"Aku butuh bantuanmu."
Itulah yang dikatakan Rania saat meneleponnya tengah malam setelah 6 tahun wanita itu sama sekali tidak pernah menghubunginya. Membuatnya terkejut dan nyaris tidak percaya, tapi suara itu tidak mungkin salah dikenali. Awan akan selalu mengenalinya di mana pun.
Awan masih belum bisa mencerna situasi apa yang membuat Rania menghubunginya setelah sekian lama, tapi Awan punya dugaan. Nada suaranya tidak mungkin salah dimengerti.
Rania ketakutan.
Terhadap apa?
Awan sama sekali tidak punya petunjuk.
Sejauh yang ia tahu, Rania memiliki pernikahan yang bahagia dengan suaminya. Bukannya ia mencaritahu atau apa... hanya terkadang saat ia penasaran ia akan melihat keadaan Rania. Dan dari pengamatannya, Rania tidak terlihat seperti orang yang akan mengalami situasi sulit.
Meski begitu....
"Kau tahu ponsel itu tidak akan bisa bicara kan?"
Awan berpaling, menatap Laut yang melenggang masuk seolah dia pemilik tempat ini.
"Apa yang kau lakukan di sini? kau tahu ini masih terlalu pagi untuk kunjungan tidak diinginkan kan?"
"Terlalu pagi?" dengus Laut. "Lihat!" tukasnya sambil menyibak tirai jendela ruang kerja Awan, membuatnya segera memejamkan mata saat cahaya matahari menyeruak masuk seperti tumpahan teh.
Sial.
Berapa lama ia duduk di sini?
Laut menatap Awan dengan tatapan penuh selidik. "Apa yang kau pikirkan sampai membuatmu kehilangan jejak waktu?"
Laut berjalan ke kulkas mini yang ada di dekat sofa dan membukanya. Ia menarik dua botol minuman energi, melemparkan salah satu isinya pada Awan sebelum menghempaskan tubuhnya sendiri ke sofa.
"Jadi...?" Laut menunggu sambil meneguk minumannya. "Apa yang terjadi?"
"Bukan apa-apa." Awan hanya menatap botol minumannya tanpa minat. Pikirannya penuh dengan banyak sekali kemungkinan. Ia ingin menemui Rania begitu wanita itu menelepon, tapi Rania memintanya untuk menunggu dan setelah apa yang terjadi di antara mereka Awan akan melakukan apa pun yang diminta Rania. Termasuk menunggu.
"Bukan apa-apa, tapi wajahmu seperti orang yang sedang putus cinta."
Kalimat itu membuat Awan mengangkat kepala. "Apa katamu?"
"Jadi benar. Siapa wanita itu? Apa kami perlu turun tangan? Langit pasti tidak akan keberatan."
"Apa yang tidak akan membuatku keberatan?"
Keduanya menoleh bersamaan. Langit berjalan masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, tepat di samping Laut. Wajahnya terlihat lelah.
Awan menatap kedua saudaranya bergantian. "Kalian tahu ini rumahku kan?"
Laut mengangkat botol minumannya seperti mengajak bersulang. "Terakhir kucek ini memang masih rumahmu kecuali kau menjualnya dan tidak memberitahu kami."
"Apa kau mau menjual tempat ini?" sambung Langit, tiba-tiba terlihat antusias. "Aku mau membelinya, Senja pasti suka dengan pemandangan—"
"Apa yang kalian lakukan di sini?" potong Awan, melipat lengannya di depan d**a saat menatap kedua saudaranya.
"Apalagi? Memastikan kau masih hidup."
"Dan kau?" Awan menatap Langit. "Kau pria yang sudah menikah, apa istrimu mengusirmu?"
Langit tersenyum lebar dan Awan harus mengakui kehadiran Senja-lah yang membuat senyum itu sekarang lebih mudah muncul di wajah kakaknya yang selalu begitu serius dan lebih suka bekerja.
"Sudah pasti ya," Laut yang menjawab. "Kakak ipar kita mungkin menendang bokongnya dan membuatnya jadi gelandangan, ckckck," Laut memasang ekspresi menyedihkan yang berlebihan.
Langit seperti biasa mengabaikannya, fokusnya kembali pada Awan.
"Ada apa?" tanyanya serius.
Inilah yang ia benci dari Langit. Sebagai anak pertama, kakaknya seolah punya radar saat salah satu dari mereka punya masalah. Meski dalam hal ini bukan sepenuhnya masalahnya.
"Apanya yang ada apa?" Awan masih mencoba menghindar.
"Wajahmu..." Langit menunjuk wajah Awan. "Jelas-jelas menuliskan, "Aku punya masalah di sini."
Awan terbelah antara mengatakan yang sebenarnya atau tetap merahasiakannya. Tapi tanpa bantuan saudara-saudranya, rencananya mustahil dijalankan. Dan saudara-saudaranya tidak akan membantunya kecuali ia mengatakan alasannya.
Hanya ada satu solusi.
"Aku butuh bantuan kalian."
Langit menarik botol minuman dari tangan Laut, membuat pria itu menggerutu, tapi membiarkannya.
"Bantuan seperti apa?"
Awan berdiri dan menghampiri saudara-saudaranya di sofa. Berbeda dengan Langit yang sering bekerja dari gedung pencakar langit, Awan lebih banyak bekerja dari rumahnya. Ia cenderung menghindari interaksi dengan orang lain kecuali jika benar-benar diperlukan.
"Aku ingin menggunakan estate-mu."
Satu alis Langit terangkat, rasa penasaran menghiasi wajahnya. "Dan kenapa kau membutuhkan estate itu? kau mau bertapa di sana?"
Laut tertawa terbahak-bahak. Awan menendang kakinya dengan jengkel.
"Bukan untukku. Untuk seseorang. Kenalan," tambahnya buru-buru begitu melihat ekspresi kedua saudaranya.
Laut mendekat, nyaris menempel pada Awan sekarang. Matanya menyiratkan seperti orang yang baru mendapatkan harta karun.
"Kenalan? Seorang pria selibat sepertimu punya kenalan? Siapa? Apa dia cantik? apa dia tinggi? Punya bibir menggoda seperti Angelina Jolie atau—"
Awan mendorong adiknya dengan kuat. "Aku tidak bilang dia wanita."
"Pasti wanita."
Awan memilih untuk tidak menggubrisnya. "Jadi, bagaimana? Apa kalian butuh estate itu?"
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Selama yang diperlukan. Aku bisa saja memberikan penthouse-ku, tapi dia membutuhkan tempat di mana tidak ada internet dan terpencil."
"Tunggu! kau bilang memberikan bukan meminjamkan, sekarang aku benar-benar penasaran siapa wanita itu. Apa dia penyebab selama ini kau selibat?"
Ya Tuhan!
Awan tidak tahu bagaimana ia bisa punya saudara seperti Laut yang mulutnya sama sekali tidak punya filter. Daripada membalas Laut dan memberi makan rasa penasarannya Awan lebih memilih tidak menjawabnya.
"Oke."
Hanya itu yang Awan butuhkan. Ia tersenyum berterima kasih. "Aku akan memberikan Rosie pada Senja. Itu ucapan terima kasihku."
"Sial, dia pasti wanita yang sangat spesial kalau kau sampai memberikan kuda kesayanganmu pada kakak ipar kita. Siapa namanya?" Laut mendekat, menyenggol pundak Awan. Tidak seperti Langit yang menunggu informasi dengan sabar, Laut seperti anjing dengan tulang jika menyangkut tentang informasi keluarga.
Awan mendorong kepala Laut. "Bukan urusanmu!"
"Hei, itu tidak adil," protes Laut. "Aku sudah berusaha mendapatkan Rosie tapi tidak pernah berhasil dan sekarang kau memberikan kuda Friesian itu secara cuma-cuma demi mendapatkan estate? Aku akan—"
"Perintahkan salah satu anak buahmu untuk mengikuti Raka Alvarendra," potongnya tidak sabaran dan segera berdiri. "Kalau berhasil, aku akan memberikan nomor Clara. Bagaimana?"
Laut melongo. "Raka Alvarendra? Maksudmu aktor papan atas dengan segudang prestasi dan menantu idaman seluruh Indonesia itu?"
Awan mengangguk. Ia masih belum yakin, tapi Awan punya dugaan kuat kalau semua ini berhubungan dengan Raka, suami Rania.
"Ikuti dia. Jika ada yang tidak biasa, aku ingin diberitahu," katanya dan berbalik pergi.
"Hei kau mau ke mana?!"
Awan berhenti. "Sekali lagi, bukan urusanmu."
Ia masih bisa mendengar sumpah serapah saudaranya saat Awan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Rania.
"Hei," sapanya lembut begitu sambungan terhubung.
"Aku sudah mendapatkan yang kau butuhkan. Kirimkan lokasimu, aku akan datang."