Hyde-Jackyll

1327 Kata
Yoga bersama seluruh anak kelas XI MIA tiga berdiri di depan kelas, mereka menatap hasil ulangan harian matematika yang dipajang di sana. Yoga tersenyum senang. Nilainya masih berada diatas standar walau mepet. Dia lalu menepuk pundak Satya. “Nanti kutraktir es degan.” Satya mengangguk dan tersenyum. Satya memiliki kesenangan tersendiri saat melihat Yoga mendapat nilai bagus berkat bantuannya. Saat melihat papan pengumuman, yang dia lihat pertama kali pasti nama Yoga bukan namanya sendiri. Bukannya sombong, tapi tingkat kesulitan soal ulangan memang berbeda dengan soal olimpiade. Sehingga Satya tidak pernah mencemaskan nilainya. Satya sebenarnya pernah berambisi membuat nilai Yoga lebih baik lagi, tapi apa daya jika Yoga sendiri tidak berminat. Di kejauhan Ilham mengawasi adiknya sambil tersenyum. Dia lalu menyusuri lorong-lorong menuju ruang guru. Beberapa murid yang berpapasan dengannya menyapanya. Di depan toilet wanita terlihat beberapa anak perempuan yang tengah berkumpul, Ilham mengenali cewek-cewek itu sebagai anggota Jurnalota. “Apa Pak Ilham akan memenuhi surat tuntutan kita?” tanya salah seorang cewek. Ilham tertergun karena mendengar namanya disebut. Dia memutuskan berhenti sebentar dan bersembunyi agar bisa mendengarkan secara diam-diam pembicaraan mereka. “Itu pasti!” kata Mona. “Jumlah kita lebih banyak sementara Putri sendirian. Pak Ilham akan yakin jika Putri yang salah dan kita yang benar.” “Tapi bagaimana kalau sebaliknya, bagaimana kalau Pak Ilham lebih percaya Putri daripada kita?” tanya cewek yang lain. “Ayo semangat. Ini waktu yang tepat untuk menyingkirkan Putri. Apa kalian mau harga diri kalian diinjak-injak dia terus?” tanya Mona. Ilham tergegap, dia menghela napas lalu tersenyum sinis. Dia memilih pergi dari tempat itu. Dia sudah tidak tertarik mendengarkan pembicaraan mereka. Ilham mengubah haluannya ke kelas XI Bahasa, namun dia melihat Putri yang berjalan berlawanan arah dengannya sehingga Ilham menghampirinya. “Putri.” Putri terbelalak saat melihat Ilham lalu menggosok-gosok tengguknya. “Deadline-nya masih senin depan, kan?” tanya Putri gelisah.  “Mana surat tuntutan itu? Serahkan padaku!” kata Ilham. Ilham melihat mata Putri melebar tapi kemudian dia tersenyum. “Apa maksudmu?” tanya Putri.  “Sudah jangan bohong. Aku tahu, mereka memberikan surat tuntutan atau semacamnya padaku, kan? Cepat serahkan!” kata Ilham tidak sabar. Nada suaranya meninggi sehingga membuat Putri ketakutan. “To-tolong jangan ikut campur dulu. Biarkan aku menyelesaikan masalah ini secara baik-baik,” kata Putri dengan nada suara yang gemetar. “Aku hanya minta surat, kan? Cepat serahkan!” kata Ilham. “Tidak. aku tidak bisa.” Putri menolak sambil menggeleng-geleng kuat. Ilham menghela napas. “Ya sudah, aku ambil sendiri.” Ilham melangkah cepat menuju kelas XI Bahasa. Putri berlari mengejarnya. “Pak Ilham, tunggu!” kata Putri. Ilham tidak perduli. Teriakan Putri membuat beberapa anak tertarik untuk mengetahui drama apa yang sedang terjadi. Termasuk Satya dan Yoga serta Viar. Tiga cowok itu keluar dari kelas mereka masing-masing dan melihat adegan kejar-kejaran antara Ilham dan Putri. Ilham memasuki kelas XI Bahasa. Dia menghampiri meja Putri lalu menumpahkan semua isinya hinga berserakan di atas meja. Dia lalu mengambil amplop warna putih diantara barang-barang tersebut. “Aku bawa surat ini. Lain kali kalau ada surat untukku segera berikan!” tegas Ilham. Ilham keluar dari kelas, dia mengabaikan siswa-siswi yang menatapnya penasaran. Putri terduduk lemas dan membenamkan kepala di atas meja. Satya, Yoga dan Viar bergeming di depan kelas. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. *** Putri berdiri dengan kaku di depan ruang redaksi Jurnalota. Ilham marah besar dan mengundang seluruh anggota dalam sidang istimewa. Tangan Putri serasa lemas dan tak kuat memegang engsel pintu. Di dalam sepuluh anggota Jurnalota telah menanti akhir karirnya sebagai pimpinan redaksi. “Putri.” Suara Anggi terdengar, gadis itu muncul dengan wajah prihatin. Dia meletakkan tangannya di bahu Putri mencoba menenangkannya. “Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa selama kamu tidak bersalah.” Putri menelan ludah, tentu saja dia sudah berbuat salah. Dia yang menghilangkan data di flashdisk itu. Itulah anggapan semua orang. Setelah menarik napas, Putri membuka pintu dan mendapati seluruh mata tertuju padanya. Putri menahan napas lalu melangkah ke tempat duduk yang disediakan untuk pimred tepat di samping Ilham. Setelah Putri dan Anggi duduk, Ilham segera membuka forum. “Apa kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian hari ini?” tanya Ilham. Tak satupun anggota berani menjawab sehingga Ilham meneruskan perkataannya. “Aku menemukan sebuah surat yang sangat lucu!” Ilham melemparkan surat tuntutan seluruh anggota ke lantai. Semua mata menatap surat itu dengan nanar. “Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian, kontroversi macam apa yang telah dilakukan Putri?” tanya Ilham. “Dia ... menghilangkan naskah majalah akhir tahun yang telah kami susun susah payah.” Mona memberanikan diri menjawab. “Apa masalahnya? Kalian hanya tinggal membuat lagi, aku juga sudah memberikan toleransi!” Ihlam menyegak sehingga membuat nyali Mona menciut. “Aku benar-benar kecewa, kalian itu tim! Apa kalian paham apa maknanya? Jika ada satu orang yang salah maka semua harus ikut menanggungnya. Bukannya malah menyudutkan orang lain dan memintanya mengundurkan diri!” Semuanya terdiam sambil menundukan kepala. “Kenapa hanya Putri yang menyimpan soft file itu? Kenapa yang lain tidak ada yang menyimpannya? Kalian pikir itu bukan tanggung jawab kalian?” bentak Ihlam. Ilham memelototi seluruh anak didiknya satu persatu namun tidak ada yang berani menjawab, mereka berpura-pura menunduk dengan penuh penyesalan. Putri meremas roknya. Air matanya sudah menggenang. Dia tidak berani menatap Ilham maupun teman-temanya. Pembelaan Ilham padanya justru semakin menyudutkannya. Teman-temannya pasti semakin membencinya. Putri menengadahkan kepala dan bertemu pandang dengan Anggi. Gadis itu berusaha menyematinya dengan memberi senyuman. “Baiklah, tuntutan kalian ditolak!” tegas Ilham. “Kalian semua kecuali Putri akan mendapat nilai D dan diskors dari kegiatan Jurnalota selama satu semester ke depan, jika kalian mau mengundurkan diri silahkan, aku hanya akan menerima anak yang memiliki loyalitas pada Jurnalota.” Ilham bangkit lalu berjalan keluar dari ruangan. Putri merasa tatapan teman-temannya semakin tajam padanya. Putri bangkit lalu mengejar Ilham. “Pak Ilham, tunggu. Tolong jangan berikan kami sanksi seberat ini, tolong beri kami toleransi,” pinta Putri. Ilham hanya menatap gadis itu dari bawah matanya dengan sinis. “Aku tidak memberikan sanksi padamu, tapi teman-temanmu perlu tahu apa yang disebut kerja sama tim, ini pelajaran penting bagi mereka.” Putri terkulai lemas mendengar jawaban Ilham, hampir saja dirinya roboh. Putri melihat teman-temannya berjalan keluar ruang redaksi dengan tatapan serasa yang menghujam jantungnya. Tanpa berkomentar apa-apa mereka pergi. Hati Putri mencelus, pertahanannya bobol, air matanya mulai mengalir. “Sudah kubilang jangan ikut campur ... beri aku waktu menyelesaikan masalah ini sendiri,” kata Putri sambil sesenggukan. Ilham tergegap melihat air mata gadis itu, dia lalu melengos sambil bersedekap. “Entah kapan selesainya kalau kamu yang mengurusnya,” komentar Ilham sinis. Putri mendongak dan menatap Ilham dengan garang hingga membuat Ilham hampir mundur. “Sekarang semua orang membenciku! Apa kamu puas?” Tanpa menunggu jawaban Ilham, Putri terhuyung pergi. Tak jauh dari ruang redaksi, Satya, Yoga, Viar dan Maya mengamati kejadian itu. Mereka telah lama menungu di luar dan mencuri dengar isi pembicaraan sidang istimewa Jurnalota. Mereka melewati Ilham begitu saja lalu mengejar Putri. “Put! Putri! Tunggu!” Empat orang itu memanggil-manggil nama Putri. Putri berhenti dan memandang sahabat-sahabatnya, air matanya tumpah. Maya memeluk Putri sebagai pelipur lara. Putri balas memeluknya dengan erat. “Aku harus bagaimana? Sekarang aku harus bagaimana?” tanya Putri disela tangisnya. Viar dan Yoga saling berpandangan sementara Satya memegangi dagunya. “Put, apa kamu masih ingat kejadian saat data di flashdisk itu hilang? Apa flashdisk itu sempat jatuh?”  Putri mengerutkan keningnya, dia tidak merasa pertanyaan Satya ada hubungannya dengan masalahnya saat ini tapi dia tetap menjawab. “Iya.” “Apa dia yang memungutnya?” Satya menunjuk salah seorang gadis diantara gerombolan anggota Jurnalota yang sedang berkerumun, entah apa yang mereka lakukan. Putri hanya mengangguk. “Kenapa kamu tanya itu?” Satya menyeringai. “Apa kamu ingin tahu kenapa dan bagaimana data di flashdisk-mu bisa hilang? Juga siapa pelakunya?” tanya Satya. Putri menggeleng. “Itu tidak penting lagi, datanya sudah hilang dan teman-temanku sekarang membenciku,” Satya tersenyum, dia tidak sependapat dengan Putri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN