Bagian 1 : Comeback!

2383 Kata
Tiga belas tahun kemudian... Di sebuah club terkenal di Jakarta seorang wanita muda menggoyangkan tubuhnya yang indah mengikuti musik yang tengah di mainkan oleh seorang DJ. Lekukan tubuh wanita itu terlihat sempurna di bawah sinar lampu warna-warni. Senyum wanita itu mengembang penuh kebanggaan saat menyadari para pria di club ini memandanginya. Sepasang mata almond berwarna biru muda miliknya menatap tajam kepada pria yang mencoba ingin mendekatinya. Wanita itu merasa senang menjadi pusat perhatiaan di club ini. Wanita itu bernama Emily Johnson. Tidak lama ada seorang wanita yang menghampirinya dan ikut bergabung bersamanya menari bersama. "Emily!" teriak wanita itu. "Yah!!" teriak Emily tidak mau kalah. "Aku mencintaimu, beib!" teriak wanita itu mengecup pipi Emily. "Aku juga mencintaimu, Feb!!" teriak Emily memeluk wanita yang bernama Febby. Tiba-tiba Emily merasakan sebuah pelukan hangat di belakangnya, senyum Emily mengembang hangat saat mengetahui yang memeluknya adalah pria bernama Dion. "Aku juga mencintaimu, guys!" teriak Dion memeluk kedua wanita itu. Hingga detik ini Emily masih bersahabat baik dengan Febby dan Dion. Sejak kecil mereka tidak pernah terpisahkan. Hingga dewasa mereka selalu bersama. Lalu mereka menari bersama menikmati kebersamaan mereka. Wajah mereka begitu bahagia disana. Hari ini adalah hari bahagia untuk mereka, karena tahun ini mereka berhasil lulus kuliah dengan hasil yang memuaskan. Mereka akan merayakan kelulusan mereka sekarang. Setelah lulus berkuliah, Emily membuka sebuah studio fotografer. Di studio miliknya dia memamerkan hasil pemotretannya. Banyak orang yang kagum dengan hasil gambar foto yang di ambilnya. Dia memiliki kemampuan khusus dalam memotret objek untuk mengubah bentuk dari foto tersebut. Setiap foto yang di potret hasilnya terlihat memuaskan. Kadang Emily mengabungkan seni dan fotografi dalam foto-fotonya. Dia begitu mencintai fotografi. Sedangkan Kedua sahabatnya Dion dan Febby. Dion ingin meneruskan perusahaan milik ayahnya, sedangkan Febby dia ingin membuka usaha toko kue. "Hai Emily," sapa seseorang membuat Emily dan kedua sahabatnya menoleh. Emily menghembuskan nafasnya berat saat melihat laki-laki bernama Alex sedang tersenyum hangat kepadanya. "Aku ingin mengajakmu berkencan." Ucapnya membuat Emily berdecak malas. "Aku sedang tidak ingin berkencan!" tolak Emily membuat Alex kecewa mendengarnya. Emily selalu mengabaikan pria yang mendekatinya. Alex langsung pergi dari hadapan Emily. Alex sangat menyukai Emily tapi wanita itu selalu menolak pernyataan cintanya. Kali ini dia menyerah untuk mendapatkan Emily. Disekitarnya Emily sudah terkenal sering memainkan perasaan semua laki-laki, Emily memberi harapan palsu kepada mereka lalu meninggalkan mereka tanpa jawaban yang pasti. Hingga detik ini Emily belum pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, dia masih menikmati masa kesendiriannya dengan begitu bahagia. "Em, kenapa si kamu menolak Alex? Padahal Alex ganteng lho! Denger-denger Alex putusin ceweknya demi kamu Em, demi kamu!" seru Febby antusias. "Aku tidak peduli!" ucap Emily santai. "Dari Alex, Tobi, Erwin, Richard, Martin lalu Kevin. Kemudian si kutu buku Rafael, si udik Ian sampe si cupu Oni dan masih banyak lagi. Kamu tolak semua! Sebenarnya kamu mau cari cowok seperti apa sih?!" tanya Febby heran sambal bertolak pinggang. "Seperti Emon!" sahut Dion menyengir lebar. Emily langsung memukul punggungnya kencang membuat Dion mengerang kesakitan, "Rasain tuh!!" makinya penuh amarah, "Sekali lagi kau menyebut nama Emon, aku tidak akan segan-segan menjodohkanmu dengan Noura!" ancam Emily membuat Dion bergedik ngeri. "Please Em, jangan lakuin itu sayang!" mohon Dion sambil menciumi pucuk tangan Emily berkali-kali. Dion sangat takut dengan Noura, baginya Noura adalah wanita menakutkan bagaimana tidak dia punya tubuh berbadan super big! Dion pernah tertindih tubuhnya saat tidak sengaja bertabrakannya dengannya, semenjak kejadian itu Noura sangat menyukai Dion. Baginya Dion adalah pangeran berkuda putihnya. Febby yeng melihat itu hanya terkekeh geli. Emily benar-benar kesal dengan Dion, sahabatnya itu selalu saja menggodanya dan menjodohkannya dengan Emon. Emily tidak menyukai Emon, dia hanya merasa bersalah kepada pria itu. Emily tidak bisa membayangkan jika di sampai menyukai Emon, lelaki cupu bermata kuda bisa-bisa pamornya sebagai wanita high class hilang seketika. Dan Emily sangat yakin, walaupun Emon sudah tumbuh dewasa, Emon masih seperti dulu anak lelaki cupu bermata kuda. Tidak lama pikiran Emily melayang jauh memikirkan sosok Emon. Meskipun tiga belas tahun sudah berlalu, perasaan bersalahnya kepada Emon masih ternanam di hatinya. Dia begitu jahat kepada Emon. Sejak awal Emon pindah ke daerah rumahnya dan juga pindah ke tempat bersekolahnya, Emily dan kedua sahabatnya tidak pernah berhenti membullying Emon. Hingga akhirnya Emon pindah ke luar negeri setelah dua bulan dia menetap di Jakarta. Emily sangat yakin Emon pindah ke luar negeri karena anak itu tidak tahan dengan perlakuan Emily kepadanya. Emily benar-benar menyesal. Emon? Bagaimana kabar lelaki itu sekarang? Sejak hari kepindahannya itu aku tidak pernah mengetahui kabarnya hingga sekarang. Ingin sekali aku bertanya kepada nenek Emon tentang kabar lelaki itu, tapi aku sangat malu menanyakan kabarnya. Hingga akhirnya nenek Emon pergi ke luar negeri menyusul Emon beberapa bulan setelah Emon pergi. Tuhan jika aku dipertemukan dengan Emon aku ingin sekali meminta maaf kepadanya karena aku sering membullynya dulu. –Emily – *** Sementara itu dari kejauhan tanpa Emily sadari ada sesosok pria yang telah lama memandangi Emily. Pria itu memandangi Emily dengan senyuman tipis. Lalu pria itu berjalan menghampiri Emily yang tengah berdebat dengan kedua sahabatnya disana. Saat berada di dekat Emily pria itu hanya memandangi Emily, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Emily, walaupun hanya sebentar saja. Ketika tatapannya bertemu dengan Emily pria itu mengalihkan pandangannya. Emily yang menyadari akan hal itu, mengerutkan keningnya memandangi pria itu. Kedua matanya menyipi memandangi pria yang sedang tadi terus memperhatikannya. Lalu pria itu menarik lengan wanita di hadapannya membuat wanita itu memekik terkejut, "mau menari bersamaku?" tanyanya. Dia sengaja meminta wanita itu untuk menari dengannya agar Emily tidak curiga dengannya, jika sejak tadi dia memperhatikan Emily. Wanita itu mengangguk dengan senyuman lebar, dia begitu terpesona dengan sosok dihadapannya yang sedang memeluk pinggangnya. Di sela menarinya, sekali-kali pria itu memandangi Emily, dia tersenyum penuh arti memandangi Emily. *** Keesokannya... Pagi-pagi