5 - Salah Paham

1127 Kata
Serene duduk di sofa krem. Matanya terus melihat sekeliling ruangan sambil menunggu Dominic selesai bicara sendiri di sudut lain. Pria itu menelepon ibunya untuk protes karena telah membawa gadis aneh ini ke kantor. Tapi yang dia dengar justru helaan napas lega dari Jia. "Syukurlah dia bersamamu! Tadi ibu mencarinya kemana-mana." Jia tidak mendengarkan Dominic bicara. "Ibu menitipkan kotak makan siangmu di resepsionis, ya! Juga titip Serene padamu! Ibu harus pergi dengan teman ibu sekarang!" Bahkan wanita baya itu langsung menutup sambungan telepon tanpa mau mendengar keluhan Dominic. Dominic tidak bisa berbuat apa-apa saat ini selain mengalah pada sang bunda. Dia menurunkan ponselnya, melirik malas ke arah Serene di sofa. Gadis itu tampak anteng meskipun Dominic tahu rasa penasaran tinggi terpancar dari matanya yang jelalatan. Sebenarnya apa mau gadis aneh itu? Dominic mengangkat lengan kirinya. Mengecek jam tangan untuk melihat waktu. Sebentar lagi dia ada rapat. Apakah tidak apa jika gadis itu ditinggal sendirian di ruang kantornya? pikir Dominic. Sedetik kemudian dia tersadar, mengapa dia jadi mempedulikannya? Enyahlah! Dominic menggeleng cepat. "Tunggulah di sini sampai aku kembali!" Dominic memperingatkan. Serene langsung menatapnya dan tersenyum lebar. Dia mengangguk patuh. Dominic segera pergi dari ruangan itu, dan pintu tertutup rapat. Sebuah batu permata biru di dalam kotak kaca mampu mengalihkan perhatian Serene. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati kotak persegi di sudut ruangan. Kotak itu diletakan di meja kecil seolah hanya hiasan biasa. Tapi benda di dalamnya berkilauan bagai menghipnotis Serene untuk mendekat. Serene tidak bisa diam, dia membuka kotak kaca itu, menaruhnya pelan di sofa terdekat sebelum dia menatap lekat batu biru jernih. Serene merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Batu permata ini mirip seperti yang ada di rumahnya. Ya, Serene ingat. Dia memiliki beberapa batu permata di rumah. Bahkan ayahnya menggunakan batu permata sebagai cincin di jemari. Terlepas dari sama atau tidaknya, yang jelas batu berwarna lazuardi ini begitu memikat mata Serene. Dia dengan rasa ingin tahu yang tinggi, meraih batu biru itu dan mengangkatnya sedikit lebih tinggi di atas kepala, untuk menerawangnya ke terik matahari di luar jendela. Bening. Berkilauan. Membuat mata Serene menyipit saat mengamatinya. Tiba-tiba sesuatu mengalir seperti sengatan listrik dan memasuki sel ingatan Serene, sehingga di luar dugaan suatu kejadian terlintas bagai di depan mata, berlalu sangat cepat sampai dia tidak dapat memercayai gambaran tadi. Serene terdiam. Baru saja dia melihat di suatu tempat di malam hari, seseorang berusaha mencuri benda berharga. Lalu gambaran berpindah saat melihat seorang pria baya mengenakan jas putih di ruangan yang dingin. Serene diam membeku, mencerna kilasan aneh tersebut. Apakah tadi hanya imajinasinya saja? Cklek! Pintu dibuka. Seorang wanita masuk dan memergoki aksi Serene, membuatnya tercengang saat mengira ada pencuri. "Siapa kau? Apa yang kau lakukan di ruang kerja Dom? Ah~ kau hendak mencuri ya!" tuduhnya memicingkan mata dengan tajam. Penampilan terlihat heboh. Dengan riasan yang mencolok, gaun ketat sepaha dan sepatu boots tinggi sebetisnya. Wanita itu nampak begitu norak. Menjadi pemandangan yang menyakitkan mata. Tapi siapa yang peduli dengan penampilan wanita itu ketika Serene hanya terbengong melihatnya. "Aku akan panggilkan satpam!" ancamnya berbalik badan. Saat yang sama dia terdiam begitu kehadiran Henry juga masuk ke ruangan. "Oh kebetulan sekali ada kau, lihatlah wanita itu! Dia hendak mencuri permata di ruangan ini!" tudingnya menunjuk ke arah Serene. Masih memegang batu permata dengan muka melongo memahami situasi. Serene tersentak kemudian. Dia sadar dirinya telah dituduh mencuri. Sungguh perbuatan jahat yang tak pernah terpikirkan otaknya. Tapi hey, yang jahat di sini adalah wanita itu! Serene tidak bisa menerima dirinya difitnah! Namun, Henry telah menelepon staff untuk membawa dua satpam ke atas. Sehingga ketika Serene melancarkan pembelaan, semua ucapannya tidak berguna bagi mereka. "Hey! Aku tidak mencuri apapun!" teriak Serene kesal. Tapi wanita aneh itu menutup telinga, sedangkan Henry diam memperhatikan Serene dengan perasaan janggal. Karena Henry merasa pernah melihat wajah gadis itu di suatu tempat belum lama ini .... Henry memiringkan kepala, mencoba mengingat dan mengenali gadis itu tapi terlambat saat dua orang satpam menerobos masuk lalu menahan kedua tangan Serene. Serene meronta-ronta ketika diseret paksa ke luar. Teriakannya mengundang perhatian beberapa orang di sekitar. Belum lagi melihat dua satpam menjegal seseorang dengan borgol. Sontak saja menjadi bahan pergunjingan mereka sambil memicing sinis pada Serene. Sebuah gosip menyebar di tengah keramaian. Ada yang mengatakan bahwa gadis aneh itu mencuri barang berharga milik bos besar mereka. Ada pula yang mengatakan jika gadis itu mencoba merayu bos besar mereka lalu dipergoki pacarnya. Bisik-bisik mereka semakin lama semakin aneh dan tidak masuk akal. Hingga kemudian wanita nyentrik bernama Carell lewat di tengah mereka. Membuat beberapa karyawati segera menghampiri untuk bersimpati. "Oh ya ampun, nona. Kudengar ada gadis gila yang masuk ke ruangan bos besar?" Beberapa lainnya mengkhawatirkan Carell. Jelas sekali setiap wajah dari mereka hanya berusaha m******t wanita itu dengan kata-kata manis. Tapi Carell tersenyum menikmatinya. Menikmati dikelilingi mereka. "Aku baik-baik saja. Untungnya aku daang tepat waktu saat dia akan mengantongi benda berharga kesayangan Dom di tasnya," ucap Carell dengan sedikit bumbu kebohongan. Tentu saja dia berbohong karena pada kenyataannya Serene tidak membawa tas atau kantong apapun di tubuhnya. Apalagi sampai berniat mencuri batu permata itu. Pada saat Carell sedang dikelilingi karyawati penjilat, terlihat dari arah berlawanan Dominic berjalan di koridor dengan dibuntuti beberapa direktur bawahannya. Sebelum kemudian dia melihat kerumunan di tengah lantai koridor. Dominic mengerutkan dahi. Di tengah-tengah karyawati itu dia mengenali seorang wanita. Wanita dengan dandanan sexy, kacamata besar di kepalanya. Sayang sekali keberadaan Carell di kantornya mengubah mood Dominic menjadi buruk. Dominic mengabaikan kerumunan itu dengan melanjutkan langkahnya. Hingga bertemu Henry dari arah lobi. Membaca dari raut wajah Henry, Dominic merasa ada sesuatu yang sedikit tidak beres. Akhirnya dia berhenti sejenak. "Oh, Presdir ...." kaget Henry. "Apa terjadi sesuatu?" kata Dominic menaikan sebelah alisnya. "Kami baru saja mengusir wanita gila yang masuk ke kantor. Yah, dia masuk ke ruang kerja anda dan hendak mencuri batu permata di sudut ruangan," jelas Henry. Tanpa tahu penjelasannya justru mengubah ekspresi Dominic yang melebarkan matanya. "Tapi tenang saja, kami sudah mengaman----" "Tunggu dulu," potong Dominic. Henry diam untuk mendengarkan kelanjutan ucapan sang big boss. Karena Dominic terlihat kebingungan untuk mengatakan sesuatu. "Apakah wanita gila yang kau maksud adalah wanita dengan rambut cokelat keemasan bergelombang? Mata cokelat. Dress vintage Dior dan sepatu kets putih Nike?" pungkas Dominic menyebutkan ciri-cirinya. Membuat Henry melongo dengan terkesima. Henry berpikir lelaki cuek nan dingin seperti Dominic memperhatikan wanita sedemikian jeli. Bahkan Henry saja tidak sampai mengingat pada bagian merk yang dikenakan. Henry melongo. "Bagaimana kau bisa tahu merknya?" gumam Henry sedikit terkagum. "Itu gaun dan sepatu milik ibuku...." balas Dominic tanpa sadar. Sedetik kemudian dia tersentak menatap Henry. Pria itu menyeringai tipis. Tapi sorot mata Dominic memelotot tajam seolah mengatakan tidak seperti yang kau pikirkan! Tidak bisa diselesaikan dengan berbicara di tengah jalan, akhirnya Dominic memerintah Henry untuk mengikutinya ke ruang kerja. Mereka perlu bicara secara privat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN