Romansa

1214 Kata
Satya merenggangkan ototnya sambil memandang jarum jam tangannya, yang pendek menunjuk angka enam sedangkan yang panjang menunjuk angka lima. Satya yang hendak menuruni tangga berhenti depan pintu kayu dengan hiasan “Kamar Cewek” yang ditempel di depannya.             Satya memutar engsel pintu tersebut hingga terbuka lalu melongokkan kepalanya dari celah pintu.             “May, ayo berangkat.” Satya tertegun sejenak setelah menatap pemandangan yang ada di depannya. Adiknya Maya berdiri di depan lemari hanya dengan memakai selembar handuk yang menutupi tubuhnya yang masih setengah basah.             “Aku tunggu di bawah, ya,” lanjut Satya dengan nada suara yang dibuatnya senormal mungkin. Dia segera menutup pintu lalu agak berlari turun dari tangga menuju garasi. Dia mengabaikan ibunya yang memaki-maki karena dia masih suka berlari-lari di tangga seperti anak kecil. Ada hal yang jauh lebih berbahaya daripada makian ibunya, yaitu sesuatu dalam dadanya yang mulai tidak dapat dikendalikannya. *** Putri memandangi aplikasi w*****d melalui layar ponselnya. Pembacanya masih berkisar lima ratus orang saja, hanya ada beberapa puluh votes dan sama sekali tidak ada komentar. Putri mendesah tidakkah para pembaca w*****d itu merasa bahwa tulisannya ini menarik? Putri tidak habis pikir tulisan yang berada di peringkat teratas aplikasi menulis tersebut. Semua naskah itu terlihat seperti sampah bagi Putri, diksi yang dangkal, EBI yang tidak beraturan, plot hole di mana-mana! Apa sebenarnya yang membuat naskah itu lebih popular dari apa yang ditulisnya? Putri menghela napas panjang. Kemarin Ilham berkat bahwa bahwa Putri memiliki potensi. Putri sebenarnya ingin memercayai kata-kata Ilham itu, hanya saja sampai detik ini Putri tak menemukan potensi tersebut. “Putri, kamu nggak berangkat? Nanti terlambat, lho!” Ibu Putri mengingatkan sembari menunjuk jam dinding yang menggantung di meja dinding ruang makan. Jam itu sudha menunjukan pukul enam lebih seperempat. Hanya kurang lima belas menit lagi, bel masuk sekolahnya akan berbunyi. Putri bergegas meletakkan piring bekas sarapannya di bak cuci piring lalu mencium pipi ibunya. Setelah mengucap salam, Putri melangkah menuju garasi. Ketika membuka rolling door garasinya, dia melihat sosok Yoga yang meringis di depan pagar rumahnya. “Boleh nebeng?” tanya Yoga. “Bukannya kamu biasanya bareng Viar?” Putri balik bertanya sambil menuntun motornya keluar dari pintu garasi. “Motornya Viar lagi masuk bengkel. Dia tadi sudah berangkat duluan naik bus. Kamu tahu sendiri kan, uang sakuku nggak cukup buat naik bus,” jawab Yoga. “Kalau begitu mestinya kamu bareng Si o***g saja, kan?” Putri mengawasi Yoga yang tampak mencebik tidak senang. Entah apa yang membuat pemuda itu begitu antipasti pada kakaknya sendiri. Menurut pendapat pribadi Putri, Ilham sebenarnya bukan kakak yang kejam, malah dia cukup perhatian. Hanya saja Ilham memang memiliki hobi menjahili adiknya.   “Lebih baik aku jalan kaki saja daripada bareng dia!” umpat Yoga. “Ya sudah, jalan kaki saja ya,” kata Putri sambil menyalakan mesin motornya. “Kenapa sih, kamu kejam banget!” Yoga memasang tampang memelas, sehingga Putri tertawa. “Akhirnya senyum juga,” kata Yoga, “dari tadi dahimu berkerut terus.” Yoga menunjuk dahi Putri. Putri tersenyum kecil. Dia tak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Yoga. “Ada masalah apa lagi? Bukannya masalah Jurnalota sudah beres?” tanya Yoga. Putri tak menjawab. Dia hanya memacu motornya sampai ke depan pintu pagar yang telah digeser oleh Yoga. Putri mundur ke jok belakang agar Yoga bisa duduk di depan yang memboncengnya. “Nggak ada apa-apa, kok,” kata Putri sambil tersenyum tipis. Yoga tak berkomentar lagi. Jika Putri sudah berkata begitu, artinya Putri melarangnya untuk ikut campur urusannya. Yoga naik ke jok di depan motor mathic Putri lalu memacu mesin motor tersebut. Selama beberapa menit mereka melaju menuju sekolah dalam diam, sampai akhirnya Yoga kembali membuka suara. “Put, seandainya aku suka sama kamu, apa kamu sudah mau jadi pacarku sekarang?” tanya Yoga. Putri tepekur mendengar ucapan Yoga tersebut. Dia memandang Yoga yang meliriknya sambil tersenyum kecil. “Aku sekarang sudah kurus, lho!” Putri terdiam. Dirinya seolah merasakan déjà vu. Ya, hal yang sama pernah terjadi tiga tahun lalu di atas sepeda pancal di jalan yang sama menuju sekolahnya SMP. Saat itu pun Putri duduk di jok belakang seperti ini sementara Yoga mengayuh sepeda di depannya. Yoga jaman SMP berbeda jauh dengan Yoga yang sekarang. Yoga dulu sangat gemar makan. Berat badannya sekitar delapan puluh kilo padahal tinggi badannya hanya seratus enam puluhan. Sementara tinggi Yoga sekarang sudah bertambah dua puluh sentimeter lebih dan berat badannya sudah menyusut dua puluh kilo lebih. Akan tetapi kalimat yang mereka katakana sama. “Seandainya aku suka sama kamu, apa kamu mau jadi pacarku?” Putri yang waktu itu bodoh dan polos dengan gampangnya menjawab, “Nggak, aku nggak mau punya pacar gendut!” Lalu apakah jawaban yang akan diberikan Putri sekarang? “Nggak! Aku nggak mau punya pacar yang nilainya terendah di kelas,” kata Putri akhirnya. Dia baru bisa menjawab setelah sekitar lima menit berpikir. Yoga tertawa kecil. “Yah, kayaknya kamu nggak akan pernah mau jadi pacarku,” kata Yoga santai. Putri terdiam. Padahal dia sendiri yang sudah memutuskan menjawab demikian. Tapi kenapa dadanya malah terasa sakit? ***             Tubuh Viar bergoyang-goyang di dalam bus kota yang penuh sesak. Dia tidak mendapatkan tempat duduk sehingga terpaksa berdiri. Bus kembali berhenti, ada satu penumpang yang masuk lagi dari pintu depan. Viar mengumpat dalam hati. Supir bus kota memang tidak pernah kira-kira. Mau sampai kapan supir itu terus menaikkan penumpang sementara dia sudah berdesak-desakan seperti ini.             Viar mengamati si penumpang wanita yang baru masuk itu. Perut wanita itu agak membuncit yang menandakan bahwa dia sedang hamil. Wanita itu celingukan memandangi seluruh kursi yang sudah penuh lalu menghela napas dan mengusap-usap perutnya.             Viar menggaruk-garuk telinganya yang tidak gatal. Para penumpang bus ini tidak ada yang punya perasaannya? Kok mereka diam saja melihat ada wanita hamil begini nggak dapat tempat duduk. Di luar dugaan Viar, seorang gadis tiba-tiba bangkit dan menawarkan kursinya pada wanita hamil itu. Wanita hamil itu tampak sangat berterima kasih. Si gadis itu jadi berdiri tepat di depan Viar.             Gadis itu tersenyum ketika matanya bertemu dengan Viar. Senyuman yang sangat manis sehingga membuat Viar jadi salah tingkah dan membuang muka. Bus yang melaju cepat membuat si gadis sempat goyah tetapi segera berpegangan pada bangku sehingga tidak jatuh. Kepala gadis itu terhuyung ke depan wajah Viar sehingga Viar dapat mencium aroma wangi dari shamponya. Aroma yang membuat Viar merasakan sensasi aneh. “Aduh, maaf,” kata si gadis saat sadar kepalanya hampir menabrak dagu Viar. Viar hanya tersenyum kecil. Lagi-lagi dia merasa canggung pada gadis yang baru pertama ditemuinya itu. “Itu gantungan Alice In Wonderland, ya.” Cewek itu menunjuk-nunjuk gantungan boneka berwujud gadis kecil berambil kuning dengan baju biru dan celemek putih yang terkait di tas ransel Viar. Panas serasa menjalar ke pipi Viar. Gila! Cewek ini pasti menertawakannya karena memiliki gantungan feminism seperti itu. Ini salah kakaknya! Yang memaksa Viar memakai gantungan itu. “Aku juga suka Alice in Wonderland,” kata si gadis diluar dugaan. Dia menunjukkan gantungan yang sama persis menempel pada tasnya sembari tersenyum. Viar terpegun. Seumur hidupnya baru kali ini dia bersyukur telah menerima gantungan kunci itu dari kakaknya. “Oh, aku harus turun,” kata gadis itu ketika melihat keluar jendela. Saat gadis itu hendak melangkah menuju pintu keluar bus, Viar mengucapkan satu kata yang tak pernah diduganya akan meluncur dari mulutnya. “Boleh minta, nomer HP?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN