapat kabar kalo Mark dan Sean akan ke Jakarta bulan depan dan menjadikan Jakarta sebagai kantor pusat bisnis mereka. Tapi Mark merahasiakan nama perusahaan di mana Mark akan bekerja. Bahkan Ceri pun tidak diberitahu tapi akupun berusaha untuk tidak mempedulikannya. Meskipun ada keinginan untuk meluruskan kesalahpahaman di masa lalu kami tapi rasanya semua itu mustahil mengingat keadaanku sekarang. Setelah mandi, aku bergegas turun ke bawah membantu mama menyiapkan sarapan lalu berangkat ke kantor dengan angkot. Di rumah ini meskipun semua harus menurut perintah Tante Bri, namun sebenarnya pegawai di rumah ini baik kepadaku dan mama jika sedang tidak ada nyonya berhati kuntil anak itu. Kadang Pak Mus, satpam rumah suka mengantarku ke depan gerbang komplek biar aku tidak harus jalan kaki menunggu angkot. Mbak di rumah juga sering menyisakan masakan untuk diberikan kepada Mama dan aku. Sedangkan Papa sudah tidak bisa makan secara normal lagi, Mama yang meracik semua makanan Papa dan memberikannya melalui selang sonde. Ketika melakukan rutinitas mengecek email di kantor, sebuah email masuk membuatku senyum sendiri. Aku membaca sebuah email promosi dari perusahaan yang pernah aku kirim aplikasi lowongan kerjaku di sana. Setidaknya email itu membuat suasana hatiku senang hari ini setidaknya memperbaiki moodku semalam yang dirusak oleh papa Sion yang menuduhku aneh-aneh. Benar-benar tidak mengerti jalan pikiran orang kaya tapi mentalnya murahan main tuduh seenaknya. Tentu saja aku tidak terima. Email itu adalah undangan untuk menandatangani kontrak karena aku diterima di perusahaan mereka dan jabatan yang aku terima semakin membuatku tercengang. Tidak tanggung-tanggung aku diterima menjadi public relation di kantor itu. Wajahku tersenyum, akhirnya sebuah prestasi kembali aku capai dalam karier ku lagi. Setidaknya dibalik penderitaan, aku masih memiliki sesuatu yang tidak bisa direbut siapapun. Hasil kerja kerasku selama ini akhirnya mulai menapaki tangga kesuksessan. Kata orang kalau seorang wanita sukses dalam karier biasanya payah dalam hubungan dan rasanya aku mulai mempercayai teori aneh tersebut. Selain itu aku di minta segera mencari asisten pribadi yang bisa kupercaya dengan kompetensi kerja yang baik. Tentu saja dibenakku ada satu nama. "Ceri" Aku mengirim email ke bagian HRD kantor tersebut dan memberikan nama referensi sekaligus kontak email Ceri juga alasan aku mengusulkan namanya. Aku tidak dapat membayangkan seperti apa reaksi Ceri nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN