Beban Special

1823 Kata
"Kenapa hanya aku? Yang lainnya juga kena dampak?" tanyaku asal. "Karena, kamu spesial. Apa masih harus kujelaskan lagi?" katanya sambil tersenyum. Manis. Ya, Tuhan. Hampir saja jantungku melompat karena kegirangan. Kegirangan atas sesuatu yang salah. Nara, sadarlah! "Lalu, dari mana Anda tahu, kalau Arya …. " Entah sejak kapan ini terasa seperti sesi curhat dan tanya jawab. "Mudah saja. Kami bersahabat dan dia dengan santainya bercerita kalau dia menyukaimu. Dia juga bilang kalau mengirim makanan. Karena aku sudah tidak mengirimnya lagi sejak aku pindah ke kantor pusat, jadi aku diam saja." Wajahnya berubah muram. "Oh, pantas." Iya, makan siang itu berbeda, saat Devan mengirim, kotak nasi sudah tersedia di mejaku. Sedang kiriman Arya aku harus menemui kurir terlebih dahulu. Bodoh, kenapa baru sadar? Kalau itu dari dua orang yang berbeda. "Lalu, apa kita akan mengobrol hingga pagi?" tanyaku memberanikan diri. Oh, Nara! Apa yang ada di pikiranmu? Tersadar dengan apa yang baru saja kukatakan aku sedikit bergeser mundur, memberi jarak pada tubuh kami. Mungkin karena melihat tingkahku yang aneh Devan terbahak. “Kau takut?" tanyanya disela tawa riang yang baru kali ini kulihat. "Tentu saja," jawabku cepat. "Hei! Aku laki-laki normal, Nara. Jelas aku sangat menginginkanmu. Tapi, aku tidak cukup berani merusak masa depan anak orang. Lalu, membuat seorang Ibu menunggu gadisnya pulang." Aku refleks terduduk, apa ini maksudnya dia tidak akan menyentuhku? Setidaknya untuk malam ini? Jangan senang dulu, Nara. "Lalu, Tante Mara? Aku kan, sudah ...." Aku menunduk lagi, memainkan jariku. "Ya, memang aku sudah membelimu sesuai harga dari Mara. Tapi itu bukan harga yang pantas untuk seorang, Nara. Sudah kubilang. You deserve more." Berkali-kali aku dibuat melayang dengan kara-kata manis Devan, aku senang sekaligus ragu. Benarkah perasaannya itu tulus? "Pak, Anda tidak sedang ber-acting 'kan?" tanyaku heran. "Untuk apa?" Dia kembali terbahak. Aku jadi salah tingkah. "Karena, Pak Devan yang kukenal tidak banyak bicara seperti sekarang. Apalagi menggombal,” jawabku sambil mencebik. Lagi dan lagi dia terbahak. “Aku juga heran. Baru kali ini aku seperti ini." "Anda berbohong, Anda sudah seperti seorang yang pro." Aku memutar bola mata tanda tak percaya, "Kamu lucu sekali. Sini, Nara." Devan mendekat, posisiku yang duduk, menggeser-geser tubuhku semakin mundur. Kalah cepat, Devan sudah memelukku. "Kata tadi tidak akan menyentuh?" Aku merajuk, mengingatkan kembali atas apa yang tadi sudah dikatakannya. "Tentu tidak, tapi di sini boleh ‘kan?" Dia menunjuk keningku lalu mengecupnya perlahan, lembut, hangat dan lama. "Ya, ampun. Ayo pulang, Nara. Aku takut semakin lama aku jadi semakin khilaf," ajaknya. Dia beranjak dari ranjang. Wajahnya memerah. Lucu sekali. Ternyata dia sudah menyiapkan baju ganti untukku, atasan katun lengan panjang warna cream sepasang dengan rok bunga-bunga tiga per delapan. Sebagai ganti bajuku yang kurang bahan ini. Tak lupa sepasang sepatu sneakers yang begitu pas di kakiku. Manis sekali, seperti saat di rumah sakit dulu. "Aku tadi memilihnya secara acak, semoga pas dan kamu suka." Aku semringah. “Pas dan suka sekali. Bagaimana bisa?” tanyaku heran. “Entahlah, hanya feeling,” jawabnya santai. Dia pun berganti pakaian, memakai celana jeans biru dan hoddie warna navy. Wuah! Pesonanya semakin terpancar. Aku mencoba menahan mata dan hatiku. Jangan terkesima! Kami berjalan beriringan dengan memakai masker sebagai penutup wajah, mengelabuhi orang suruhan Tante Mara yang berjaga di parkiran basement. Devan membuka pintu mobil, mempersilahkan aku masuk dan duduk di kursi penumpang. Setelahnya, ia mengitari bagian depan mobil untuk menuju pintu pengemudi. Lalu memasangkan seatbelt untukku lanjut untuk dirinya sendiri. Dia merogoh ponsel, lalu menghubungi seseorang lewat telepon. "Dia, akan kubawa. Jangan ganggu lagi keluarganya!" Hanya itu yang kudengar. “Mungkinkah itu, Tante Mara?” batinku bertanya-tanya. "Iya, itu Mara," katanya santai lalu dia mulai menyalakan mesin mobil. Aku menatapnya heran. "Apa kamu peramal?" "Hmm, aku suka itu. Jangan panggil 'Anda' itu terlalu formal. Devan saja." Ya ampun! Aku baru sadar telah berbicara santai dengannya. "Aku akan mencicil hutangku," kataku lirih. Kembali tersadar kalau aku memiliki hutang yang begitu besar padanya. "Bagaimana jika pengabdian seumur hidup? Mungkin, dengan melahirkan juga merawat anak-anakku salah satunya?" "Apa, sih?" jawabku cepat. Dia tersenyum lagi, benar-benar manis. Membuatku lupa, ada Jenna sedang menunggunya di sana. *** Sudah jam sepuluh malam saat aku sampai di rumah. Aku bilang pada mama jika tadi aku kembali bekerja. Walau aku tak sempat bicara pada Lia, sepertinya dia cukup bisa bekerja sama kali ini. Raut khawatir terlukis jelas di wajahnya. Yang dengan susah payah ia sembunyikan dari mama. "Kak, maafin Lia," katanya sambil terisak lirih, dia masuk kamar setelah aku selesai mandi. Dia langsung mendekat dan memelukku. "Sudah, kakak tidak apa-apa, kok." Kubalas pelukannya, mengusap lembut punggungnya. Aku tahu dia tadi juga sangat ketakutan. "Tapi, tadi Kakak. Kakak, udah ..." Tangisnya semakin dalam tanpa suara. Mungkin tidak ingin mama mendengar. "Lia, dengerin kakak. Jangan nangis dulu." Aku menangkup kedua pipinya, menghapus lelehan air mata yang mengalir di sana. Lalu, aku mengajaknya duduk di pinggir ranjang, sedikit berbisik aku menceritakan semuanya. Aku yakin Lia sudah cukup dewasa untuk mengerti semua ini. "Ya, Ampun. Syukurlah, Kak. Aku lega sekali. Tapi apa, Kakak yakin, Tante Mara, tidak akan mengulangi perbuatannya? Aku takut." Aku sangat mengerti perasaan Lia. Dia pasti trauma. "Semoga saja tidak, Sayang. Kan sudah lunas. Tidak ada alasan lagi untuk mengganggu." Sekali lagi kami berpelukan, saling berjanji untuk merahasiakan semua ini dari Mama. “Janji, jangan beri tahu siapa pun,” pintaku padanya. Lia mengangguk mantap. *** Pagi hari yang indah, aku terbangun dengan senyum terukir di wajah. Walau ada kejadian menegangkan yang terjadi kemarin. Tapi semua kejadian itu ditutup dengan sesuatu yang manis. Ya, senyum manis Devan. Kembali ingatan tentang sentuhannya di bibirku membuat perut ini serasa tergelitik. Apa aku sedang jatuh cinta? Tiiing .... Bunyi ponsel yang menandakan ada sebuah pesan masuk. [Nara, hari libur nanti, bisa kita ketemu?] Pesan yang serta merta menghancurkan vas berisi bunga yang sedang bermekaran di dadaku. Sebuah pesan dari Jenna. Istri sah, Devan Mahendra. [Bisa, Kak. Di mana?] balasku akhirnya. [Di tempat kemarin aja. Aku mau curhat. Kamu kabarin, ya.] balasnya cepat. Apalagi ini? Curhat? Pasti tentang Devan? Laki-laki yang semalam bersamaku dan meninggalkan bunga di hatiku. [Oke, Kak.] Kuhempaskan ponsel ke kasur. Mood-ku seketika buyar. Seorang Nara harus kembali berbohong. Sejujurnya, aku ingin memastikan perasaanku pada Devan. Kagum kah? Atau memang benar-benar cinta? *** Hari ini aku benar-benar menghubungi Jenna. Sekitar jam satu siang aku sudah sampai di tempat janjian. "Kata Arya, kamu bisa diajak curhat. Makanya aku ajak kamu buat ketemuan. " Jenna memulai pembicaraan. Kami bertemu di kafe donat, tempat kami mengobrol terakhir kali. "Ah, Arya berlebihan, Kak." Aku berkilah. Aku bukan teman yang baik. "Aku, nggak ganggu waktu kamu, 'kan?" tanya Jenna memastikan. "Nggak kok, Kak. Aku santai." Kami terdiam sesaat, sibuk mengaduk-aduk minuman yang ada di hadapan. "Aku bingung, Nara." Jenna memulai curhatnya. Dan aku masih saja diam. "Devan .... Kami tidak tinggal serumah. Satu bulan sejak kami menikah. Satu tahun lalu." Aku menegakkan badan, antusias. "Kami dijodohkan. Bahkan, dari saat kami masih kecil. " Jenna menarik napas dalam, begitu pun aku. "Devan pernah menolak, tapi sia-sia. Pak Roby dan Ayah sangat keras kepala. Maka, kami membuat perjanjian. Untuk terlihat saling mencintai di depan masing-masing keluarga. " Jenna mengalun ceritanya. "Lalu, apa keluarga tidak tahu, jika kalian tinggal terpisah?" tanyaku yang terdengar sedikit berani. "Mereka tidak tahu, karena memang mereka orang-orang sibuk. Masing-masing dari mereka paham, jika kami sama-sama memiliki rumah tinggal yang terpisah dengan orang tua sejak kami muda dulu." Raut wajah sedih itu tergambar jelas di wajah Jenna. Membuat dadaku sesak, "Aku cinta sama Devan. Aku ingin dia menganggapku sebagai istrinya, bukan sahabat kecilnya lagi," lanjut Jenna yang langsung disambut dentuman keras tepat di jantungku. Aku mengerti perasaan itu, karena begitu terlihat nyata dari sorot mata juga binarnya saat menatap Devan saat itu. Jenna menghela napas kasar, "Aku harus gimana, Nara?" kemudian menatap serius ke arahku, aku salah tingkah. Harus memberi saran apa? Sedangkan beberapa waktu lalu suaminya dengan terang-terangan malah menyatakan cintanya padaku. "A-aku tidak tahu seperti apa, Pak Devan. Jadi bingung mau memberi saran." Aku tersenyum kikuk. Menutupi perasaan bersalah yang semakin besar di setiap detiknya. "Menurutmu, apa aku punya kesempatan?" Oh no! Itu sama artinya dengan memukul mundur perasaanku. Sebenarnya aku yakin, dengan niat dan usaha, tentu dukungan waktu, Jenna pasti bisa mengambil hati Devan. Jika dilogika, aku meyakininya. Tapi, jika menuruti perasaan, aku ragu untuk setuju. Apa aku egois? Aku pun ikut menghela napas, tiba-tiba terasa sesak. "Kalau kesempatan, pasti ada. Coba saja dekati pelan-pelan. Peduli dengan hal kecil, sediakan apa pun yang dia butuhkan. Mungkin bisa diawali dengan seperti itu." Aku meneguk minumanku, membasahi tenggorokan yang mengering karena suhu tubuh yang meningkat karena gugup. Serius, aku baru saja memberinya saran? Sedang aku saja belum menikah dan tidak pernah pacaran. Aku hanya membaca tentang hal-hal manis itu dari artikel dan beberapa novel romance. "Huft, sulit 'kan? Serba salah. Aku tersiksa melihat Devan tidak bahagia. Aku juga ingin membuat dia bahagia. Tentu bahagia bersamaku. Devan sulit sekali didekati. Dia selalu menghindar. Terlalu banyak alasan. Jadi selama ini aku hanya diam dan mengikuti maunya. Aku tidak mau dia membenciku jika aku terlalu memaksa.” Raut wajah itu, tak tega rasanya. Jika aku di posisinya, pasti ini sangat menyakitkan. Menikah tapi berpisah, tanpa cinta dan tak ada kisah. Apalagi ditambah dengan kehadiran seorang sepertiku di hati, Devan? Akan makin sulit bagi Jenna untuk merebut hati Devan. "Sabar. Pasti ada jalan." Jangan lupa, kalimat itu juga kuucapkan untuk diriku sendiri. Serba salah. Ya, mumpung masih awal, mungkin dengan menjauhi Devan adalah pilihan yang tepat. Tapi, bagaimana caranya? Hutangku? Mau tidak mau aku harus terus berhubungan dengan Devan walau secara tidak langsung. Aku masih membutuhkan pekerjaanku. Aku ingin melunasinya suatu saat, walau Devan menolak sekalipun. *** Dua hari berlalu, sejak hari di mana aku bertemu Jenna. Devan beberapa kali mengirim pesan. Aku masih bingung, mencari cara untuk menyadarkan Devan. Ada Jenna yang menunggunya dan tulus mencintainya. Bahkan dengan ikatan yang lebih kuat, ikatan pernikahan. [Temui aku di apartemen.] Pesan dari Devan sore ini, saat akan masuk jam pulang kerja. "Apa aku benar-benar menjadi simpanan bos sekarang?" gumamku dalam hati. "Nara, besok jangan lupa, ya. Kita bareng-bareng ke acara nikahan, Risa." Silvi mengingatkan. "Oh, iya. Aku hampir aja lupa." Aku belakangan merasa sering oleng dengan pikiranku sendiri. Risa adalah teman satu kantor, tapi beda divisi. Dia bekerja di bagian marketing produk. Walau tidak dekat tapi kami saling mengenal dan beberapa kali pernah makan siang bersama. "Ajak aja, si Arya." Silvi mulai iseng. Aku memang belum menceritakan kejadian terakhir kali yang melibatkan Lia dan Devan. Aku belum siap jika Silvi tahu. "Nggak, Ah,” sergahku. "Kenapa? 'Kan dia lagi PDKT sama kamu? Kalau, Pak Devan datang, biar dia lihat dan nyadar. Kamu itu udah punya pacar," kata Silvi berbisik. Apa harus seperti itu agar Devan menjauh? Tapi …. Persahabatan mereka? "Bukan gitu, kapan-kapan, deh, aku ceritain.” Aku menyerah. Lain kali saja kujelaskan padanya. "Janji, lho!" jawabnya memaksa. Kujawab dengan anggukan dan senyuman manis. Huft! Penuh sekali rasanya pikiranku. Beban kerja, beban perasaan, beban keuangan, setelah ini apa lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN