Satu-satunya orang yang tidak pernah akan bisa Queen bohongi adalah Mamaknya. Wanita yang sebentar lagi menginjak empat puluh tahun itu selalu tahu apa yang ia sembunyikan sepintar apapun ia menutupinya.
“Kalo beneran sakit, bikin surat aja, nanti Ayah kasih ke sekolah.”
“Coba sini Mamak cek dulu,” ucap Sari yang sedang menggoreng telor dadar menghampiri sang putri yang terduduk di meja makan, meraba kening anaknya. “Enggak panas kok ini, Queen bohong ya?”
Queen yang mendengar itu menggeleng dengan cepat, ia memasang wajah terlemah yang ia miliki. “Ayah lihatkan kalo muka Queen pucat?”
“Ini kamu pakai bedak kebanyakan, ngehabisin bedak aja,” sahut Sari yang menunjukan telapak tangannya ke arah sang suami lalu mengilapnya di apron yang terpasang.
Queen yang mendengar penyamarannya terbongkar oleh Detektif Sari mengerucutkan bibirnya sebal, gagal sudah ia libur hari ini.
“Buruan mandi, lima menit lagi berangkat. Sarapan di kantin aja, nanti Mamak kasih tambah uang jajan.”
Queen yang mendengarnya mengangguk, sedikit senang karena uangnya bertambah padahal kemarin masih tersisa banyak.
Gadis itu lalu masuk ke dalam kamarnya, saat hendak menghambil handuk, bayangan di cermin membuat Queen mengurungkan niatnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin lalu tersenyum kecil.
Menurutnya, wajah yang ia miliki tidak terlalu buruk. Ayahnya bahkan bilang bahwa wajahnya manis, hanya saja memang kadang jika terlalu banyak di luar ruangan, wajahnya jadi cepat berminyak dan kusam.
Helaan nafas terdengar dari bibirnya, gadis itu tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Queen hanya merasa tidak ingin ke sekolah hari ini, perasaannya masib belum sembuh. Dan, ia tidak ingin kembali menambah sakit hatinya.
Queen sudah menduga di perjalanan menuju sekolah dirinya akan terlambat hanya bisa pasrah ketika sampai di depan di sekolah, gerbang itu ternyata benar-benar sudah tertutup. Ia terlambat lima menit dan itu semua karena rencananya yang hendak pura-pura sakit.
“Ayah berangkat kerja aja, palingan bentar lagi gerbangnya terbuka.” Queen berusaha meyakini Ayahnya untuk meninggalkannya, Tanoto akhirnya mengangguk. Gadis itu melambaikan tangannya.
“EBIIII!”
Suara teriakan seseorang membuat Queen menoleh, gadis itu memejamkan matanya ketika mencium harum permen karet padahal orang yang memanggilnya itu masih. Apa pria itu mandi dengan parfum pagi ini?
“Lo telat juga, Bi?” Gala tersenyum lebar ke arah Queen yang membuat gadis itu sontak mengerjap-ngerjap. Sungguh, Manggala terlihat sangat bersinar.
“Iya, Kak,” jawab Queen mengangguk kecil.
“Enggak usah panggil Kak, panggil aja Gala.” Queen mengangguk lagi, ia masih menatap remaja laki-laki di depannya, memperhatikan wajah putih pria itu yang terlihat mulus dan bercahaya, ia yakin jika semut lewat disana akan langsung tergelincir atau menjadi buta.
“Oh iya, kemaren-kemaren maaf banget karena gue enggak jadi ngajakin lo pergi,” ucap Gala memanyunkan bibirnya. “Waktu pulang sekolah hari itu gue langsung dipanggil Kepsek buat ikut lomba di luar kota, ini aja baru balik, karena kecapekan gue telat bangun,” jelasnya panjang lebar membuat Queen terkesima.
“Jadi pulang nanti lo mau jalan sama gue?”
Queen memasang wajah kaget, ia menatap Gala sekali lagi, tidak menyangka karena untuk pertama kalinya ada seseorang laki-laki yang mengajaknya jalan.
“Bukan jalan yang kayak gitu ya, Bi.” Seolah tahu isi otak gadis di depannya, Gala mengatakan sesuatu sambil terkekeh. “Jalan kayak teman aja.”
Queen meringgis, tanpa diomong pun ia juga sebenarnya sadar diri. Tapi, tetap saja ia sedikit merasa bahagia. Setidaknya, awal harinya di sekolah ini tidak terlalu buruk.
“Mau ke mana Ka—Gala?”
“Gue mau ngajak lo beli skincare!” seru Manggala dengan binar di bola matanya. “Lo tahu enggak sih kalo lip balm yang gue suka itu ternyata keluarin warna yang gue suka!”
“Lo mau kan?” tanya remaja pria itu ketika melihat Queen terlihat ragu.
“Apa harus?” tanya Queen memandang Gala.
Gala yang mendengarnya mengangguk mengerti, Queen bukanlah gadis yang menomor satukan penampilan. “Enggak, lo boleh nolak kok. Gue itu nawarin, bukan maksain.”
“Maaf ya, Gal.” Queen jadi merasa tak enak karena menolak ajakan Manggala yang sebenarnya sudah baik padanya.
“Santai aja sih, cuman kalo berubah pikirian, datengin aja ke kelas gue. 11 Ipa 1, okey?” Queen mengangguk. Ia tidak yakin akan berpikirin untuk mengunjungi Gala.
“Satu lagi, Queen. Gue mau ngasih tahu sesuatu, merawat diri itu bukan cuman mau terlihat menarik di depan seseorang. Dengan lo peduli sama tubuh lo, itu tandanya lo mencintainya.”
“Bukannya sebelum mencintai seseorang, kita harus mencintai diri sendiri dulu?” tanya Manggala menatap gadis di depannya peduli.
Manggala bahkan tidak tahu apa yang membuatnya sepeduli ini pada Queen.
“Gerbang udah buka, gue pergi deluan ya!” seru Manggala menepuk bahu Queen pelan lalu melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah.
Queen yang mendengar perkataan Gala mau tidak mau memikirkannya, apa yang dikatakan laki-laki itu memang benar. Namun saat ini, ia masih merasa sudah cukup dengan dirinya yang sekarang.
Lagi pula Queen masih anak SMA, mungkin ia akan melakukan apa yang dikatakan Manggala nanti setelah kuliah atau mungkin saat kerja.
Queen mengetuk pintu kelasnya dengan perlahan, berharap guru yang hari ini mengajar memaklumi ketelatannya.
“Permisi, Buk. Maaf saya datangnya terlmbat.” Queen masuk ke dalam kelas, hendak menunduk untuk menyalami guru muda yang sedang mengajar di kelasnya. Jika tidak salah namanya, Bu Farida.
“Kamu enggak cuci muka dulu waktu ke sekolah?” tanya Bu Farida membuat tubuh Queen membeku. Jangan lagi, batinnya.
“Coba kamu ngaca di kaca kelas, kusam dan berminyak banget,” lanjut Bu Farida membuat suluruh perhatian siswa di kelas mengarah pada Queen yang ada di depan kelas sekarang.
“Coba kalo berangkat ke sekolah itu dandan sedikit, nanti siapa yang mau sama kamu?” tanya Bu Farida lagi sambil terkekeh, niatnya hanya ingin main-main namun sakitnya bukan main. Apalagi ketika hampir seluruh siswa di kelas ikut tertawa mendengarnnya, kecuali beberapa siswa, termasuk Sofia.
“QUEENBE KE SEKOLAH MAU BELAJAR BU, BUKAN CARI COWOK!” teriak Sofia dari bangkunya membuat seisi kelas langsung terdiam, bahkan Bu Farida yang mendengarnya ikut bungkam.
“Ah. Iya, silahkan duduk aja, Queen. Lain kali jangan telat.”
Queen mengucapkan terima kasih lalu disambut dengan tatapan khawatir oleh Sofia ketika duduk di bangkunya. Gadis itu tersenyum kecil, mencoba mengatakan pada teman sebangkunya itu bahwa ia baik-baik saja.
Pelajaran kemudian kembali dilanjutkan dan selama itu Queen tidak bisa fokus dengan apa yang disampai Bu Farida.
Gadis itu menghela nafasnya lega ketika akhirnya jam Bu Farida selesai dan ditambah guru yang masuk selanjutnya berhalangan hadir sehingga mereka akan kosong hingga jam istirahat.
“Queen, lo baik-baik aja kan?” tanya Sofia menatap ke arah gadis itu yang kini tersenyum kecil.
“Gue pengen bilang gue enggak baik-baik aja, Sof.”
“Emang s****n banget itu Bu Farida, candaanya berlebihan padahal enggak lucu! Fak!” umpat Sofia yang memang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada seseorang.
“Lo mau pulang atau gimana?” tanya Sofia yang kini memijiti lengan Queen, hati gadis itu merasa ikut sakit ketika sahabat terbaiknya dihina. “Lo kemarin baik-baik aja kan waktu enggak ada gue?”
Queen tidak menjawab dan itu membuat Sofia kembali memasang wajah khawatir. Ia tahu betul jika gadis yang saat ini di sampingnya itu memang tidak suka mencari lawan, apapun yang dikatakan orang, Queen tidak pernah mau membalasnya dan kadang membuat Sofia menjadi gemas.
“Sof...”
“Iya, lo mau apa? Gue beliin jus?”
Queen menggeleng, wajah manis itu terlihat sendu. “Apa gue harus cantik dulu biar orang enggak benci sama gue?”
Sofia rasanya ingin mengumpat dengan keras ketika mendengar pertanyaan Queen yang terdengar lirih, ia yang hanya mendengarnya saja seolah merasakan apa yang gadis itu alami.
Orang-orang memang hanya bisa mengatakan sesuatu yang menurut mereka benar tanpa tahu perkataannya membuat seseorang itu menderita.
“Enggak, enggak. Lo cuman harus jadi diri lo sendiri aja.” Sofia bahkan ingin menangis, gadis itu menarik tubuh Queen untuk dipeluknya. “Nangis aja, kelas sepi,” bisik Sofia ketika melihat tidak ada orang di kelas.
Hari ini Queen kembali menangis, gadis itu menumpahkan air matanya dengan terisak di pelukan Sofia. Tawa ternyata dapat berubah menjadi air mata. Candaannya ternyata tak selalu bisa membuar orang tertawa, kadang ada yang menangis namun hanya dalam diam.
Sofia terus mengusap punggung Queen ketika gadis itu masih menangis, tangannya bergerak mengambil ponsel dan mengetikan sesuatu pada seseorang.
To : Ketua kelas 10 Ipa 2
Afnan, tolong jagain pintu kelas
Jgan sampai ada yang buka
Gue lg ganti baju
Tak lama ada balasan yang masuk, Sofia tersenyum lebar.
Ok.
“Keluarin semuanya, Queen. Enggak akan ada yang masuk ke kelas kok.”
————-
Setelah memikirkannya matan-matang, di sinilah Queen sekarang, di depan sebuah kelas yang betuliskan 11 IPA 2. Kelasnya Manggala Ganesha Banaspati.
“Duh, duh. Gue enggak tahan megang sapu sumpah, gue kasih jempolan deh buat permpuan yang suka nyapu!”
Dari luar kelas, Queen mendengar suara Gala yang terdengar jelas mungkin karena sekarang kelas dan koridir telah sepi karena jam pulang sekolah telah berbunyi beberapa tiga puluh menit yang lalu.
“Sabar, Gal. Sabar, kita piket cuman sekali seminggu kok,” balas seorang gadis yang sedang mengumpulkan sampah lalu hendak membuangnya keluar.
Gadis yang menjadi teman Manggala itu terkejut ketika menemukan sosok Queen di depan kelas.
“Cari siapa, Dek?” tanya gadis itu ke arah Queen.
“Saya cari Manggala, Kak.”
Gadis itu mengangguk kecil lalu, “MANGGALA ADA YANG NYARI LO!”
Queen yang langsung menutup telinganya ketika mendengar teriakan dari gadis yang berada di depannya.
“Maaf ya, Dek, mager banget mau ke dalam.”
Tak lama terdengar langkah kaki yang mendekar ke arah luar kelas. Gala tersenyum lebar ketika menemukan sosok gadis polos yang mencarinya itu.
“Queen? Lo ngapain ke sini?”
Queenbe menggigit bibir bawahnya, genggaman tangannya pada tali tasnya mengerat. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan sebeum menatap ke arah Manggala yang masih nampak berkilau padahal hari sudah sore. “Gue mau ikut, Gala.”
“Alasannya?” tanya Manggala penasaran membuat Queen terdiam.
“Gue mau cantik!”
Gala tertawa begitu juga gadis yang tadi masih ada di depan kelas. Queen yang mendengar itu merasa ingin menangis, harunya ia sadar diri jika dirinya tidak akan pernah cantik.
“Lo udah cantik, Queen.”
“Semua perempuan itu cantik,” lanjut gadis yang ada di samping Gala. Reina.
Queen yang mendengar membeku ketika dua orang di depan itu tersenyum sangat lembut. Ia seketika merasa malu pada dengan dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Bukannya dulu ia selalu mengabaikan omongan orang?
Apa ini sudah dibatasnya untuk sabar? Namun bukannya kehidupannya masih panjang? Queen harus bisa lebih bersabar.
Lalu kenapa?
“Gue tanya sekali lagi, alasan lo apa?”
“Karena gue pengen cinta sama diri gue sendiri.”