Menyanggupi permintaan sang ibunda, Dominic meminta bantuan Henry untuk mencari tahu informasi tentang gadis aneh di rumahnya. "Aku punya fotonya, bisa kau cari tahu hal apapun yang terkait dengan gadis itu?" Dominic tidak terlalu banyak berharap, karena berita mengenai gadis ini tidaklah penting baginya.
Namun, ketika Henry melihat foto seorang gadis dikeluarkan oleh Dominic, merupakan sebuah kejutan tak disangka selama bekerja dengannya. Henry bersemringah ceria. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan bahwa akhirnya Dominic menunjukan ketertarikan pada seorang wanita!
Dominic mendengus saat membaca seraut gembira Henry. Lalu dia melambaikan tangan seraya berkata. "Tidak, jangan berpikir yang tidak-tidak." Jeda sesaat. "Itu permintaan ibuku. Jika tidak kuturuti, ibu akan menjodohkanku dengan wanita lain seperti yang sudah-sudah." Bosan selalu Dominic rasakan setiap kali berhubungan dengan wanita. Dia telah kehilangan rasa tertarik pada lawan jenis, bukan berarti dia melenceng dari kodrat -mencintai sesama jenis- sama sekali tidak pernah sedikit pun ada rasa pada sesama kaum pria.
"Baiklah, besok pagi aku akan meletakan laporan tentangnya di mejamu," ujar Henry menggampangkan. Karena baginya mencari data pribadi seseorang tidak sesulit mendapatkan calon istri.
***
Di rumah, Jia, sang nyonya besar yang baru saja ke dapur, mendadak perhatiannya teralihkan oleh kotak makanan di atas meja marmer putih. "Eh?" Jia melongo lalu membuka kotak makanan itu. Tampak berisi makanan sehat. Jia yang membuat makanan itu untuk bekal makan siang buah hati: Dominic. "Dia tidak membawanya?" gumam Jia, menghela napas seraya menutup kotak makanan itu lagi.
Melirik ke jam di dinding, pukul setengah sebelas, sebentar lagi waktunya makan siang bagi Dominic. Jia merasa harus mengantarkan bekal makan siang ini ke kantornya sekarang.
Tiba-tiba pandangannya melihat tingkah aneh Serene. Terlihat udik tapi lucu ketika Serene penasaran dengan benda di sofa: remot. Serene mencoba menekan salah satu tombolnya dan secara mengejutkannya layar hitam di depannya menyala, Serene terlonjak mundur, mengerutkan tubuhnya sambil menatap aneh pada layar teve itu. Menampilkan berita harian, pemandangan kota di teve itu membuat mata Serene berbinar takjub. Gedung-gedung tinggi itu tidak jauh berbeda dengan lingkungan yang dia lewati kemarin.
Lalu Serene iseng memencet tombol lain, mengganti saluran televisi tanpa dia tahu, secara acak untuk kemudian Serene kembali terkesima dengan kecanggihan benda ini. Benar, Serene jadi berpikir jika benda di genggamannya ini memiliki sihir yang bisa mengetahui kondisi di luar rumah.
Sementara Jia menggeleng-geleng. Tingkah Serene terlihat menghibur baginya. Itulah mengapa Jia menyukai gadis itu. Datang dari kampung mana gadis itu?
Hanya dengan melihat reaksi Serene yang polos terhadap teknologi, satu perkiraan muncul di benak Jia yang mengira Serene datang dari suatu kampung terpencil nan jauh. Darimana pun dia, Jia tidak masalah bersama dengannya.
Jia tersenyum. Senyum lembut ala seorang ibu melihat anak kecilnya. "Serene, apa kau ingin tahu kantor Dominic?" tanya Jia. Seketika menarik atensi Serene dari layar panjang. Wajahnya saat menoleh tampak begitu lugu.
"Huh? Kantor tempat kerja Dominic??" Ada nada ketertarikan saat mendengar tawaran dari wanita baya itu. Dominic, seorang pria yang membuat Serene penasaran.
Jia mengangguk pelan.
Sontak saja Serene bersemringah. "Aku mau!" serunya dengan semangat.
Lima menit kemudian mereka sudah di dalam mobil. Serene tidak banyak tingkah ketika hanya melihat-lihat isi mobil yang mirip dengan isi mobil yang dikendarai Dominic. Hanya saja mobil ini tampak sedikit sederhana dengan ukuran lebih minimalis. Serene tidak tahu jika mobil yang dia tumpangi adalah keluaran termahal dari merk Eropa.
Pemandangan kota jauh lebih menarik perhatiannya saat ini. Serene terus menatap ke luar jendela mobil. Tatapannya terkagum-kagum. Dia masih belum terbiasa dengan semua aktivitas kota dan benda-benda canggih lainnya. Bagaimana pun semua yang terlihat di mata, tidak pernah ada di dunianya.
"Serene, bagaimana menurutmu tentang puteraku?" kata Jia. Tiba-tiba bersuara. Membuat Serene harus memalingkan kepalanya dari jendela untuk menatap lawan bicara. Berpikir tentang pria dingin itu adalah anak wanita lembut ini, agak aneh bagi Serene. Tapi dia segera menjawabnya.
"Dominic sangat menyebalkan. Dia pelit bicara dan juga bersikap dingin padaku," komentar Serene apa adanya. Disambut tawa kecil dari mulut Jia.
Jia sangat mengenal puteranya. Tidak ada perubahan selain seperti yang disebutkan Serena barusan. "Dia memang mempertahankan dindingnya begitu kuat. Sampai saat ini belum ada seorang pun yang dapat meluluhkan anak itu." Jia mendukung perkataannya ketika membelokan mobilnya turun ke basemen gedung.
"Kita sudah sampai, ayo keluar menemui Dominic," ujar Jia, mengambil bingkisan dari jok belakang dan membuat benak Serene bertanya-tanya tentang benda itu.
Berjalan memasuki lobi, seseorang menyapa Jia. "Jia!" Wanita seumuran yang terlihat modis.
Jia menyambutnya dengan ceria. Sejenak kedua wanita baya itu asik mengobrol sehingga melupakan keberadaan Serene di belakang Jia. Gadis ini melongo melihat seisi ruangan yang tinggi dan luas. Beberapa orang lewat dengan jas formal mereka. Di antara semua benda yang menarik di matanya, hanya satu yang membuat Serene penasaran ketika melihat orang masuk ke pintu ajaib. Pintu itu dapat membuka dan menutup sendiri: lift.
Maka tanpa Jia sadari, Serene sudah berlari ke arah pintu lift. Ikut berbaris bersama orang lain, lalu ketika pintu terbuka, dia ikut masuk dan berdiri di sudut belakang. Mata cokelatnya melirik ke sekeliling. Merasakan tempat yang kecil dan sempit tanpa tahu namanya. Sampai kemudian pintunya terbuka lagi, Serene melangkah ke luar mengikuti mereka.
Dia berdiam sebentar saat melihat lorong kosong yang panjang di hadapannya. Ada di mana dia sekarang? Serene celingukan. Orang-orang tadi sudah menghilang entah kemana, alhasil tinggallah dia sendirian di tempat asing ini. Serene tidak tahu mau kemana, tapi kakinya tetap melangkah maju.
Berjalan pelan-pelan sambil melihat kesana kemari. Membuat dia tampak mencurigakan dari belakang. Karena sepasang mata sedang mengamatinya dengan tatapan selidik. Sosok besar itu berjalan tenang mengikuti arah langkah Serene.
Ketika Serene melongok ke balik tembok, lalu tak menemukan apapun selain lorong kosong nan sepi, dia menghela napas dan berpikir takut tersesat jadi memutuskan untuk memutar tumitnya berbalik. Detik itu juga wajahnya menabrak d**a keras seseorang. "Aduh!" ringisnya memegangi dahi, menarik kaki mundur selangkah, sebelum akhirnya mengangkat pandangan.
Mata tajam di atasnya membuat Serene merasa terintimidasi. Dia seperti kucing yang mengerut ketakutan saat bertemu .... Dominic!
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suaranya berat dan tegas. Dominic terheran-heran melihat Serene ada di kantornya. Bagaimana caranya bisa ada di sini? Pergi dengan siapa? Dominic bertanya-tanya di dalam pikirannya.
"Hehe ...." Serene cengengesan canggung. "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini. Pintu itu ajaib sekali! Padahal tadi aku bersama nyonya, tapi sekarang aku berada di lorong yang sepi!" cerita Serene antusias.
Akhirnya Dominic mendapatkan jawabannya. Bahwa Serene 'terseret arus' di dalam lift dan terpisah dari Jia. Dominic memejamkan mata daripada menghela napas mendengarnya.
***