Trouble Maker

1734 Kata
"Ta-tapi, Bu. Saya–" "Udah, jangan sungkan, ayo," ajaknya dengan mata berbinar. "Ba-baik, Bu." Akhirnya aku pasrah, tak sanggup menolak ajakan tulus itu. Kami berjalan beriringan, Jenna memesan dua buah donat dan dua buah milk shake cokelat di kasir, aku menunggu di kursi yang sebelumnya sudah kami pilih di sudut kafe yang bertembok kaca ini. Tak lama, pelayan membawakan nampan berisi pesanan. "Nara, menurutmu. Bagaimana Devan?” Deg! Jenna membuka pembicaraan dengan pertanyaan ambigu. Aku merasa kikuk, apa dia menaruh curiga padaku? "Ma-maksudnya?" Jujur aku panik. Apa benar, selama ini dia tahu? "Maksudnya, bagaimana dia di kantor? Dia 'kan begitu dingin." jawabnya santai sambil menyedot minumannya. Jangan lega dulu, Nara. Bisa saja dia memancing. Semoga nanti aku tidak salah bicara. "Ayo sambil diminum," pintanya. "Terima kasih, Bu." Aku semakin canggung. "Santai, saja." Sejenak keheningan tercipta. "Ah, Pak Devan. Ya, seperti itulah, saya jarang berkomunikasi langsung. Biasanya lewat, Mbak Dina. Orangnya terlalu pendiam." Aku berharap jawaban ini bisa membuat Jenna puas dan mengganti topik pembicaraan. "Hmm, sudah kuduga. Maaf, ya. Aku mengorek informasi darimu," katanya sembari tertawa riang. Sungguh aneh, mengorek informasi? Bukankah mereka suami istri? Aku tidak habis pikir. "Nara, jangan sungkan. Kita berteman biasa saja. Anggap aku teman Arya, jika menganggap aku istri bosmu maka kamu akan tidak nyaman. Kesampingkan itu. Aku suka denganmu, kamu baik. Arya sering cerita." Sedekat itu kah Arya dengan Jenna? Aaaargh! Kenapa banyak sekali pertanyaan di pikiranku? "Benarkah? Ah, Anda berlebihan. Saya biasa saja. Anda baru datang atau sudah mau pulang?" tanyaku lagi. "Oiya, sampai lupa. Aku mau membeli kado untuk Papa Mertua, sebentar lagi dia berulang tahun." Mata itu berbinar. Seketika rasa bersalah menguasai hati, teganya Devan menyakiti hati setulus Jenna. "Nara, boleh aku minta nomormu? Lain waktu, mari kita bertemu lagi. Sebagai teman, no embel-embel apa pun." Dia menyerahkan ponselnya. Jenna benar-benar ramah. Apa yang kurang darinya? Dibandingkan aku, dia jauh lebih dari segalanya. "Baik, Kak. Nggak apa-apa 'kan aku panggil, Kak?" tanyaku sungkan sambil mengetikkan nomorku di ponselnya. Terlihat jelas wallpaper ponsel itu foto pernikahannya dengan Devan. Hatiku seperti tercubit. Perasaan yang aneh. Jenna kembali terbahak, "Nggak apa-apa dong, Nara. Lebih baik daripada manggil, Ibu. Aku masih cukup muda 'kan? Bahkan aku belum punya anak." Kami akhirnya tertawa bersama, walau aku masih sedikit canggung. Kami, saling menyimpan nomor telepon juga pastinya saling menyimpan rahasia. Ah, munafiknya diriku. Setelah menghabiskan donat dan milk shake itu, kami akhirnya berpisah. Hari sudah menjelang malam. Dia akan lanjut memutari Mall untuk melanjutkan niat awal, membeli kado untuk Pak Roby dan aku akan pulang. Tak lupa dengan membawa segudang pertanyaan. Melihat cerianya Jenna lalu mengingat sikap Devan, membuat rasa bersalah ini menumpuk berkali lipat. Sepelik apa pun masalahku, aku berharap tidak merepotkan orang lain. Apalagi sampai menyakiti. Jangan sampai terjadi. *** Hari ini hari yang super sibuk di kantor. Ada acara pesta ulang tahun Pak Roby. Walau hanya sekedar makan siang bersama. Itu cukup membuat aku, Silvi dan Mbak Dina keteteran. Karena banyak kolega bisnis Pak Roby yang akan datang. Termasuk keluarga besar. Acara ini termasuk dadakan, karena baru direncanakan dua hari lalu. Syukurlah, semua persiapan berjalan lancar. Kenapa di Kantor? Karena ulang tahun Pak Roby hampir bersamaan dengan ulang tahun perusahaan. Katanya sekalian ingin membangun kedekatan dengan karyawan dan relasi. Hidangan sudah tertata rapi, aneka ragam kue dan minuman juga sudah siap dinikmati. Aku, Silvi dan Mbak Dina tak henti berkeliling. Memastikan tidak ada yang kurang. Walau ada pihak katering yang membantu mengawasi, kami tetap memastikan semua aman dan terkendali. Pandangan mata ini terhenti, menatap mobil yang baru saja datang, tepat di depan hamparan karpet merah yang memang disediakan untuk menyambut sang empunya acara, Pak Roby dan keluarga. Pak Roby dan Bu Celyn–istri Pak Roby turun, lalu disusul dengan mobil lainnya. Ternyata Devan dan Jenna. Jenna bergelayut manja di lengan Devan. Pandangan kami bertemu sekilas, sebelum akhirnya aku berpaling. Kenapa aku tidak suka melihat kemesraan mereka? Padahal kemarin, aku bahkan terang-terangan menolak Devan. Ada apa dengan hati? Aku menyibukkan diri, sebisa mungkin menghindari bertemu Devan dan Jenna. Tapi sialnya, aku malah harus satu lift dengan Devan saat akan turun ke lantai bawah setelah mengambil tas kerjaku. "Kenapa kamu menghindar?" tanyanya tiba-tiba memecah keheningan. Aku tak menjawab juga bingung akan menjawab apa. "Jika kamu tidak merasakan apa pun, seharusnya bersikap biasa saja saat kita bertemu." Devan yang berdiri di depanku membalik tubuhnya, menghadapku dan mulai mendekat, aku mundur dan tersudut di ujung lift. "Maksud, Bapak?" Ragu aku bertanya. Jelas perasaanku tidak biasa saja seperti yang dia katakan. Tentu akan ada perasaan aneh setelah kejadian tempo hari. Semua sudah tidak bisa sama seperti dulu lagi. "Aku tahu, kamu juga menyukaiku Nara, jangan munafik." Dia memegang daguku dan menaikkannya, membuatku mau tak mau bertatapan dengan matanya yang sendu tapi tajam. Aku memejam, berusaha menyembunyikan sorot mata memujaku. Aroma maskulin itu begitu semerbak, menusuk tepat di paru-paru. Membuatku sekejap terlena. Tangannya mengusap lembut pipiku. Membuatku kembali sadar. Ini tidak benar. "Pak, nanti ada yang lihat." Aku panik, dan refleks mendorongnya. Khawatir bila tiba-tiba pintu lift terbuka dan akan ada orang yang melihat posisi kami yang lumayan intim itu, pastinya berpotensi menimbulkan salah paham. Dia seakan mengerti pemikiranku dan berangsur mundur. "Jangan hindari aku lagi, Nara. Setidaknya balas pesanku atau angkat telepon," perintahnya dengan nada datar. "Saya tidak bisa, Pak. Maaf." Aku tidak mungkin mengiyakan permintaan konyol itu. Karena aku yakin, akan ada kelanjutan setelah berkirim pesan dan saling menelepon. "Kamu berani menolak permintaan saya?" Nadanya sedikit meninggi. Tiba-tiba ponselku berdering. Dari mama. "Hallo, Mama." Aku mengangkat telepon tanpa memedulikan kalimat terakhir Devan. "Nara, sudah jam segini. Lia belum pulang Mama khawatir." Nada bicara Mama terdengar panik di ujung telepon. "Astaga, harusnya Lia pulang jam dua 'kan, Ma?" tanyaku meyakinkan. Sekelebat ada perasaan tidak enak. "Iya, kalau dia akan kerja kelompok. Pasti akan izin dulu. Mama telepon tapi tidak aktif." "Oke, Mama tenang, jangan panik dulu. Nara akan coba menghubungi beberapa teman Lia." Tak lama pintu lift terbuka, aku benar-benar tak memedulikan Devan, aku berlari keluar kantor, meninggalkan pesta yang belum juga usai. Berkali-kali berusaha menghubungi Lia. Tidak juga tersambung. Aku menelepon Silvi memberi kabar kalau harus pulang duluan. Dia mengerti dan aku bergegas menuju sekolah Lia. Semoga Lia baik-baik saja, aku tidak sanggup membayangkan kemungkinan paling buruk yang akan terjadi. Perasaan tak nyaman ini sungguh menyiksa. Sudah pukul lima sore. Sekolah sudah sepi, para guru pun sudah pulang. Hanya security yang ada. Katanya, kelas paling sore sudah pulang dari jam tiga tadi. Lalu, ke mana Lia? Aku coba kontak beberapa temannya, mereka rata-rata menjawab Lia sudah pulang naik bus. Apa mungkin, Tante Mara? Firasatku tiba-tiba buruk bahkan sangat buruk. Aku mencari nomornya, mencoba menghubungi beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Aku hampir menyerah. Tapi, saat hendak menutup telepon, dia akhirnya menjawab. "Hallo, anak manis, ada apa? Apa sudah ada uang untuk...." “Tante, di mana Lia?” tanyaku to the point. “Apa maksudmu, Sayang?” "Kakak, aku di sini." Suara Tante Mara dan Lia bersahutan. Sudah kuduga, Lia dibawa oleh Tante Mara. Lututku lemas seketika. Jangan sampai