Malam ini aku pergi ke acara resepsi pernikahan. Menuju gedung Amarilis di pinggiran Kota, aku memesan taksi online. Tidak mungkin naik ojek saat memakai dress seperti ini, 'kan? Aku janjian bertemu di depan pintu masuk dengan Silvi dan Mbak Dina.
Saat aku tiba, sudah ada Mbak Dina di sana. Kami tinggal menunggu kedatangan Silvi.
"Ya, ampun. Lama banget, Sil," gerutu Mbak Dina karena menunggu Silvi terlalu lama.
"Maaf, Mbak. Macet banget." jawab Silvi sambil merapikan dress dan rambutnya.
Kami beriringan masuk menuju gedung, setelah sebelumnya men-scan undangan virtual yang kami terima via email beberapa waktu lalu. Suasana pernikahan yang elegant didominasi warna rose gold, senada dengan baju pengantin. Pasti bahagia, bisa melaksanakan pernikahan impian seperti ini. Anganku melayang.
Kami bertiga menemui pengantin, bersalaman, lalu tak lupa foto bersama. Dilanjut dengan menikmati sajian live music juga hidangan berbagai macam makanan dan minuman juga kue yang tersaji secara prasmanan.
"Hai, Cewek, sendirian aja," aku menoleh ke arah suara.
"Eh, Arya. Baru dateng?" tanyaku. Arya sebenarnya memiliki paras yang juga menawan, dia tinggi, mungkin sekitar 180 centi, bahunya lebar, ciri khasnya adalah bulu mata yang lentik, kulitnya juga bersih, walau dia adalah laki-laki yang macho tapi dia cukup memperhatikan penampilan, satu lagi dia juga sangat pintar tentunya. Arya selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Arya juga ramah dan sopan. Tapi, entah kenapa aku tidak ada perasaan apa pun ke Arya. Biasa saja, hanya sebatas nyaman berteman.
"Iya, Nih. Kamu sendirian?"
"Oh, nggak kok. Aku sama Silvi dan Mbak Dina. Mereka masih ke toilet." Aku menunjuk ke arah kanan Arya, di mana toilet wanita berada.
"Hmm, Nara. Aku mau ngomong sesuatu, boleh?" Tanya Arya yang tampak serius.
"Boleh, kapan?" tanyaku balik.
"Iya, sekarang aja. Kita ke taman yuk," ajaknya dengan dagu menunjuk taman di samping kiriku.
Aku menurut, sebelumnya aku sudah menghubungi Silvi bahwa aku pergi dengan Arya sebentar. Takut kalau mereka mencari-cari nantinya.
"Mau ngomong apa, Ar?" tanyaku saat kami sudah duduk di salah satu bangku taman yang kosong. Sejenak mengamati sekitar, suasana yang cukup romantis, dengan temaram lampu taman dan berbagai hiasan bunga di sudut kursi juga beberapa pohon yang dihias dengan kain dan lampu di sekitar kami.
"Ra, please. Terima aku, ya." Arya menggenggam kedua tanganku. Aku sedikit kaget tapi juga tidak menolak. Kali ini kubiarkan dia melepaskan apa yang dia pendam selama ini.
"Ar, aku belum siap berkomitmen," jawabku seraya melepas dengan halus genggamannya.
"Aku tidak akan mengekangmu, Ra. Aku serius." Sorot matanya membiusku sesaat. Setulus itukah dia?
"Arya, masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari aku." Arya kembali menggenggam tanganku.
"Apa itu alasan dari sebuah penolakan, Ra?" Sungguh dilema.
"Entah lah, Ar. Hanya saja, aku belum memikirkan tawaranmu itu," jawabku sambil menunduk dengan tangan masih dalam genggaman Arya.
"Apa ada yang sudah mengisi hatimu?" Arya mengangkat daguku. "Ra, lihat mataku."
Memilih tak menjawab. Aku menatap matanya mencari keseriusan di sana. Aku juga ragu dengan hatiku, apa benar ada Devan bertahta di sana? Atau semata karena belum ingin mencinta?
"Arya!" Seseorang memanggil. Kami menoleh bersamaan. Devan berdiri angkuh di sana. Tatapannya tajam seperti ingin menikam.
Aku dan Arya salah tingkah karena posisi kami cukup dekat dengan tangan yang masih saling menggenggam. Kami sontak berdiri, bersamaan. Aku merasa, seperti sedang ketahuan melakukan kesalahan besar.
"Arya, kamu di cari sama, Papa," kata Devan datar dengan pandangan menusuk ke arahku.
"Kau tidak bisa dihubungi." Mata Devan makin tajam menatapku. Aku tertunduk, merasa disinggung juga dengan kalimat itu, karena beberapa kali aku mengabaikan pesan dan panggilannya.
"Ah, maaf. Ponsel aku silent tadi. Beliau di mana sekarang? Biar kutemui." Arya bergegas untuk beranjak, menoleh sebentar ke arahku dengan senyum yang memikat.
"Nara, nanti kita bicara lagi," pamit Arya yang sekilas membelai bahuku dengan lembut. Hanya kujawab dengan anggukan kaku.
"Dia, berada di spot makanan," tegas Devan pada Arya tanpa memalingkan pandangan mematikannya dariku.
"Oke, aku ke sana dulu." Arya beranjak. Diiringi Devan yang masih sekali lagi menoleh tajam tepat ke mataku.
Tubuhku terasa melayang tidak seimbang, kuhempaskan diri di kursi taman tadi. Menarik napas dan menghembuskan dengan kasar. Devan tampak begitu menakutkan jika cemburu.
Tak lama, ponselku berbunyi. Tertera nama ‘Dev’ di layar,
"Temui aku di tempat parkir, sekarang!" Mau apa dia? Belum sempat aku membuka mulut sudah diputus sambungan telepon. Sangat tidak sopan.
Aku beranjak dan bergegas mencari-cari Devan di parkiran, takut kalau akan semakin marah jika membuatnya menunggu terlalu lama. Tapi, tidak juga kutemukan, mungkin karena suasana parkiran sangat ramai saat ini.
Tiba-tiba ada mobil dari arah belakang yang membunyikan klaksonnya berkali-kali. Aku menepi karena terkejut. Mobil itu berhenti tepat di sampingku. Kaca pada pintunya terbuka.
"Masuk!" suara serak penuh emosi itu. Devan! Wajahnya menyeramkan. Seperti kerbau di cocok hidungnya. Aku menurut. Dia melajukan mobilnya sangat kencang bahkan saat aku belum sempat memakai seat belt.
"Pak, jangan seperti ini. Kita bisa mati." Aku ketakutan. Kupegang ujung dress hitam satin yang kukenakan, hingga menimbulkan bekas kusut di sana. Tanganku berkeringat, badanku gemetar. Apa dia akan membunuhku?
"Biar saja, daripada aku melihatmu bersama laki-laki lain. Membiarkanmu disentuh seenaknya. Lebih baik kita mati dan tetap bersama." Kalimatnya tajam, seperti membungkam. Dia benar-benar cemburu?
“Kumohon, jangan seperti itu, aku masih ingin hidup!” teriakku yang sama sekali tidak digubrisnya.
"Kita mau kemana?" tanyaku memekik.
"Apartemen," jawabnya singkat.
"Kenapa? Mau apa?" tanyaku lagi dan Devan makin kencang melajukan mobil. Aku memilih diam siapa tahu bisa sedikit meredam amarahnya.
Sampai di parkiran basement, aku enggan turun dari mobil. Aku sangat takut. Takut kalau Devan akan menyakitiku lalu membunuh juga memutilasiku. Huft! Pikiranku kemana-mana.
Devan membuka kasar pintu mobil, melepas seat belt lalu menarik pergelangan tanganku. Sedikit memaksa untuk mengikuti langkahnya. Aku memang sengaja melambat.
Tak sabar, dia mulai menggendongku. Kedua tangannya ringan membingkai paha dan bahuku. Tubuh ini melayang seketika. Begitu pula dengan pikiranku. Apa maunya?
"Pak, saya harus kembali ke pesta, teman-teman saya menunggu." Aku berkilah, tapi aku memilih mengeratkan tanganku yang secara refleks melingkar di lehernya.
"Kau ingin membuatku semakin murka?" jawabnya ketus, sambil terus berjalan menuju lift.
Sampai di depan pintu unit apartemennya. Devan menurunkanku dan langsung menangkap lenganku seperti tawanan yang akan berusaha kabur lalu lagi-lagi menutup pintu dengan kasar.
"Pak! Tolong jangan begini," pintaku memelas dibalik pintu.
“Pak? Kamu memanggilku dengan sebutan itu lagi?” Devan mendekat, aku semakin terpojok. Devan mulai melepas jasnya. Membuka kasar kancing atas kemejanya.
"Bapak, mau apa?" Dia mengurungku dengan kedua tangannya berada di samping kepalaku.
"Katakan, Nara." Matanya memerah penuh amarah.
"Tidak adakah rasa untukku?" Aku memilih berpaling lalu menunduk. Menghindari tatapannya untuk menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Ada Arya juga Jenna yang sedang menari-nari di kepalaku.
"Tatap aku, Nara! Lalu katakan!" Nadanya meninggi, aku terkejut. Baru kali ini aku melihat Devan begitu marah. Biasanya dia akan begitu tenang dan bisa menguasai diri.
"Sa-saya." Tak bisa melanjutkan kalimat. Aku menangis. Hanya itu yang aku bisa, takut dan bingung. Sejujurnya aku sempat terpesona oleh sosok Devan, tapi saat tahu jati dirinya. Aku memilih menahan rasa. Membohongi hati.
Apalagi sejak pertemuanku dengan Jenna kapan hari. Semakin menambah rasa tak nyaman jika ingin mengungkapkan rasa yang sebenarnya.
"Katakan, Nara." Nada bicara Devan mulai melembut, dia turunkan tangannya yang dari tadi mengurungku. Berganti memeluk dengan erat.
"Maaf, jika membuatmu takut." Devan mengelus rambutku. Aku masih terisak. Bingung dengan perasaan sendiri. Bibir ingin mengatakan sayang tapi hati tak bisa mampu memupus bayang.
"Jadilah milikku, Nara," pintanya dengan egois.
"Sa-saya tidak bisa, Pak. Ada Bu Jenna. Dia sangat mencintai, Bapak," kataku disela tangis.
"Tapi aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintaimu." Matanya berkaca-kaca. Jujur, aku masih tidak percaya, benarkah ini Devan yang kukenal dingin dan kaku? Kenapa begitu lemah?
"Ini tidak benar, Pak." Aku menatap matanya yang sendu. Mencoba menyadarkannya atas kesalahan yang hampir saja kami lakukan.
"Lalu? Apa yang benar? Melihatmu bersama Arya? Apa itu baru benar?" Nada bicaranya kembali meninggi dengan nafas yang semakin memburu.
"Bukan begitu, Pa–" Aku belum selesai bicara saat Devan meraih tengkukku, mengecup kasar bibir ini. Aku berontak tapi tak cukup kuat. Ciumannya semakin menuntut, melepaskan sesaat lalu menarik paksa tubuhku, membawanya ke kamar lalu serta merta mendorong ke tengah ranjang. Devan kini menguasaiku.
"Pak, hentikan! Anda berjanji akan menjaga saya." Aku memohon dengan netra yang basah dengan air mata.
"Kamu, bahkan, tidak bisa menjaga diri. Kamu biarkan, Arya bebas memegang tanganmu, dagumu, lalu apalagi nanti?" Devan sedang dikuasai cemburu yang membutakan mata hatinya.
"Pak, saya mohon! Itu tidak seperti yang, Anda bayangkan." Aku sekuat tenaga menahan tubuh Devan yang semakin mendekat.
"Lihatlah aku, Nara. Lihat aku. Bagaimana aku gila karenamu." Matanya kembali mengembun, kemudian dia menghentikan gerakan.
"Aku gila, Nara. Setiap hari memikirkanmu aku gila. Aku ingin menyudahi semua ini!" Tanpa ba bi bu lagi Devan mulai membuka kasar kemejanya, juga melepas paksa apa yang kupakai. Hingga kami sama-sama polos.
"Tidak dengan cara seperti ini, Pak!" Aku berteriak sekaligus memelas, meronta, menangis sejadi-jadinya.
"Aku tidak bisa lagi, melihatmu disentuh laki-laki mana pun. Selain aku, hanya aku dan harus aku." Devan seperti kehilangan akal sehatnya. Dia mulai mencium secara membabi buta, wajah, leher dan akan menuju d**a.
"Pak!" teriakku kencang.
"Jangan panggil aku seperti itu, panggil namaku!" teriaknya tak kalah keras. Membuat tubuhku gemetar.
“Devan, kumohon ….” Aku tak lagi bisa berteriak, aku pasrah. Bukankah dari awal aku memang miliknya sejak pelunasan hutang itu. Cepat atau lambat, sekarang atau nanti dia pasti akan meminta haknya sebagai 'pemilik'. Bodoh kalau aku berpikir akan bebas dengan mudah.
Aku memejamkan mata saat kurasa ciumannya berhenti. Hening dan tanpa pergerakan beberapa saat. Hanya nafas kami saja yang terdengar sama-sama memburu. Devan melemas, menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, dia mendekapku dan mulai terisak. Ya, Devan menangis.
Sebegitu berartinya kah aku baginya? Sebegitu besarkah rasa ingin memilikiku? Bahkan aku saja merasa tidak puas diri atas apa yang ada pada diriku.
"Nara, katakan! Jangan siksa aku." Matanya menatapku lekat, bersama lelehan air mata, dia mengusap lembut pipiku yang juga basah.
Sekali lagi, melihatnya dengan jarak sedekat ini. Aku tidak bisa memungkiri daya tarik seorang Devan, yang kasar di luar tapi rapuh di dalam, hanya karena wanita, karena aku.
"Sebenarnya, aku juga menaruh rasa yang sama. Tapi ini salah. Aku tidak bisa membohongi Jenna, aku tidak mungkin merusak pernikahan kalian, " ucapku akhirnya, tanganku terulur membingkai wajah tirus dengan rahang yang tegas itu.
"Aku tahu. Ini salah." Kami sama-sama berkemelut, sama-sama menangisi takdir.
"Aku akan selesaikan semuanya. Untuk saat ini, biar lah begini. Terima aku, Nara. Please, janji jangan menghindar lagi," pintanya lirih. Sungguh aku tak mampu menolaknya kali ini.
Aku mengangguk mengiyakan pintanya. Walau mungkin akan sangat sulit untuk kami bisa bersama. Tapi jujur, aku juga tidak ingin kehilangan Devan. Ya, pada akhirnya hati ini mengakui pemiliknya.
Senyumannya kembali terkembang, menggantikan raut wajah menyeramkan yang sedari tadi dia tampakkan. Tersadar dengan posisi tubuh kami yang .... cukup bahkan sangat intim, membuatku merasa tak nyaman.