Anggie datang ke sekolah pagi sekali hari itu saat tempat parkir motor masih sepi. Gadis itu mempercepat langkahnya ke ruang guru. Setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya, Anggie membuka pintu ruang guru yang masih sangat sepi belum ada satu pun makhluk di sana. Anggie menghampiri meja Pak Ilham dan melihat tumpukan map warna kuning. Anggie mengeluarkan map serupa lalu meletakkannya di antara tumpukan map itu. Tidak di paling atas maupun paling bawah tapi di tengah-tengah. “Ngapain kamu?” Suara berat Ilham membuat Anggie hampir meloncat. Gadis itu terbelalak melihat sosok Ilham berdiri di belakangnya dengan wajah datar. Keringat dingin seketika membasahi tubuh Anggie. Ilham malah tersenyum. “Hanya mau daftar seleksi olimpiade saja kenapa mengendap-endap