Tante Mara melukai Lia. "Tante, please. Jangan seperti ini. Tolong, jangan libatkan Lia. Cukup berurusan dengan Nara saja. Jika memang harus dengan cara ini untuk menebus kesalahan Papa. Biar Nara saja, jangan Lia. Kumohon, Tante!" Aku berteriak seperti orang gila. Aku pasrah, aku lelah, aku muak. Semua terasa mengimpit, sesak. Jika memang ini caranya untuk menyelamatkan keluargaku, jika harus menghinakan diriku. Biarlah. Aku tak akan sanggup jika melihat adikku hancur. Wajah Papa yang sedang bahagia bersama wanita simpanannya itu melintas di kepalaku. Dasar tidak bertanggung jawab, masih pantaskah dia kupanggil Papa? Tidak sudi! "Papa sialan!" umpatku dalam hati. Aku lelah menunggu keajaiban. Aku lelah mengejar hal yang mustahil aku dapatkan dengan cuma-cuma dan segera. Apalagi harus mengumpulkan uang puluhan juta dalam waktu singkat, sangat mustahil. Jika pengorbanan ini akan membebaskan semua, maka akan aku lakukan. Aku hanya perlu menyerahkan diriku saja, 'kan? "Oke, manis. Kamu memang anak yang berbakti pada orang tua. Frans pasti bangga padamu." Cih! Aku tak sudi menjadi anak kebanggaan laki-laki yang bahkan mengingat kami saja tidak. Semua aku lakukan semata hanya ingin melindungi Lia dan Mama. Tante Mara terbahak bahagia dan puas di sana, tanpa memedulikan hancurnya banyak perasaan. Dia dan Papa sama saja, sama-sama b******k! Ya, mereka bersaudara, bukan? "Datanglah segera ke sini, tentu kau masih ingat jalannya, 'kan?" Dia memutus sambungan telepon secara sepihak setelah sebelumnya kembali tertawa penuh kemenangan. Berat, bagiku ini sangat berat. Aku masih mematung, tak peduli hujan yang turun dengan derasnya, alam seperti mengerti bahwa aku harus menyamarkan air mata. Tak peduli lelah tak peduli peluh, biarlah terhanyut bersama derasnya tetesan hujan. Biarlah mengalir entah ke mana, menyampaikan pada dunia bahwa diri ini telah berusaha, tapi waktu tak juga bersua dan kini saatnya aku memutus asa. Aku lelah, aku menyerah pada pongahnya dunia. Aku berlari dan terus berlari, tujuanku satu, ingin segera sampai di rumah Tante Mara. Rumah yang berdiri megah dengan angkuhnya, tak kalah angkuh dengan penghuni yang tega merampas apa pun yang ada demi memenuhi ambisinya. Aku memasuki gerbang tinggi itu dengan gemetar, badanku menggigil bukan karena dingin. Tapi karena ketakutan yang tak bisa kusembunyikan. Takut kalau Lia terluka. Tante Mara sudah menungguku dengan seringai jahatnya di pintu yang sudah terbuka lebar. "Tolong, lepaskan Lia, Tante! Nara siap menjadi gantinya. Nara nggak akan lari atau menghindar lagi seperti kemarin," pintaku yakin, dengan derai air mata yang jatuh tanpa diperintah. Aku berlutut di hadapannya. Seperti seorang b***k pesakitan yang siap menunggu hukuman atas sebuah kesalahan yang sangat fatal. "Kakak, jangan!" teriak Lia. Aku menatapnya iba, dia pasti sangat ketakutan. Kami sama-sama menahan sesak. "Lia, kamu bertahan, ya. Kakak udah di sini. Jangan takut lagi." Aku tak tega melihat tangannya ditali seperti itu. "Jangan lakukan itu, Kak!" teriaknya lagi. Aku mencoba menutup telingaku, mengabaikan permintaan Lia. Aku harus menguatkan diri. Masa depan Lia jauh lebih penting. "Hmm, kalian so sweet sekali." Tante Mara bertepuk tangan. Seolah penderitaan kami adalah tontonan menarik baginya. Manusia yang terbuat dari apa sebenarnya dia itu. Tidak memiliki belas kasihan sedikit pun. "Kalian akan saling bantu, bukan? Lia akan tetap disini, sampai kamu selesaikan tanggunganmu." Tante Mara menatapku tajam. Mungkin menegaskan untuk aku tidak macam-macam lagi seperti malam itu. "Bagaimana? Deal?" tanyanya lagi. Seakan semua ini hanya permainan yang begitu ringan baginya. "Biarkan Lia pulang, Tante. Mama pasti khawatir," rengekku. Lebih tepatnya memohon. "Ikut aturanku, atau ...." Nada bicara Tante Mara yang tenang itu terasa sangat menyakitkan. Menyiratkan aura yang begitu menyeramkan. Dia tak ubahnya iblis berbentuk manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN