Musang Berbulu Domba

1447 Kata
Satya berpapasan dengan seorang gadis yang tidak terlalu disukainya. Menurut Satya gadis itu berkepribadian ganda, di depan orang lain dia sangat baik dan manis namun di depan Satya dia bagai setan. Awalnya Satya menganggap hal itu terjadi karena pengaruh hormon kewanitaan, tapi sebuah peristiwa menyadarkan Satya bahwa hal itu benar-benar terjadi. Dia adalah Hyde-Jackyl di dunia nyata. Sosok yang dominan sebenarnya adalah Hyde sementara Jackyl hanyalah topeng semata. Gadis itu sanggup melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Gadis yang mengerikan. Gadis itu melengos saat tatapannya bertemu dengan Satya, dia lalu melewati Satya begitu saja. “Aku tahu kamu pelakunya,” kata Satya. Si gadis bergeming, dia menoleh pada Satya dengan menaikan sebelah alisnya. Hanya di depan Satya dia bisa bersikap seperti itu. “Kamu, kan, yang menghapus data di flashdisk itu!” tuduh Satya. Gadis itu tidak bereaksi, dia hanya tersenyum. “Bagaimana kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” Satya memegangi dagunya lalu berhipotesis. “Awalnya aku bertanya-tanya kenapa si pelaku harus menghapus data? Bukankah lebih mudah jika flashdisk-nya dicuri saja? Lalu aku paham bahwa si pelaku punya sebuah misi. Dia harus memperlihatkan bahwa data itu sebelumnya ada pada Putri dan hilang saat diberikan pada orang lain sehingga Putrilah yang akan dituduh. Jika yang hilang  flashdisk dan hilangnya di ruang redaksi bisa saja bukan Putri yang disalahkan. Si pelaku tidak ingin ada kesalahan semacam itu karena targetnya sejak awal adalah Putri, dan tentu saja si pelaku memerlukan saksi.” Gadis itu tertawa. “Hipotesis yang menarik, lalu bagaimana menurutmu caraku menghapus data itu?” “Jujur saja aku sempat terjebak, aku memikirkan berbagai macam trik sulit. Namun aku sadar bahwa cara sebenarnya sangat sederhana.” Satya mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya. “Flashdisk tipe ini diperdagangan dengan bebas. Mudah saja bagi pelaku menemukan yang serupa. Si pelaku hanya perlu menukarnya dengan flashdisk miliknya sendiri yang sudah terformat. Sambil menyerahkan flashdisk. Si pelaku berpura-pura menjatuhkannya lalu memungutnya dan dengan cepat menukar flashdisk tersebut. Seperti trik sulap boom... datanya hilang.” Si gadis mencibir. “Luar biasa, pemegang medali perak olimpiade matematika memang beda,” puji si gadis, “tapi apa kamu punya bukti?” Satya mengangkat bahu. “Itu tidak penting. Kamu sudah mendapatkan hukuman setimpal.” Satya tersenyum sambil berbisik. “Nilai D di rapormu.” Satya melihat tangan kedua gadis itu mengepal. Dia mulai terpancing! “Nilai dan reputasi segalanya bagimu, kan? Aku ingat bagaimana kamu memasukan obat pencahar dalam minumanku hanya agar aku batal mewakili olimpiade. Untung saja Yoga yang menghabiskan minuman itu sebelum aku sempat mencicipinya.” kata Satya sambil tertawa. “Kamu pasti belajar dari pengalaman itu hingga menciptakan trik serumit ini.” “Kamu bersikap manis pada kedua pihak. Mengadu domba mereka tanpa sepengetahuan siapa pun. Memastikan tidak ada satu pun anggota yang menyimpan>Gadis itu menggeram, pertahannya jebol. Dia tertawa mengejek. “Tidak masalah, itu setara. Putri akan dikucilkan mulai sekarang dan semester depan bisa saja dia dipecat.” Satya tersenyum kemudian melenggut. “Tentu saja, nilai D ditukar dengan teman? Sangat setara bagimu.” Satya menyeringai lalu bertepuk tangan. “Kalian bisa keluar teman-teman,” *** Anggi terbelalak, dia melihat seluruh anggota Jurnalota, bersama gerombolan Yoga serta Pak Ilham keluar dari balik tembok. Astaga! Dia dijebak! Putri dan Mona menatap Anggi tidak percaya. Padahal Anggi begitu manis dan baik. Ternyata dia hanya musang berbulu domba. Ilham menatap Anggi dengan garang. “Anggi kamu dikeluarkan!” Anggi tertawa. “Tidak masalah, aku akan keluar!” bentak Anggi. Semua orang terkejut. Tidak ada yang menyangka bahwa kepribadian Anggi yang sebenarnya seperti ini. Anggi memelototi Ilham. “Apa kamu pikir dirimu hebat? Kamu hanya orang payah yang tidak bisa menilai potensi orang lain. Apa yang kamu lihat dari pimred kesayanganmu ini?” kata Anggi sambil melirik Putri, “dia bahkan tidak bisa menulis. Tidak satupun karyanya dimuat di majalah. Tidak ada lomba yang dimenangkannya.” Anggi menunjuk dirinya sendiri. “Aku sudah memenangkan lima perlombaan dan Mona ....” Anggi melirik Mona sejenak dengan sinis. “Setidaknya beruntung pernah menang sekali. Tapi dia apa yang bagus darinya!” Anggi menunjuk Putri dengan jengkel. “Kalian lihat saja nanti! Jurnalota akan hancur tanpaku!” Anggi melangkah pergi, meninggalkan teman-temannya yang kini menatapnya dengan nanar. Nilai maupun teman semuanya telah diambil darinya, gara-gara Satya! Mona menatap Putri dengan berkaca-kaca. “Maafkan aku Putri, aku ... bodoh ... tidak seharusnya ....” Putri menghampiri Mona kemudian memeluknya. “Tidak perlu minta maaf, kita berdua sama-sama salah dan menjadi korban.” Mona menumpahkan air matanya. Semua orang menyoraki mereka. “Cium! Cium!” teriak Yoga iseng. Setelah Mona, seluruh civitas Jurnalota bergantian meminta maaf pada Putri. Satya tersenyum, akhirnya kasus ini resmi ditutup. Ilham bernapas lega kemudian menepuk belakang kepala Satya. “Kerja bagus, lain kali kubalas.” Ilham bertepuk tangan dengan keras sehingga seluruh perhatian teralihkan padanya. “Dengar semuanya, karena peristiwa ini nilai kalian aku naikan jadi B.” kata Ilham, seluruh anggota Jurnalota berseru girang. Maya tersenyum kecil. Dia lalu berpaling pada Anggie yang pergi menjauh. Entah mengapa ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dalam d**a Maya saat melihat punggung gadis itu. *** Putri melangkah riang menuju kelas. Peristiwa tadi membuatnya terkejut namun juga mengangkat semua beban dalam dirinya. Ternyata Mona tidak pernah memusuhinya seperti yang dia duga! Semuanya adalah manipulasi Anggie. Pendapat yang keluar dari Mona selama ini adalah akibat provokasi Anggi. Putri mengurungkan niat menuju kelas saat melihat Ilham duduk di sudut taman sembari merokok. “Dilarang merokok di sekolah!” tegur Putri. Ilham hanya tertawa sambil membuat kepulan asap di udara. Putri menghampiri Ilham lalu duduk di sebelahnya. “Aku tidak menyangka ternyata Anggir orang semacam itu,” keluh Putri. Ilham melenggut setuju. “Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu,” kata Ilham. “Orang seperti itu di dunia ini tidak hanya satu dua saja, jangan terkejut kalau kamu menemukan lebih banyak di dunia kerja nanti,” Putri menatap Ilham dengan nanar. “Tapi aku rasa kata-katanya masuk akal, dia memang lebih mumpuni. Kenapa kamu memilihku menjadi pimred? Aku ini tidak sehebat dia, tulisanku juga selalu ditolak penerbit,” kata Putri bimbang. “Kamu memiliki jiwa pemimpin. Aku sering mengamatimu dari kecil, jadi aku yakin akan hal itu,” puji Ilham. “Kamu ingat soal essay yang kuberikan untuk seleksi pimred? Semua jawabanmu memuaskan, kamu seorang promblem solving yang baik meskipun agak lama karena kamu kurang berani mengambil risiko, tapi setidaknya kamu lebih baik dari dua lawanmu,” jelas Ilham. “Dari jawaban kalian aku paham bahwa Anggi adalah tipe ambisius yang sering memaksakan kehendak, sementara Mona sama sekali tidak memiliki ambisi, Mona memang senang menulis, tapi dia tidak memikirkan perkembangan organisasi, kamu bukannya tidak berambisi, namun selalu berhati-hati, kamu merencanakan segala sesuatu dengan matang, menilai suatu hal dari berbagai aspek. Itulah yang membuatmu pantas menjadi seorang pemimpin,” Putri tertegun mendengar penuturan Ilham, dia tidak pernah menyangka ternyata Ilham memandang dirinya seperti itu. “Tapi sampai hari ini aku belum berhasil tembus penerbit manapun,” keluh Putri. Ilham menepuk pundak Putri perlahan. “Aku ini bisa melihat lebih dalam daripada yang terdalam dan aku yakin kamu punya potensi, kamu hanya perlu diasah sedikit lagi.” *** Satya memacu mesin motornya, sesekali dia melirik Maya yang duduk di jok belakang. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu, tetapi wajahnya tampak murung. Dia juga jadi lebih pendiam hari ini. “Ada apa? Kok kamu diem aja dari tadi?” tanya Satya penasaran akan sikap adiknya. “Entah kenapa aku agak nggak enak sama Kak Anggie, kita bongkar perbuatannya di depan semua orang begitu. Kasihan dia, sekarang dia pasti dikucilkan,” kata Maya. Dahi Satya mengkerut, dia tidak menyangka adiknya malah mengasihani musuh bebuyutannya tersebut. “Hah! Itu kan, salahnya sendiri. Itu ganjaran yang setimpal atas semua perbuatannya,” dengus Satya. “Ya, tapi aku tetap nggak suka cara Kakak. Seenggaknya kita bisa ngomong baik-baik dulu. Menegurnya sendirian nggak di depan semua orang begitu.” Maya masih tidak terima juga. “Sudah pasti dia nggak bakalan ngaku, emangnya kamu nggak lihat gimana reaksinya dia tadi!” Satya makin bersungut-sungut. “Kenapa sih, kamu ini? Dari tadi kamu belain dia terus. Mestinya kamu belain Kakak dong dan Putri!” protes Satya. Satya melihat Maya yang mengehela napas dari kaca spion. Gadis itu tampak menengadah dan memandang langit. “Aku … rasanya tahu gimana perasaan dia. Rasa putus asa karena nggak bisa menang dari orang lain walau sekuat apa pun kita berusaha. Terkadang aku aku juga berpikir untuk berbuat curang seperti dia. Kita ini manusia, kan, wajar jika kita berbuat salah.”             Satya tak ingin melanjutkan perdebatan dengan adiknya. Entah mengapa Satya tak pernah menang jika berhadapan dengan Maya. Dia memilih berkonsentrasi pada lalulintas di hadapannya.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN