Bagian 3 : Reymond VS Emon?!

1503 Kata
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Emily tidak begitu nyaman ketika Pria bernama Reymond terus memperhatikannya. Emily merasa tidak ada yang beres dari pria itu. Ketika Emily memberanikan dirinya untuk menatap pria itu, pria itu menaikan satu alisnya dengan senyuman simpul membuat jantung Emily berdetak cepat. Emily harus bisa menjaga perasaannya agar tidak tertarik dengan pria itu. Dalam penglihatan Emily, Pria itu sangat tampan, benar-benar tampan. Sepertinya Tuhan sedang bahagia ketika pria itu lahir ke dunia ini. Baru kali ini Emily bertemu dengan pria seperti itu. Setibanya di restoran, pria itu mempersilahkan mereka duduk di tempat yang telah dia tentukan. Meja dihadapan mereka telah terisi banyak sajian untuk menyambut kedatangan Emily, Febby dan juga Dion. Lalu Emily dan kedua sahabatnya duduk bertiga di sofa yang seharusnya hanya untuk dua orang, mereka duduk saling berhimpitan. Sofa dihadapan mereka dibiarkan kosong. Apapun yang terjadi mereka akan selalu bersama, mereka tidak ingin terjadi sesuatu jika mereka terpisah. Pria itu menatap mereka dengan pandangan heran, wajah mereka bertiga terlihat pucat dan ketakutan, "Tuan Emon akan segera datang, tunggulah...," ujarnya dan pergi dari hadapan mereka. Emily hanya menatap pria itu, dia mengigit bibirnya pelan saat melihat pria itu duduk di sudut kursi restoran. Emily benar-benar penasaran dengan pria bernama Reymond, dia merasa ada sesuatu yang dirahasiakan dari pria itu, entah apa itu. Sedetik kemudian wajah Emily bersemu merah saat melihat senyum milik pria itu, ketika ada seorang pelayan mengantar secangkir teh hangat untuk pria itu. Jujur saja baru kali ini dia bertemu dengan pria seperti Reymond. Semua yang ada pada diri Reymond adalah tipenya. Emily menggeleng pelan saat menyadari bahwa dia baru saja menganggumi sosok pria yang baru dikenalinya. Emily merutuki dirinya sendiri. "Emily, aku takut..." bisik Febby membuat Emily tersadar dari lamunannya. Dia tidak melepaskan genggamannya dari lengan Emily sedikitpun. "Jika nanti Emon datang, bersikap biasa saja! Jangan tunjukan kalau kita takut bertemu dengannya!" seru Dion memperingatkan kedua sahabatnya, sejak tadi dia sibuk memperhatikan pintu masuk restoran. Tidak lama pintu restoran ini terbuka, mereka bertiga langsung berdiri seketika saat melihat sosok pria yang baru masuk ke restoran ini. Penampilan pria itu membuat mereka bertiga tertegun memandanginya, pria itu memandangi mereka dengan senyuman yang lebar sehingga memperlihatkan giginya yang dibehel. Pakaian pria itu sangat aneh sekali, pria itu memakai celana jeans kodok berwarna hijau toska di padu kaos berwarna pink polkadot, lalu rambutnya sangat klimis dan berminyak, penampilan pria itu membuat Emily dan kedua sahabatnya tercengang geli. Mereka bertiga sangat yakin pria itu adalah Emon!! "Ya Tuhan, aku pikir itu anak bisa berubah jadi pria tampan eh taunya semakin aneh!" hina Dion dengan suara berbisik. Emily langsung menyikut perut Dion kencang. Emily tidak ingin Emon mendengar ucapan Dion. Jika Emon mendengar pasti akan menjadi rumit. "Hai..." sapa pria bernama Emon ketika berada di hadapan mereka. Mereka hanya tersenyum terpaksa saat pria itu menyapa mereka. "Apa kabar?" tanya pria itu sambil menaikan penyangga kacamatanya yang turun dari tungkai hidungnya. Tidak lama Emon melihat mereka satu persatu saat mereka tidak menjawab pertanyaanya, "Hai, apa kabar?" tanyanya kembali membuat mereka tersenyum kaku. "K-kami sangat baik," jawab Emily tersenyum malas. Dia menatap lekat-lekat Emon dengan kening berkerut. Emon memang masih sama seperti dulu, masih berkacamata tebal dan culun. Tetapi di balik itu semua, Emon mempunyai tubuh yang tinggi dan otot-otot lengannya terlihat jelas. Lalu Emon mempersilahkan mereka untuk duduk kembali, kemudian Emon juga mempersilahkan mereka untuk menikmati sajian yang sengaja dia pesan untuk mereka. Namun mereka menolak untuk menyantap sajian yang dihidangkan oleh Emon, mereka takut jika sajian itu ada racunnya. "Maaf jika kalian menunggu lama, aku baru saja selesai rapat..." ucap Emon tersenyum kepada mereka bertiga. Dion tertawa, "kau rapat dengan penampilan seperti itu?!" tanyanya dengan pandangan remeh. Emily langsung menginjak kaki Dion membuat pria itu meringgis kesakitan, dia tidak ingin membuat Emon marah mendengar perkataan Dion. "Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Emon sambil memakan kentang goreng, onion ring dan beberapa donat dengan lahap. Emily dan kedua sahabatnya hanya memandang Emon penuh kengerian dan kejijian. Emon memesan sajian itu untuk mereka, tetapi Emon sendiri yang melahapnya. Setelah selesai menikmati makannya, tatapan Emon menatap tajam Emily seakan penuh kebencian. Emily yang merasa diperhatikan oleh Emon berusaha tersenyum menutupi rasa ketakutannya, bagi Emily Emon yang saat ini sangat menyeramkan seperti p*****l. Apalagi melihat Emon melahap semua sajian dengan begitu rakus, itu sangat menakutkan untuk Emily. "Aku tidak ingin basa basi dengan kalian..." ucap Emon membuat mereka bertiga saling menatap bingung, "aku ingin bertemu kalian, karena aku ingin kalian meminta maaf kepadaku atas apa yang kalian lakukan padaku dulu!" lanjutnya sambil menatap mereka bertiga. Emily, Dion dan Febby menghembuskan nafasnya berat, "Emon kami minta maaf atas kesalahan kami semasa kecil, kami sangat menyesal telah membullymu dulu..." seru mereka serempak membuat Emon tertawa. Emily dan kedua sahabatnya terus berlatih sepanjang waktu untuk mengucapkan permintaan maaf itu. Permintaan maaf yang keluar dari mulut mereka begitu tulus. Mereka ingin menyudahi semua ini. "Permintaan maaf kalian di tolak!" kata Emon membuat mereka bertiga terperangah. "Aku akan memaafkan kalian jika Emily menciumku disini!" Serunya sambil menunjuk bibirnya. "Whatttt??!!" teriak Emily terkejut saat Emon mengatakan dia harus mencium lelaki itu, agar lelaki itu memaafkan mereka. "kau sudah gila yah Emon?! Aku tidak mau menciummu!" tolak Emily mati-matian dengan wajah penuh amarah. Dia masih bisa memenuhi permintaan Emon yang lain, tetapi harus berciuman dengan Emon, dia tidak akan mau melakukan hal itu. "Jika kau tidak mau, tidak masalah. Tapi jangan salahkan aku nantinya, jika hidup kalian seperti ini!" ucapnya sambil menunjukan sebuah foto yang bergambar seseorang yang disekap di ruangan yang gelap membuat mereka bertiga ketakutan melihat gambar itu. Emon sekarang menjadi seorang psikopat! Sebelum Emily membuka mulutnya, dion langsung membekap mulut Emily dan membisiki sesuatu kepada Emily, "Em, jaga emosi. Lebih baik kau menuruti permintaannya! Kau tidak mau kan, dia menyekap kita?!" bisik Dion. Emily berdecak kesal, "Aku tidak mau Ion! Kau sudah gila yah harus menuruti permintaanya! Apalagi harus cium cowok model alien kaya dia!" tolaknya berbisik geram. "Please Em, demi kita!" pinta Dion memohon. Sepasang mata Emily kontan melebar mendengar permintaan Dion. Dia tidak percaya Dion mengatakan hal itu kepadanya. "Iyah Em, demi aku... Aku nggak mau mati Em..." sahut Febby hampir menangis. Sialan!! Dasar sahabat tidak tau diri! Umpat Emily dihatinya. Emily menghembuskan nafasnya berat, "Oke, aku akan menciummu Emon!" ucapnya penuh penekanan membuat Emon tertawa pelan. "Tapi setelah aku menciummu, kau harus berjanji tidak akan pernah kembali menganggu kami bertiga dan anggap saja ini semua tidak pernah terjadi! Gimana Deal?!" Emily mengulurkan tangannya. Dia terpaksa menuruti permintaan Emon agar semua permasalahan ini cepat selesai dan dia tidak ingin bertemu Emon kembali. Cukup sekali ini saja dia bertemu dengan Emon. Emon membalas uluran tangan Emily, "Deal!" balasnya. Emily langsung menarik tangannya cepat karena dia tidak mau berlama-lama bersentuhan dengan lelaki aneh di depannya. Emily langsung membersihkan tangan kanannya dengan tisue. Emon langsung menutup matanya dan memajukan bibirnya yang tebal dan berminyak, itu sangat menjijikan. Emily menatap jiji Emon dia benar-benar ingin muntah sekarang tapi ditahannya rasa muntah itu. Emily mencoba mendekati wajahnya secara perlahan kepada Emon. Ingin rasanya Emily menghilang dari muka bumi ini. Febby menatap Emily nanar dengan rasa penuh iba, sedangkan Dion hanya menatap Emily penuh rasa haru karena Emily rela berkorban untuknya. Mereka berdua tidak akan melupakan jasa Emily yang telah berkorban untuk mereka. Kedua mata Dion dan Febby melebar saat sebentar lagi bibir Emily akan bersentuhan dengan Emon. Febby langsung memejamkan kedua matanya dia sangat tidak tega melihat Emily menderita karena mencium Emon. Ketika bibir Emily akan bersentuhan dengan Emon, tiba-tiba Emon membuka matanya membuat Emily terkejut. Tidak lama tawa Emon terdengar membuat Emily dan kedua sahabatnya menatap Emon heran. Emily dan kedua sahabatnya menatap Emon dengan pandangan aneh sekaligus ngeri. "Oh Tuhan, jika kau bukan wanita yang di kagumi olehnya, aku sudah pasti menciummu!" seru Emon di sela tawanya. Emily menatap Emon tidak mengerti, lalu dia saling memandangi kedua sahabatnya secara bergantian. "Aku bukanlah Emon," seru Emon yang masih tertawa. Dia tidak bisa manahan tawanya, kejadian tadi baginya begitu lucu. "Apa?!" teriak Emily dan kedua sahabatnya terkejut mendengar pengakuan Emon. Jika pria di hadapannya bukanlah Emon, lalu siapa Emon sebenarnya?! Pertanyaan itu memutar di benak Emily. Lalu pria yang di kira Emon mendekati wajahnya kepada mereka bertiga, "kalian lihat pria yang sedang membaca Koran disana," bisiknya sambil menunjuk kearah Reymond dengan dagunya, "dia adalah Edmond Smith Reymond Beily yang sesungguhnya," ucapnya tersenyum memandangi mereka yang sedang menatap Reymond dengan pandangan tercengang. Emily menatap pria bernama Reymond dengan pandangan tidak percaya, sepasang mata almond miliknya terlihat mengembang. Lalu dia menatap pria dihadapannya, "lalu kau siapa?" tanyanya parau. Pria itu tersenyum, "saya Sam, asisten tuan Reymond..." ucapnya memperkenalkan dirinya. "Ya Tuhan," ujar Emily melemas. “Jadi Reymond adalah Emon?” tanyanya kembali kepada pria bernama Sam yang menyamar menjadi Emon. Sam mengangguk dengan senyuman, “yah dia adalah Emon,” jawabnya. Sementara itu, wajah Dion dan Febby terlihat pucat pasi, “habislah kita!” kata Dion dengan tubuh gemetar. Dugaan Dion dan Febby benar jika Reymond adalah Emon yang sesungguhnya. Emily yang mengetahui hal itu hanya menatap Reymond dengan tubuh bergetar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN