Viar mencium bau antiseptik yang tajam. Ketika dia membukanya perlahan tiga sosok berwajah cemas muncul dihadapannya. Kedua orang tuanya serta kakaknya. Mereka tampak senang ketika melihat Viar tersadar. “Viar! Alhamdulillah! Kamu sudah sadar, Nak!” Bu Bagio segera merengkuh putra semata wayangnya dan menciumnya. Viar terdiam, mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi dan kenapa dia bisa ada di sini. Tiba-tiba rasa nyeri yang amat sangat menjalar dari pinggangnya. Viar terkejut. Kakinya? Apa yang terjadi pada kakinya? Viar berupaya bangkit dan melihat kakinya yang kini dibalut perban dan diberi pemberat pada ujungnya. “Kakiku! Kakiku kenapa?!” seru Viar terkejut. “Sudah Viar tidak apa, kakimu akan segera sembuh.” Bu Bagio terseny

