Bab 11 : Tuan Muda

1064 Kata
Suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu, memenuhi ruangan saat ini. Niki melirik Moza yang tampak semangat melahap makanannya. Selama mereka tinggal di gubuk, Moza tidak pernah makan makanan seenak ini. Bagaimana bisa dia tidak lahap jika dihidangkan makanan penggugah selera seperti apa yang Niki sediakan. "Makanlah perlahan." Niki memperingatinya. Niki menarik kedua sudut bibirnya, melihat Moza yang sangat menggemaskan karena makan terlalu lahap. Bahkan pipinya menggembung lucu. Untuk sesaat, Moza bahkan melupakan fakta kalau dia akan bertanya pada Niki mengenai apa maksud semua ini. Bahkan ketika dia sudah selesai makan, seseorang kembali masuk dan membawakannya sebuah dessert atau makanan penutup. Moza benar-benar merasa bengkak saat ini. Niki menatap heran ketika Moza hanya menatap kue dan cokelat dihadapannya. Niki merasa khawatir dan bertanya, "Kenapa, kamu tidak suka?" Moza segera menggeleng, "A-aku suka, tapi aku gak bisa makan lagi, ini perutnya udah mau meledak." Tunjuk Moza kearah perutnya yang memang kekenyangan. Niki tertawa kecil, "Kamu memang tidak pernah berubah." Moza ikut tertawa. "Memangnya, Moza bisa berubah jadi apa?" Niki menggeleng, kemudian melirik arloji yang melingkar ditangannya. Tak lama Alex masuk, dengan sebuah peringatan tentunya. "Tuan Muda, ini sudah waktunya anda pergi." Moza segera menoleh kearah Niki. Dia belum sempat bertanya dan Niki akan segera pergi? Moza menekuk bibirnya kemudian menghela nafas. "Ada apa dengan ekspresimu, Moza?" Niki bertanya ketika dia mulai beranjak dari posisinya. Moza segera menggeleng, dia tidak ingin menganggu waktu Niki. Biarkan Moza bertanya dengan semua kebingungan yang ada di dalam kepalanya, Nanti. "Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan. Nanti aku akan mengunjungimu lagi, diam dan patuhlah. Aku akan mengirimkan seseorang untuk menemanimu." Moza rasa dia tidak perlu berkata apapun lagi karena Niki sudah akan menjelaskan padanya, nanti. Moza hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk Niki menjelaskan segala kebingungan ini. "Nikmati makanmu, aku pergi dulu." Moza mengangguk. Niki tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan Moza di ruangan ini sendirian. Diliriknya jendela yang terbuka dan menampilkan pemandangan taman buatan yang indah. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Moza. Tak lama seorang wanita dengan pakaian maid. Menghampiri Moza dan berdiri disampingnya, Moza yang tidak sadar masih tetap menatap lurus kedepan. "Ada yang ingin saya bantu?" Moza terlonjak kemudian menoleh kesampingnya, diliriknya wanita itu dengan ekspresi lega. "Kenapa kamu membuat ku terkejut?" Ucap Moza seraya memegang dadanya yang kini kembang kempis karena terkejut. Wanita itu membungkuk, "Maafkan saya, karena ini adalah hari dimana pertama saya bekerja. Sekali lagi maafkan saya." Moza jadi merasa bersalah. "Bangunlah, kalau kamu begini aku jadi ikutan tidak enak hati." Moza capek juga lihat wanita ini bungkuk tanpa bangkit. Setelah itu Moza bangkit dengan linglung. Karena masalahnya dia tidak tau denah rumah ini seperti apa? Jadi katakan pada Moza apa yang harus dia lakukan. Moza balik badan, karena merasa wanita tadi malah mengikutinya. Kemudian menatap wanita itu penuh kebingungan dan tatapan tajam. "Kenapa kamu mengikuti aku terus?" Tanya Moza. Wanita itu kembali membungkuk, "Karena sudah tugas saya untuk membantu dan mengawasi nona." Jawabnya dengan sopan. Moza berdecak, "Iya sih, kamu benar. Aku sama sekali asing dengan tempat ini. Apalagi Niki baru pertama kali membawaku kesini. Aku juga bingung, kenapa aku bisa dibawa kesini. Bukankah akan baik-baik saja kalau aku diam di hutan." Gumam Moza dengan raut wajah sedih. Wanita itu melirik sekilas dan kembali menunduk. Dia rasa tidak perlu ikut campur urusan nona yang harus dia awasi. "Nona, apa anda ingin berjalan-jalan. Saya bisa menjadi pemandu anda saat ini." Mendengar hal itu mata Moza berbinar cerah. "Kamu benar! Temani aku jalan-jalan, aku juga ingin melihat taman yang indah saat kita memandang dari ruangan makan tadi." Wanita itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Lewat sini, Nona." *** Mata itu setajam elang yang sedang menanti mangsa masuk kedalam jebakan. Niki mengamati rencana apa yang akan dia lakukan untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah berani membuatnya terganggu. "Aku tidak peduli dia paman atau kerabatku. Yang jelas dia sudah berhasil memancing amarah dalam diriku." Suara itu terdengar dingin, mereka tidak ada yang berani membantah. "Apa korupsi yang dia lakukan tidak cukup, dan hendak menyingkirkanku sebagai pewaris resmi?" Niki berdecih, "Yang benar saja, apa ada orang yang begitu tidak tau diri seperti dirinya?" Mereka semua diam. Niki masih menatap layar yang ada di hadapannya. Besok adalah rapat penting. Kerajaan yang sudah dengan susah payah dibangun oleh Ayahnya tidak mungkin dia sia-siakan ditangan tua bangka kikir itu, bukan? "Alex, katakan padaku. Apa yang dia lakukan selama aku tidak ada?" Tanya Niki datar. Alex mendekat dan menyerahkan sebuah bukti penggelapan dana yang dilakukan oleh, Rocky Ranggi, Paman Niki. "Ah, jadi begitu? Tidak ada aku dia bisa melakukan apapun semaunya?" Niki berdecih. "Tunggu saja pembalasanku, mungkin besok dia akan syok melihatku hadir di rapat dewan penting. Maka bukti ini akan aku bawa." Niki menatap satu persatu diantara mereka yang merupakan agen rahasia yang sengaja Niki bentuk untuk memata-matai keluarganya. "Aku tidak ingin menemukan penghianat disini, jadi kalau kalian merasa penghianat silahkan berhadapan denganku saat ini juga, jangan sampai aku yang menemukanmu." Semua tentu menggeleng, Niki tersenyum satu sudut, "Baik, aku akan pegang ucapan kalian. Jika aku temukan, maka aku tidak akan mengampuninya." Mereka menelan ludah kasar karena mendengar ucapan Niki. Walaupun usianya masih lebih muda dari mereka. Tentu tidak ada yang berani membantah. Niki adalah anak jenius dan punya karisma seperti ayahnya. Ibu dan Ayahnya meninggal karena kecelakaan disengaja, sekarang Niki hidup sebatang kara dan harus mempertahankan apa yang menjadi miliknya, bukan? Setelah pertemuan rahasia itu, Niki kembali dengan sebuah senyum sumringah. Ini memang sudah malam, tapi Niki berharap Moza belum tidur. Alex yang memperhatikan bagaimana Tuan Mudanya itu berubah karena wanita, Turut senang. Niki tidak pernah tersenyum seceria ini karena ingin menemui seorang gadis. Karena Alex tau apa yang Niki lalui dulu. Sehingga dia menjadi pribadi yang obsesif dan sensitif. Bahkan Niki dengan tega mengusir segala keluarganya dari istana yang dibangun megah ini. Niki memang senekat itu, sehingga banyak yang tak menyukainya. Tapi Alex tau, Niki melakukan hal tersebut karena ingin melindungi apa yang menjadi miliknya. Musuh yang dilawan Niki bukan orang sembarang, melainkan orang terdekat yang seharusnya menjaga dan merawat Niki. Alex bisa merasakan bagaimana kecewanya Niki, mengetahui pamannya itu ternyata punya niatan buruk dan hendak membunuhnya. Sekarang Niki kembali, Tuan muda itu kembali dengan amarah dan dendam, karena kehidupannya yang terusik. Alex tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. ### Perang sama orang asing ❌ Perang sama paman sendiri✅ Tap Lovenya bun! Komentarnya juga hayo gaskan... Instagram : @im_yourput
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN