Segala dipersembahkan seperti keadaan telah diatur, padahal Tristan sama sekali tidak merencanakan pulang di saat hari lahir nya. Dia menerima kue bulat dari Fredi, menyalakan satu lilin di bagian tengah lalu meniupnya. Namun, Tristan tidak mengerti saat Fredi dan Feodora menatap nya penuh ketelitian. "Apa … Aku terlalu cepat?" "Daddy, kenapa kau tidak berdoa?" tanya Fredi bingung, dia selalu diajarkan untuk melakukan hal semestinya. Berdoa ketika hendak meniup lilin. "Um …," Tristan menggaruk keningnya. "Ya, aku selalu berdoa meski tidak menutup lilin." "Kau … Tidak punya harapan apa pun, Pak?" sahut Feodora ingin tahu. Harapan? Tristan menatap kosong kue di tangannya. "Harapan itu banyak, tapi kenapa mesti kita harus diperbudak oleh sesuatu yang belum nyata? Kenapa tidak lakukan apa

