“Karena gue pengen jatuh cinta sama diri gue sendiri.”
Manggala dan Reina yang mendengar itu kemudian saling pandang, keduanya sama-sama tersenyum lebar sebelum melompat dan bertos ria.
“Lo datang ke orang yang tepat,” ucap Reina, gadis yang memiliki rambut lurus, sekali lihat saja Queen bisa menyadari bahwa perempuan yang ada di depannya itu memilih darah campuran.
“Kita belum kenalan kan?” Reina mengulurkan tangannya membuat Queen menatap ragu.
“Eh, maaf tangan gue kotor.” Manggala yang mendengarnya langsung memberikan selembar tisu basah pada Reina. Gadis itu lalu kembali menjulurkan tangannya ke arah Queen.
Queen bukannya tidak mau menjambat tangan mulus putih itu karena kotor atau tidak namun ia ragu apakah Reina benar-benar mau bersalaman dengan dirinya?
“Lo aja enggak bisa ngehargain diri lo sendiri, jadi wajar kalo orang lain enggak ngerendahin lo,” tutur Manggala yang bisa menebak apa isi kepala Queen. Seratus persen benar.
“Eh, lo enggak boleh ngerasa kayak gitu. Salah satu bentuk mencintai diri sendiri itu ya menghargai diri lo.” Reina menatap Queen seolah tengah memberi kayakinan terhadap gadis di depannya. “Kagum sama orang lain itu boleh tapi sewajarnya, karena kebetulan mungkin lo lihat baiknya aja, buruknya enggak. Lagi pula enggak ada manusia yang sempurna kok.”
Reina tersenyum lebar, matanya yang sipit kini hanya terlihat seperti sebuah garis, gadis berdarah Jepang itu menarik tangan Queen lalu menjabatnya. “Nama gue, Yamanaka Reina. Gue menjabat wakil ketua di Manggala and the gengs.”
Queen sekarang menjadi heran, jika kedua orang di depannya ini sangat baik, kenapa seluruh sekolah seolah takut pada Manggala and the gengs?
“Shiren kayaknya udah nunggu di bawah, gue sama Gala juga udah selesai piket. Jadi tunggu apalagi?! Ayo kita belanjaaaa!” seru Reina berlari masuk ke dalam kelasnya untuk mengambil tas.
Manggala yang mendengarnya ikut berseru riang seperti anak TK yang baru saja mendampatkan mainan. “Tunggu gue, Rei!”
Ketiganya lalu bergegas menuju parkiran karena sudah ada teman Gala dan Reina yang juga salah satu anggota Manggala and the gengs menunggu disana. Dan, benar saja, sebuah mobil sedan yang terlihat mewah terpakir apik di lahan parkiran yang terlihat kosong.
Queen mendadak ragu ketika hendak masuk ke dalam mobil karena bisa dibilang ini pertama kalinya ia menaiki sebuah mobil mewah. Manggala yang melihat itu tersenyum geli, membukakan pintu bagian belakang lalu menarik Queen masuk.
“Masuk aja, jangan takut. Shiren punya 10 kayak gini,” tutur Gala tanpa beban.
Laki-laki itu lalu ikut masuk ke dalam mobil tapi bedanya ia duduk dibagian depan bersama Shiren yang mengemudikan mobil.
“Siapa?” tanya Shiren, perempuan berambut pink lava itu menoleh ketika melihat sosok baru yang dibawa Gala dan Rein.
“Namanya Queenbe, panggil aja Ebi. Dia teman.”
Shiren mengangguk, tak kalah dengan Reina. Shiren memiliki wajah cantik dan manis, hidung gadis itu mungil namun terlihat pas dengan wajahnya juga kecil. Walau terlihat pendiam tegar, selintas gadis itu juga terlihat lemah.
“Gue Shiren, panggil aja itu,” ujar Shiren pendek.
Queen yang mendengarnya mengangguk, ia merasa semakin kecil ketika berada di antara Gala, Rein dan Shiren. Ingin rasanya ia mengatakan Tuhan tak adil karena menciptakan ketiga orang itu dengan wajah berlebih, namun gadis itu menggeleng, ia tidak boleh seperti itu. Apa yang diberikan kepadanya harus ia syukuri.
