“Gue kayaknya ngelindur, deh, waktu ngusulin mau bantu Warung itu jadi ramai.” Manggala mendesah, menjatuhkan wajahnya ke atas meja sebuah cafe yang sudah dilapisi dengan tisu—agar wajahnya tetap terjaga bersih. Ketika mengingat apa yang diucapkannya beberapa jam yang lalu, hembusan nafas kembali terdengar. Rasanya remaja berwajah glowing itu ingin sekali menarik kembali ucapannya, namun itu seperti bukan lelaki sejati. Ia juga mungkin akan merasa jadi orang paling jahat jika membatalkan niatnya, apalagi ketika ia mengingat senyum bahagia milik Nenek Asih yang bahkan sampai sekarang belum bisa dilupakannya. Sedangkan si Rania itu memang terlihat bahagia karena warungnya tak akan jadi dijual namun malah ekspresi ragu yang ditunjukannya. “Enggak, gue yakin banget lo seratus persen sadar

