"Tante, harus janji. Jangan sakiti Lia!" tagasku sekali lagi. Karena aku tahu dia sangat licik, bisa saja dia mengingkari janjinya.
"Itu semua, tergantung sikapmu," jawab Tante Mama dengan santainya, sambil memperhatikan kuku-kukunya yang dicat merah menyala itu.
"Sekarang, cepat bersiap, ganti bajumu!" perintah Tante Mara, lalu menunjuk salah satu asistennya untuk mengantarku ke sebuah kamar.
Aku membersihkan diri, melepas baju kerjaku yang sudah basah kuyup. Sekaligus melepaskan perasaanku dari rasa ragu. Aku harus yakin dan memberanikan diri, ini yang terbaik untuk semuanya.
Pakaian ganti sudah disiapkan. Tentu saja, pakaian kurang jahitan dengan warna mencolok dan belahan d**a rendah juga belahan paha yang tinggi. Walau dress itu panjang tapi modelnya terbuka di mana-mana. Lalu, asisten itu merias tipis wajahku juga menata rambut. Terakhir asisten itu menyerahkan sepasang stiletto yang harus kupakai sebagai pembungkus kakiku yang tak juga berhenti gemetar.
Aku mematut diri di cermin. Aku terlihat tiga ratus enam puluh derajat berbeda dari Nara biasanya. Nara yang sekarang terlihat sebagai sosok w***********g, sangat murahan. Ya, harga diriku hanya sebatas jumlah pelunasan hutang Papa.
"Papa, apa sebenarnya salah kami?" gumamku menahan sesak. Memikirkan, Lia dan Mama. Pasti mereka panik saat ini.
"Tante, izinkan aku menghubungi, Mama." pintaku memelas saat berada di mobil yang entah akan membawaku ke mana.
"Of course, Baby," jawab Tante Mara girang. Bagaimana tidak girang, dia akan mendapatkan banyak uang setelah ini. Setelah menjual keponakannya sendiri.
Aku sebenarnya penasaran, apa benar harga sebuah keperawanan begitu tinggi? Tapi, mengapa banyak orang melakukan hubungan ‘itu’ dengan begitu mudahnya. Bukankah seharusnya mahkota harus dijaga dengan baik.
"Hallo, Ma. Ma, aku udah ketemu Lia. Dia ada di rumahnya Feny, tapi di sini hujan deras sekali. Mungkin malam atau besok kita baru bisa pulang." Berat mengatakan pada Mama jika kami baik-baik saja.
Ya, tentu saja hanya dengan cara berbohong, aku berusaha membuatnya tenang. Setidaknya Mama bisa sedikit berhenti panik dan kepikiran.
Setelah sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil berhenti di basement sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Tentu ini hotel berbeda dengan yang terakhir kali kudatangi. Aku turun dengan ragu juga dengan rasa tak nyaman atas gaun ini.
"Bersikaplah biasa, jangan mengundang perhatian atau Lia akan menjadi taruhannya!" ancam Tante Mara. Aku mengangguk dengan perasaan berkecamuk.
Aku bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi beberapa menit setelah sekarang. Ya Tuhan, maafkan kelemahanku.
"Tamu kali ini istimewa. Dia berani bayar tinggi demi sebuah keperawanan." Tante Mara menjelaskan sambil merapikan anak rambutku. Dia membawaku ke sebuah kamar yang cukup mewah. Tapi aku tak begitu memperhatikan. Aku fokus menata degupan jantung yang semakin tak berirama.
Keperawanan? Hal yang bahkan tak pernah kupikirkan itu, sekarang malah menjadi penolong bagi kami. Tunggu, penolong? Tidak, Nara. Keperawanan yang ditukar dengan pelunasan sebuah hutang itu hina namanya. Bahkan sebelum melakukannya aku sudah merasa kotor.
"Kamu tante tinggal ya, Baby. Bersikaplah manis pada tamu istimewa kita." Tante Mara meninggalkanku sendiri dengan senyum kemenangan.
Kamar 317, menjadi saksi runtuhnya pertahanan seorang Nara demi kasih pada keluarga. Menunggu detik demi detik datangnya sang tamu 'penyelamat' istimewa itu. Mengumpat dalam hati saat mengingat senyum Papa. Lalu mendadak mendapat kekuatan saat terbayang tangisan Mama, juga kesedihan Lia. Mati pun aku rela demi mereka berdua, apalagi hanya menjual diri.
Pintu kamar terbuka, lalu tak lama terdengar kembali menutup. Suara langkah itu semakin mendekat, aku tak ingin menoleh ke sumber suara. Memilih menunduk lebih dalam. Jantungku berdebar makin tak tahu aturan. Aku menggigil, berkeringat dingin. Mungkin seperti akan menemui malaikat pencabut nyawa.
Dalam bayanganku dulu, pasti akan bahagia sekali saat melepas mahkota berharga itu pada malam pertama pernikahan, tentu dengan seseorang yang tersayang, tapi nyatanya. Bahkan mungkin, aku tidak akan pernah menikah. Sekarang aku hanyalah seorang wanita hina.
Tangan dingin itu menyentuh daguku, memaksaku untuk mendongak ke atas. Sentuhannya cukup lembut. Tapi, aku masih memilih untuk terpejam. Membayangkan bagaimana sosok menyeramkan yang akan menguasaiku setelah ini. Aku tak sanggup. Lebih baik aku tidak melihat saja.
"Buka matamu, Nara." Suara itu seketika mengurungkan niatku untuk terus memejamkan mata. Ya, suara itu nyatanya malah membuatku membelalakkan mata tanda tak percaya.
"Pak Devan?" Aku berdiri kikuk. Refleks, menutup bagian depan tubuhku dengan kedua tangan. Aku hanya memakai backless bra, karena gaun ini terbuka bagian punggungnya.
Untuk apa dia di sini? Apa dia mengikutiku dan kembali akan menolongku? Bisa gawat kalau begitu. Aku menganga karena masih tak percaya.
"Bagaimana, Anda bisa berada di sini? Jika, Tante Mara tahu, adik saya akan terluka. Dia akan dalam bahaya. Kumohon, tolong pergilah,” pintaku memelas.
Jika saat itu aku sangat mengharapkan pertolongan, maka saat ini aku sama sekali tidak ingin ditolong. Bayangan Lia yang akan disakiti Tante Mara merangsek air mataku untuk keluar.
"Kumohon, pergilah, Pak," pintaku memelas, aku meremas ujung jasnya dan terus meneteskan air mata, yang mungkin akan menghapus sebagian riasanku. Aku tak peduli.
Pria itu masih tampak tenang-tenang saja. Berbeda denganku yang semakin didera panik. Aku merosot turun, lalu berlutut di hadapannya. Membuang egoku jauh-jauh.
"Kumohon, Pak. Pergilah." Apa isakkanku tidak terdengar pilu, hingga dia masih saja bergeming? Tidakkah dia memiliki rasa simpati?
"Pak, kumohon," ucapku makin lirih. Dia membantuku berdiri. Bahuku terguncang hebat. Sekujur tubuh terasa sangat dingin. Sekali lagi aku menggigil. Membayangkan Lia akan ….
"Adikmu aman, dia sudah diantar pulang oleh orangku," kata Devan santai sambil memperlihatkan foto Lia masuk rumah dari ponselnya.
Aku segera meraih ponsel itu, melihat dengan seksama foto yang terpampang di layar. Iya, itu Lia yang disambut Mama di depan pintu. Seketika hatiku menghangat. Adikku selamat. Syukurlah.
Aku terduduk lemas di tepi ranjang, mendekap ponsel itu dan kembali menitikkan air mata. Perasaan lega yang teramat sangat menjalari hati. Masih tak percaya ada keajaiban untukku dan keluargaku.
"Bagaimana bisa?" tanyaku lirih.
"Bisa saja, kamu tidak bisa meremehkan kekuasaanku," jawabnya datar.
Aku kembali tersadar, tentu ini bukan sesuatu yang gratis. Aku tetaplah seorang tawanan yang tergadai. Lia sudah kembali berarti aku harus menjalankan tugasku. Jika pada Devan aku harus menyerahkan diri, walau hinaku akan bertambah berkali lipat, demi ketenteraman keluargaku, akan aku lakukan. Seketika senyum ceria Jenna menari di pikiran, lalu Arya. Ah, semoga kalian memaafkan aku.
"Ayolah, apa lagi yang kau takutkan? Aku?" tanya Devan sambil duduk menjajariku.
"Saya tanya, bagaimana, bisa?" tanyaku balik. Aku memutar otak. Pikiran jahat menyapa. Apa semua ini bagian dari rencana Devan? Dia bekerja sama dengan Tante Mara? Dan bagaimana bisa dia begitu tenang?
"Apa, Anda merencanakan semua ini?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Apa?" Devan terbahak. Apa pertanyaanku terdengar konyol?
"Untuk apa, Nara? Aku tidak sejahat itu. Kau tahu 'kan? Aku memiliki relasi luas, jika hanya untuk mengawasi, Mara saja. Hanya masalah kecil bagiku."
Aku masih belum bisa percaya ucapannya. Tapi, jika dipikir lagi, apa peduliku? Devan atau bukan, aku sudah terjual. Aku sudah dibeli dan siap dinikmati. Sebagai ganti apa yang sudah terjadi.
"Lagi pula, aku menyayangimu, tidak mungkin aku menyakitimu."
Deg! Perasaan apa ini? Mengapa justru aku lega mendengarnya?
"Apa Anda yang membeli saya pada Tante Mara?" tanyaku untuk meyakinkan sesuatu. Dia hanya menjawab dengan anggukan. Sudah kuduga, aku kembali harus berhutang budi padanya.
"Lalu … sekarang?" tanyaku lirih, hampir berbisik. Masih, berharap Devan akan melepaskanku, membiarkan aku pergi secara utuh. Seperti malam itu.
"Aku menginginkanmu," jawabnya tak kalah lirih, dia mulai mendekat dan mengangkat tubuh mungilku, menghempasnya lembut di kasur king size empuk ini.
Mata kami bertemu, aku sama sekali tak mengelak atas pesona seorang Devan. Akan tetapi, aku cukup tahu diri. Aku memejamkan mata, pasrah atas apa yang akan dia lakukan di atas tubuhku. Wangi maskulin yang tadi sempat kucium di lift kantor kembali menguar. Begitu melenakan dan membuai.
"Buka matamu, aku tidak akan memangsamu," katanya sambil merapikan anak rambutku, aku memberanikan diri membuka mata. Dia berbaring dengan posisi miring menghadapku.
"Dari awal kukatakan, aku ingin memilikimu, seutuhnya. Dengan cara apa pun, walau mungkin hanya sejenak." Ah, betul itu adalah definisi membeli yang sebenarnya. Memiliki walau hanya sejenak.
"Lihatlah aku, Nara. Lihatlah hanya ke arahku." Tangannya lembut membelai lagi anak rambut di pipiku. Kami masih saling menatap. Aku pun masih membisu, meraba hati.
"Aku menyukaimu sejak awal kita bertemu. Lalu, kotak makan itu, awalnya bukan Arya." Gerakan tangannya berhenti di bibirku, mengusapnya perlahan.
"Benarkah?" tanyaku terkejut. Bukan Arya pada awalnya? Berarti?
Devan terus mengusap lembut bibirku, entah kenapa aku malah menikmati sentuhannya.
"Jadi, selama ini Anda juga? Lalu Arya–" Seketika jari telunjuk tangan kanannya menutup bibirku. Mengisyaratkan untuk berhenti bicara.
"Ssstt, jangan sebut nama itu. Aku tidak suka." Setelah itu tiba-tiba dia mengecup sekilas bibirku.
"Pak!" Aku terkejut menerima perlakuan berani itu. Setelah itu aku kembali melemas karena sadar posisiku adalah seorang tawanan.
Devan hanya tersenyum dan berkata, “Maaf, aku hanya gemas.”
Huft! Aku sangat gugup saat ini. Kendalikan dirimu Nara!
"Kenapa, tidak bilang?" tanyaku lirih. Duh! Kenapa nada bicaraku menjadi manja seperti ini? Aku refleks menggigit bibir bawahku.
"Karena aku pengagum rahasia, jadi aku harus siap menikmati sakitnya, juga harus siap melihatmu tersenyum untuk orang lain." Tatapan matanya sendu. Tangannya kembali mengelus bibirku. Aku menatapnya lekat. Benarkah sedalam itu pria ini mencintaiku?
Perasaan apa ini? Aku tidak bisa mencernanya. Bahagia, berbunga-bunga, merasa diperhatikan dan begitu dicintai.
Tapi seketika …."Lalu, Bu Jenna?" tanyaku tiba-tiba. Mau tidak mau aku harus memperjelas semua ini.
"Selama ini kami tinggal terpisah, tanpa orang tua kami tahu. Dari awal aku tidak mencintainya. Pernikahan ini diatur bahkan saat kami belum mengerti apa itu arti cinta. Hanya karena alasan hubungan bisnis itu terus bisa terjalin tanpa jeda." Dia menggenggam tanganku. Mengecupnya lembut.
"Tapi, Jenna wanita yang baik," kataku mencoba meyakinkannya.
"Aku tahu. Tapi hati tidak bisa berbohong. Aku bisa saja membuang ego dan menerimanya, tapi aku memilih tidak. Mungkin karena, kami sudah saling mengenal dari kecil. Jadi kuanggap dia sebagai saudara." Dia makin mendekatkan pandangan, hidung kami saling bersentuhan.
Jantungku, tolong! Rasanya seperti akan melompat dari tempatnya. Aku tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki.
"Berbeda saat aku pertama bertemu denganmu, melihatmu menangis dan memohon. Entah kenapa, hatiku ikut merasa sakit. Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya." Dia kembali menjauhkan wajahnya. Aku bisa bernafas sedikit lega.
"Setelah itu, rasa ingin melindungimu semakin kuat. Saat kita sering bertemu di kantor. Walau aku tahu ini salah. Tapi aku tak bisa lagi menahannya."
Aku tak percaya, Devan yang kukenal pendiam, ternyata banyak bicara juga. Suara seraknya begitu menenangkan, membuatku melayang dan tenggelam secara bersamaan. Sungguh rasa yang membingungkan.
"Lalu, kenapa Anda mengirim makanan tanpa bilang?" tanyaku penasaran.
"Sejak kedatanganku kembali di perusahaan, kalian pasti kena efeknya ‘kan? Aku lihat, kamu sering tidak makan siang. Hanya makan roti atau hanya minum saja. Aku tidak suka, kalau kamu sampai sakit."
Uwu, berangsur meleleh hati ini, melupakan sejenak tentang masalah Lia, juga tentang Jenna. Ini salah, tapi kenapa aku malah suka?