“Papanya Auriga kemarin datang ke rumah, katanya ada urusan sama Tou-san.” Rein memulai obrolan ketika mobil yang dikendarai Shiren berjalan.
“Auriga juga ikut, kayaknya laki-laki itu semakin gencar mau jadi pengganti Papanya,” tambah Rein yang mengingat malam tadi Auriga dan Papanya datang ke rumah untuk bertemu dengan Ayahnya.
“Auriga kan satu-satunya anak Om Andra yang diakuinya,” celetuk Shiren. “Kalo enggak salah, Auriga punya saudara satu ayah.”
“Gue ngelihat sendiri sih kalo Auriga itu emang anak kesayangannya Om Andra,” balas Rein, dia mengingat bagaimana ketika Andra begitu membanggakan putranya yang memang hebat.
Queen menyimak dengan jelas apa yang dikatakan Shiren dan Rein tentang seorang pria bernama Auriga. Tidak salah lagi, itu pria yang membuat dirinya menangis karena omongannya yang lebih pedas dari ibu-ibu komplek.
“Enggak usah bahas dia deh, benci gue,” celetuk Gala membuat Rein dan Shiren mengangguk, tahu betul jika Manggala dan Auriga adalah musuh bebuyutan.
Manggala memutar kepalanya pelan ke arah belakang, menatap Queen yang kini menatapnya. Laki itu tiba-tiba teringat sesuatu. “Ebi, jenis kulit wajah lo apa?”
Queen yang ditanya seperti itu memasang wajah bingung. Memang kulit punya banyak jenis?
“Eungg...” Queen memasang wajah bingung yang begitu terlihat jelas.
“Jangan bilang kalo enggak tahu?” tanya Reina yang ada disampingnya.
Queen dengan polos menggeleng, ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Gala.
“Jenis kulit itu kayak normal, kering, berminyak, sensitif,” jelas Reina dengan sabar. “Lo enggak tahu jenis kulit wajah lo sendiri?”
Queen menggeleng dan kedua gadis yang ada di depan itu memasang wajah terkejut, seolah ia baru saja melakukan dosa besar. Setelah mendengar penjelasan Reina, ia baru paham dan sering mendengarnya, namun Queen tidak pernah memusingkan hal itu.
“Lo bawa manusia dari mana sih, Ga?” bisik Shiren yang sebenarnya masih di dengar oleh Queen, gadis itu menundukan kepalanya.
Manggala yang melihat Queen bersedih menatap datar ke arah Shiren, membuat gadis itu meringgis. “Sorry, Queen, gue enggak bermaksud kayak gitu. Cuman agak aneh aja seorang perempuan enggak tahu hal itu.”
“Iya enggak papa, Kak Shiren,” angguk Queen sambil tersenyum kecil.
“Engga papa kalo lo belum paham, setidaknya lo punya kemauan untuk merubah diri. Okey?” Reina kembali menyemangati Queen, gadis itu menepuk-nepuk bahu perempuan di sampingnya.
“Gini, coba lo ingat-ingat biasanya setelah kegiatan dari pagi sampe sore, area mana aja yang berminyak?” Reina memulai penjelasannya, Gala dan Shiren yang melihat itu terkekeh. Gadis bermata sipit itu mirip sekali seperti seorang konsultan kecantikan dadakan.
“Kalo area T-zone—area hidung, dahi, dagu lo berminyak. Itu artinya jenis kulit kombinasi.”
“Tapi, kalo semuanyanya berminyak, tipe kulit lo berminyak.”
“Kalo minyaknya sedikit, berarti normal.”
“Tapi kalo kulit wajah lo gatal, memerah, meradang, berarti itu artinya jenis kulit lo sensitif mirip kayak Gala.”
Queen mendengarkan apa yang dikatakan Reina dengan baik, gadis itu lalu mengingat-ingat bagaimana kondisi wajahnya setelah seharian di luar, berminyak namun tidak semua area. Lebih tepatnya area yang disebut T-zone.
“Kayaknya kombinasi!” seru Queen yang girang, ia pun tidak tahu mengapa, namun rasanya bahagia saja ketika ia mulai belajar mengenali dirinya sendiri.
“Berarti sama kayak gue dong,” tutur Shiren, mengintip Queen dari cermin yang ada di depan. “Gue bakal rekomen skincare yang bagus untuk lo!”
“Jangan b**o, duit Ebi habis kalo pake rekomendasi dari lo!” sahut Manggala.
“Gue ada beberapa produk sih yang cocok untuk tipe kulit Queen, biar gue nanti aja yang cari. Tenang aja, enggak bakal bikin kantong lo bolong kok.”
Queen yang mendengar itu mengangguk agak ragu, agak sedikit ragu karena tahu betul bagaimana kantong mereka yang pastinya lebih tebal dari kantong Queen yang tipis bak sehelai sutra.
Namun, gadis itu tidak ingin mundur jika hanya masalah ini. Ia mungkin akan berhemat atau mulai mencari pekerjaan yang bisa dilakukannya di waktu senggang.
“Kalo kalian berdua aja yang beli bisa kan?” tanya Gala ketika mereka berempat masuk ke dalam sebuah Mall.
“Beli apa aja?” tanya Rein.
“Sabun cuci muka dari yang basenya water aja, terus toner, pelembab, paling penting sunscreen sih.” Gala mengangguk-angguk, mengingat apalagi. “Jangan lupa buat eksfoliasi dan terakhir obat jerawat, ini bisa banyak sih, nanti kita pilih aja yang cocok.”
Queen tidak bisa mengatakan apapun ketika mendengar kalimat panjang yang diucapkan Gala, tidak ada satu pun yang ia kenali kecuali sabun cuci muka dan obat jerawat.
“Gue sama Queen mau cari makan deluan, laper...” keluh Gala menarik tangan Queen meninggalkan Rein dan Shiren.
Queen hanya bisa diam ketika tangan Manggala yang terasa dingin mengegam tangannya, pria itu membawanya entah menuju kemana. Mereka berdua yang masih memakai seragam sekolah tentu saja menjadi perhatian orang-orang yang lewat.
“Gue lupa pake jaket, astaga!” Gala berdecak sendiri. Manggala tiba-tiba menarik tubuh Queen masuk ke salah satu toko baju dan lagi-lagi gadis itu hanya bisa diam.
Lima menit kemudian mereka kembali keluar, kali ini baju seragam Manggala tertutupi dengan sebuah hodie coklat muda dan Queen mengenakan sebuah sweater biru.
“Ga, lo enggak perlu beliin gue ini,” tutut Queen ketika berjalan sambil melihat price-tag sweater yang ia pakai. 500 ribu.
Astaga, Queen sudah dapat tiga baju bagus kalo uangnya dibawa ke toko baju biasa.
“Anggep aja hadiah perkenalan dari gue,” sahut Manggala enteng. Mereka kemudian berhenti di sebuah cafe yang menyediakan makanan ringan dan berat.
“Lo mau makan apa?” tanya Gala.
Queen menggeleng, ia harus menjaga uangnya tetap utuh sebelum Rein dan Shiren kembali membawa barang yang ia butuhkan. Gadis itu takut jika uangnya tak cukup untuk mengganti uang mereka.
Sebenarnya tadi Queen ingin ikut kedua gadis itu agar nanti bisa memperkirakan uang yang ia punya.
“Belanjaan lo sama Rein, udah gue bayar.”
Queen lagi-lagi tidak mengerti apa yang membuat pria yang ada di depannya ini sangat baik padanya. Mereka baru saja bertemu tapi Manggala sudah mengeluarkan banyak uang untuknya.
“Ga, sebenarnya, kenapa lo baik banget sama gue?” Queen akhirnya memilih bertanya. Ia tidak mau jika ternyata nanti Manggala menginginkan sesuatu darinya namun ternyata tak bisa ia berikan.
“Gue pengen nambah temen, setelah gue sadari temen gue terlalu sedikit.”
Queen mengerutkan dahinya, bingung. Kenapa dirinya? Bukannya semua orang sangat ingin menjadi teman Gala?
“Kenapa gue, Gala?” tanya Queen.
“Karena lo mau ngasih sesuatu yang beharga untuk gue.”
Gadis itu merasakan nafasnya tercekat, sesuatu yang berharga?
“Bekal makan siang lo.”