sekali Emily tiba di studio miliknya. Asistennya menghubunginya jika hasil foto-fotonya ingin di beli seseorang dengan harga tinggi dan seseorang itu ingin bertemu dengan Emily pagi ini. Seseorang itu rela membeli dengan harga luar biasa satu foto milik Emily tersebut. Seseorang itu juga memaksa asisten Emily untuk menjual foto tersebut kepadanya. Dan Emily tentu tidak menjual hasil fotonya itu, karena setiap hasil fotonya itu sangat berarti untuknya. Emily tidak akan menjual karyanya itu kepada siapapun. Emily sangat penasaran dengan seseorang itu, bukan karena seseorang itu ingin membayar hasil fotonya dengan harga tinggi. Tetapi yang membuat Emily penasaran, seseorang itu ingin membeli semua hasil fotonya yang bergambarkan tentang masa kecilnya. Yah, Emily mengabungkan jiwa seni yang dimilikinya kedalam fotografi. Dia menciptakan sebuah Diorama. Diorama adalah sebuah miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu adegan. Dan Emily menyalurkan bakatnya dalam miniatur tiga dimensi tentang kenangan masa kecilnya, lalu memotretnya. Dalam gambar foto Diorama itu, Emily menciptakan kenangan foto masa kecilnya bersama teman masa kecilnya bernama Emon yang sering dia bullying bersama kedua sahabatnya Dion dan Febby. Emily sengaja membuat Diorama ingatan masa kecilnya itu. Jika suatu hari dia bertemu dengan Emon, Emily ingin memberikan semua hasil karya itu untuk Emon sebagai permintaan maaf untuknya karena telah menyakitinya di masa lalu. Emily menghela napasnya berat, jika ingat hal itu dia sangat bersalah kepada Emon. "Amira," panggil Emily ketika bertemu dengan asistennya di lobby studio. Asistennya langsung menghampirinya dengan senyuman, "pagi bu," sapanya. Emily mengangguk ramah, "apakah dia masih berada disini?" tanyanya memandangi Amira. "Masih bu, dia berada di ruangan ibu saat ini...," jawab Amira. Kontan sepasang mata Emily melebar, "apa di ruangan saya?!" pekiknya. Amira mengangguk, "iyah bu, saya menyuruhnya untuk menunggu ibu di ruangannya," jawabnya sambil mengikuti langkah cepat Emily. "Seharusnya kau tidak menyuruhnya menunggu di ruanganku," seru Emily kesal, asistennya selalu saja bersikap seenaknya. Dia paling tidak suka jika ruangannya di masuki oleh seseorang yang tidak kenal. Emily berjalan cepat menuju ruangannya, diikuti oleh Amira dari belakang. Wajah Emira terlihat bingung sekarang. Setibanya di depan ruangannya, Emily langsung membuka pintu ruangannya itu. Langkahnya terhenti begitu saja saat melihat sosok pria berbadan tegap sedang berdiri memandangi langit pagi dari balik jendela. Tubuh pria itu terlihat tinggi dan propersional, otot-otot tubuh pria itu terlihat jelas dari balik kemeja hitam yang dia pakai. Emily mengerutkan keningnya, dia baru pertama kali melihat sosok pria dihadapannya. "Halo...," sapa Emily membuat pria itu menoleh kearahnya. Napas Emily tercekat ketika sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata elang milik pria itu. Emily berdehem sesaat saat dia merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya, dia tidak bisa melepaskan pandangannya sedikitpun dari pria di hadapannya. Tampan, itulah yang ada di pikiran Emily saat ini untuk pria yang dihadapannya. Kemudian Emily merapikan rambutnya tanpa sadar. Pria itu tersenyum hangat kepada Emily dan berjalan menghampiri Emily. Saat berada di hadapan Emily, pria itu mengulurkan tangan kanannya. "Anda Emily?" tanya pria itu, Emily hanya mengangguk, "saya Reymond...," ucapnya memperkenalkan diri. Emily membalas uluran tangan pria itu, "E-Emily," balasnya gugup, baru kali ini dia bertemu dengan pria yang membuat jantungnya berdebar sangat kencang. "silahkan duduk," ucapnya mempersilahkan pria itu duduk di sofa. Lalu Emily dan pria itu duduk di sofa. Sementara itu Amira pergi dari ruangan Emily, setelah Emily memerintahkannya untuk membuatkan minuman hangat. Setelah kepergian Amira, tidak ada pembicaraan dari Emily dan pria itu. Emily berdehem sesaat ketika tidak sengaja melihat pria itu sedang memperhatikannya. Pria itu tersenyum samar saat melihat wajah Emily merona. Pria itu terus memperhatikan Emily, membuat Emily salah tingkah karena terus diperhatikan seperti itu. "Saya sungguh tidak menyangka pemilik studio ini sangat cantik," puji pria itu membuat Emily kontan menatapnya. Emily tersenyum, "terima kasih atas pujiannya," ucapnya ramah, "meskipun anda memuji saya, saya tidak akan menjual foto-foto saya itu kepada anda lho...," candanya. Pria itu kontan tertawa, "saya memuji anda, karena anda memang cantik bukan karena alasan lain...," balasnya memandangi Emily. "Terima kasih banyak atas pujian yang anda berikan," ucap Emily kemudian, pria itu hanya mengangguk dan memandangi Emily sambil menopang dagunya, "boleh saya tahu, mengapa anda tertarik dengan foto-foto saya tersebut?" tanyanya penasaran. Dia menatap pria itu dengan kening berkerut. Pria itu menghela napasnya, "saya menyukainya," jawabnya. Emily menaikan satu alisnya, "hanya menyukainya?" tanyanya seakan tidak puas dengan jawaban pria itu. Pria itu mengangguk, "yah," Emily tersenyum, "sebelumnya maaf Tuan Reymond, foto-foto itu tidak saya jual. Meskipun anda membayarnya dengan harga tinggi sekalipun..." ujarnya menolak secara halus. "Kenapa?" tanya pria itu. "Foto-foto itu sangat berarti untuk saya, itu adalah kenangan masa lalu saya...," jawab Emily tersenyum. "Tetapi foto-foto itu juga sangat berarti untuk saya," balas pria itu membuat Emily menatapnya tidak mengerti, pria itu kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Emily. Lalu dia membungkukan badannya dan memandangi Emily yang tengah menatapnya dengan mata melebar, "saya akan membayarnya berapapun harganya..." bisiknya, kemudian dia menatap tajam Emily. Dia berusaha agar Emily bisa menjual karya seninya kepada dirinya. "Maaf saya tidak akan menjualnya," ucap Emily, napas Emily terasa sesak ketika sepasang mata pria itu menatapnya seakan sedang mengintimidasinya. Emily bisa melihat sepasang bola mata berwarna abu-abu terang milik pria itu, rahang pria itu terlihat kokoh disana. Wajah pria itu semakin terlihat tampan dari jarak dekat. "Anda pasti akan menjualnya, jika anda mendengar apa yang akan saya katakan..." ucap pria itu, dia terus memandangi wajah Emily yang terlihat sedikit pucat, kedua tangan Emily saling meremas kuat, "Buah Rambutan dibawa Rabit lalu diletakan di rak dan dimakan rakus oleh semut!" katanya dengan senyuman sinis. Emily begitu terkejut mendengar perkataan pria itu, sepasang matanya kontan melebar dengan mulut sedikit terbuka, "Emon?!!" pekiknya tidak percaya memandangi pria itu. Jantung Emily berdetak kencang, dia benar-benar tidak percaya jika pria dihadapannya adalah Emon. Emily langsung bangkit dari duduknya. Pria itu kontan tertawa, "saya bukan Emon, nona Emily..." ujarnya di sela tawanya. Emily mengerutkan keningnya, "lalu kau siapa?" dia sangat yakin pria di hadapannya adalah Emon. "Saya sudah memperkenalkan diri saya tadi, saya Reymond...," jawab pria itu. "Kau pasti Emon kan?!" seru Emily menunjuk wajah pria itu. Dia tidak percaya begitu saja kepada pria yang berada dihadapannya. Pria itu menggeleng, "saya bukan Emon," "Jika kau bukan Emon, kenapa kau bisa mengatakan hal seperti tadi hah?!" tanya Emily berteriak, wajahnya terlihat panik disana. Pria itu tersenyum, "saya adalah anak buah Mr. Emon Beily dan saya diperintahkan oleh Mr. Emon untuk datang menemui anda." Jelasnya. Emily menatap pria itu tidak percaya, "kau pasti bohong! Aku sangat yakin kau adalah Emon!" serunya dengan mata melebar. Emily sangat yakin pria dihadapannya adalah Emon. Pria itu menyentuh bahu Emily dan menatap dalam Emily, "saya tahu anda pasti terkejut, tapi percayalah saya bukan Emon... saya adalah Reymond..." ucapnya tersenyum. Emily hanya terdiam dan tidak membalas perkataan pria itu, tatapan pria itu telah membuat Emily membisu seribu bahasa. Pria dihadapannya begitu sempurna, ingin sekali dia menyentuh wajah tampan pria itu. Pikiran dan hati Emily saling bertentangan saat ini. "Saya diperintahkan oleh Mr. Emon untuk bertemu dengan anda dan membeli semua foto masa kecil anda bersamanya," ucap pria itu sambil mengeluarkan sesuatu dalam saku celananya, lalu dia mengambil tangan kanan Emily dan meletakan sebuah surat dan kartu nama di tangan Emily. "jika anda setuju untuk menjualnya kepada Mr. Emon, hubungi dia..." ujarnya kemudian dan pergi dari hadapan Emily. Emily hanya menatap pria itu dengan pandangan tidak menentu. Lalu dia memejamkan kedua matanya sesaat dan mencoba mengatur napasnya. Kemudian dia duduk di sofa dengan jantung berdegup kencang, kejadian barusan membuatnya terkejut setengah mati. Dia sangat yakin pria itu adalah Emon. Jika memang pria itu Emon, mengapa pria itu bisa berubah drastis?! Emon anak lelaki cupu, bertubuh gendut dan bermata kuda bisa berubah menjadi pria tampan seperti tadi?! Memikirkan hal itu membuat Emily ingin menangis. Jemari Emily memijit keningnya yang terasa pusing, lalu dia membuka surat berwarna biru muda yang diberikan pria itu tadi. Kemudian dia membacanya. To : Emily... Hai apa kabar Emily? Semoga kau baik-baik saja. Kau masih mengingatku Emon anak lelaki cupu, gendut, bermata kuda dan pendek yang sering kamu ucapkan kepadaku. Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku pergi begitu saja waktu itu? Itu karena aku sudah tidak tahan dengan semua perlakuanmu dan kedua temanmu Febby dan Dion. Gara-gara kau menyembunyikan buku PRku, aku dihukum oleh pak Tobing dan aku juga dihukum oleh ayahku karena dia mengira aku tidak mengerjakan Pr. Aku sudah mengatakan pada ayahku kalau aku membuat PRku tapi ayah tidak percaya padaku. Kemudian ayah mengirimku ke New York untuk bersekolah disana. Gara-gara kau Emily hidupku menderita. Emily sekarang aku sudah kembali, aku akan membalaskan dendam ku padamu yang selama ini terpendam dihatiku... Jantung Emily semakin berdegup kencang saat membaca bagian akhir isi surat dari Emon. Emon kembali?! Dia ingin membalaskan dendamnya?! Batinnya. "Aaaahhhh!!!" teriak Emily kencang dengan perasaan takut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN