“Es tehnya dua, satunya jangan terlalu banyak gula ya, Pak.” “Siap, Dek!” “Saya di meja yang sana, Pak.” Auriga menujuk meja yang tak jauh dari stand Pak Amin, meja yang telah diisi seorang gadis yang nampak sedang dirundung beban yang amat berat. Auriga melangkah santai menuju meja itu lalu mendudukan tubuh disana. Lelaki itu lalu membuka sebuah map tebal yang di depannya tertulis BULAN BAHASA SEKOLAH. “Jadi kita mulai dari awal aja, setuju?” Queen menganga, ia sudah sabar saat Auriga menariknya tanpa persetujuan menuju kantin untuk membahas rencana Bulan Bahasa Sekolah. Lalu saat sudah duduk di meja kantin, Queen menatap tak percaya pada pria itu yang tanpa basa-basi malah mengajaknya untuk berdiskusi, di saat ia yang sedang memusingkan hidupnya. Setidaknya, Auriga bertanya apakah

