Moza hendak memejamkan mata, namun pendengarannya yang tajam mampu mendengar derap langkah kaki yang mencoba mendekat kearahnya. Moza menghela nafas, dia baru saja ingin tidur dan sekarang apa yang akan mereka lakukan?
Ceklek!
Moza memilih untuk memjamkan matanya. Karena sudah mengantuk berat, tidak peduli siapa yang sekarang masuk kedalam kamarnya.
Saat Moza merasakan ranjangnya bergerak karena ada seseorang yang berusaha naik. Moza malah semakin memejamkan matanya. Tidak berani untuk sekedar menoleh, karena pikiran negatif sedang menghampirinya.
"Moza."
Kelopak mata itu langsung terbuka mendengar suara yang sangat familiar. Benar-benar, Moza sampai hampir melayangkan tinjunya kalau orang itu bukan, Niki.
"Niki." Balas Moza.
Moza merasa tangan Niki memeluknya menyamping seperti guling. Jangan lupa Niki menghirup ceruk lehernya, membuat Moza merinding geli.
"Hm." Hanya suara gumam kecil yang Moza dengar.
Gadis itu menggeleng kecil, lalu menjauhkan tubuh Niki dari tubuhnya. "Niki, sana ih, jangan deket-deket. Kasur ini luas, jadi Niki gak bisa main peluk!" Protes Moza.
Niki tidak menggubris, dia justru semakin mengeratkan pelukannya pada Moza, "Diamlah, aku ingin seperti ini dulu sejenak." Moza terdiam.
Tak lama Moza mendengar suara dengkuran halus, Niki. Gadis itu menghela nafas, kenapa Niki harus tidur disini. Bukannya dia punya kamar sendiri ya? Tadi Moza bahkan sempat lewat depan kamarnya.
Namun Moza juga merasa agak lelah saat ini, jadi dia ikut tertidur tidak peduli hari esok akan seperti apa? Yang jelas istirahat dulu, lebih baik kayanya.
Keesokan paginya Moza tidur sudah tidak teratur. Dia berada dibawah kaki Niki, begitu Juga Niki yang malah memeluk kakinya. Beruntung Moza lebih dulu bangun, karena terbiasa bangun pagi buta saat masih di gubuk dulu.
Moza meringis melihat posisi tidurnya yang berputar seperti jam. Kebiasaannya kalau Moza sedang lelah. Pertanyaannya, kenapa Moza bisa lelah? Selain karena dia manusia normal yang bisa saja merasakan penat, Moza juga menghabiskan waktunya seharian untuk berkeliling dan menerawang rumah besar ini.
Ketika Moza beranjak, Niki berulah dengan menarik tangan Moza dan kembali terhempas diatas ranjang. Moza berdecak, apalagi saat Niki memeluknya menyamping.
"Pagi." Suara serak basah khas orang baru bangun tidur menyapa Moza.
Gadis itu bergidik geli kemudian mendorong Niki untuk menjauh. Sementara itu Niki malah tetap merapatkan diri kearah Moza.
"Niki kenapa sih? Jangan peluk-peluk ih, bau belum mandi." Keluh Moza.
Niki tak menggubris, melainkan melayangkan kecupannya pada pipi Moza yang lumayan gembul. Niki segera menjauh karena merasa, Moza sebentar lagi marah besar kalau tidak dituruti.
"Iya, Udah jauh nih."
Moza segera beranjak, "Mau kemana?" Tanya Niki.
"Mau mandi lah!" Balas Moza galak.
Niki tertawa kecil kemudian menggeleng, Moza memang masih punya jiwa anak kecil. Namun hal itu yang membuatnya terlihat unik dan menarik.
Niki segera bangkit dan memang harus pergi, karena disini bukan kamarnya. Tidur bersama dengan Moza memang bisa membuatnya terlelap dengan nyenyak.
Alex menyambut Niki di depan kamar, sedikit terkejut melihat Niki yang malah keluar dari kamar lain. Ketika Niki mendekat untuk menghampiri, Alex tersenyum tipis.
"Selamat pagi, Tuan muda." Sapa Alex ramah.
"Pagi." Balas Niki singkat.
Niki mengernyit melihat sebuah senyum aneh yang timbul di wajah asistennya itu. Segera dia layangkan sebuah tatapan datar, "Apa maksudmu tersenyum aneh seperti itu?" Tanya Niki dingin.
Alex segera menggeleng, "Tidak ada, sepertinya posisi Tuan muda akan segera tergantikan."
Niki berdecih kemudian menggeleng, "Siapa yang berani menggantikan posisiku?" Tanya Niki dengan tenang.
"Tuan Muda junior?"
Niki terbatuk dan segera berdehem. Jelas Moza tidak mungkin rasanya mengandung, apalagi dia masih seperti anak kecil.
"Sudah jangan bermimpi! Cepat bergegas karena aku tidak ingin, membuang waktu."
Alex mengangguk, saat Niki sudah masuk kedalam kamarnya. Pria yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua dari Niki tersebut menggeleng pelan.
"Jangan bermimpi? Tapi tadi malam suara siapa yang aku dengar didalam sana?" Gumam Alex pelan.
***
Niki pergi setelah sarapan bersama tadi. Moza ditinggal sendirian dengan Yori yang merupakan pelayan pribadi, Moza.
Entah mengapa Moza merasa tidak terlalu betah berada disini. Dia merindukan Zuzu temannya ketika bosan.
Tapi, Yori juga baik, cuma sikapnya masih terlalu canggung bagi Moza. Padahal gadis itu sudah berapa kali menegur Yori dan menyuruhnya berkata santai.
"Yori, aku bosan," tukas Moza dengan wajah cemberut.
Yori tampak bingung, "Apa yang Nona ingin lakukan?"
Moza menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau Yori, sepertinya aku terkena penyakit bosan." Moza kembali cemberut.
"Kalau aku di gubuk, mungkin saja sekarang bisa bermain dengan Zuzu." Yori mengernyit heran mendengae ucapan Moza.
Moza melirik Yori sekilas kemudian mendengus sebal, "Zuzu itu kelinci Yori. Eh, iya sih Yori kan belum kenalan sama Zuzu." Yori kembali tak mengerti dibuatnya.
Ketika Moza meliriknya, Moza malah merasa bersalah. Benar kata Mamanya, dia adalah anak aneh yang gak seharusnya berada di keluarga mereka.
"Papa... mama..." Lirih Moza.
Yori jadi bingung sendiri, harus bagaimana agar Moza merasa tidak bosan dan tidak sedih.
"Nona, apa anda ingin melihat kelinci?" Tanya Yori.
"Ah, ada kucing juga."
Mata Moza membulat, lalu menatap Yori penuh harap. Pelayan itu tersenyum dan segera mengajak Moza untuk pergi melihat Kucing dan Kelinci yang di maksud tadi.
Moza tersenyum melihat Kucing putih dengan bulunya yang tebal. Jangan lupakan ada kalung yang bertengger manis di lehernya.
"Hai kucing!" Sapa Moza semangat.
Yori memperhatikan dari jauh dan tersenyum kecil, dia seperti Baby sitter yang sedang menunggu bocah bermain.
"Siapa Namamu?" Moza kembali bertanya.
"Oh, nama kamu Pusy ya?"
Yori yang mengamati interaksi antara Moza dan Kucing tersebut, sedikit terkejut. Karena Yori belum memberitahu nama kucing itu, namun Moza dengan cepat tau.
"Nama kamu lucu, sini kita adalah teman, jadi jangan sungkan!" Tukas Moza semangat.
Kucing tersebut segera bergerak kearah Moza. "Kucingnya pintar, dia mengerti apa yang nona katakan." Moza segera menggeleng.
"Bukan, tapi tadi aku menyuruhnya kesini."
Yori sedikit tidak paham, namun tersenyum sedikit canggung. "Pusy, apa kau mengenal Yori?" Tunjuk Moza kearah Yori.
Ketika Yori mendengae suara meong, Moza malah mendengar, "Tidak, aku baru melihatnya, pasti pelayan baru."
Moza menganggukan kepalanya paham, kemudian melirik Yori yang kebingungan. Gadis itu tersenyum kecil.
"Yori, pelayan baru disini ya?"
Yori mengangguk, "Maaf ya, pasti kamu kira aku aneh karena berbicara dengan hewan. Namun pada kenyataannya, aku memang bisa bicara dengan mereka." Moza menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Yori diam, mencerna apa yang Moza ucapkan. Kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya kecil. Agak aneh sih, tapi Yori percaya akan hal itu, karena dia juga percaya setiap manusia pasti punya kelebihannya masing-masing.
"Ayo Yori! Kita jalan-jalan."
"Meong."
Moza menoleh kebawah, dimana kucing putih itu berada, "Oh Pusy mau ikut juga, ayo kita pergi kalau begitu!"
***
Sementara itu rapat penuh ketegangan masih berlangsung. Belum ada tanda-tanda Niki sang pewaris sah untuk datang. Sebagai dewan penting pemegang saham, mereka tentu tidak ingin membiarkan perusahaan ini hancur jika jatuh ke tangan yang salah.
Para dewan penting pun terbagi menjadi dua kubu. Satu yang mendukung, satu yang memang penghianat karena sudah di suap.
Ketika pria paruh baya itu hendak berkata kembali, pintu ruangan terbuka. Menampakkan Niki dengan setelan jasnya yang rapi menghampiri mereka.
"Selamat pagi, semua."
Pria paruh baya itu terkejut bukan main. Tubuhnya bergetar hebat melihat Niki yang menatapnya tajam, bak elang yang siap menikam mangsanya.
###
TAP LOVE & KOMENTARNYA YA BUN!
Instagram : @im_yourput