Pengagum Rahasia
"Sudah kukatakan padamu berkali-kali, Scarlette! Kau tak bisa mengabaikan permintaan orang tuaku untuk berjumpa hanya karena jadwal promosi bukumu yang padat!" bentak seorang pria pada seorang wanita muda berambut ikal panjang sepunggung.
Wanita yang dibentak itu hanya membisu.
"Bagaimanapun jamuan sore ini sangat penting untuk keluargaku. Dan kau harus hadir sebagai calon menantu yang baik!" paksa pria itu lagi.
"Aku tidak bisa membatalkan acaraku lagi, Arron. Kemarin kau sudah membuat fansku kecewa dengan mempersingkat waktu diskusi buku menjadi hanya tiga puluh menit saja. Semua ini penting untuk ratting penjualan bukuku," sergah wanita itu dengan wajah merah padam menahan kesal.
Dilihat dari bahasa tubuhnya mereka sepertinya sepasang kekasih yang sedang beradu argumen.
"Siapa peduli? Kau salah satu penulis yang bernaung di bawah penerbitan milikku dan aku berhak melakukan apapun yang aku mau! Kau harus ikut mauku!" titah Arron, pria tampan namun arogan itu pada wanitanya.
Scarlette hanya mendegus kesal. Ia tak ingin memperpanjang pertengkaran dengan Arron, kekasih sekaligus CEO sebuah perusahaan penerbitan di mana ia bernaung selama ini.
Scarlette sendiri adalah seorang penulis muda yang baru saja naik daun. Lima bukunya telah terbit dan salah satunya sedang dalam masa promosi. Satu lagi, ada yang tengah diadaptasi untuk menjadi sebuah film layar lebar. Bisa dibayangkan bagaimana padatnya jadwal Scarlette sepanjang hari, minggu bahkan selama satu bulan penuh.
"Aku sudah mengatur semuanya, Sayang. Percayalah meski tak hadir dalam setiap sesi bedah buku dan jumpa fans, grafik penjualan bukumu tetap akan menjadi yang nomor satu. Kau lupa siapa aku? Tunanganmu ini adalah CEO perusahaan tempatmu bernaung. Aku yang akan buat grafik penjualanmu selalu bagus," rayu Arron melembut.
Pria itu segera merengkuh Scarlette dalam pelukannya dan mulai hendak mengecup lembut bibir kekasihnya.
Scarlette membuang muka karena masih kesal. Ia tak ingin disentuh Arron saat sedang emosi seperti ini.
Arron meraih wajah Scarlette kasar dan mengarahkan ke hadapannya. Pria itu dengan arogan segera mengecup bibir Scarlette dan melumatnya. Sesuatu yang selalu dilakukan Arron saat Scarlette membantah permintaanya.
Mau tak mau Scarlette meladeni sikap Arron. Ia membalas singkat lumatan Arron pada bibirnya. Namun ia menjauhkan tubuhnya, saat tangan Arron bergerak meminta lebih.
"Jangan begini, aku tak enak dengan yang lain," tolak Scarlette sambil menunduk. Ia berusaha menyembunyikan raut wajah kesalnya dari Arron.
"Bersiaplah, pergilah ke salon dan belilah sebuah mini dress cantik untuk sore ini. Tampillah sempurna di hadapan keluargaku, Sayang," ujar Arron sambil menyelipkan kartu kredit platinumnya pada genggaman Scarlette.
Arron lalu pergi meninggalkan Scarlette untuk melakukan pekerjaannya. Ia menghubungi pemilik acara untuk memintakan ijin Scarlette yang mendadak tidak bisa hadir dalam acara bedah bukunya tersebut, sebagai ganti ia akan memberikan diskon pada setiap pembeli yang hadir pada acara ini.
Scarlette menghela napas lelah. Ia tidak suka sikap arogan Arron yang tak pernah henti mengontrol hidupnya. Pria itu memang yang membuat Scarlette cepat melejit dari hanya seorang penulis baru menjadi penulis muda yang mulai diperhitungkan.
"Aku memang ingin karirku berkembang, tapi tidak seperti ini yang kuinginkan," desis wanita muda bermata almond, dengan bulu mata lentik dan hidung mancung itu. Dua bening meleleh dari dua sudut netranya.
Scarlette terisak perlahan, lalu mengusap bulir bening tersebut dengan telunjuk lentiknya, saat seseorang memasuki ruangan tempatnya berada.
Seorang pria masuk dengan wajah tampan namun agak nyentrik, khas seorang seniman. Scarlette meliriknya sekilas lalu gegas berlalu untuk pamit pada manajer toko buku yang telah mengadakan acara meet n great penulis untuknya.
"Maafkan saya, Pak. Hari ini terpaksa saya tidak bisa hadir karena kepentingan lain. Sampaikan salam saya pada mereka," pamit Scarlette merasa tak enak.
"Oh nggak apa-apa, Scarlette. Bos Arron sudah urus semuanya. Saya sudah undang penulis lain sebagai pengganti kok. Yang di ruang tunggu itu. Dia seorang penyair yang kebetulan juga sedang menerbitkan buku kumpulan puisinya," jelas sang manajer sambil menunjung pria aneh yang dilihat Scarlette beberapa saat lalu.
Scarlette hanya menyunggingkan senyum tipis sebagai tanda sopan santun sebelum segera berlalu untuk memenuhi pinta Arron bersiap-siap datang ke acara keluarganya sore ini.
Scarlette duduk malas di bangku penumpang dan membiarkan mobilnya melaju. Untuk membunuh waktu, wanita itu membuka ponselnya dan memeriksa pesan masuk.
[Cahaya yang menyala di matamu bersinar di udara malam. Di bening tatapanmu telah membangun irama indah di jantungku]
Sebait puisi terkirim ke ponsel Scarlette.
Bibir Scarlette menyunggingkan senyum tipis. Ia membaca puisi itu sekali lagi dengan suasana hati yang sudah 180° berubah riang.
[Apakah engkau sudah paham? Berapa kali lagi harus kuisyaratkan kesepianku yang paling hening. Mungkin ketika matahari berubah menjadi kuning. Kau baru menjelma menjadi bintang]
Baru saja wanita cantik itu hendak membalasnya, sebait puisi lain muncul di layar pesan obrolan yang tengah dibaca Scarlette berulang-ulang tersebut. Senyumnya mengembang sempurna pertanda moodnya sudah kembali baik-baik saja.
"Kita sudah sampai, Non," ujar sopir yang membawa Scarlette.
Scarlette batal membalas pesan. Ia masih menggenggam ponselnya dan menuruni mobil yang telah tiba di lokasi. Wanita itu memasuki butik dan memilih-milih pakaian.
"Aku mau sekalian paket spa lengkap dengan make up dan hair do untuk sekarang, bisa?" tanya Scarlette pada pegawai butik yang melayaninya.
"Saya pesankan sebentar, Mbak. Nanti setelah dapat dressnya, kita bisa naik ke lantai dua ya," jawab pegawai tersebut padanya.
[Kau turun dan berenang di atas lautan asmaraku. Menggelinjang menarik masa depanku yang berbicara terbata-bata di pojok ruangan]
Nomor yang sama kembali mengirimi Scarlette sebait puisi lain. Jemari lentik Scarlette bergerak memeriksa pesan itu dengan senyum makin merekah. Wanita itu kembali menemukan semangatnya.
Scarlette memilih gaun selutut berwarna hijau mint dengan aksen tule dan pita yang sederhana. Ia memberikan gaun itu pada pegawai butik lalu beranjak memilih aksesoris untuk pelengkap penampilannya.
"Sudah, itu saja. Apa aku langsung naik untuk spa dan perawatan selanjutnya?" tanya Scarlette.
Pegawai toko yang mendampinginya mengangguk dan mengantarkan Scarlette ke lantai dua untuk memulai rangkaian perawannya. Kurang lebih dua setengah jam Scarlette habiskan untuk mempercantik diri. Ketika pada akhirnya ia telah siap pergi ke pesta, Arron sudah menunggunya di lantai satu butik tersebut.
"Sayang, kau selalu cantik dan memukau," bisik Arron sambil merengkuh pinggang Scarlette dalam pelukannya. Pria itu merangkul kekasihnya untuk keluar butik dan masuk ke dalam mobilnya.
[Cinta, dengan apa kugoreskan keheningan. Hingga kau menghampiriku tanpa berkata tidak. Mengisi hari depanku dengan warna]
Pesan puitis itu kembali datang saat Scarlette sudah duduk manis di dalam mobil sport Arron yang siap membawanya ke pesta.
[Tunggu aku di studio malam ini. Aku akan datang setelah jamuan makan dengan keluarga Arron]
Scarlette membalas pesan itu, lalu menyimpan benda pipih berharga belasan juta hadiah dari Arron itu dalam tas tangannya.
"Kau siap pergi, Sayang?" tanya Arron sambil mengelus pipi Scarlette dengan punggung tangannya.
Scarlette tersenyum dan mengangguk manis pada Arron. Membiarkan pria itu menyetir mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan lain menggenggam tangan Scarlette penuh cinta.