Chapter 1

996 Kata
"Ini surat cerai yang begitu kau inginkan!" Kertas berhamburan di udara sebelum menggores wajah Rania. Rasa perih menusuk pipinya dan saat Rania menyentuhnya ia melihat darah di ujung jarinya. "Seharusnya kau bersyukur, wanita cacat sepertimu bisa menikah dengan pria sepertiku. Kau pikir ada pria yang mau menikahimu selain aku?" Rania diam seribu bahasa, bukan karena ia tidak ingin membalas, tapi saat tekanan begitu mencekik ia selalu kesulitan berbicara. Kata-kata seolah memusuhinya. Rania membisu, berharap segalanya berakhir dengan cepat, tapi tentu saja ia salah. Langkah kaki yang lambat dan teratur itu membuat tubuh Rania gemetar, tahu apa yang sebentar lagi akan ia alami. Rania akhirnya mendongak, menatap suamimya—mantan suaminya—dengan mata membeliak. "Ra... raka..." suaranya keluar dalam bentuk kepanikan saat pria bermata tajam dan penuh kebencian itu memangkas jarak di antara mereka. "Aku memberikan segalanya dan ini yang kau berikan sebagai balasan?!" Rania mencoba berlari, tapi tarikan kuat di rambutnya membuat usahanya sia-sia. Rasa sakit yang membutakan menghantam kepalanya seperti palu godam. Rania merintih, tapi Raka seolah tuli dengan hal itu. Wajahnya begitu dekat hingga meninggalkan jejak panas di wajah Rania. "Akan kupastikan seluruh dunia mengecammu sebagai wanita jalang yang ingin mengincar hartaku, tapi kau tahu Rania..." Rania berusaha menarik diri, tapi tarikan pada rambutnya semakin menguat, seolah siap meretakkan tulang wajahnya. "Aku akan menceraikanmu tanpa uang sepeser pun," bisiknya kejam, seringai di wajahnya membuatnya terlihat seperti iblis dari neraka. "A...aku tidak me...menginginkan uangmu," gumamnya susah payah. Raka tertawa tanpa humor. "Tentu saja kau tidak menginginkannya," ejeknya. "Tapi bukan itu poinnya kan Sayang? Aku akan membuat seluruh dunia menghinamu sebagai wanita pengeruk harta sampai kau bahkan tidak berani menunjukkan wajahmu. Bagaimana? Apa itu bisa jadi hadiah perceraian untukmu?" "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya susah payah. "Kenapa?" bisiknya tajam, matanya menyala dengan amarah yang membuat setiap sel dalam tubuhnya berteriak ketakutan. "Aku memberikan segalanya untukmu dan kau menginginkan perceraian dan kau bertanya kenapa aku melakukan itu?!" "Kau... kau menyakitiku." "Menyakitimu?" Raka tersenyum sinis. "Ini yang akan kulakukan jika ingin menyakitimu." PLAK Tamparan itu membuat Rania terhuyung sebelum tubuhnya jatuh mendarat di atas marmer yang dingin dan menusuk. Sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, Rania merasakan tendangan di perutnya. Bug! Jeritan kesakitan lolos dari bibirnya, tapi Raka seolah tuli dengan hal itu. Pukulan demi pukulan menghantam Rania. Air matanya jatuh bersamaan dengan rasa sakit yang menumpulkan kesadarannya. Inilah akhirnya. Rania selalu ingin bebas. Pernikahan yang dulu ia harapkan akan jadi rumahnya kini menjelma menjadi neraka yang siap menelannya tanpa sisa. Darah menyembur saat Rania menyerah pada rasa sakitnya. Berakhir, pikirnya lega. "Rania! Ya Tuhan! Apa yang sudah kulakukan!" Di antara kesadaran yang semakin menipis, tubuhnya ditarik dalam pelukan yang seharusnya terasa hangat namun justru membuatnya mengigil. Ia mencoba bersuara, tapi lagi-lagi kata-kata itu hanya ada di kepalanya. "Maafkan aku Sayang. Aku akan memanggil dokter. Kau akan baik-baik saja." Sesuatu yang kenyal menyentuh keningnya. Rania ingin berkata kalau ia hanya ingin pergi, tapi tentu saja ia tidak bisa melakukannya dengan tubuhnya yang sekarat. "Maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku akan memanggil dokter. Rania Sayang, bertahanlah. " Raka menyebut namanya seolah ia satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap utuh, tapi Rania tahu itu salah. Raka tidak mencintainya. Raka tidak pernah membutuhkannya. "Sayang, bertahanlah, kumohon." Raka memeluknya begitu erat hingga membuatnya kesulitan bernapas. Rania terlalu lemah untuk protes. Tubuhnya serasa dicabik-cabik. Rania kembali batuk dan memuntahkan darah. "Aku akan menelepon dokter. Kau akan baik-baik saja, Sayang." Isak tangis mewarnai permintaan maaf dari bibirnya. Rania terlalu lelah untuk sekadar bicara. Rasa sakit di sekujur tubuhnya menumpulkan kesadarannya. Rania memejamkan mata, menyerah pada rasa sakit dan kegelapan yang ingin menelannya. Kali ini ia sungguh berharap tidak akan pernah melihat cahaya lagi. *** Rania membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah gesekan selang infus yang dingin di punggung tangannya. Rasa sakit ada di mana-mana. Namun, yang paling membuatnya mual adalah bau antiseptic tajam bercampur dengan aroma cendana milik Raka yang menempel di udara. Saat ia menoleh, Rania sadar ia berada di kamar. Kamar yang selama 4 tahun menjadi penjara hidupnya. Ia menarik napas yang membuat paru-parunya mengeluarkan protes, tapi Rania mengabaikannya. Ia memaksa diri untuk bangun. Ia tidak akan tinggal di neraka ini lagi. raka mungkin sedang minum sambil merasa bersalah di ruang kerjanya. Ini satu-satunya kesempatannya untuk melarikan diri. Tanpa memedulikan rasa sakit di tubuhnya, Rania mencabut selang infus di punggung tangannya. Aroma darah menyeruak, tapi Rania tidak punya waktu untuk mencemaskannya. Ia harus pergi. Pandangan Rania berkunang-kunang saat ia berjuang berdiri tanpa terjatuh, ia berkedip beberapa kali dan dengan langkah sedikit goyah Rania berjalan ke lemari, memasukkan beberapa pasang pakaian, uang yang berhasil ia kumpulkan ke ransel hitamnya. Rania juga memasang topi yang sama hitamnya untuk menyamarkan wajahnya. Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Waktu sempurna untuk meninggalkan semua kekacauan ini. Rania menyampirkan ransel di bahunya dan bergegas keluar tanpa suara. Ia mengedarkan pandangan dengan hati-hati. Begitu yakin sosok Raka tidak terlihat di mana pun, Rania cepat-cepat lari menuju pintu keluar. Ia hampir jatuh tersandung, tapi akhirnya berhasil keluar tanpa ketahuan. Rania tidak sadar ia menahan napas sampai udara malam menghantam paru-parunya. Kelegaan terasa seperti selimut hangat begitu sadar ia sudah bebas. Rania menatap tato kecil di pergelangan tangannya, tersenyum kecil pada ukiran rumit yang ia design sendiri. Sembari menghela napas, Rania mengeluarkan ponsel yang sengaja ia siapkan untuk rencana ini. Hanya ada satu nomor di dalamnya. Nomor yang selama 6 tahun terakhir tidak pernah ia hubungi. Tapi malam ini adalah pengecualian. Ia membutuhkan pria itu. Rania menimbang-nimbang cukup lama sebelum menekan nomornya. Sambil mengigit bibir, Rania menunggu sambungannya terhubung. Dia mungkin sudah mengganti nomor. Suara dalam kepalanya mengejeknya, tapi Rania mengabaikannya. Dia tidak akan mengangkat. Kenapa dia harus? Dia mungkin... "Halo." Suara itu berhasil mengirimkan getaran pada d**a Rania bahkan setelah sekian lama. Ia memejamkan mata, berusaha keras menahan air mata yang ingin jatuh. Cengkeraman di ponselnya mengerat saat bayangan yang berusaha keras ia lupakan berkelebat di kepalanya seperti kaset rusak. Ia menarik napas dalam. "Ini aku." suaranya serak, hampir pecah. "Aku butuh bantuanmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN