"Maaf, bisa kita akhiri ini. Sekarang?" pintaku canggung, posisi yang sangat mengancam. Aku sedikit mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh.
"Kita bahkan belum memulai." Devan menyeringai. Oh no!
"Tapi, katanya ...." Aku mencebik dengan wajah sedikit takut.
“Aku mencintaimu, Nara.” Tubuhnya bergeser makin mendekat, tangannya lembut menyapa anak rambut di pipiku. Devan, mengecup bibirku lama. Aku tidak membalasnya.
“Kamu tidak mau membalasnya?” tanyanya saat melepas ciuman itu.
“Emmh, ngg, i-itu. Aku tidak pernah …” jawabku malu. Mana pernah aku berciuman, pacar saja tidak pernah punya.
“Bukan itu, Sayang. Tapi pernyataanku tadi.” Devan tertawa lirih, mungkin mengejekku yang malah mikir m***m. Jelas saja, secara otomatis wajahku memanas, “Hmm, a-aku juga mencintai, Anda.”
“Ck! Anda?” Devan mencebik.
“Hmm, kamu,” jawabku dengan sangat lirih. Devan kembali mendekatkan wajahnya, “Kamu menggemaskan, Nara.” Sedetik kemudian bibir kami kembali menyatu, aku mulai bisa mengimbangi walau masih terasa kaku.
Aku mulai terbuai, tangan Devan mulai mengusap-usap punggungku, aku meremang. Tapi, tiba-tiba Devan beranjak, melemparkan selimut ke arahku tanpa melihat. Aku yang masih terbengong dengan perasaan aneh di sekujur tubuh memilih membenamkan diri di dalamnya. Lalu aku mendengar langkah Devan menjauh entah kemana.
Baru seperti ini saja rasanya sudah tidak karu-karuan. Merinding, bahagia, malu, sedih, ragu tapi ingin dan juga rasa bersalah. Apalagi kalau sampai kami benar-benar melakukannya?
"Bangun dan kenakan pakaianmu, cepat! Jika masih ingin pulang dengan utuh," teriak Devan dari arah kamar mandi. Kalau dia mau, bisa saja tadi kami ....
Aaarrggh! Hentikan pikiran itu Nara! Masih bagus Devan melepaskanmu.
Seketika ada yang menghangat di hatiku, jika papa yang dulu kukenal begitu lembut bisa sebegitu menyakiti Mama dan kami. Bagaimana bisa laki-laki dingin seperti Devan begitu manis dan menjagaku? Ya, walau sangat menakutkan jika sedang marah. Huft!
***
Devan mengantarku pulang. Sebelumnya aku sempatkan menelepon dua sahabatku, mereka dari tadi menghubungi, tapi tak kuhiraukan. Pasti mereka mencari-cari.
Semua gara-gara monster tampan yang sedang duduk di kursi kemudi di sampingku. Aku menatapnya sekilas dan tanpa sadar malah tersenyum.
“Baru sadar kalau aku tampan?” Deg! Ketahuan!
Ada beberapa pertanyaan yang ingin kucari jawabannya. Aku kembali melirik ke arah Devan, wajahnya sudah jauh berubah. Tidak seperti tadi.
Sesuatu membuatku gelisah. Apa sekarang bisa dikatakan, aku adalah kekasihnya? Dan kami 'pacaran' seperti orang-orang pada umumnya? Hanya saja kami harus menjaga rahasia? Secret love story, begitu?
"Ada yang mau kau tanyakan?"
"Ini serius? Apa, Anda seorang peramal?" Devan seolah tahu apa isi hatiku.
"Ck! Hentikan 'Anda-Anda' itu. Nara." Wajahnya kembali kesal. Salahku juga, sih.
"Ups, sorry." Aku tersenyum kaku.
"Cari panggilan lain, setidaknya saat kita berdua saja."
Permintaan yang tidak mudah. Tentu saja aku tidak terbiasa bersikap akrab dengannya.
"Mas? Haduh, kok geli, ya." Aku terkekeh sendiri.
"Aku suka," jawabnya santai.
"Tapi, aku tidak," kataku membantah.
"Lalu? Bagaimana dengan ‘Sayang’?" Blush! Pipiku menghangat.
"Entah, nanti saja dipikirkan." Rasanya ingin membenamkan wajahku ke bantal. Malunya.
Suara aneh dari perutku membuat kami saling berpandangan. Refleks aku memegang perut dan menutup mulut. Ya, aku lapar. Tadi belum sempat makan malam. Keburu diculik monster tampan, Devan.
"Lapar? Kita mampir beli makan." Devan sedikit mempercepat laju mobilnya.
"Tidak usah, aku bisa makan di rumah nanti." Aku menolak karena saat ini sudah cukup malam.
"Kita beli fast food, drive thru," katanya dengan sedikit penekanan.
"Tidak usah, sungguh,” jawabku memohon.
"Menurut lah, Nara. Ingat, kamu milikku. Kamu tidak boleh kekurangan apa pun. Apalagi hanya makanan."
"Hmm, memangnya, aku benda. Bisa dimiliki." Aku memajukan bibir bawahku.
"Iya, kamu itu benda hidup yang keras kepala,” jawab Devan dengan tawa dan tangan kirinya sibuk mengacak rambutku.
Kami mampir sebentar ke restoran fast food seperti yang dikatakan Devan tadi, dia bahkan membeli banyak. Katanya untuk Mama dan Adikku. Aku menolak, takut menimbulkan curiga. Tapi tetap saja Devan memaksa. Dasar!
Kami makan berdua di area parkiran mobil tentu tetap berada di dalamnya. Devan bilang. Ini 'hari pertama' kami. Ish, seperti anak muda saja. Mana ini hubungan sembunyi-sembunyi, pula.
"Apa kamu boleh tanya sesuatu?" Aku memberanikan diri menuntaskan rasa penasaranku. Devan mengangguk.
"Apa, kamu nggak 'pernah' dengan Bu Jenna?" Ups! Pertanyaanku terlalu terang-terangan.
Devan tersedak, "Pertanyaan macam apa itu?" Reaksi Devan sangat lucu. Aku hanya penasaran, walau katanya mereka tinggal terpisah dan Devan tidak mencintai Jenna. Tapi, tetap saja mereka ‘kan suami istri.
"Aku hanya bertanya, kenapa kaget?" jawabku santai.
“Apa kamu cemburu?” tanyanya girang.
“Aku? Enggak. Ngapain?” Aku memutar bola mata lalu melanjutkan menggigit double cheese burger di tanganku. Walau sebenarnya, iya aku cemburu.
Wah, ada yang tidak beres dengan pikiranku sekarang.
“Kalau pernah? Kamu mau apa?” tanyanya jahil.
“Pertanyaannya, lho? Kalau pernah, ya, udah. Lagi juga kalian ‘kan pasangan yang sah.”
Devan meletakkan makanannya di dashboard mobil, lalu tangannya yang berminyak itu membingkai pipiku dan serta merta bibirnya yang belepotan saus itu menciumku gemas
“Aku belum 'pernah' bersamanya, tapi hampir pernah bersamamu,” katanya dengan tatapan genit. Sedetik kemudian kami terbahak bersama. Ah, bahagianya.
"Ish, tangannya berminyak, nanti aku jerawatan," Aku mendorong dadanya.
"Nanti aku belikan skincare paling ampuh," jawabnya santai.
"Dasar, bos sombong," kataku mengejeknya.
Kami menikmati malam ini dengan perasaan bahagia. Jenna dan Arya? Biar besok saja aku pikirkan mereka. Hari ini, aku hanya ingin hati dan pikiranku dipenuhi Devan.
Izinkan aku kali ini egois, walau mungkin nanti akan ada banyak tangis. Biar aku mengais bahagia yang sempat terkikis.
***
Saat semua berjalan tidak seperti yang diharapkan, penolakan adalah reaksi pertama yang akan dilakukan. Setelah bisa bernegosiasi dengan hati. Maka ikhlas adalah pilihan. Jika tidak, maka benci mungkin akan mendominasi. Perasaan benci ke Papa, membawaku pada rasa syukur, karena menemukan Devan. Walau dengan cara yang salah. Setidaknya, kutemukan dia yang semoga benar tulus mencintaiku.
Saat kita egois dan merasa paling benar, maka bersiaplah. Ada hati yang harus terpaksa dipukul mundur agar kalah. Haruskah aku berlaku tega seperti itu pada Jenna? Egois dan membenarkan rasaku pada Devan? Sepertinya aku tidak akan sanggup bertahan. Tapi, untuk saat ini biar semua berjalan sampai dititik di mana salah satu dari kami akan lelah lalu menyerah.
***
Ponselku berbunyi nyaring. Jam berapa sekarang? Ini hari minggu bukan? Setelah semalaman di dera sakit karena pre-menstruasi. Hari ini rasanya ingin guling-guling di kasur saja. Malas. Ini alarm atau bunyi telepon? Aku masih mengira-ngira.
Kulihat layar ponsel, tertera nama Dev’s Calling. Masih pukul 4 pagi, ada apa?
"Iya, Hallo?" sapaku lemas dan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Kenapa lama sekali angkatnya?" oceh suara di seberang.
"Ada apa, Pak?" tanyaku lirih menahan kantuk.
"Pak, lagi? Lupa kesepakatan kemarin?" Ah, iya. Aku lupa. Untuk memanggilnya 'sayang'.
Ya, dengan setengah memaksa tentunya, kemarin dia ingin aku memanggilnya begitu. Walau, aku merasa risi sekali.
"I-iya, sa-yang." Aku berbisik.
"Kenapa berbisik?" tanyanya masih tak terima.
"Aku nggak mau, Mama atau Lia dengar. Bisa gawat. Ada apa?" tanyaku lagi.
"Huft! Baiklah. Ayo kita keluar, kencan. Segera bersiap. Aku sudah di ujung jalan dekat rumahmu."
Apa? Kantukku seketika pudar. Aku langsung terduduk dengan perasaan tak percaya.
"Apa? Sekarang? Jam berapa ini? Mau kemana?" tanyaku memborong.
"Pantai, Sayang."
Ouw ... bisa copot jantungku jika dipanggil begitu terus oleh Devan. Ish, berlebihan!
"Aku nggak bisa pergi sepagi ini? Aku harus beralasan apa pada, Mama?"
Duh, bahkan sekarang aku menjadi pandai berbohong. Aku merasa bersalah karena rasa yang juga sebenarnya salah.
"Jujur saja, pergi bersama teman. Ke pantai. Selesai." Enteng sekali dia menjawab.
"Huft, baiklah aku coba. Jangan mendekat ke rumah. Sebelum aku hubungi lagi, oke?"
Walau masih pagi sekali, Mama memang sudah bangun, untuk memulai aktivitas. Pelan, aku dekati Mama di Dapur.
"Pagi, Ma,” sapaku tak biasa.
"Eh, Sayang. Udah bangun?" tanya Mama seraya memotong sayur.
"Ma, Nara boleh izin pergi sama teman? Ke pantai? Se-ka-rang" tanyaku lirih pada Mama.
"Hmm? Sama Silvi?" Mama memastikan.
"Ya, sama teman Silvi juga." Aku kembali berbohong pada Mama. Maafkan Nara, Ma.
"Pergi saja, Nara. Itung-itung refreshing, hari Minggu, 'kan?" Mama mengizinkan semudah itu? Aku bernafas lega.
"Nggak, apa-apa, Ma?" tanyaku meyakinkan lagi. Mama sebenarnya bukan tipe orang tua yang protektif. Hanya saja, setelah kejadian lalu-lalu. Aku tidak tega jika pergi agak jauh dari mereka.
"Pergilah, Sayang."
Yes! Mama memberi lampu hijau. Aku kembali ke kamar, mengirim pesan pada Devan. Lalu mandi dan bersiap-siap. Mungkin ini yang dirasakan remaja saat jatuh cinta. Rasanya ingin terus tersenyum.
***
Saat dalam perjalanan, baru saja kami meninggalkan jalanan kota ini menuju kota tetangga. Ponsel Devan berdering. Kulirik sekilas, dari Jenna ternyata. Devan menyambungkan ke Bluetooth mobil. Muncul nama Jenna di layar dashboard. Tanpa sungkan Devan menyapa. "Hallo, iya Jen. Ada apa?"
"Van, kamu dimana? Ayah …. Ayahku." Jenna terisak.
Devan menepikan mobil. Memilih keluar mobil sambil menyambar ponselnya. Berbicara dengan Jenna di luar. Saat kembali ke mobil wajahnya berubah panik.
"Kita batal ke Pantai, Ayah Jenna meninggal mendadak pagi ini saat sholat subuh," ucap Devan dengan wajah cemas.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun," jawabku tak kalah sedih. Aku merasa bersalah, mertua Devan meninggal saat Devan malah asik bersamanya.
"Aku harus menemui, Jenna. Sekarang."
"Oke, nggak apa. Aku ngerti, mending aku turun sini aja dan naik ojek. Kamu bisa langsung ke rumah Jenna." Aku bersiap untuk turun mobil.
"Enggak, aku antar pulang dulu. Ini masih terlalu pagi." Devan bergegas memutar balik, mengantarku kembali pulang.
Sampai di rumah, Mama tentu bertanya-tanya. Kenapa cepat kembali? Mama kira ada barang yang tertinggal. Aku menjelaskan bahwa mertua bos meninggal dan Mama mengerti. Aku, Silvi dan Mbak Dina janjian bertemu untuk takziah bersama ke rumah Jenna.
Ada rasa tak biasa saat aku melihat Jenna bersandar pada d**a bidang milik Devan. Juga wajah cemas Devan yang merangkul Jenna untuk menguatkan.
"Mereka pasangan yang cocok sebenarnya. Pasangan sempurna. Dibanding dengan Aku. Aku tentu tidak ada apa-apanya." Aku bergumam dalam hati. Aku cukup tahu diri.
"Seharusnya, aku tidak memikirkan hal-hal seperti itu. Apalagi Jenna sekarang sedang terpukul dan sedih atas kepergian Papanya. Jelas sekali dia butuh, Devan. Sahabat sekaligus suaminya.” Aku kembali bicara pada diri sendiri.
Setelah acara pemakaman selesai, aku, Silvi dan Mbak Dina segera berpamitan kepada keluarga Jenna.
"Nara, terima kasih sudah datang." Nara menoleh. Jenna, memanggil dengan mata sembabnya. Aku berniat menyalami tapi Jenna malah memelukku. Kembali dia menangis. Kuusap halus punggungnya yang bergetar.
"Sabar ya, Kak." Hanya itu yang terucap dari bibir ini.
“Maaf, Kak,” ucapku dalam hati. Membendung perasaan bersalah yang semakin menggunung.
Setelah mengobrol sebentar, lalu kami bertiga akhirnya benar-benar pamit pulang. Saat masih menunggu taksi online yang kami pesan datang, aku kembali menoleh ke arah rumah besar itu. Melihat dari kejauhan Jenna dan Devan yang kembali berpelukan.
Ada luka yang tak berdarah.
"Tuhan, mungkinkah ini jawabanmu atas perbuatan kami?" Aku kembali bimbang dengan hubungan kami. Suatu ikatan suci yang sang Pencipta restui, jelas akan kalah dengan ikatan nafsu manusiawi. Saat ini, aku dan Devan sedang buta.
***
Dua bulan berlalu, hari ini Devan dan aku janji bertemu, sepulang kerja. Walau hanya sekedar untuk membeli makan, kami sering melakukan take away atau drive thru. Lalu makan di dalam mobil atau di apartemen Devan. Ya, sembunyi-sembunyi. Karena bagaimanapun aku adalah simpanan Devan. Namanya juga simpanan ya, hanya untuk disimpan bukan untuk di tunjukkan.
"Kamu tunggu sini, aku masuk dulu," perintah Devan. Selalu Devan yang turun dan memesan. Aku memang pernah bilang, jangan terlalu mencolok. Benar adanya kisah itu, secret love story.
Devan kembali dengan membawa sesuatu yang manis. Ice cream cone dengan topping selai strawberry kesukaanku.
"Waaah... Makasih, Sayang." Aku menerima dengan mata berbinar.
"Kok, cuma satu?" tanyaku sambil menggigit ujung atas ice cream yang mulai meleleh.
"Aku cuma mau minta dikit aja." Devan mengecup bibirku tiba-tiba, menyesap sedikit sisa lelehan ice cream di sana.
"Its, enough," kata Devan sambil membetulkan posisi duduknya, memasang seat belt. Aku masih bengong karena terkejut.
"Udah kagetnya? Leleh, tuh. Atau mau lagi?" Refleks aku memukul-mukul bahu Devan dengan satu tanganku yang bebas. Lalu kami tertawa bersama.
"Devan, so sweet," bisikku dalam hati yang mulai menghangat.
Salahkah jika aku berharap kebahagiaan ini abadi?